Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
4. Kitab Wudhu'.
5. Bab: Berlaku Ringan dalam Wudhu.
92. Dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: Aku menginap di rumah bibiku Maimunah [binti al-Harits, isteri Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam 1/38] pada suatu malam, [saat itu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bagian gilirannya. Setelah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam shalat 'Isya, beliau kembali ke rumahnya lalu shalat empat raka'at]. [Aku berkata, "Aku akan melihat shalatnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, 5/175] [Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berbicara sebentar dengan isterinya, lalu isterinya memberikan bantal kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam], [selanjutnya beliau bersiap-siap hendak tidur 5/174], [maka aku berbaring di atas bantal, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pun berbaring, sementara isterinya di dalam kamarnya. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tidur hingga pertengahan malam atau hampir pertengahan malam atau beberapa saat setelah pertengahan malam 2/58]. Malam itu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bangun (dalam riwayat lain: Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam terjaga, beliau duduk dan mengusap wajahnya dengan tangannya, [kemudian memandang ke langit], lalu beliau membaca ayat-ayat terakhir surat Aali 'Imraan, (dalam riwayat lain: beliau membaca ayat, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." {QS. Aali 'Imraan (3): 190}, kemudian beliau menyiapkan kebutuhannya, beliau membasuh wajah dan kedua tangannya, kemudian tidur].
Pada malam itu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bangun, lalu berwudhu ringan dari tempat air yang digantungkan -ungkapan ringan ini disebutkan oleh 'Amr, bahkan disedikitkan [sekali 1/208] (dalam riwayat lain: Dengan wudhu di antara dua wudhu, dan tidak banyak 7/148), [beliau bersiwak], [kemudian bersabda, "Apakah anak itu masih tidur?" Atau perkataan sejenis lainnya], dan (dalam riwayat lain: kemudian) beliau berdiri untuk shalat. [Maka aku pun berdiri,] [aku menjinjit kaki karena tidak mau ketahuan kalau aku sedang mengamati beliau, 7/148] lalu aku pun berwudhu seperti cara beliau berwudhu. Kemudian aku berdiri di sebelah kirinya, -atau mungkin Sufyan mengatakan: di sebelah kanannya- [lalu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya di kepalaku lalu meraih telinga kananku dan memutarnya dengan tangannya] (dalam riwayat lain: beliau memegang pundakku [atau kepalaku] 7/60) kemudian memindahkanku (dalam riwayat lain: beliau meraih kepalaku dari arah belakang 1/77. Dalam riwayat lainnya lagi melalui jalur berbeda disebutkan: Beliau meraih tanganku, atau lenganku. Ia berkata, "Dengan tangannya dari arah belakangnya 1/178) ke sebelah kanannya, kemudian beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam shalat sebanyak yang dikehendakinya. (Dalam riwayat lain, "Beliau shalat lima raka'at, kemudian shalat lagi dua raka'at." Dalam riwayat lainnya lagi, "Beliau shalat dua raka'at, lalu dua raka'at, lalu dua raka'at, lalu dua raka'at, lalu dua raka'at, lalu dua raka'at, lalu witir." Dalam riwayat lain, "Beliau shalat sebelas raka'at.") (Dalam riwayat lain, "Semua shalatnya itu sebanyak tiga belas raka'at.") Kemudian beliau berbaring kembali dan tidur sampai mendengkur, (dalam riwayat lain, "Sampai aku mendengar suara nafasnya.") [Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam kalau tidur memang terdengar suaranya]. Kemudian muadzdzin mendatanginya (dalam riwayat lain: Bilal) lalu adzan untuk shalat, [beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam pun shalat dua raka'at ringan, lalu keluar], lalu beliau berangkat bersamanya untuk shalat. Lalu beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam [Shubuh mengimami orang-orang]. Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak berwudhu lagi [dalam do'anya beliau bersabda,
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا, وَ فِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا, وَ فِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا, وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا, وَعَنْ يَسَارِيْ نُوْرًا, وَفَوْقِيْ نُوْرًا, وَتَحْتِيْ نُوْرًا, وَأَمَامِيْ نُوْرًا, وَخَلفِيْ نُوْرًا, وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا.
Allaahummaj'al fii qalbii nuuran, wa fii ba-shari nuuran, wa fii sam'ii nuuran, wa 'an yamiinii nuuran, wa 'an yasaarii nuuran, wa fawqii nuuran, wa tahtii nuuran, wa amaamii nuuran, wa khalfii nuuran, waj'al lii nuuran.
'Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku. Jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya'."
Kuraib berkata, "Tujuh yang disebutkan. Aku bertemu dengan seorang laki-laki dari keturunan al-'Abbas, dan dialah yang menceritakan kepadaku tentang itu, dengan menyebutkan: ototku, dagingku, darahku, rambutku, kulitku, dan dua lainnya] Kami {para shahabat} berkata kepada 'Amr, "Sesungguhnya orang-orang itu mengatakan, bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kendatipun kedua matanya tidur, tapi hatinya tetap terjaga." Amr berkata, "Aku dengar Ubaid bin Umair (90) berkata, "[Sesungguhnya] mimpinya para Nabi itu adalah wahyu." Kemudian ia membacakan ayat, "Sesungguhnya aku bermimpi dalam tidurku, bahwa aku menyembelihmu." {QS. Ash-Shaffaat (37): 102}
6. Bab: Menyempurnakan Wudhu.
30.(91) Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Menyempurnakan wudhu adalah membasuh anggota wudhu dengan sebersih-bersihnya."
(Haditsnya adalah hadits Usamah bin Zaid, yang akan disebutkan pada kitab ke 25 bab 94).
7. Bab: Membasuh Muka dengan Dua Tangan dari Satu Cidukan.
93. Dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), bahwa ketika sedang wudhu, ia membasuh wajahnya, lalu ia mengambil air satu cidukan lalu berkumur dan beristinsyaq {memasukkan air ke dalam hidung}. Setelah itu ia mengambil lagi air satu cidukan lalu ia lakukan begini, yaitu air itu dituangkan ke tangan yang satunya lalu membasuh wajahnya, kemudian menciduk air lagi dan membasuh tangan kanannya, kemudian menciduk satu cidukan dan membasuh tangan kirinya, lalu mengusap kepalanya. Selanjutnya ia mengambil lagi seciduk air dana menyiramkannya ke kaki kanannya sambil membasuhnya. Kemudian menciduk lagi dan membasuh kaki kirinya. Selanjutnya ia berkata, "Begitulah aku melihat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berwudhu."
8. Bab: Membaca Basmalah pada Setiap Keadaan, Termasuk Hendak Melakukan Hubungan Suami Isteri
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), yang akan disebutkan pada kitab ke 67 bab 67).
9. Bab: Ucapan Ketika Masuk Kamar Kecil
94. Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Apabila Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam masuk (37.(92) dalam riwayat mu'allaq: datang, 38.(93) dalam riwayat lainnya, "Apabila beliau hendak masuk") ke kamar kecil, beliau mengucapkan,
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَاءِثِ
Allaahumma innii a'uu-dzu bika minal khubu-tsi wal khabaa-its
'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syetan jantan dan syetan betina.'"
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(90) Al-Hafizh berkata: Ubaidillah bin Umair termasuk tokoh tabi'in, ayahnya, yakni Umair bin Qatadah adalah seorang shahabat. Ucapannya "Mimpi para Nabi adalah wahyu" diriwayatkan secara marfu' oleh Imam Muslim, dan di sini akan disebutkan pada kitab ke 97 dari riwayat Syarik dari Anas.
Aku katakan, bahwa hadits Anas disebutkan pada bab 37 dengan lafazh (mata terpejam tapi hatinya terjaga). Dalam lafazhnya tidak ada kalimat (mimpi para Nabi adalah nyata) sebagaimana yang tersirat dari ucapannya. Menurutku, kalimat ini juga tidak ada pada lafazh Mulim, baik yang marfu' maupun yang mauquf, dan yang ada adalah yang diriwayatkan secara mauquf pada Ibnu 'Abbas bin Abi Ashim dalam as-Sunnah nomor 463 yang aku tahqiq dengan sanad hasan berdasarkan syarat Muslim.
(91) Disebutkan secara bersambung oleh 'Abdurrazzaq dengan sanad shahih darinya.
(92) Disambungkan oleh al-Bazzar dengan sanad shahih.
(93) Disambungkan oleh pengarang dalam al-Adabul Mufrad yang dalam sanadnya terdapat Sa'I'd bin Zaid ia orang yang jujur tapi sering ragu, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hafizh.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Jadilah orang berilmu! Jika tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu! Jika tidak mampu, maka cintailah mereka! Jika tidak mampu, maka janganlah membenci mereka!
Showing posts with label mukhtashar shahih bukhari. Show all posts
Showing posts with label mukhtashar shahih bukhari. Show all posts
Tuesday, 2 May 2017
Ringkasan Shahih Bukhari 89-91
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
4. Kitab Wudhu'
1. Bab: Firman Allah, "Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki." {QS. An-Nisaa' (4): 163}
Abu 'Abdillah berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan;
33.(84) Bahwa apa yang difardhukan dalam wudhu adalah satu kali-satu kali.
34.(85) Namun beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) pernah melakukannya dua kali-dua kali.
35.(86) Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) pernah juga tiga kali-tiga kali, dan tidak pernah lebih dari tiga kali. (87) Para 'ulama tidak menyukai berlebihan dalam hal ini dan tidak suka melampaui apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.
2. Bab: Shalat Tidak Diterima Tanpa Bersuci
89. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak akan diterima shalatnya orang yang berhadats sampai ia berwudhu'." Seorang laki-laki dari Hadhramaut berkata, "Wahai Abu Hurairah, apa itu hadats?" Ia menjawab, "Kentut yang disertai bunyi atau yang tidak disertai bunyi."
3. Bab: Keutamaan Wudhu' dan Cahaya di Wajah Karena Bekas Wudhu'
90. Dari Nu'aim al-Mujammir, ia berkata, "Aku naik ke atas masjid bersama Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), lalu ia berwudhu'. Kemudian berkata, 'Aku telah mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ummatku akan dipanggil dalam keadaan muka yang cemerlang (berseri-seri) karena bekas wudhu', maka barangsiapa di antara kalian mampu melebarkan cahayanya, maka hendaklah ia melakukannya.''" (88)
4. Bab: Keraguan Tidak Mengharuskan Wudhu Sampai Muncul Keyakinan
91. Dari 'Abbad bin Tamim, dari pamannya, bahwa ia mengadu kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang terbayang padanya bahwa ia merasakan sesuatu {kentut} ketika shalat. Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Hendaknya ia tidak berpaling (membatalkan shalatnya), sampai ia mendengar suara atau mencium baunya."
36.(89) (Dalam riwayat mu'allaq disebutkan, "Tidak perlu wudhu, ampai engkau mencium baunya atau mendengar bunyinya." 3/5)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(84) Merujuk pada hadits maushul dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang akan disebutkan pada bab 22.
(85) Merujuk pada hadits 'Abdullah bin Zaid (ra-dhiyallaahu 'anhu), yang akan disebutkan pada bab 23.
(86) Merujuk pada hadits maushul dari 'Utsman ra-dhiyallaahu 'anhu yang akan disebutkan pada bab 24.
(87) Maksudnya, tidak ada satu pun hadits marfu' tentang sifat wudhu' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa beliau melakukannya lebih dari tiga kali. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) mencela orang yang melebih tiga kali. Demikian pada riwayat Abu Dawud dan lainnya dari hadits 'Amr bin Syu'aib dari kakeknya, dengan sanad hasan, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Shahih Abi Dawud (124).
(88) Aku katakan, "Kalimat (...فَمَنِ اسْتَطَاعَ) bukan sambungan hadits ini, tapi kalimat ini dimasukkan ke dalam hadits sebagaimana yang telah ditahkik oleh beberapa 'ulama, di antaranya adalah al-Hafizh Ibnu Hajar (rahimahullaah). Penjelasan detailnya bisa ditemukan dalam kitab ash-Shahihah (1030).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
4. Kitab Wudhu'
1. Bab: Firman Allah, "Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki." {QS. An-Nisaa' (4): 163}
Abu 'Abdillah berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan;
33.(84) Bahwa apa yang difardhukan dalam wudhu adalah satu kali-satu kali.
34.(85) Namun beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) pernah melakukannya dua kali-dua kali.
35.(86) Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) pernah juga tiga kali-tiga kali, dan tidak pernah lebih dari tiga kali. (87) Para 'ulama tidak menyukai berlebihan dalam hal ini dan tidak suka melampaui apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.
2. Bab: Shalat Tidak Diterima Tanpa Bersuci
89. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak akan diterima shalatnya orang yang berhadats sampai ia berwudhu'." Seorang laki-laki dari Hadhramaut berkata, "Wahai Abu Hurairah, apa itu hadats?" Ia menjawab, "Kentut yang disertai bunyi atau yang tidak disertai bunyi."
3. Bab: Keutamaan Wudhu' dan Cahaya di Wajah Karena Bekas Wudhu'
90. Dari Nu'aim al-Mujammir, ia berkata, "Aku naik ke atas masjid bersama Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), lalu ia berwudhu'. Kemudian berkata, 'Aku telah mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ummatku akan dipanggil dalam keadaan muka yang cemerlang (berseri-seri) karena bekas wudhu', maka barangsiapa di antara kalian mampu melebarkan cahayanya, maka hendaklah ia melakukannya.''" (88)
4. Bab: Keraguan Tidak Mengharuskan Wudhu Sampai Muncul Keyakinan
91. Dari 'Abbad bin Tamim, dari pamannya, bahwa ia mengadu kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang terbayang padanya bahwa ia merasakan sesuatu {kentut} ketika shalat. Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Hendaknya ia tidak berpaling (membatalkan shalatnya), sampai ia mendengar suara atau mencium baunya."
36.(89) (Dalam riwayat mu'allaq disebutkan, "Tidak perlu wudhu, ampai engkau mencium baunya atau mendengar bunyinya." 3/5)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(84) Merujuk pada hadits maushul dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang akan disebutkan pada bab 22.
(85) Merujuk pada hadits 'Abdullah bin Zaid (ra-dhiyallaahu 'anhu), yang akan disebutkan pada bab 23.
(86) Merujuk pada hadits maushul dari 'Utsman ra-dhiyallaahu 'anhu yang akan disebutkan pada bab 24.
