al-Kalimaatun Naafi'ah fil Akhthoo-isy Syaa-i'ah: Khomsuun Khotho-an fii Sholaatil 'Iidain.
50 Kesalahan dalam Berhari Raya.
Syaikh Wahid 'Abdus Salam Baali.
Mufti Hamdan.
Bab I.
Kesalahan-kesalahan seputar dua hari raya.
4. Makan sebelum berangkat ke Musholla (Lapangan tempat pelaksanaan sholat) pada hari 'idul Adh-ha.
Di antara orang-orang ada yang makan sebelum berangkat ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat), pada hari 'idul Adh-ha. Ini adalah suatu kekeliruan, bahkan ia seharusnya tidak sarapan pagi terlebih dahulu, sampai selesai pelaksanaan sholat.
Dari Buroidah rodhiyaLLOOHU 'anhu, ia berkata,
"Pada hari 'idul Fithri, Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam tidak keluar (berangkat sholat), shingga Beliau shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam makan, sedangkan pada hari 'idul Adh-ha Beliau shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam tidak makan, hingga Beliau shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam selesai sholat." (5)
Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dengan redaksi:
"Pada hari 'idul Fithri, Beliau shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam tidak keluar, hingga Beliau shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam makan dan pada hari an-Nahr ('idul Adh-ha) Beliau shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam tidak makan, hingga Beliau shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam berkurban." (6)
5. Kembali dari musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat) dari jalan yang sama.
Di antara orang-orang ada yang berangkat ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat), kemudian kembali darinya dengan menempuh jalan yang sama (seperti saat berangkat). Hal ini menyelisihi Sunnah.
Imam al-Bukhori telah meriwayatkan dari Jabir rodhiyaLLOOHU 'anhu, ia berkata:
"Pada hari 'id, Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam membedakan jalan (yang ditempuh antara saat berangkat dan kembali)." (7)
6. Berangkat ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat) dengan berkendaraan tanpa adanya udzur.
Di antara mereka ada yang berangkat ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat) 'id dengan berkendaraan (tanpa adanya udzur). Yang terbaik adalah hendaknya berangkat dengan berjalan kaki, kecuali apabila ada udzur, seperti jauhnya jarak dan semisalnya.
Imam at-Tirmidzi telah meriwayatkan yang dihasankan oleh Imam al-Albani, dari 'Ali bin Abi Tholib rodhiyaLLOOHU 'anhu, ia berkata:
"Termasuk sunnah, yaitu hendaknya engkau berangkat ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat) 'id dengan berjalan kaki dan hendaknya engkau memakan sesuatu sebelum engkau berangkat keluar (pada saat 'idul Fithri -pent)." (8)
Imam at-Tirmidzi rohimahuLLOOH berkata, "Hadits ini hasan dan di'amalkan menurut kebanyakn ahli 'ilmu. Mereka menganjurkan agar seseorang berangkat keluar ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat) dengan berjalan kaki dan agar memakan sesuatu sebelum berangkat keluar untuk sholat 'idul Fithri."
Imam at-Tirmidzi juga mengatakan, "Dan dianjurkan untuk tidak berkendaraan, kecuali dikarenakan udzur." (9)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
(5) Hasan. Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi nomor 542, juga oleh yang lainnya. Dishohihkan oleh Imam al-Albani.
(6) Hasan. Hadits Riwayat Imam Ahmad nomor 21.964, dengan sanad yang hasan.
(7) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Bukhori nomor 986.
(8) Hasan. Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah nomor 1296, dan Imam at-Tirmidzi nomor 530, dihasankan olehnya dan Imam al-Albani.
(9) Kitab Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Jumu'ah, bab Maa Jaa-a fil Masyi Yaumal 'iid.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Kalimaatun Naafi'ah fil Akhthoo-isy Syaa-i'ah: Khomsuun Khotho-an fii Sholaatil 'Iidain, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Baali, Penerbit: Dar Ibni Rojab, Cetakan II, 1424 H/ 2003 M, Judul terjemahan: 50 Kesalahan dalam Berhari Raya, Penerjemah: Mufti Hamdan, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir - Bogor, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Jadilah orang berilmu! Jika tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu! Jika tidak mampu, maka cintailah mereka! Jika tidak mampu, maka janganlah membenci mereka!