(87) Maksudnya, tidak ada satu pun hadits marfu' tentang sifat wudhu' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa beliau melakukannya lebih dari tiga kali. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) mencela orang yang melebih tiga kali. Demikian pada riwayat Abu Dawud dan lainnya dari hadits 'Amr bin Syu'aib dari kakeknya, dengan sanad hasan, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Shahih Abi Dawud (124).
(88) Aku katakan, "Kalimat (...فَمَنِ اسْتَطَاعَ) bukan sambungan hadits ini, tapi kalimat ini dimasukkan ke dalam hadits sebagaimana yang telah ditahkik oleh beberapa 'ulama, di antaranya adalah al-Hafizh Ibnu Hajar (rahimahullaah). Penjelasan detailnya bisa ditemukan dalam kitab ash-Shahihah (1030).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Saturday, 29 April 2017
Ringkasan Shahih Bukhari 86-88
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
52. Bab: Malu Bertanya Lalu Menyuruh Orang Lain Untuk Bertanya
86. Dari 'Ali bin Abi Thalib (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku adalah orang yang sering mengeluarkan madzi, [tapi aku malu untuk bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam 1/52], maka aku menyuruh al-Miqdad [bin al-Aswad] untuk menanyakannya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam [karena statusku sebagai suami puterinya 1/71]. Miqdad pun menanyakan hal itu, maka Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, 'Hal itu mengharuskan wudhu'.' (Dalam riwayat lain: 'Wudhulah engkau dan cucilah kemaluanmu.' 1/71)."
53. Bab: Menyampaikan Ilmu dan Fatwa di Dalam Masjid
87. Dari 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), bahwa seorang laki-laki berdiri dalam masjid dan berkata, "Wahai Rasulullah, dari mana engkau memerintahkan kami untuk mulai ihram?" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Penduduk Madinah harus memulainya dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam harus memulainya dari [Mahya'ah, yaitu 2/142] al-Juhfah, dan penduduk Najd Makkah harus memakainya dari Qarn." (Dalam riwayat lain dari jalur Zaid bin Jubair, bahwa ia menemui 'Abdullah bin 'Umar di rumahnya, ia mempunyai tenda, lalu aku bertanya kepadanya, "Dari mana aku boleh berumrah?" Ia menjawab, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah mewajibkan bagi penduduk Najd dimulai dari Qarn." Selanjutnya disebutkan seperti tadi. 2/141). Ibnu 'Umar berkata, "Mereka beranggapan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Dan penduduk Yaman, mereka memakainya dari Yalamlam.'" Ibnu 'Umar berkata, "Aku tidak ingat (dalam riwayat lain: Aku tidak mendengar 2/143) hal ini dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. [Disebutkan juga Iraq, tapi Iraq saat itu belum ada 8/155]." (82)
54. Bab: Menjawab Pertanyaan Melebihi yang Ditanyakan
88. Dari Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada beliau, "Apa [jenis pakaian 7/36] yang dikenakan oleh seorang muhrim {orang yang ihram}?" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Dia tidak boleh (dalam riwayat lain: Janganlah kalian) mengenakan baju, serban, celana, mantel yang bertudung kepala, tidak juga baju yang dicelup wenter dan za'faran {wangi-wangian}. Apabila tidak menemukan sandal maka hendaknya memakai khuf {sejenis sepatu bot}, namun dia harus memotong keduanya hinga tidak melebihi {menutupi} kedua mata kakinya. [Dan hendaknya wanita yang sedang ihram tidak mengenakan niqab dan tidak pula memakai sarung tangan."
28.(83) Ubaidillah berkata, "Tidak pula yang dicelup wenter." Dia juga berkata, "Hendaknya wanita yang sedang ihram tidak mengenakan niqab dan tidak pula memakai sarung tangan."
29.(84) Malik berkata, "Dari Nafi', dari Ibnu 'Umar, "Hendaknya wanita yang sedang ihram tidak mengenakan niqab."]
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(82) Adalah benar penetapan waktu Dzatu Irq untuk penduduk Irak dari riwayat Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) dari para shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Silakan merujuknya dalam bukuku Hajjatun Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (halaman 52, cetakan al-Maktab al-Islami).
(83) Disebutkan secara maushul oleh Ishaq bin Rahawaih dan Ibnu Khuzaimah (rahimahumullaah) dari beberapa jalur dari Ubaidillah bin 'Umar, dari Nafi', dari Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), lalu dia menuturkan hadits hingga kalimat (الورس أو الزعفران). Ia berkata, "Abdullah itu adalah Ibnu 'Umar, ia mengatakan... dst." Ini disebutkannya secara mauquf.
(84) Ini disebutkan dalam al-Muwaththa' (1/305). Maksud penulis ra-dhiyallaahu 'anhu Ta'ala, bahwa Malik meringkas hadits ini dengan periwayatan seperti kalimat tersebut darinya secara mauquf pada Ibnu 'Umar, namun ini menguatkan riwayat Ubaidillah yang mu'allaq, yaitu yang aku jelaskan bahwa kalimat ini dimasukkan dalam hadits tersebut, ini perkataan Ibnu 'Umar. Demikian pendapat yang dipilih al-Hafizh dalam kitab al-Fath. Berbeda dengan penulis, beliau cenderung tidak menyertakannya. Demikian sebagaimana yang telah aku jelaskan dalam kitab al-Irwa' (1011).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
52. Bab: Malu Bertanya Lalu Menyuruh Orang Lain Untuk Bertanya
86. Dari 'Ali bin Abi Thalib (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku adalah orang yang sering mengeluarkan madzi, [tapi aku malu untuk bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam 1/52], maka aku menyuruh al-Miqdad [bin al-Aswad] untuk menanyakannya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam [karena statusku sebagai suami puterinya 1/71]. Miqdad pun menanyakan hal itu, maka Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, 'Hal itu mengharuskan wudhu'.' (Dalam riwayat lain: 'Wudhulah engkau dan cucilah kemaluanmu.' 1/71)."
53. Bab: Menyampaikan Ilmu dan Fatwa di Dalam Masjid
87. Dari 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), bahwa seorang laki-laki berdiri dalam masjid dan berkata, "Wahai Rasulullah, dari mana engkau memerintahkan kami untuk mulai ihram?" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Penduduk Madinah harus memulainya dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam harus memulainya dari [Mahya'ah, yaitu 2/142] al-Juhfah, dan penduduk Najd Makkah harus memakainya dari Qarn." (Dalam riwayat lain dari jalur Zaid bin Jubair, bahwa ia menemui 'Abdullah bin 'Umar di rumahnya, ia mempunyai tenda, lalu aku bertanya kepadanya, "Dari mana aku boleh berumrah?" Ia menjawab, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah mewajibkan bagi penduduk Najd dimulai dari Qarn." Selanjutnya disebutkan seperti tadi. 2/141). Ibnu 'Umar berkata, "Mereka beranggapan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Dan penduduk Yaman, mereka memakainya dari Yalamlam.'" Ibnu 'Umar berkata, "Aku tidak ingat (dalam riwayat lain: Aku tidak mendengar 2/143) hal ini dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. [Disebutkan juga Iraq, tapi Iraq saat itu belum ada 8/155]." (82)
54. Bab: Menjawab Pertanyaan Melebihi yang Ditanyakan
88. Dari Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada beliau, "Apa [jenis pakaian 7/36] yang dikenakan oleh seorang muhrim {orang yang ihram}?" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Dia tidak boleh (dalam riwayat lain: Janganlah kalian) mengenakan baju, serban, celana, mantel yang bertudung kepala, tidak juga baju yang dicelup wenter dan za'faran {wangi-wangian}. Apabila tidak menemukan sandal maka hendaknya memakai khuf {sejenis sepatu bot}, namun dia harus memotong keduanya hinga tidak melebihi {menutupi} kedua mata kakinya. [Dan hendaknya wanita yang sedang ihram tidak mengenakan niqab dan tidak pula memakai sarung tangan."
28.(83) Ubaidillah berkata, "Tidak pula yang dicelup wenter." Dia juga berkata, "Hendaknya wanita yang sedang ihram tidak mengenakan niqab dan tidak pula memakai sarung tangan."
29.(84) Malik berkata, "Dari Nafi', dari Ibnu 'Umar, "Hendaknya wanita yang sedang ihram tidak mengenakan niqab."]
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(82) Adalah benar penetapan waktu Dzatu Irq untuk penduduk Irak dari riwayat Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) dari para shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Silakan merujuknya dalam bukuku Hajjatun Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (halaman 52, cetakan al-Maktab al-Islami).
(83) Disebutkan secara maushul oleh Ishaq bin Rahawaih dan Ibnu Khuzaimah (rahimahumullaah) dari beberapa jalur dari Ubaidillah bin 'Umar, dari Nafi', dari Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), lalu dia menuturkan hadits hingga kalimat (الورس أو الزعفران). Ia berkata, "Abdullah itu adalah Ibnu 'Umar, ia mengatakan... dst." Ini disebutkannya secara mauquf.
(84) Ini disebutkan dalam al-Muwaththa' (1/305). Maksud penulis ra-dhiyallaahu 'anhu Ta'ala, bahwa Malik meringkas hadits ini dengan periwayatan seperti kalimat tersebut darinya secara mauquf pada Ibnu 'Umar, namun ini menguatkan riwayat Ubaidillah yang mu'allaq, yaitu yang aku jelaskan bahwa kalimat ini dimasukkan dalam hadits tersebut, ini perkataan Ibnu 'Umar. Demikian pendapat yang dipilih al-Hafizh dalam kitab al-Fath. Berbeda dengan penulis, beliau cenderung tidak menyertakannya. Demikian sebagaimana yang telah aku jelaskan dalam kitab al-Irwa' (1011).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 83-85
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
50. Bab: Mengkhususkan Suatu Ilmu Kepada Sebagian Orang Karena Khawatir yang Lainnya Tidak Dapat Memahaminya
83. 'Ali (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Sampaikanlah (berbicaralah) kepada manusia sesuai apa yang mereka ketahui. Apakah kalian suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?" (77)
84. Dari Qatadah, ia berkata: Anas bin Malik (ra-dhiyallaahu 'anhu) menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam -dan Mu'adz diboncengnya di atas seekor tunggangan- bersabda, "Hai Mu'adz bin Jabal!" Mu'adz menyahut, "Aku wahai Rasulullah." Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda lagi, "Hai Mu'adz!" Mu'adz menyahut lagi, "Aku wahai Rasulullah." (Sampai tiga kali). Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah (dengan benar) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dengan kesaksian yang benar-benar jujur dari hati sanubarinya, maka Allah akan mengharamkannya dari api Neraka." Mu'adz bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah tidak lebih baik berita itu aku sampaikan kepada orang-orang supaya mereka gembira?" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Kalau begitu, mereka akan bersikap pasrah." Namun pada akhirnya Mu'adz menyampaikan ini ketika telah dekat ajalnya, karena ia takut berdosa (sebab menyembunyikan hadits).
(Dalam suatu riwayat melalui jalur lain disebutkan: Dari Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata: Diceritakan kepadaku (78), bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Mu'adz, "Barangsiapa menghadap Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka dia masuk Surga." Mu'adz berkata, "Tidakkah lebih baik jika kusampaikan kepada orang-orang?" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Jangan! Aku khawatir mereka akan berpasrah diri." (79)
51. Bab: Malu Menuntut Ilmu
26.(80) Mujahid berkata, "Orang yang malu dan sombong tidaklah menuntut ilmu."
27.(81) 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Sebaik-baik kaum wanita adalah para wanita Anshar, karena rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami masalah-masalah agama."
85. Dari Ummu Salamah (ra-dhiyallaahu 'anha), ia berkata, "Ummu Sulaim [isteri Abu Thalhah 1/74] mendatangi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah bagi seorang wanita harus mandi jika dia bermimpi?' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, '[Ya,] jika ia melihat air (keluar mani).'" Lalu Ummu Salamah menutup -mukanya- (dalam riwayat lain: Lalu Ummu Salamah tertawa 4/102) dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah seorang wanita juga bermimpi?" Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Ya, tentu saja. Kalau tidak, bagaimana anaknya bisa menyerupainya?"
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(77) Seperti mu'allaq, tapi ini telah dituturkan oleh Uqbah dengan isnad yang bersambung sampai kepada 'Ali ra-dhiyallaahu 'anhu, maka riwayat ini termasuk maushul.
(78) Al-Hafizh Ibnu Hajar (rahimahullaah) berkata, "Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu) tidak menyebutkan siapa yang menceritakan itu kepadanya dalam semua jalur periwayatan yang aku teliti." Aku katakan, bahwa aku heran terhadap beliau {al-Hafizh}, karena hadits ini diriwayatkan Qatadah dari Anas, dan dalam riwayat Ahmad (5/242) disebutkan darinya dari Anas, bahwa Mu'adz bin Jabal (ra-dhiyallaahu 'anhu) menceritakan kepadanya. Diikuti pula oleh Abu Sufyan dari Anas, ia berkata, "Kami mendatangi Mu'adz bin Jabal, lalu kami katakan, 'Ceritakan kepada kami di antara keanehan-keanehan hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.' Ia berkata, 'Baiklah. Aku dibonceng beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) di atas seekor keledai, beliau bersabda, 'Wahai Mu'adz... dst.''" Ahmad (rahimahullaah) meriwayatkannya (5/228, 236) dan isnadnya shahih. Hal yang lebih mengherankan dari semua ini, bahwa al-Hafizh tidak mencantumkan di sini, sementara pengarang (al-Bukhari) sendiri meriwayatkannya pada kitab ke 81 bab 36 dari jalur pertama: Dari Qatadah, "Anas bin Malik menceritakan kepada kami, dari Mu'adz bin Jabal, ia berkata..." Selanjutnya pengarang menyebutkan hadits tersebut. Oleh karena itu aku memisahkan pengulangannya, karena yang satu dari sanad Anas, dan yang satu lagi dari sanad Mu'adz. Memang, seandainya al-Hafizh menyebutkan komentar ini pada akhir hadits yang berasal dari jalur pertama, tentulah tidak mengherankan, karena Anas tinggal di Madinah ketika Mu'adz meninggal di Syam. Demikian sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh sendiri, tapi beliau tidak meletakkannya pada tempatnya.
(79) Diriwayatkan oleh Muslim (1/45), dari Abu Hurairah dan Ubadah bin ash-Shamit (ra-dhiyallaahu 'anhuma), (1/43).
(80) Disebutkan secara maushul oleh Abu Nu'aim dalam kitab al-Hulliyyah dengan sanad shahih darinya.
(81) Disebutkan juga oleh Muslim secara maushul (1/180) dengan sanad hasan.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
50. Bab: Mengkhususkan Suatu Ilmu Kepada Sebagian Orang Karena Khawatir yang Lainnya Tidak Dapat Memahaminya
83. 'Ali (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Sampaikanlah (berbicaralah) kepada manusia sesuai apa yang mereka ketahui. Apakah kalian suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?" (77)
84. Dari Qatadah, ia berkata: Anas bin Malik (ra-dhiyallaahu 'anhu) menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam -dan Mu'adz diboncengnya di atas seekor tunggangan- bersabda, "Hai Mu'adz bin Jabal!" Mu'adz menyahut, "Aku wahai Rasulullah." Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda lagi, "Hai Mu'adz!" Mu'adz menyahut lagi, "Aku wahai Rasulullah." (Sampai tiga kali). Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah (dengan benar) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dengan kesaksian yang benar-benar jujur dari hati sanubarinya, maka Allah akan mengharamkannya dari api Neraka." Mu'adz bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah tidak lebih baik berita itu aku sampaikan kepada orang-orang supaya mereka gembira?" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Kalau begitu, mereka akan bersikap pasrah." Namun pada akhirnya Mu'adz menyampaikan ini ketika telah dekat ajalnya, karena ia takut berdosa (sebab menyembunyikan hadits).
(Dalam suatu riwayat melalui jalur lain disebutkan: Dari Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata: Diceritakan kepadaku (78), bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Mu'adz, "Barangsiapa menghadap Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka dia masuk Surga." Mu'adz berkata, "Tidakkah lebih baik jika kusampaikan kepada orang-orang?" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Jangan! Aku khawatir mereka akan berpasrah diri." (79)
51. Bab: Malu Menuntut Ilmu
26.(80) Mujahid berkata, "Orang yang malu dan sombong tidaklah menuntut ilmu."
27.(81) 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Sebaik-baik kaum wanita adalah para wanita Anshar, karena rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami masalah-masalah agama."
85. Dari Ummu Salamah (ra-dhiyallaahu 'anha), ia berkata, "Ummu Sulaim [isteri Abu Thalhah 1/74] mendatangi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah bagi seorang wanita harus mandi jika dia bermimpi?' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, '[Ya,] jika ia melihat air (keluar mani).'" Lalu Ummu Salamah menutup -mukanya- (dalam riwayat lain: Lalu Ummu Salamah tertawa 4/102) dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah seorang wanita juga bermimpi?" Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Ya, tentu saja. Kalau tidak, bagaimana anaknya bisa menyerupainya?"
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(77) Seperti mu'allaq, tapi ini telah dituturkan oleh Uqbah dengan isnad yang bersambung sampai kepada 'Ali ra-dhiyallaahu 'anhu, maka riwayat ini termasuk maushul.
(78) Al-Hafizh Ibnu Hajar (rahimahullaah) berkata, "Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu) tidak menyebutkan siapa yang menceritakan itu kepadanya dalam semua jalur periwayatan yang aku teliti." Aku katakan, bahwa aku heran terhadap beliau {al-Hafizh}, karena hadits ini diriwayatkan Qatadah dari Anas, dan dalam riwayat Ahmad (5/242) disebutkan darinya dari Anas, bahwa Mu'adz bin Jabal (ra-dhiyallaahu 'anhu) menceritakan kepadanya. Diikuti pula oleh Abu Sufyan dari Anas, ia berkata, "Kami mendatangi Mu'adz bin Jabal, lalu kami katakan, 'Ceritakan kepada kami di antara keanehan-keanehan hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.' Ia berkata, 'Baiklah. Aku dibonceng beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) di atas seekor keledai, beliau bersabda, 'Wahai Mu'adz... dst.''" Ahmad (rahimahullaah) meriwayatkannya (5/228, 236) dan isnadnya shahih. Hal yang lebih mengherankan dari semua ini, bahwa al-Hafizh tidak mencantumkan di sini, sementara pengarang (al-Bukhari) sendiri meriwayatkannya pada kitab ke 81 bab 36 dari jalur pertama: Dari Qatadah, "Anas bin Malik menceritakan kepada kami, dari Mu'adz bin Jabal, ia berkata..." Selanjutnya pengarang menyebutkan hadits tersebut. Oleh karena itu aku memisahkan pengulangannya, karena yang satu dari sanad Anas, dan yang satu lagi dari sanad Mu'adz. Memang, seandainya al-Hafizh menyebutkan komentar ini pada akhir hadits yang berasal dari jalur pertama, tentulah tidak mengherankan, karena Anas tinggal di Madinah ketika Mu'adz meninggal di Syam. Demikian sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh sendiri, tapi beliau tidak meletakkannya pada tempatnya.
(79) Diriwayatkan oleh Muslim (1/45), dari Abu Hurairah dan Ubadah bin ash-Shamit (ra-dhiyallaahu 'anhuma), (1/43).
(80) Disebutkan secara maushul oleh Abu Nu'aim dalam kitab al-Hulliyyah dengan sanad shahih darinya.
(81) Disebutkan juga oleh Muslim secara maushul (1/180) dengan sanad hasan.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Friday, 21 April 2017
Ringkasan Shahih Bukhari 80-82
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
44. Bab: Diam untuk Mendengarkan 'Ulama
80. Dari Jarir (ra-dhiyallaahu 'anhu), bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya pada waktu haji Wada', "Suruhlah manusia untuk tenang!" Kemudian beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Janganlah kalian kufur sesudahku, dimana sebagian kalian membunuh sebagian yang lain."
45. Bab: Anjuran untuk Orang Alim, Jika Ditanya Tentang Siapakah yang Lebih Mengetahui? Maka Hendaknya Menyerahkannya Kepada Allah
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang panjang, yaitu tentang kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa ('alaihimas salaam), yang akan disebutkan pada kitab ke 65 bab 18).
46. Bab: Bertanya Sambil Berdiri Kepada Seorang Alim yang Sedang Duduk
81. Dari Abu Musa (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Seorang laki-laki (dalam riwayat lain: Seorang badui 3/51) datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah perang fi sabilillah (di jalan Allah)? Di antara kami ada yang berperang karena marah dan panas hati. [Ada juga yang berperang karena berani dan ada pula yang berperang karena ingin dilihat orang {riya'}.' (Dalam riwayat lain: Ada orang yang berperang karena ingin mendapatkan harta rampasan, ada orang yang berperang untuk dikenang, dan pula ada orang yang berperang agar dilihat kedudukannya, siapakah di antara mereka yang fi sabilillah? 3/206) Kemudian Rasulullah (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) mengangkat kepalanya, beliau tidak mengangkat kepalanya jika si penanya tersebut tidak berdiri, lalu bersabda, 'Siapa yang berperang untuk menegakkan kalimat Allah setinggi-tingginya, maka ia berperang di jalan Allah 'Azza wa Jalla.'"
47. Bab: Bertanya dan Memberi Fatwa Ketika Melontar Jumrah
(Haditsnya adalah hadits 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang telah disebutkan, yaitu hadits nomor 62).
48. Bab: Firman Allah, "Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." {QS. Al-Israa' (17): 85}
82. Dari 'Abdullah (Ibnu Mas'ud) (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Ketika aku berjalan bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam di [antara 8/189] reruntuhan rumah-rumah (dalam riwayat lain: di antara ladang-ladang 5/228) (76) di Madinah, saat beliau bertelekan tongkat dari pelepah kurma, kami melewati sekelompok yahudi. Salah seorang mereka berkata kepada yang lainnya, 'Tanyakan kepadanya tentang ruh.' [Yang lainnya berkata, 'Bagaimana kalau ditanyakan kepadanya' 5/228] Yang lainnya berkata, 'Jangan tanya dia, karena dia akan menjawab dengan sesuatu yang (dalam riwayat lain: 'Jangan, dia akan memperdengarkan kepada kalian sesuatu yang 8/144) tidak kalian sukai.' Akan tetapi yang lainnya berkata, 'Mari kita tanya dia.' [Orang-orang lainnya berkata, 'Ayo tanya dia.'] Kemudian salah seorang dari mereka berdiri [mendekati beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam)] dan bertanya, 'Wahai Abu Qasim! Apakah yang dimaksud dengan ruh?' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam terdiam [beliau tidak memberikan jawaban apa-apa kepada mereka], (dalam riwayat lain: beliau berhenti sebentar) [sambil bertelekan pada tongkat, sementara aku di belakangnya 8/188], aku duga pada saat itu wahyu sedang diturunkan, [maka aku pun mundur hingga wahyu selesai], lalu aku kembali ke posisiku semula. Setelah selesai diturunkan, beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) pun membaca, "Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah kepada mereka, 'Ruh itu urusan Rabbku.' Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit." {QS. Al-Israa' (17): 85}" -Al-A'masy berkata, "Demikianlah dalam {riwayat} bacaan kami- [lalu salah seorang mereka berkata kepada yang lainnya, "Sudah kukatakan pada kalian, jangan tanya dia!"]
49. Bab: Meninggalkan Sebagian Ikhtiar Karena Takut Sebagian Manusia Tidak Memahaminya Sehingga Melakukan Kesalahan yang Lebih Besar
(Haditsnya adalah hadits 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma), yang akan disebutkan pada kitab ke 25 bab 42).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(76) Al-Hafizh berkata, "Ini yang lebih benar, karena Muslim juga telah mengeluarkannya dari jalur lain, yaitu Abu Mas'ud dengan lafazh (كان في نخل).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
44. Bab: Diam untuk Mendengarkan 'Ulama
80. Dari Jarir (ra-dhiyallaahu 'anhu), bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya pada waktu haji Wada', "Suruhlah manusia untuk tenang!" Kemudian beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Janganlah kalian kufur sesudahku, dimana sebagian kalian membunuh sebagian yang lain."
45. Bab: Anjuran untuk Orang Alim, Jika Ditanya Tentang Siapakah yang Lebih Mengetahui? Maka Hendaknya Menyerahkannya Kepada Allah
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang panjang, yaitu tentang kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa ('alaihimas salaam), yang akan disebutkan pada kitab ke 65 bab 18).
46. Bab: Bertanya Sambil Berdiri Kepada Seorang Alim yang Sedang Duduk
81. Dari Abu Musa (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Seorang laki-laki (dalam riwayat lain: Seorang badui 3/51) datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah perang fi sabilillah (di jalan Allah)? Di antara kami ada yang berperang karena marah dan panas hati. [Ada juga yang berperang karena berani dan ada pula yang berperang karena ingin dilihat orang {riya'}.' (Dalam riwayat lain: Ada orang yang berperang karena ingin mendapatkan harta rampasan, ada orang yang berperang untuk dikenang, dan pula ada orang yang berperang agar dilihat kedudukannya, siapakah di antara mereka yang fi sabilillah? 3/206) Kemudian Rasulullah (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) mengangkat kepalanya, beliau tidak mengangkat kepalanya jika si penanya tersebut tidak berdiri, lalu bersabda, 'Siapa yang berperang untuk menegakkan kalimat Allah setinggi-tingginya, maka ia berperang di jalan Allah 'Azza wa Jalla.'"
47. Bab: Bertanya dan Memberi Fatwa Ketika Melontar Jumrah
(Haditsnya adalah hadits 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang telah disebutkan, yaitu hadits nomor 62).
48. Bab: Firman Allah, "Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." {QS. Al-Israa' (17): 85}
82. Dari 'Abdullah (Ibnu Mas'ud) (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Ketika aku berjalan bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam di [antara 8/189] reruntuhan rumah-rumah (dalam riwayat lain: di antara ladang-ladang 5/228) (76) di Madinah, saat beliau bertelekan tongkat dari pelepah kurma, kami melewati sekelompok yahudi. Salah seorang mereka berkata kepada yang lainnya, 'Tanyakan kepadanya tentang ruh.' [Yang lainnya berkata, 'Bagaimana kalau ditanyakan kepadanya' 5/228] Yang lainnya berkata, 'Jangan tanya dia, karena dia akan menjawab dengan sesuatu yang (dalam riwayat lain: 'Jangan, dia akan memperdengarkan kepada kalian sesuatu yang 8/144) tidak kalian sukai.' Akan tetapi yang lainnya berkata, 'Mari kita tanya dia.' [Orang-orang lainnya berkata, 'Ayo tanya dia.'] Kemudian salah seorang dari mereka berdiri [mendekati beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam)] dan bertanya, 'Wahai Abu Qasim! Apakah yang dimaksud dengan ruh?' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam terdiam [beliau tidak memberikan jawaban apa-apa kepada mereka], (dalam riwayat lain: beliau berhenti sebentar) [sambil bertelekan pada tongkat, sementara aku di belakangnya 8/188], aku duga pada saat itu wahyu sedang diturunkan, [maka aku pun mundur hingga wahyu selesai], lalu aku kembali ke posisiku semula. Setelah selesai diturunkan, beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) pun membaca, "Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah kepada mereka, 'Ruh itu urusan Rabbku.' Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit." {QS. Al-Israa' (17): 85}" -Al-A'masy berkata, "Demikianlah dalam {riwayat} bacaan kami- [lalu salah seorang mereka berkata kepada yang lainnya, "Sudah kukatakan pada kalian, jangan tanya dia!"]
49. Bab: Meninggalkan Sebagian Ikhtiar Karena Takut Sebagian Manusia Tidak Memahaminya Sehingga Melakukan Kesalahan yang Lebih Besar
(Haditsnya adalah hadits 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma), yang akan disebutkan pada kitab ke 25 bab 42).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(76) Al-Hafizh berkata, "Ini yang lebih benar, karena Muslim juga telah mengeluarkannya dari jalur lain, yaitu Abu Mas'ud dengan lafazh (كان في نخل).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 77-79
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
41. Bab: Menyampaikan 'Ilmu dan Nasihat di Malam Hari
77. Dari Ummu Salamah (ra-dhiyallaahu 'anha), ia berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam terbangun dari tidurnya pada suatu malam [karena kaget 8/90], kemudian berkata, 'Subhaanallaah {Maha Suci Allah} (dalam riwayat lain: Laa ilaaha illallaah 7/47), bencana apa yang diturunkan [Allah] malam ini dan rahmat apa yang dibukakan? Bangunkanlah (dalam riwayat lain: siapa yang membangunkan) orang-orang yang berada dalam kamar [maksudnya adalah para isteri beliau agar mereka melaksanakan shalat, 7/123] berapa banyak (dalam riwayat lain: sungguh banyak) orang yang berpakaian sewaktu di dunia tapi telanjang di akhirat.'"