Showing posts with label 50 kesalahan dalam berhari raya. Show all posts
Showing posts with label 50 kesalahan dalam berhari raya. Show all posts
Saturday, 25 February 2017
50 Kesalahan dalam Berhari Raya (1-3)
al-Kalimaatun Naafi'ah fil Akhthoo-isy Syaa-i'ah: Khomsuun Khotho-an fii Sholaatil 'Iidain.
50 Kesalahan dalam Berhari Raya.
Syaikh Wahid 'Abdus Salam Baali.
Mufti Hamdan.
Bab I.
Kesalahan-kesalahan seputar dua hari raya.
1. Tidak mandi untuk melaksanakan shalat 'id.
Di antara orang-orang (Islam) ada yang meremehkan urusan mandi dan bersuci untuk pelaksanaan shalat 'id. Ini adalah suatu kesalahan, bahkan ia dianjurkan mandi untuk pelaksanaan shalat 'id.
Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Zadzan, ia berkata, "Seorang laki-laki bertanya kepada 'Ali radhiyallahu 'anhu mengenai mandi, 'Ali menjawab, 'Mandilah setiap hari jika kau mau.' Lalu orang itu berkata, 'Bukan itu, maksudku mengenai mandi (tertentu).' 'Ali menjawab, 'Yaitu, mandi hari jum'at, hari 'arafah, hari an-nahr ('idul adh-ha), dan hari 'idul fithri." (1)
2. Tidak memakai pakaian terbaik pada hari 'id.
Di antara kaum muslimin ada yang tidak memakai pakaian yang baru kecuali setelah pelaksanaan sholat 'id. Ini adalah suatu kesalahan, bahkan seharusnya ia memperbaiki penampilan (dengan memakai pakaian terbaik, mandi, dan memakai wewangian -penj).
Imam ath-Thobroni telah meriwayatkan dalam kitab al-Ausath, dengan sanad yang hasan, dari Ibnu 'Abbas rodhiyaLLOOHU 'anhu, ia berkata:
"Pada hari 'id, Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam mengenakan kain burdah merah." (2)
3. Tidak memakan beberapa butir kurma sebelum berangkat sholat pada hari 'idul Fithri.
Di antara orang-orang ada yang berangkat ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat) pada hari 'idul Fithri sebelum memakan sesuatu. Ini adalah suatu kekeliruan, bahkan ia disunnahkan untuk memakan beberapa butir kurma, sebelum berangkat ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat).
Imam al-Bukhori telah meriwayatkan dari Anas rodhiyaLLOOHU 'anhu, ia berkata:
"Pada hari 'idul Fithri, tidaklah Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam berangkat, melainkan setelah Beliau makan beberapa butir kurma." (3)
Dalam satu riwayat disebutkan, "Beliau shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam memakannya dalam jumlah ganjil." (4)
Imam at-Tirmidzi rohimahuLLOOH berkata, "Beberapa orang dari ahli 'ilmu menganjurkan agar tidak keluar (berangkat sholat) pada hari 'idul Fithri, sehingga memakan sesuatu dan menganjurkan agar makan pagi dengan tamr (kurma matang)."
Imam Ibnu Qudamah rohimahuLLOOH berkata, "Kami tidak mengetahui adanya ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam anjuran sarapan pagi pada hari 'idul Fithri."
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
(1) Shahih: Hadits Riwayat Imam al-Baihaqi. Imam al-Albani berkata dalam kitab al-Irwaa' 1/176, "Sanadnya shahih."
(2) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Baihaqi. Imam al-Albani berkata dala kitab al-Irwaa' 1/176, "Sanadnya shohih."
(3) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Bukhori nomor 953.
(4) Shohih. Ini adalah redaksi hadits yang dimu'allaqkan (diriwayatkan tanpa sanad) oleh Imam al-Bukhori dengan shighoh jazm. Dan dimaushulkan (disambung sanadnya) oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ahmad, dengan sanad yang hasan, dengan redaksi: "Beliau memakannya dalam jumlah ganjil."