[Az-Zuhri berkata, "Hindun (74) memiliki beberapa kain yang kedua lengannya hingga mencapai ujung jari tangannya."]
42. Bab: Membicarakan 'Ilmu Sebelum Tidur
78. Dari 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam shalat 'Isya bersama kami pada akhir hidupnya [peristiwa ini yang mendorong orang-orang yang mengisi sepertiga malam 1/141]. Begitu selesai salam, beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) berdiri [lalu menghadap kepada kami] seraya bersabda, 'Apakah kalian mengetahui malam kalian ini. Sesungguhnya di penghujung seratus tahun, tidak ada seorang pun [yang sekarang hidup 1/149] {di antara kalian} yang akan tersisa di muka bumi.' [Orang-orang telah keliru dalam memahami ungkapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika menyampaikan hadits-hadits tentang seratus tahun. Sebenarnya ungkapan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Tidak ada tersisa seorang pun yang hari ini hidup di muka bumi, maksudnya adalah sirnanya masa tersebut {habisnya generasi tersebut}]."
43. Bab: Menghafal 'Ilmu
79. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku hafal dua karung hadits dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Hadits yang satu telah aku siarkan, dan yang satu lagi jika aku siarkan pasti akan dipotong leherku ini." (75)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
74) Hindun binti al-Harits al-Farasiyah, yang meriwayatkan hadits ini dari Ummu Salamah ra-dhiyallaahu 'anha.
(75) Al-Hafizh berkata, "Para 'ulama memiliki 'ilmu yang tidak disebutkan pada hadits-hadits, yang menjelaskan para penguasa durjana serta kondisi dan zaman mereka. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) telah menyampaikan sebagiannya, dan tidak menyampaikan sebagian lainnya karena kekhawatiran dirinya terhadap mereka, seperti ucapannya, 'Aku berlindung kepada Allah dari permulaan enam puluh dan kepemimpinan anak-anak muda.' Ini menunjukkan kekhilafahan Yazid bin Mu'awiyah, yaitu pada tahun 60 Hijriyah. Allah mengabulkan do'anya, dan Abu Hurairah meninggal satu tahun sebelum tahun tersebut. Ini juga merupakan bantahan terhadap kaum sufi yang melampaui batas, yaitu mereka yang menjadikan hadits ini sebagai senjata untuk membenarkan ucapan batil mereka, bahwa syari'at itu ada yang zhahir dan ada yang batin." Silakan merujuknya bagi yang ingin mendalaminya.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
41. Bab: Menyampaikan 'Ilmu dan Nasihat di Malam Hari
77. Dari Ummu Salamah (ra-dhiyallaahu 'anha), ia berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam terbangun dari tidurnya pada suatu malam [karena kaget 8/90], kemudian berkata, 'Subhaanallaah {Maha Suci Allah} (dalam riwayat lain: Laa ilaaha illallaah 7/47), bencana apa yang diturunkan [Allah] malam ini dan rahmat apa yang dibukakan? Bangunkanlah (dalam riwayat lain: siapa yang membangunkan) orang-orang yang berada dalam kamar [maksudnya adalah para isteri beliau agar mereka melaksanakan shalat, 7/123] berapa banyak (dalam riwayat lain: sungguh banyak) orang yang berpakaian sewaktu di dunia tapi telanjang di akhirat.'"
[Az-Zuhri berkata, "Hindun (74) memiliki beberapa kain yang kedua lengannya hingga mencapai ujung jari tangannya."]
42. Bab: Membicarakan 'Ilmu Sebelum Tidur
78. Dari 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam shalat 'Isya bersama kami pada akhir hidupnya [peristiwa ini yang mendorong orang-orang yang mengisi sepertiga malam 1/141]. Begitu selesai salam, beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) berdiri [lalu menghadap kepada kami] seraya bersabda, 'Apakah kalian mengetahui malam kalian ini. Sesungguhnya di penghujung seratus tahun, tidak ada seorang pun [yang sekarang hidup 1/149] {di antara kalian} yang akan tersisa di muka bumi.' [Orang-orang telah keliru dalam memahami ungkapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika menyampaikan hadits-hadits tentang seratus tahun. Sebenarnya ungkapan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Tidak ada tersisa seorang pun yang hari ini hidup di muka bumi, maksudnya adalah sirnanya masa tersebut {habisnya generasi tersebut}]."
43. Bab: Menghafal 'Ilmu
79. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku hafal dua karung hadits dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Hadits yang satu telah aku siarkan, dan yang satu lagi jika aku siarkan pasti akan dipotong leherku ini." (75)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
74) Hindun binti al-Harits al-Farasiyah, yang meriwayatkan hadits ini dari Ummu Salamah ra-dhiyallaahu 'anha.
(75) Al-Hafizh berkata, "Para 'ulama memiliki 'ilmu yang tidak disebutkan pada hadits-hadits, yang menjelaskan para penguasa durjana serta kondisi dan zaman mereka. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) telah menyampaikan sebagiannya, dan tidak menyampaikan sebagian lainnya karena kekhawatiran dirinya terhadap mereka, seperti ucapannya, 'Aku berlindung kepada Allah dari permulaan enam puluh dan kepemimpinan anak-anak muda.' Ini menunjukkan kekhilafahan Yazid bin Mu'awiyah, yaitu pada tahun 60 Hijriyah. Allah mengabulkan do'anya, dan Abu Hurairah meninggal satu tahun sebelum tahun tersebut. Ini juga merupakan bantahan terhadap kaum sufi yang melampaui batas, yaitu mereka yang menjadikan hadits ini sebagai senjata untuk membenarkan ucapan batil mereka, bahwa syari'at itu ada yang zhahir dan ada yang batin." Silakan merujuknya bagi yang ingin mendalaminya.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Saturday, 15 April 2017
Ringkasan Shahih Bukhari 70-76
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
39. Bab: Dosa Orang yang Berdusta Atas Nama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.
70. Dari 'Ali (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Janganlah kalian berdusta atas namaku, karena sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaknya ia akan masuk ke Neraka.'"
71. Dari Amir bin 'Abdullah bin Zubair dari ayahnya, ia berkata: Aku berkata kepada Zubair bahwa "Aku tidak pernah mendengar engkau meriwayatkan satu hadits pun dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana si Fulan dan si Fulan lainnya meriwayatkan hadits?" Zubair menjawab, "Aku memang tidak pernah berpisah dari beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), tetapi aku pernah mendengar beliau bersabda, 'Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempatnya di Neraka.'"
72. Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Sesungguhnya yang mencegahku untuk menyampaikan banyak hadits kepada kalian adalah, bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda, 'Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka hendaknya ia bersiap-siap menempati tempatnya di Neraka.'"
73. Dari Salamah bin al-Akwa' (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Barangsiapa mengatakan atas namaku sesuatu yang tidak pernah aku katakan, maka hendaknya ia bersiap-siap menempati tempatnya di Neraka.'"
74. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempatnya di Neraka."
40. Bab: Penulisan 'Ilmu
75. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), bahwa suku Khuza'ah membunuh seorang laki-laki dari bani Laits pada tahun penaklukan kota Makkah, sebagai pembalasan atas dibunuhnya seorang suku Khuza'ah oleh bani Laits [pada masa jahiliyah, 8/38]. Ketika kejadian itu diberitakan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau lalu menaiki untanya dan berbicara [kepada orang-orang. Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) memuji Allah dan menyanjung-Nya, 3/94] lalu bersabda, "Sesungguhnya Allah telah melindungi Makkah dari pasukan bergajah, memberi kekuatan kepada Rasulullah dan orang-orang mukmin untuk menaklukkannya. Ketahuilah, tidak dihalalkan kepada seorang pun sebelum dan sesudahku untuk berperang di negeri ini, kecuali hanya kepadaku sesaat di siang hari penaklukkan. Ketahuilah, bahwasanya Makkah pada saat ini adalah haram. Tidak boleh dipotong durinya dan tidak boleh ditebang pohonnya, dan tidak boleh pula diambil barangnya yang tercecer kecuali untuk memberitahukannya. Barangsiapa yang keluarganya terbunuh, maka ia boleh memilih antara dua: minta diyat (denda) atau menuntut balas (pembunuhan)." Lalu datang seorang laki-laki dari penduduk Yaman [yang dikenal dengan panggilan Abu Syah] dan berkata, "Tuliskanlah untukku wahai Rasulullah." Lalu beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) pun bersabda, "Tuliskan untuk si fulan itu." (Dalam riwayat lain: Untuk Abu Syah) kemudian berkata pula seorang laki-laki dari suku Quraisy (dalam riwayat lain: al-'Abbas), "Tidak boleh dicabut selain idzkhir (73) wahai Rasulullah, karena idzkhir ini kami pakai di rumah dan kuburan kami." Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Ya, selain idzkhir." [Aku katakan kepada al-Auza'i, "Apa maksud perkataannya, "Tuliskan untukku wahai Rasulullah?" Ia berkata, "Khutbah yang ia dengar dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam itu."]
76. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Tidak seorang pun di antara shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang lebih banyak dariku dalam mengumpulkan hadits dari beliau, kecuali 'Abdullah bin 'Amr bin al-Ash. Dia menulis hadits-hadits yang tidak aku tulis."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(73) Tumbuhan yang aromanya wangi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
39. Bab: Dosa Orang yang Berdusta Atas Nama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.
70. Dari 'Ali (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Janganlah kalian berdusta atas namaku, karena sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaknya ia akan masuk ke Neraka.'"
71. Dari Amir bin 'Abdullah bin Zubair dari ayahnya, ia berkata: Aku berkata kepada Zubair bahwa "Aku tidak pernah mendengar engkau meriwayatkan satu hadits pun dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana si Fulan dan si Fulan lainnya meriwayatkan hadits?" Zubair menjawab, "Aku memang tidak pernah berpisah dari beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), tetapi aku pernah mendengar beliau bersabda, 'Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempatnya di Neraka.'"
72. Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Sesungguhnya yang mencegahku untuk menyampaikan banyak hadits kepada kalian adalah, bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda, 'Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka hendaknya ia bersiap-siap menempati tempatnya di Neraka.'"
73. Dari Salamah bin al-Akwa' (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Barangsiapa mengatakan atas namaku sesuatu yang tidak pernah aku katakan, maka hendaknya ia bersiap-siap menempati tempatnya di Neraka.'"
74. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempatnya di Neraka."
40. Bab: Penulisan 'Ilmu
75. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), bahwa suku Khuza'ah membunuh seorang laki-laki dari bani Laits pada tahun penaklukan kota Makkah, sebagai pembalasan atas dibunuhnya seorang suku Khuza'ah oleh bani Laits [pada masa jahiliyah, 8/38]. Ketika kejadian itu diberitakan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau lalu menaiki untanya dan berbicara [kepada orang-orang. Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) memuji Allah dan menyanjung-Nya, 3/94] lalu bersabda, "Sesungguhnya Allah telah melindungi Makkah dari pasukan bergajah, memberi kekuatan kepada Rasulullah dan orang-orang mukmin untuk menaklukkannya. Ketahuilah, tidak dihalalkan kepada seorang pun sebelum dan sesudahku untuk berperang di negeri ini, kecuali hanya kepadaku sesaat di siang hari penaklukkan. Ketahuilah, bahwasanya Makkah pada saat ini adalah haram. Tidak boleh dipotong durinya dan tidak boleh ditebang pohonnya, dan tidak boleh pula diambil barangnya yang tercecer kecuali untuk memberitahukannya. Barangsiapa yang keluarganya terbunuh, maka ia boleh memilih antara dua: minta diyat (denda) atau menuntut balas (pembunuhan)." Lalu datang seorang laki-laki dari penduduk Yaman [yang dikenal dengan panggilan Abu Syah] dan berkata, "Tuliskanlah untukku wahai Rasulullah." Lalu beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) pun bersabda, "Tuliskan untuk si fulan itu." (Dalam riwayat lain: Untuk Abu Syah) kemudian berkata pula seorang laki-laki dari suku Quraisy (dalam riwayat lain: al-'Abbas), "Tidak boleh dicabut selain idzkhir (73) wahai Rasulullah, karena idzkhir ini kami pakai di rumah dan kuburan kami." Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Ya, selain idzkhir." [Aku katakan kepada al-Auza'i, "Apa maksud perkataannya, "Tuliskan untukku wahai Rasulullah?" Ia berkata, "Khutbah yang ia dengar dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam itu."]
76. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Tidak seorang pun di antara shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang lebih banyak dariku dalam mengumpulkan hadits dari beliau, kecuali 'Abdullah bin 'Amr bin al-Ash. Dia menulis hadits-hadits yang tidak aku tulis."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(73) Tumbuhan yang aromanya wangi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 77-79
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
41. Bab: Menyampaikan 'Ilmu dan Nasihat di Malam Hari
77. Dari Ummu Salamah (ra-dhiyallaahu 'anha), ia berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam terbangun dari tidurnya pada suatu malam [karena kaget 8/90], kemudian berkata, 'Subhaanallaah {Maha Suci Allah} (dalam riwayat lain: Laa ilaaha illallaah 7/47), bencana apa yang diturunkan [Allah] malam ini dan rahmat apa yang dibukakan? Bangunkanlah (dalam riwayat lain: siapa yang membangunkan) orang-orang yang berada dalam kamar [maksudnya adalah para isteri beliau agar mereka melaksanakan shalat, 7/123] berapa banyak (dalam riwayat lain: sungguh banyak) orang yang berpakaian sewaktu di dunia tapi telanjang di akhirat.'"
[Az-Zuhri berkata, "Hindun (74) memiliki beberapa kain yang kedua lengannya hingga mencapai ujung jari tangannya."]
42. Bab: Membicarakan 'Ilmu Sebelum Tidur
78. Dari 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam shalat 'Isya bersama kami pada akhir hidupnya [peristiwa ini yang mendorong orang-orang yang mengisi sepertiga malam 1/141]. Begitu selesai salam, beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) berdiri [lalu menghadap kepada kami] seraya bersabda, 'Apakah kalian mengetahui malam kalian ini. Sesungguhnya di penghujung seratus tahun, tidak ada seorang pun [yang sekarang hidup 1/149] {di antara kalian} yang akan tersisa di muka bumi.' [Orang-orang telah keliru dalam memahami ungkapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika menyampaikan hadits-hadits tentang seratus tahun. Sebenarnya ungkapan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Tidak ada tersisa seorang pun yang hari ini hidup di muka bumi, maksudnya adalah sirnanya masa tersebut {habisnya generasi tersebut}]."
43. Bab: Menghafal 'Ilmu
79. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku hafal dua karung hadits dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Hadits yang satu telah aku siarkan, dan yang satu lagi jika aku siarkan pasti akan dipotong leherku ini." (75)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(74) Hindun binti al-Harits al-Farasiyah, yang meriwayatkan hadits ini dari Ummu Salamah ra-dhiyallaahu 'anha.
(75) Al-Hafizh berkata, "Para 'ulama memiliki 'ilmu yang tidak disebutkan pada hadits-hadits, yang menjelaskan para penguasa durjana serta kondisi dan zaman mereka. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) telah menyampaikan sebagiannya, dan tidak menyampaikan sebagian lainnya karena kekhawatiran dirinya terhadap mereka, seperti ucapannya, 'Aku berlindung kepada Allah dari permulaan enam puluh dan kepemimpinan anak-anak muda.' Ini menunjukkan kekhilafahan Yazid bin Mu'awiyah, yaitu pada tahun 60 Hijriyah. Allah mengabulkan do'anya, dan Abu Hurairah meninggal satu tahun sebelum tahun tersebut. Ini juga merupakan bantahan terhadap kaum sufi yang melampaui batas, yaitu mereka yang menjadikan hadits ini sebagai senjata untuk membenarkan ucapan batil mereka, bahwa syari'at itu ada yang zhahir dan ada yang batin." Silakan merujuknya bagi yang ingin mendalaminya.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
41. Bab: Menyampaikan 'Ilmu dan Nasihat di Malam Hari
77. Dari Ummu Salamah (ra-dhiyallaahu 'anha), ia berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam terbangun dari tidurnya pada suatu malam [karena kaget 8/90], kemudian berkata, 'Subhaanallaah {Maha Suci Allah} (dalam riwayat lain: Laa ilaaha illallaah 7/47), bencana apa yang diturunkan [Allah] malam ini dan rahmat apa yang dibukakan? Bangunkanlah (dalam riwayat lain: siapa yang membangunkan) orang-orang yang berada dalam kamar [maksudnya adalah para isteri beliau agar mereka melaksanakan shalat, 7/123] berapa banyak (dalam riwayat lain: sungguh banyak) orang yang berpakaian sewaktu di dunia tapi telanjang di akhirat.'"
[Az-Zuhri berkata, "Hindun (74) memiliki beberapa kain yang kedua lengannya hingga mencapai ujung jari tangannya."]
42. Bab: Membicarakan 'Ilmu Sebelum Tidur
78. Dari 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam shalat 'Isya bersama kami pada akhir hidupnya [peristiwa ini yang mendorong orang-orang yang mengisi sepertiga malam 1/141]. Begitu selesai salam, beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) berdiri [lalu menghadap kepada kami] seraya bersabda, 'Apakah kalian mengetahui malam kalian ini. Sesungguhnya di penghujung seratus tahun, tidak ada seorang pun [yang sekarang hidup 1/149] {di antara kalian} yang akan tersisa di muka bumi.' [Orang-orang telah keliru dalam memahami ungkapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika menyampaikan hadits-hadits tentang seratus tahun. Sebenarnya ungkapan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Tidak ada tersisa seorang pun yang hari ini hidup di muka bumi, maksudnya adalah sirnanya masa tersebut {habisnya generasi tersebut}]."
43. Bab: Menghafal 'Ilmu
79. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku hafal dua karung hadits dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Hadits yang satu telah aku siarkan, dan yang satu lagi jika aku siarkan pasti akan dipotong leherku ini." (75)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(74) Hindun binti al-Harits al-Farasiyah, yang meriwayatkan hadits ini dari Ummu Salamah ra-dhiyallaahu 'anha.
(75) Al-Hafizh berkata, "Para 'ulama memiliki 'ilmu yang tidak disebutkan pada hadits-hadits, yang menjelaskan para penguasa durjana serta kondisi dan zaman mereka. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) telah menyampaikan sebagiannya, dan tidak menyampaikan sebagian lainnya karena kekhawatiran dirinya terhadap mereka, seperti ucapannya, 'Aku berlindung kepada Allah dari permulaan enam puluh dan kepemimpinan anak-anak muda.' Ini menunjukkan kekhilafahan Yazid bin Mu'awiyah, yaitu pada tahun 60 Hijriyah. Allah mengabulkan do'anya, dan Abu Hurairah meninggal satu tahun sebelum tahun tersebut. Ini juga merupakan bantahan terhadap kaum sufi yang melampaui batas, yaitu mereka yang menjadikan hadits ini sebagai senjata untuk membenarkan ucapan batil mereka, bahwa syari'at itu ada yang zhahir dan ada yang batin." Silakan merujuknya bagi yang ingin mendalaminya.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 67-69
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
35. Bab: Cara Dicabutnya 'Ilmu.
25.(71) 'Umar bin 'Abdul 'Aziz menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm, "Kumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang engkau temukan, kemudian tulislah. Aku khawatir akan hilangnya 'ilmu dan perginya para 'ulama (meninggal), padahal tidak ada yang dapat diterima kecuali hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Hendaknya orang-orang saling menyebarkan 'ilmu agama serta menyelenggarakan pengajaran, sehingga orang yang tidak mengetahui bisa diajari. Karena sesungguhnya 'ilmu itu tidak akan sirna kecuali jika dibiarkan menjadi rahasia {yang tidak diketahui/ tidak disebarluaskan}."
67. Dari Urwah [ia berkata: Datang kepada kami 8/148] 'Abdullah bin Amru bin al-Ash [lalu aku dengar ia] berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak mencabut 'ilmu dari para hamba secara langsung, tetapi Allah mencabut 'ilmu itu dengan mematikan para 'ulama. Apabila sudah tidak tersisa seorang 'alim pun, maka orang-orang akan mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin yang akan dijadikan tempat bertanya, lalu mereka {orang-orang bodoh itu} akan berfatwa tanpa dasar 'ilmu, (dalam riwayat lain: mereka akan memberikan fatwa dengan pendapat sendiri) mereka itu sesat dan menyesatkan." (Kemudian aku sampaikan kepada 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma), isteri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Selanjutnya 'Abdullah bin Amru bin al-Ash berkunjung lagi, maka 'Aisyah berkata, "Wahai anak saudariku, pergilah kepada 'Abdullah, dan pastikan tentang hadits yang engkau sampaikan kepadaku darinya." Lalu aku menemuinya dan menanyakan hal itu, maka ia pun menceritakan seperti yang pernah disampaikan kepadaku. Kemudian aku menemui 'Aisyah dan aku sampaikan kepadanya, 'Aisyah pun kaget dan berkata, "Demi Allah, 'Abdullah bin Amru masih mengingatnya." 8/148)
36. Bab: Perlukah Menetapkan Hari Tertentu untuk Mengajarkan 'Ilmu kepada Kaum Wanita?
(Haditsnya adalah hadits Abu Sa'id al-Khudri (ra-dhiyallaahu 'anhu), yang akan disebutkan pada kitab ke 96 bab 9).
37. Bab: Menanyakan Sesuatu yang Didengar Sampai Mengerti
68. Dari Ibnu 'Abi Mulaikah, bahwa 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma) isteri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, apabila mendengar sabda Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) yang tidak ia pahami, maka ia akan menanyakan kembali kepada Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) sampai mengerti. Pada suatu ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa dihisab maka akan disiksa." (Dalam riwayat lain: "maka akan binasa."). 'Aisyah berkata, "Lalu aku bertanya, [Allah telah menjadikanku tawananmu], bukankah Allah Ta'ala telah berfirman, '[Adapun orang yang diberi kitabnya dari sebelah kanan], maka ia akan dihisab dengan perhitungan yang mudah? {QS. Al-Insyiqaaq (84): 7-8}'" 'Aisyah melanjutkan, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Itu hanya dihadapkan saja (di hadapan pengadilan Allah), tetapi orang yang dihisab dengan teliti akan binasa.' (Dalam riwayat lain: 'Tidak ada seorang pun yang memperdebatkan hisab pada hari Kiamat kecuali ia akan disiksa.' 7/198)."
38. Bab: Hendaknya yang Hadir Menyampaikan 'Ilmu kepada yang Tidak Hadir (32).(72) Ini diucapkan Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
69. Dari Abu Syuraih [al-Adawi 5/94] (ra-dhiyallaahu 'anhu), bahwa ia berkata kepada Amr bin Sa'id ketika Amr sedang mengirim tentara ke Makkah, "Wahai pemimpin, izinkanlah aku menyampaikan sabda Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) yang diucapkan beliau di pagi hari penaklukan kota Makkah. Sabda ini kudengar langsung dengan kedua mataku ketika beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) mengucapkannya. Saat itu beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) terlebih dahulu memuji dan mengagungkan-Nya, lalu bersabda, 'Sesungguhnya kota Makkah telah diharamkan (disucikan) Allah dan bukan diharamkan oleh manusia. Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk menumpahkan darah di dalamnya dan menebang pohonnya. Jika ada orang yang mengatakan bahwa hal tersebut halal karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sendiri berperang di Makkah, maka katakanlah [kepadanya 2/213], 'Sesungguhnya Allah hanya memberi izin kepada Rasul-Nya dan tidak memberi izin kepada kalian semua. Itupun hanya sesaat di siang hari penaklukan, kemudian kesucian kota ini kembali seperti semula.' Hendaklah yang hadir menyampaikan hal ini kepada yang tidak hadir.'" Seseorang bertanya kepada Abu Syuraih, "Apakah jawaban yang dikemukakan Amr [kepadamu]?" Abu Syuraih menjawab, "Dia berkata, 'Wahai Abu Syuraih, aku lebih tahu [tentang itu] daripada engkau. Kota Makkah (dalam riwayat lain: Tanah suci) tidak akan melindungi pendurhaka, tidak pula orang yang lari dengan darah (pembunuh), dan tidak pula melindungi pencuri unta.'"
['Abdullah berkata: al-Khabah artinya adalah baliyah 4/95]
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(71) Ini riwayat mu'allaq dalam naskah Istambul, demikian tentang satu riwayat, tapi juga maushul pada beberapa riwayat lainnya hingga kalimat "wa dzahaabal 'ulama (dan perginya para 'ulama)". Telah disambungkan oleh Abu Na'im dalam Akhbar Ashbahan seperti itu.
(72) Ini adalah bagian dari haditsnya yang insya Allah akan disebutkan secara maushul pada kitab ke 25 bab 132.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
35. Bab: Cara Dicabutnya 'Ilmu.
25.(71) 'Umar bin 'Abdul 'Aziz menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm, "Kumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang engkau temukan, kemudian tulislah. Aku khawatir akan hilangnya 'ilmu dan perginya para 'ulama (meninggal), padahal tidak ada yang dapat diterima kecuali hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Hendaknya orang-orang saling menyebarkan 'ilmu agama serta menyelenggarakan pengajaran, sehingga orang yang tidak mengetahui bisa diajari. Karena sesungguhnya 'ilmu itu tidak akan sirna kecuali jika dibiarkan menjadi rahasia {yang tidak diketahui/ tidak disebarluaskan}."
67. Dari Urwah [ia berkata: Datang kepada kami 8/148] 'Abdullah bin Amru bin al-Ash [lalu aku dengar ia] berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak mencabut 'ilmu dari para hamba secara langsung, tetapi Allah mencabut 'ilmu itu dengan mematikan para 'ulama. Apabila sudah tidak tersisa seorang 'alim pun, maka orang-orang akan mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin yang akan dijadikan tempat bertanya, lalu mereka {orang-orang bodoh itu} akan berfatwa tanpa dasar 'ilmu, (dalam riwayat lain: mereka akan memberikan fatwa dengan pendapat sendiri) mereka itu sesat dan menyesatkan." (Kemudian aku sampaikan kepada 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma), isteri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Selanjutnya 'Abdullah bin Amru bin al-Ash berkunjung lagi, maka 'Aisyah berkata, "Wahai anak saudariku, pergilah kepada 'Abdullah, dan pastikan tentang hadits yang engkau sampaikan kepadaku darinya." Lalu aku menemuinya dan menanyakan hal itu, maka ia pun menceritakan seperti yang pernah disampaikan kepadaku. Kemudian aku menemui 'Aisyah dan aku sampaikan kepadanya, 'Aisyah pun kaget dan berkata, "Demi Allah, 'Abdullah bin Amru masih mengingatnya." 8/148)
36. Bab: Perlukah Menetapkan Hari Tertentu untuk Mengajarkan 'Ilmu kepada Kaum Wanita?
(Haditsnya adalah hadits Abu Sa'id al-Khudri (ra-dhiyallaahu 'anhu), yang akan disebutkan pada kitab ke 96 bab 9).
37. Bab: Menanyakan Sesuatu yang Didengar Sampai Mengerti
68. Dari Ibnu 'Abi Mulaikah, bahwa 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma) isteri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, apabila mendengar sabda Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) yang tidak ia pahami, maka ia akan menanyakan kembali kepada Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) sampai mengerti. Pada suatu ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa dihisab maka akan disiksa." (Dalam riwayat lain: "maka akan binasa."). 'Aisyah berkata, "Lalu aku bertanya, [Allah telah menjadikanku tawananmu], bukankah Allah Ta'ala telah berfirman, '[Adapun orang yang diberi kitabnya dari sebelah kanan], maka ia akan dihisab dengan perhitungan yang mudah? {QS. Al-Insyiqaaq (84): 7-8}'" 'Aisyah melanjutkan, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Itu hanya dihadapkan saja (di hadapan pengadilan Allah), tetapi orang yang dihisab dengan teliti akan binasa.' (Dalam riwayat lain: 'Tidak ada seorang pun yang memperdebatkan hisab pada hari Kiamat kecuali ia akan disiksa.' 7/198)."