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Kalimaatun Naafi'ah fil Akhthoo-isy Syaa-i'ah: Khomsuun Khotho-an fii Sholaatil 'Iidain, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Baali, Penerbit: Dar Ibni Rojab, Cetakan II, 1424 H/ 2003 M, Judul terjemahan: 50 Kesalahan dalam Berhari Raya, Penerjemah: Mufti Hamdan, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir - Bogor, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
50 Kesalahan dalam Berhari Raya.
Syaikh Wahid 'Abdus Salam Baali.
Mufti Hamdan.
Bab I.
Kesalahan-kesalahan seputar dua hari raya.
1. Tidak mandi untuk melaksanakan shalat 'id.
Di antara orang-orang (Islam) ada yang meremehkan urusan mandi dan bersuci untuk pelaksanaan shalat 'id. Ini adalah suatu kesalahan, bahkan ia dianjurkan mandi untuk pelaksanaan shalat 'id.
Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Zadzan, ia berkata, "Seorang laki-laki bertanya kepada 'Ali radhiyallahu 'anhu mengenai mandi, 'Ali menjawab, 'Mandilah setiap hari jika kau mau.' Lalu orang itu berkata, 'Bukan itu, maksudku mengenai mandi (tertentu).' 'Ali menjawab, 'Yaitu, mandi hari jum'at, hari 'arafah, hari an-nahr ('idul adh-ha), dan hari 'idul fithri." (1)
2. Tidak memakai pakaian terbaik pada hari 'id.
Di antara kaum muslimin ada yang tidak memakai pakaian yang baru kecuali setelah pelaksanaan sholat 'id. Ini adalah suatu kesalahan, bahkan seharusnya ia memperbaiki penampilan (dengan memakai pakaian terbaik, mandi, dan memakai wewangian -penj).
Imam ath-Thobroni telah meriwayatkan dalam kitab al-Ausath, dengan sanad yang hasan, dari Ibnu 'Abbas rodhiyaLLOOHU 'anhu, ia berkata:
"Pada hari 'id, Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam mengenakan kain burdah merah." (2)
3. Tidak memakan beberapa butir kurma sebelum berangkat sholat pada hari 'idul Fithri.
Di antara orang-orang ada yang berangkat ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat) pada hari 'idul Fithri sebelum memakan sesuatu. Ini adalah suatu kekeliruan, bahkan ia disunnahkan untuk memakan beberapa butir kurma, sebelum berangkat ke musholla (lapangan tempat pelaksanaan sholat).
Imam al-Bukhori telah meriwayatkan dari Anas rodhiyaLLOOHU 'anhu, ia berkata:
"Pada hari 'idul Fithri, tidaklah Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam berangkat, melainkan setelah Beliau makan beberapa butir kurma." (3)
Dalam satu riwayat disebutkan, "Beliau shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam memakannya dalam jumlah ganjil." (4)
Imam at-Tirmidzi rohimahuLLOOH berkata, "Beberapa orang dari ahli 'ilmu menganjurkan agar tidak keluar (berangkat sholat) pada hari 'idul Fithri, sehingga memakan sesuatu dan menganjurkan agar makan pagi dengan tamr (kurma matang)."
Imam Ibnu Qudamah rohimahuLLOOH berkata, "Kami tidak mengetahui adanya ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam anjuran sarapan pagi pada hari 'idul Fithri."
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
(1) Shahih: Hadits Riwayat Imam al-Baihaqi. Imam al-Albani berkata dalam kitab al-Irwaa' 1/176, "Sanadnya shahih."
(2) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Baihaqi. Imam al-Albani berkata dala kitab al-Irwaa' 1/176, "Sanadnya shohih."
(3) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Bukhori nomor 953.
(4) Shohih. Ini adalah redaksi hadits yang dimu'allaqkan (diriwayatkan tanpa sanad) oleh Imam al-Bukhori dengan shighoh jazm. Dan dimaushulkan (disambung sanadnya) oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ahmad, dengan sanad yang hasan, dengan redaksi: "Beliau memakannya dalam jumlah ganjil."
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Kalimaatun Naafi'ah fil Akhthoo-isy Syaa-i'ah: Khomsuun Khotho-an fii Sholaatil 'Iidain, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Baali, Penerbit: Dar Ibni Rojab, Cetakan II, 1424 H/ 2003 M, Judul terjemahan: 50 Kesalahan dalam Berhari Raya, Penerjemah: Mufti Hamdan, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir - Bogor, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Subscribe to:
Posts (Atom)