38. Bab: Hendaknya yang Hadir Menyampaikan 'Ilmu kepada yang Tidak Hadir (32).(72) Ini diucapkan Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
69. Dari Abu Syuraih [al-Adawi 5/94] (ra-dhiyallaahu 'anhu), bahwa ia berkata kepada Amr bin Sa'id ketika Amr sedang mengirim tentara ke Makkah, "Wahai pemimpin, izinkanlah aku menyampaikan sabda Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) yang diucapkan beliau di pagi hari penaklukan kota Makkah. Sabda ini kudengar langsung dengan kedua mataku ketika beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) mengucapkannya. Saat itu beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) terlebih dahulu memuji dan mengagungkan-Nya, lalu bersabda, 'Sesungguhnya kota Makkah telah diharamkan (disucikan) Allah dan bukan diharamkan oleh manusia. Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk menumpahkan darah di dalamnya dan menebang pohonnya. Jika ada orang yang mengatakan bahwa hal tersebut halal karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sendiri berperang di Makkah, maka katakanlah [kepadanya 2/213], 'Sesungguhnya Allah hanya memberi izin kepada Rasul-Nya dan tidak memberi izin kepada kalian semua. Itupun hanya sesaat di siang hari penaklukan, kemudian kesucian kota ini kembali seperti semula.' Hendaklah yang hadir menyampaikan hal ini kepada yang tidak hadir.'" Seseorang bertanya kepada Abu Syuraih, "Apakah jawaban yang dikemukakan Amr [kepadamu]?" Abu Syuraih menjawab, "Dia berkata, 'Wahai Abu Syuraih, aku lebih tahu [tentang itu] daripada engkau. Kota Makkah (dalam riwayat lain: Tanah suci) tidak akan melindungi pendurhaka, tidak pula orang yang lari dengan darah (pembunuh), dan tidak pula melindungi pencuri unta.'"
['Abdullah berkata: al-Khabah artinya adalah baliyah 4/95]
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(71) Ini riwayat mu'allaq dalam naskah Istambul, demikian tentang satu riwayat, tapi juga maushul pada beberapa riwayat lainnya hingga kalimat "wa dzahaabal 'ulama (dan perginya para 'ulama)". Telah disambungkan oleh Abu Na'im dalam Akhbar Ashbahan seperti itu.
(72) Ini adalah bagian dari haditsnya yang insya Allah akan disebutkan secara maushul pada kitab ke 25 bab 132.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 64-66
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
31. Bab: Mengulang Hadits Sebanyak Tiga Kali Supaya Dipahami.
29.(67) Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Hindarilah perkataan keji." Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) terus mengulang ulangnya.
30.(68) Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Bukankah aku sudah menyampaikan?'" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) mengucapkannya tiga kali.
64. Dari Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, bahwa jika beliau mengucapkan suatu kata, beliau mengulangnya sampai tiga kali supaya dapat dipahami. Apabila beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) datang kepada suatu kaum, maka beliau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali.
32. Bab: Mengajarkan 'Ilmu kepada Hamba Sahaya dan Keluarganya
65. Dari Abu Musa (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Ada tiga golongan yang mendapat dua pahala sekaligus, yaitu:
1. Ahli Kitab (yahudi dan nashrani) yang percaya kepada Nabinya dan percaya kepada Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.
2. Hamba sahaya, apabila ia memenuhi kewajibannya kepada Allah dan kewajiban kepada majikannya. (Dalam riwayat lain: Hamba sahaya yang membaguskan 'ibadah kepada Tuhannya, memenuhi kewajiban kepada majikannya yang berhak terhadap kebenaran, nasihat, dan ketaatannya 3/124).
3. Laki-laki yang mempunyai hamba sahaya perempuan, lalu dia mendidiknya sopan santun dan menyempurnakan didikannya tersebut, mengajarinya 'ilmu agama dan menyempurnakan pengajaran tersebut. (Dalam riwayat lain: mencukupi kebutuhan nafkahnya dan bersikap baik terhadapnya 3/123), kemudian memerdekakannya [31.(69) lalu memberinya sedekah 6/121] dan menikahinya, maka ia akan mendapat dua pahala.'" Kemudian Amir (70) berkata, "Kami memberikannya kepadamu tanpa ganti apapun!" Sehingga pada akhirnya terkadang ia berkendaraan ke Madinah tanpanya.
33. Bab: Memberikan Nasihat dan Pelajaran kepada Kaum Wanita
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), yang akan disebutkan pada kitab ke 12 bab 19).
34. Bab: Antusias untuk Mendapatkan Hadits
66. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), 'Siapakah yang paling berbahagia dengan syafa'atmu pada hari Kiamat?' Rasulullah (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, 'Aku kira, wahai Abu Hurairah, belum ada orang yang bertanya kepadaku tentang perkara ini sebelummu, mungkin karena aku lihat engkau sangat antusias untuk mendapatkan hadits. Orang yang paling berbahagia mendapatkan syafa'atku di hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan 'Laa ilaaha illallaah' dengan benar-benar ikhlash dari hati sanubari dan jiwanya.' (Dalam riwayat lain: dari dalam jiwanya 7/204)."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(67) Ini adalah bagian dari hadits Abu Bakrah (ra-dhiyallaahu 'anhu), yang disambungkan oleh pengarang pada kitab ke 52 bab 10.
(68) Ini adalah sebagian dari haditsnya, yang akan disebutkan pada kitab ke 64 bab 79.
(69) Ini tambahan yang dianggap mu'allaq oleh pengarang. Ahmad dan lainnya telah menyebutkannya secara maushul. Ini adalah tambahan yang ganjil tapi tidak demikian menurut aku. Demikian telah aku jelaskan dalam kitab adh-Dha'ifah 3364.
(70) Aku katakan, "Ia adalah asy-Sya'bi, yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Burdah, dari ayahnya, yakni bahwa Abu Musa al-Asy'ari mengatakannya kepada perawi darinya: Shalih bin Hayyan.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
31. Bab: Mengulang Hadits Sebanyak Tiga Kali Supaya Dipahami.
29.(67) Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Hindarilah perkataan keji." Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) terus mengulang ulangnya.
30.(68) Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Bukankah aku sudah menyampaikan?'" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) mengucapkannya tiga kali.
64. Dari Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, bahwa jika beliau mengucapkan suatu kata, beliau mengulangnya sampai tiga kali supaya dapat dipahami. Apabila beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) datang kepada suatu kaum, maka beliau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali.
32. Bab: Mengajarkan 'Ilmu kepada Hamba Sahaya dan Keluarganya
65. Dari Abu Musa (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Ada tiga golongan yang mendapat dua pahala sekaligus, yaitu:
1. Ahli Kitab (yahudi dan nashrani) yang percaya kepada Nabinya dan percaya kepada Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.
2. Hamba sahaya, apabila ia memenuhi kewajibannya kepada Allah dan kewajiban kepada majikannya. (Dalam riwayat lain: Hamba sahaya yang membaguskan 'ibadah kepada Tuhannya, memenuhi kewajiban kepada majikannya yang berhak terhadap kebenaran, nasihat, dan ketaatannya 3/124).
3. Laki-laki yang mempunyai hamba sahaya perempuan, lalu dia mendidiknya sopan santun dan menyempurnakan didikannya tersebut, mengajarinya 'ilmu agama dan menyempurnakan pengajaran tersebut. (Dalam riwayat lain: mencukupi kebutuhan nafkahnya dan bersikap baik terhadapnya 3/123), kemudian memerdekakannya [31.(69) lalu memberinya sedekah 6/121] dan menikahinya, maka ia akan mendapat dua pahala.'" Kemudian Amir (70) berkata, "Kami memberikannya kepadamu tanpa ganti apapun!" Sehingga pada akhirnya terkadang ia berkendaraan ke Madinah tanpanya.
33. Bab: Memberikan Nasihat dan Pelajaran kepada Kaum Wanita
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), yang akan disebutkan pada kitab ke 12 bab 19).
34. Bab: Antusias untuk Mendapatkan Hadits
66. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), 'Siapakah yang paling berbahagia dengan syafa'atmu pada hari Kiamat?' Rasulullah (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, 'Aku kira, wahai Abu Hurairah, belum ada orang yang bertanya kepadaku tentang perkara ini sebelummu, mungkin karena aku lihat engkau sangat antusias untuk mendapatkan hadits. Orang yang paling berbahagia mendapatkan syafa'atku di hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan 'Laa ilaaha illallaah' dengan benar-benar ikhlash dari hati sanubari dan jiwanya.' (Dalam riwayat lain: dari dalam jiwanya 7/204)."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(67) Ini adalah bagian dari hadits Abu Bakrah (ra-dhiyallaahu 'anhu), yang disambungkan oleh pengarang pada kitab ke 52 bab 10.
(68) Ini adalah sebagian dari haditsnya, yang akan disebutkan pada kitab ke 64 bab 79.
(69) Ini tambahan yang dianggap mu'allaq oleh pengarang. Ahmad dan lainnya telah menyebutkannya secara maushul. Ini adalah tambahan yang ganjil tapi tidak demikian menurut aku. Demikian telah aku jelaskan dalam kitab adh-Dha'ifah 3364.
(70) Aku katakan, "Ia adalah asy-Sya'bi, yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Burdah, dari ayahnya, yakni bahwa Abu Musa al-Asy'ari mengatakannya kepada perawi darinya: Shalih bin Hayyan.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Sunday, 9 April 2017
Ringkasan Shahih Bukhari 61-63
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
24. Bab: Memberikan Fatwa Ketika Sedang Menunggang Binatang (Kendaraan) atau Lainnya
61. Dari 'Abdullah bin Amr bin al-Ash (ra-dhiyallaahu 'anhu), bahwa ketika pelaksanaan haji Wada', Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berhenti di Mina, [beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) berbicara pada hari Nahr di atas untanya 2/191][di jumrah 1/40] untuk orang-orang yang bertanya kepada beliau. Lalu datang kepada beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) seorang laki-laki dan berkata, "[Wahai Rasulullah] aku lupa, sehingga aku lebih dahulu bercukur sebelum menyembelih." Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Sembelihlah, tidak berdosa." Kemudian datang pula yang lain menanyakan, "Aku lupa, aku lebih dahulu menyembelih sebelum melempar (jumrah)." Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Lemparlah, tidak berdosa." Apapun yang ditanyakan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam [pada hari itu 2/190] tentang sesuatu yang didahulukan dan diakhirkan, beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Lakukanlah, tidak berdosa."
25. Bab: Menjawab Fatwa dengan Isyarat Tangan atau Kepala
62. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Nanti akan dilenyapkan 'ilmu agama, akan merajalela kebodohan dan kejahatan, dan akan banyak haraj." Seseorang bertanya, "Apakah haraj itu, wahai Rasulullah?" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Begini." Seraya mengisyaratkan dengan tangannya lalu memiringkannya, seolah-olah yang dimaksudnya adalah pembunuhan. (65)
26. Bab: Anjuran Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepada Utusan 'Abdul Qais untuk Menjaga Iman dan 'Ilmu, lalu Menyampaikan kepada Kaumnya
28.(66) Malik bin al-Huwairits berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada kami, "Kembalilah kepada kaum kalian dan ajarilah mereka."
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang telah disebutkan, yaitu hadits nomor 40).
27. Bab: Bepergian untuk Mencari Jawaban tentang Masalah yang Terjadi dan Mengajarkan kepada Keluarganya
(Haditsnya adalah hadits Uqbah bin al-Harits (ra-dhiyallaahu 'anhu) yang akan disebutkan pada kitab ke 67 bab 24).
28. Bab: Bergantian dalam Menuntut 'Ilmu
(Haditsnya adalah bagian hadits 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhu) yang akan disebutkan pada bab ke 46 no. 25).
29. Bab: Marah dalam Memberi Nasihat dan Mengajar Jika Melihat Sesuatu yang Dibenci
63. Dari Abu Musa (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang sesuatu yang tidak disukainya, ketika [mereka 1/142] memperbanyak [pertanyaan tersebut] kepada beliau, beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) pun marah kemudian beliau bersabda kepada orang-orang, 'Tanyakan kepadaku apa yang ingin kalian tanyakan.' Seorang laki-laki bertanya, '[Wahai Rasulullah,] siapa ayahku?' Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, 'Ayahmu Hudzafah.' Orang yang lainnya berdiri dan berkata, 'Siapakah ayahku, wahai Rasulullah?' Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, 'Ayahmu Salim, budaknya Syaibah.' Ketika 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhu) melihat [kemarahan] pada wajah Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), ia segera berkata, 'Wahai Rasulullah, kami bertaubat kepada Allah Sub-haanahu wa Ta'aala.'"
30. Bab: Bersimpuh di Hadapan Imam atau Muhaddits
(Haditsnya adalah bagian dari hadits Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu), yang akan disebutkan pada kitab ke 97 bab 4).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(65) Aku katakan, bahwa dalam kitab aslinya, setelah ini adalah hadits Asma' yang menyebutkan isyarat dengan kepala dalam shalat, dan akan disebutkan pada kitab ke 4 bab 38.
(66) Disebutkan secara maushul oleh pengarang pada beberapa tempat, yang akan disebutkan pada kitab ke 95 bab 1.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
24. Bab: Memberikan Fatwa Ketika Sedang Menunggang Binatang (Kendaraan) atau Lainnya
61. Dari 'Abdullah bin Amr bin al-Ash (ra-dhiyallaahu 'anhu), bahwa ketika pelaksanaan haji Wada', Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berhenti di Mina, [beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) berbicara pada hari Nahr di atas untanya 2/191][di jumrah 1/40] untuk orang-orang yang bertanya kepada beliau. Lalu datang kepada beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) seorang laki-laki dan berkata, "[Wahai Rasulullah] aku lupa, sehingga aku lebih dahulu bercukur sebelum menyembelih." Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Sembelihlah, tidak berdosa." Kemudian datang pula yang lain menanyakan, "Aku lupa, aku lebih dahulu menyembelih sebelum melempar (jumrah)." Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Lemparlah, tidak berdosa." Apapun yang ditanyakan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam [pada hari itu 2/190] tentang sesuatu yang didahulukan dan diakhirkan, beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Lakukanlah, tidak berdosa."
25. Bab: Menjawab Fatwa dengan Isyarat Tangan atau Kepala
62. Dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Nanti akan dilenyapkan 'ilmu agama, akan merajalela kebodohan dan kejahatan, dan akan banyak haraj." Seseorang bertanya, "Apakah haraj itu, wahai Rasulullah?" Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Begini." Seraya mengisyaratkan dengan tangannya lalu memiringkannya, seolah-olah yang dimaksudnya adalah pembunuhan. (65)
26. Bab: Anjuran Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepada Utusan 'Abdul Qais untuk Menjaga Iman dan 'Ilmu, lalu Menyampaikan kepada Kaumnya
28.(66) Malik bin al-Huwairits berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada kami, "Kembalilah kepada kaum kalian dan ajarilah mereka."
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang telah disebutkan, yaitu hadits nomor 40).
27. Bab: Bepergian untuk Mencari Jawaban tentang Masalah yang Terjadi dan Mengajarkan kepada Keluarganya
(Haditsnya adalah hadits Uqbah bin al-Harits (ra-dhiyallaahu 'anhu) yang akan disebutkan pada kitab ke 67 bab 24).
28. Bab: Bergantian dalam Menuntut 'Ilmu
(Haditsnya adalah bagian hadits 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhu) yang akan disebutkan pada bab ke 46 no. 25).
29. Bab: Marah dalam Memberi Nasihat dan Mengajar Jika Melihat Sesuatu yang Dibenci
63. Dari Abu Musa (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang sesuatu yang tidak disukainya, ketika [mereka 1/142] memperbanyak [pertanyaan tersebut] kepada beliau, beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) pun marah kemudian beliau bersabda kepada orang-orang, 'Tanyakan kepadaku apa yang ingin kalian tanyakan.' Seorang laki-laki bertanya, '[Wahai Rasulullah,] siapa ayahku?' Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, 'Ayahmu Hudzafah.' Orang yang lainnya berdiri dan berkata, 'Siapakah ayahku, wahai Rasulullah?' Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, 'Ayahmu Salim, budaknya Syaibah.' Ketika 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhu) melihat [kemarahan] pada wajah Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), ia segera berkata, 'Wahai Rasulullah, kami bertaubat kepada Allah Sub-haanahu wa Ta'aala.'"
30. Bab: Bersimpuh di Hadapan Imam atau Muhaddits
(Haditsnya adalah bagian dari hadits Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu), yang akan disebutkan pada kitab ke 97 bab 4).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(65) Aku katakan, bahwa dalam kitab aslinya, setelah ini adalah hadits Asma' yang menyebutkan isyarat dengan kepala dalam shalat, dan akan disebutkan pada kitab ke 4 bab 38.
(66) Disebutkan secara maushul oleh pengarang pada beberapa tempat, yang akan disebutkan pada kitab ke 95 bab 1.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 58-60
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
19. Bab: Kapan Dibolehkan Mendengarkan Pendapat Anak Kecil?
58. Dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Aku datang {ke Mina} dengan mengendarai keledai betina. Saat aku hampir baligh, sementara Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam [sedang berdiri 2/218] melaksanakan shalat [bersama orang-orang 1/126] di Mina [26(60) ketika pelaksanaan haji wada'] tanpa dinding (61) di hadapannya. Aku lewat di depan shaf, [kemudian aku turun] dan membiarkan keledai merumput, kemudian aku masuk ke dalam shaf (dalam riwayat lain: Kemudian aku masuk ke dalam shaf bersama orang-orang di belakang Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), dan tidak ada [seorang pun yang] menegur perbuatanku itu."
20. Bab: Pergi Menuntut Ilmu.
23.(62) Jabir bin 'Abdillah (ra-dhiyallaahu 'anhu) menghabiskan waktu satu bulan pergi menemui 'Abdullah bin Unais demi mendapatkan satu hadits.
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), yang telah disebutkan sebelum dua bab tadi).
21. Bab: Keutamaan Orang yang Berilmu dan Mengajarkannya.
59. Dari Abu Musa (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan 'ilmu pengetahuan, yang dengannya Allah mengutusku, adalah seperti hujan lebat yang jatuh ke tanah, tanah itu ada yang gembur yang dapat menyerap air, (27.(63) dalam riwayat lain yang mu'allaq: tanah itu ada bagian yang dapat menerima air), sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumputan yang banyak. Ada pula yang keras yang menahan air {tidak dapat menyerap air}{sehingga tergenang}, maka Allah memberi manfaat dengannya kepada manusia, sehingga mereka dapat meminumnya dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), serta mengairi {tanaman}. Ada pula hujan yang jatuh ke bagian yang lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama Allah, yang mau memanfaatkan sesuatu yang dengannya Allah mengutusku, sehingga ia mengetahui dan mengajarkannya. Selain itu juga perumpamaan orang yang tidak peduli dan tidak menerima petunjuk yang dengannya Allah mengutusku."
22. Bab: Hilangnya 'Ilmu dan Munculnya Kebodohan.
24.(64) Rabi'ah berkata, "Tidak sepantasnya seorang yang memiliki 'ilmu untuk menyia-nyiakan dirinya."
(Dalam bab ini akan disebutkan hadits Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu) yang akan disebutkan pada kitab ke 67 bab 111).
23. Bab: Keutamaan 'Ilmu.
60. Dari Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi diberi secangkir susu, lalu aku minum [darinya 8/79], sehingga kulihat air [mengaliri] dari ujung kukuku, (dalam riwayat lain: jari-jariku 7/74), kemudian sisanya kuberikan kepada 'Umar bin al-Khaththab.' Para Shahabat (ra-dhiyallaahu 'anhum) bertanya, 'Bagaimana engkau menakwilkan mimpi itu, wahai Rasulullah?' Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, 'Ilmu.'"
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(60) Ini adalah tambahan yang mu'allaq menurut pengarang, namun Imam Muslim telah meriwayatkannya secara maushul.
(61) Maksudnya adalah tanpa pembatas. Ini dikuatkan oleh riwayat al-Bazzar dengan lafazh {yang artinya}, "Dan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengerjakan shalat fardhu tanpa ada sesuatu yang membatasinya." Demikian disebutkan dalam kitab al-Fath.
(62) Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh pengarang dalam kitab al-Adab al-Mufrad, juga oleh Ahmad dan Abu Ya'la dengan sanad hasan. Pengarang juga telah menyatakan mu'allaqnya bagian lain (pada riwayat ini) darinya dalam kitab ke 97 bab 32.
(63) Al-Hafizh tidak meriwayatkannya. Tampaknya lafazh ini merupakan kesalahan tulis dan yang benar adalah yang pertama, yaitu "qabilat".
(64) Disebutkan secara maushul oleh al-Khatib dalam kitab al-Jami' dan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
19. Bab: Kapan Dibolehkan Mendengarkan Pendapat Anak Kecil?
58. Dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Aku datang {ke Mina} dengan mengendarai keledai betina. Saat aku hampir baligh, sementara Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam [sedang berdiri 2/218] melaksanakan shalat [bersama orang-orang 1/126] di Mina [26(60) ketika pelaksanaan haji wada'] tanpa dinding (61) di hadapannya. Aku lewat di depan shaf, [kemudian aku turun] dan membiarkan keledai merumput, kemudian aku masuk ke dalam shaf (dalam riwayat lain: Kemudian aku masuk ke dalam shaf bersama orang-orang di belakang Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), dan tidak ada [seorang pun yang] menegur perbuatanku itu."
20. Bab: Pergi Menuntut Ilmu.
23.(62) Jabir bin 'Abdillah (ra-dhiyallaahu 'anhu) menghabiskan waktu satu bulan pergi menemui 'Abdullah bin Unais demi mendapatkan satu hadits.
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), yang telah disebutkan sebelum dua bab tadi).
21. Bab: Keutamaan Orang yang Berilmu dan Mengajarkannya.
59. Dari Abu Musa (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan 'ilmu pengetahuan, yang dengannya Allah mengutusku, adalah seperti hujan lebat yang jatuh ke tanah, tanah itu ada yang gembur yang dapat menyerap air, (27.(63) dalam riwayat lain yang mu'allaq: tanah itu ada bagian yang dapat menerima air), sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumputan yang banyak. Ada pula yang keras yang menahan air {tidak dapat menyerap air}{sehingga tergenang}, maka Allah memberi manfaat dengannya kepada manusia, sehingga mereka dapat meminumnya dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), serta mengairi {tanaman}. Ada pula hujan yang jatuh ke bagian yang lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama Allah, yang mau memanfaatkan sesuatu yang dengannya Allah mengutusku, sehingga ia mengetahui dan mengajarkannya. Selain itu juga perumpamaan orang yang tidak peduli dan tidak menerima petunjuk yang dengannya Allah mengutusku."
22. Bab: Hilangnya 'Ilmu dan Munculnya Kebodohan.
24.(64) Rabi'ah berkata, "Tidak sepantasnya seorang yang memiliki 'ilmu untuk menyia-nyiakan dirinya."
(Dalam bab ini akan disebutkan hadits Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu) yang akan disebutkan pada kitab ke 67 bab 111).
23. Bab: Keutamaan 'Ilmu.
60. Dari Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Ketika aku sedang tidur, aku bermimpi diberi secangkir susu, lalu aku minum [darinya 8/79], sehingga kulihat air [mengaliri] dari ujung kukuku, (dalam riwayat lain: jari-jariku 7/74), kemudian sisanya kuberikan kepada 'Umar bin al-Khaththab.' Para Shahabat (ra-dhiyallaahu 'anhum) bertanya, 'Bagaimana engkau menakwilkan mimpi itu, wahai Rasulullah?' Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, 'Ilmu.'"
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(60) Ini adalah tambahan yang mu'allaq menurut pengarang, namun Imam Muslim telah meriwayatkannya secara maushul.
(61) Maksudnya adalah tanpa pembatas. Ini dikuatkan oleh riwayat al-Bazzar dengan lafazh {yang artinya}, "Dan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengerjakan shalat fardhu tanpa ada sesuatu yang membatasinya." Demikian disebutkan dalam kitab al-Fath.
(62) Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh pengarang dalam kitab al-Adab al-Mufrad, juga oleh Ahmad dan Abu Ya'la dengan sanad hasan. Pengarang juga telah menyatakan mu'allaqnya bagian lain (pada riwayat ini) darinya dalam kitab ke 97 bab 32.
(63) Al-Hafizh tidak meriwayatkannya. Tampaknya lafazh ini merupakan kesalahan tulis dan yang benar adalah yang pertama, yaitu "qabilat".
(64) Disebutkan secara maushul oleh al-Khatib dalam kitab al-Jami' dan oleh al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 55-57
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
16. Bab: Tekun (Terus) Mencari 'Ilmu dan Hikmah.
22.(58) 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Pahamilah 'ilmu agama sebelum kamu diangkat menjadi pemimpin." Para Shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tetap menuntut 'ilmu walau sudah lanjut usia.
55. Dari 'Abdullah bin Mas'ud (ra-dhiyallaahu 'anhu), bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak ada iri hati kecuali kepada dua orang, yaitu orang yang diberi Allah harta kemudian dipergunakannya dalam kebenaran, dan orang yang diberi Allah hikmah ('ilmu) kemudian mengamalkan dan mengajarkannya."
17. Bab: Perginya Musa 'alaihis salaam ke Laut untuk Menemui Khidir 'alaihis salaam, dan Firman Allah, "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku 'ilmu yang benar?" {QS. Al-Kahfi (18): 66}
56. Dari 'Ubaidillah bin 'Abdillah, dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), bahwa ia berbeda pendapat dengan al-Hurr bin Qais bin Hishn al-Fazari (ra-dhiyallaahu 'anhu) tentang shahabat Nabi Musa 'alaihis salaam. Ibnu 'Abbas berpendapat bahwa shahabat Nabi Musa ('alaihis salaam) itu adalah Nabi Khidir ('alaihis salaam). Ketika itu lewatlah 'Ubai bin Ka'ab [al-Anshari 8/193] (ra-dhiyallaahu 'anhu), lalu Ibnu 'Abbas memanggilnya dan berkata, "Aku dan shahabatku ini berbeda pendapat tentang shahabat Nabi Musa ('alaihis salaam) yang dimintanya kepada Allah supaya ditunjukkan jalan untuk dapat bertemu dengannya. Apakah engkau pernah mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menceritakannya?" 'Ubai menjawab, "Ya, pernah. Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam [menceritakannya 1/27], bersabda,
'Pada suatu ketika Musa berada dalam satu kelompok bani Israil, [tiba-tiba] datang kepadanya seorang laki-laki dan bertanya, "Apakah engkau mengetahui seseorang yang lebih berilmu darimu?" Musa menjawab, "Tidak." Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, "Ada, yaitu hamba Kami yang bernama Khidir." Lalu Musa memohon {kepada Allah} supaya ditunjukkan jalan kepadanya (dalam riwayat lain: untuk bertemu dengannya 1/8). Maka Allah menjadikan ikan sebagai petunjuknya, dan dikatakan kepadanya, "Jika engkau kehilangan ikan itu, kembalilah, karena {di situlah} engkai akan bertemu dengannya." Maka [Musa] mengikuti jejak ikan itu di laut. Di tengah perjalanan, pelayan Musa berkata kepadanya, "Tahukah engkau ketika kita berhenti di sebuah batu besar? Aku lupa ikan itu. Hanya syetanlah yang telah membuatku melupakannya. Jika tidak, maka pasti, aku dapat mengingatnya." [Musa] berkata, "Itulah yang kita kehendaki." Keduanya kembali menelusuri jejak mereka semula, dan akhirnya bertemu dengan Khidir. Kemudian antara Musa dan Khidir terjadi beberapa peristiwa seperti yang dikisahkan Allah di dalam Kitab-Nya {al-Qur-an}.'" (59)
18. Bab: Sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, "Ya Allah, Ajarkan Kepadanya al-Kitab."
57. Dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam merangkulku [di dadanya 4/217] seraya berdo'a, 'Ya Allah, ajarkan kepadanya al-Kitab (al-Qur-an).'" (Dalam riwayat lain: al-Hikmah. Hikmah adalah kebenaran yang didapatkan bukan karena kenabian.)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(58) Disebutkan secara maushul oleh Abu Khaitsamah dalam al-'Ilm 9 dengan sanad shahih dan juga Ibnu Abi Syaibah.
(59) Aku katakan bahwa, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah menyebutkan secara rinci, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang akan disebutkan pada nomor 112.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
16. Bab: Tekun (Terus) Mencari 'Ilmu dan Hikmah.
22.(58) 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Pahamilah 'ilmu agama sebelum kamu diangkat menjadi pemimpin." Para Shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tetap menuntut 'ilmu walau sudah lanjut usia.
55. Dari 'Abdullah bin Mas'ud (ra-dhiyallaahu 'anhu), bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak ada iri hati kecuali kepada dua orang, yaitu orang yang diberi Allah harta kemudian dipergunakannya dalam kebenaran, dan orang yang diberi Allah hikmah ('ilmu) kemudian mengamalkan dan mengajarkannya."
17. Bab: Perginya Musa 'alaihis salaam ke Laut untuk Menemui Khidir 'alaihis salaam, dan Firman Allah, "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku 'ilmu yang benar?" {QS. Al-Kahfi (18): 66}
56. Dari 'Ubaidillah bin 'Abdillah, dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), bahwa ia berbeda pendapat dengan al-Hurr bin Qais bin Hishn al-Fazari (ra-dhiyallaahu 'anhu) tentang shahabat Nabi Musa 'alaihis salaam. Ibnu 'Abbas berpendapat bahwa shahabat Nabi Musa ('alaihis salaam) itu adalah Nabi Khidir ('alaihis salaam). Ketika itu lewatlah 'Ubai bin Ka'ab [al-Anshari 8/193] (ra-dhiyallaahu 'anhu), lalu Ibnu 'Abbas memanggilnya dan berkata, "Aku dan shahabatku ini berbeda pendapat tentang shahabat Nabi Musa ('alaihis salaam) yang dimintanya kepada Allah supaya ditunjukkan jalan untuk dapat bertemu dengannya. Apakah engkau pernah mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menceritakannya?" 'Ubai menjawab, "Ya, pernah. Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam [menceritakannya 1/27], bersabda,
'Pada suatu ketika Musa berada dalam satu kelompok bani Israil, [tiba-tiba] datang kepadanya seorang laki-laki dan bertanya, "Apakah engkau mengetahui seseorang yang lebih berilmu darimu?" Musa menjawab, "Tidak." Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, "Ada, yaitu hamba Kami yang bernama Khidir." Lalu Musa memohon {kepada Allah} supaya ditunjukkan jalan kepadanya (dalam riwayat lain: untuk bertemu dengannya 1/8). Maka Allah menjadikan ikan sebagai petunjuknya, dan dikatakan kepadanya, "Jika engkau kehilangan ikan itu, kembalilah, karena {di situlah} engkai akan bertemu dengannya." Maka [Musa] mengikuti jejak ikan itu di laut. Di tengah perjalanan, pelayan Musa berkata kepadanya, "Tahukah engkau ketika kita berhenti di sebuah batu besar? Aku lupa ikan itu. Hanya syetanlah yang telah membuatku melupakannya. Jika tidak, maka pasti, aku dapat mengingatnya." [Musa] berkata, "Itulah yang kita kehendaki." Keduanya kembali menelusuri jejak mereka semula, dan akhirnya bertemu dengan Khidir. Kemudian antara Musa dan Khidir terjadi beberapa peristiwa seperti yang dikisahkan Allah di dalam Kitab-Nya {al-Qur-an}.'" (59)
18. Bab: Sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, "Ya Allah, Ajarkan Kepadanya al-Kitab."
57. Dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam merangkulku [di dadanya 4/217] seraya berdo'a, 'Ya Allah, ajarkan kepadanya al-Kitab (al-Qur-an).'" (Dalam riwayat lain: al-Hikmah. Hikmah adalah kebenaran yang didapatkan bukan karena kenabian.)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(58) Disebutkan secara maushul oleh Abu Khaitsamah dalam al-'Ilm 9 dengan sanad shahih dan juga Ibnu Abi Syaibah.
(59) Aku katakan bahwa, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah menyebutkan secara rinci, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang akan disebutkan pada nomor 112.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 52-54
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
12. Bab: Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) Memilih Waktu yang Tepat dalam Memberi Nasihat dan Mengajarkan 'Ilmu agar Mereka Tidak Meninggalkan Majelis {karena jenuh atau bosan}.
52. Dari Anas bin Malik (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Mudahkanlah dan janganlah kalian mempersulit, berilah berita gembira (dalam riwayat lain: berilah berita yang menenteramkan) dan janganlah kalian memberi berita yang membuat mereka pergi."
13. Bab: Orang yang Menyediakan Hari-hari Tertentu untuk Bersama 'Ulama.
53. Dari Abu Wa'il, dia berkata: 'Abdullah mengajar orang-orang setiap hari Kamis, kemudian seorang laki-laki berkata kepadanya: "Hai Abu 'Abdurrahman, aku harap engkau dapat mengajar kami setiap hari." 'Abdullah menjawab, "Sebenarnya yang mencegahku begitu adalah karena aku tidak mau membuat kalian merasa bosan, karena itu aku memperhatikan waktu untuk memberikan pengajaran kepada kalian, sebagaimana juga Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (dalam riwayat lain darinya, bahwa ia berkata, "Kami sedang menanti 'Abdullah dan tiba-tiba Yazid bin Mu'awiyah (57) datang, lalu kami berkata, 'Maukah engkau duduk?' Ia pun menjawab, 'Tidak, aku hanya akan masuk lalu mengeluarkan kawan kalian kepada kalian. Jika ia tidak keluar maka aku akan masuk lalu duduk.' Lalu muncullah 'Abdullah sambil memegangi tangan Yazid, ia pun berdiri di hadapan kami dan berkata, 'Sebenarnya aku telah diberitahu tentang tempat kalian, tapi yang mencegahku untuk menemui kalian adalah bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam 7/169) memperhatikan kami dalam memberi nasihat [dalam hari-hari] karena khawatir (dalam riwayat lain: karena tidak suka) bila hal itu akan menyebabkan kebosanan pada diri kami."
14. Bab: Jika Allah Menghendaki Kebaikan pada Seseorang, maka Dia akan Memahamkannya (dalan urusan agama)
54. Humaid bin 'Abdurrahman berkata: Aku mendengar Mu'awiyah dalam khutbahnya berkata, "Aku mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan, maka Dia akan memberinya pemahaman dalam urusan agama. Aku hanya membagi-bagikan {menyampaikan}, sedangkan yang memberi {pemahaman} adalah Allah. Dan senantiasa [dari 4/187] ummat ini [ada suatu ummat yang] akan tetap berpegang teguh dalam perintah Allah, mereka tidak dapat digoyahkan [oleh yang menghinakan mereka (dalam riwayat lain: oleh yang mendustakan mereka 8/189) dan tidak pula] oleh yang menyalahi mereka. (Dalam riwayat lain: Urusan ummat ini akan tetap lurus hingga datangnya Kiamat atau 8/149) sampai datang [kepada mereka] ketetapan Allah [mereka masih tetap seperti itu."
Malik bin Tukhamir berkata, 'Mu'adz berkata, "Mereka berada di Syam." Lalu Mu'awiyah berkata, "Malik menyatakan bahwa ia mendengar Mu'adz berkata, "Mereka di Syam."]
15. Bab: Memahami 'Ilmu.
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang ditunjukkan pada bab 4).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(57) Ialah an-Nakha'i, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Muslim.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi.
3. Kitab Ilmu.
12. Bab: Nabi (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) Memilih Waktu yang Tepat dalam Memberi Nasihat dan Mengajarkan 'Ilmu agar Mereka Tidak Meninggalkan Majelis {karena jenuh atau bosan}.
52. Dari Anas bin Malik (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Mudahkanlah dan janganlah kalian mempersulit, berilah berita gembira (dalam riwayat lain: berilah berita yang menenteramkan) dan janganlah kalian memberi berita yang membuat mereka pergi."
13. Bab: Orang yang Menyediakan Hari-hari Tertentu untuk Bersama 'Ulama.
53. Dari Abu Wa'il, dia berkata: 'Abdullah mengajar orang-orang setiap hari Kamis, kemudian seorang laki-laki berkata kepadanya: "Hai Abu 'Abdurrahman, aku harap engkau dapat mengajar kami setiap hari." 'Abdullah menjawab, "Sebenarnya yang mencegahku begitu adalah karena aku tidak mau membuat kalian merasa bosan, karena itu aku memperhatikan waktu untuk memberikan pengajaran kepada kalian, sebagaimana juga Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (dalam riwayat lain darinya, bahwa ia berkata, "Kami sedang menanti 'Abdullah dan tiba-tiba Yazid bin Mu'awiyah (57) datang, lalu kami berkata, 'Maukah engkau duduk?' Ia pun menjawab, 'Tidak, aku hanya akan masuk lalu mengeluarkan kawan kalian kepada kalian. Jika ia tidak keluar maka aku akan masuk lalu duduk.' Lalu muncullah 'Abdullah sambil memegangi tangan Yazid, ia pun berdiri di hadapan kami dan berkata, 'Sebenarnya aku telah diberitahu tentang tempat kalian, tapi yang mencegahku untuk menemui kalian adalah bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam 7/169) memperhatikan kami dalam memberi nasihat [dalam hari-hari] karena khawatir (dalam riwayat lain: karena tidak suka) bila hal itu akan menyebabkan kebosanan pada diri kami."
14. Bab: Jika Allah Menghendaki Kebaikan pada Seseorang, maka Dia akan Memahamkannya (dalan urusan agama)
54. Humaid bin 'Abdurrahman berkata: Aku mendengar Mu'awiyah dalam khutbahnya berkata, "Aku mendengar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan, maka Dia akan memberinya pemahaman dalam urusan agama. Aku hanya membagi-bagikan {menyampaikan}, sedangkan yang memberi {pemahaman} adalah Allah. Dan senantiasa [dari 4/187] ummat ini [ada suatu ummat yang] akan tetap berpegang teguh dalam perintah Allah, mereka tidak dapat digoyahkan [oleh yang menghinakan mereka (dalam riwayat lain: oleh yang mendustakan mereka 8/189) dan tidak pula] oleh yang menyalahi mereka. (Dalam riwayat lain: Urusan ummat ini akan tetap lurus hingga datangnya Kiamat atau 8/149) sampai datang [kepada mereka] ketetapan Allah [mereka masih tetap seperti itu."
Malik bin Tukhamir berkata, 'Mu'adz berkata, "Mereka berada di Syam." Lalu Mu'awiyah berkata, "Malik menyatakan bahwa ia mendengar Mu'adz berkata, "Mereka di Syam."]
15. Bab: Memahami 'Ilmu.
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang ditunjukkan pada bab 4).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(57) Ialah an-Nakha'i, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Muslim.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Sunday, 2 April 2017
Ringkasan Shahih Bukhari 50-51
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi
3. Kitab Ilmu
8. Bab: Metode Munawalah dan Pengiriman Surat oleh Para Ulama ke Berbagai Daerah
16.(46) Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Utsman menulis beberapa mushhaf dan mengirimkannya ke berbagai daerah."
17-19.(47) 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), Yahya bin Sa'id, dan Malik membolehkan hal itu.
20.(48) Sebagian 'ulama Hijaz berhujjah dalam masalah munawalah dengan hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika menulis surat kepada pemimpin pasukan seraya berkata {kepada utusan pembawa surat}, "Janganlah kamu membacanya kecuali jika telah sampai pada tempat ini dan ini." Ketika utusan itu telah sampai di tempat tujuan, ia membacakannya kepada orang-orang dan menyampaikan kepada mereka apa yang diperintahkan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.
50. Dari 'Abdullah bin 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menyuruh seorang laki-laki (dalam riwayat lain: 'Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi 5/136) untuk membawa surat dan menyerahkannya kepada pembesar Bahrain {al-Mundzir bin Sawi}. Kemudian oleh pembesar Bahrain surat itu dikirimkan kepada raja Persia {Abruwaiz bin Hurmuz bin Anusyirwan}. Setelah selesai membaca surat itu, raja itu merobek-robeknya. Aku kira Ibnu Musayyab berkata, "Karena perbuatan raja Persia itu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berdo'a, 'Semoga kerajaan mereka dihancur-leburkan oleh Allah.'" (49)
9. Bab: Duduk Paling Belakang dalam Suatu Majelis, dan Bagi yang Melihat Tempat Kosong di Depannya Hendaknya Menempatinya.
51. Dari Abu Waqid al-Laitsi, bahwa ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sedang duduk dalam masjid bersama orang-orang, datanglah tiga orang; dua orang di antaranya menghampiri Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, sementara satu orang lagi terus saja pergi. {Abu Waqid} berkata, "Dua orang datang kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan salah seorang dari keduanya melihat tempat lowong di tengah-tengah jama'ah, lalu ia pun duduk di situ. Sedangkan yang seorang lagi duduk di belakang mereka. Adapun orang yang ketiga terus saja pergi. Begitu selesai memberikan pengajaran, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Baiklah, akan aku jelaskan tentang ketiga orang itu; yang seorang mencari tempat di sisi Allah, maka diberi oleh Allah, yang kedua merasa malu-malu, maka Allah pun malu kepadanya, sedangkan yang ketiga berpaling, maka Allah pun berpaling darinya.'"
10. Bab: 21(50). Sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, "Berapa banyak orang yang diberitahu lebih memahami daripada orang yang {hanya} mendengar?"
(Haditsnya adalah hadits Abu Bakrah (ra-dhiyallaahu 'anhu) yang akan disebutkan pada kitab ke 64 bab 79).
11. Bab: Mengetahui Sebelum Berkata dan Berbuat, Berdasarkan Firman Allah, "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah." {QS. Muhammad (47): 19}
22.(51) Sesungguhnya para 'ulama adalah pewaris para Nabi. Mereka telah mewariskan 'ilmu, dan barangsiapa mengambilnya maka ia telah memperoleh bagian {keuntungan} yang banyak {berharga}.
23.(52) Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut 'ilmu {agama}, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga.
Allah berfirman, "Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah 'ulama." {QS. Faathir (35): 28} "Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." {QS. Al-Ankabuut (29): 43} "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala.'" {QS. Al-Mulk (67): 10} "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" {QS. Az-Zumar (39): 9}
24.(53) Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan, maka niscaya Dia akan menjadikannya faham tentang agama."
25.(54) "Sesungguhnya 'ilmu itu diperoleh dengan belajar."
20.(55) Abu Dzar (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Seandainya kalian meletakkan pedang di sini -ia menunjuk ke arah tengkuknya- kemudian aku berpikir bahwa aku masih sempat menyampaikan kalimat yang telah aku dengar dari Rasulullah (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) sebelum kalian melaksanakannya {memenggal leherku}, niscaya aku akan melakukannya {menyampaikannya}."
21.(56) Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Firman Allah, 'Jadilah kamu sekalian rabbaniyyin,' maksudnya adalah para 'ulama dan fuqaha." Ada pula yang berpendapat bahwa "Rabbani" adalah orang yang mendidik manusia dengan 'ilmu yang kecil-kecil {yang ringan-ringan} sebelum mengajarkan yang besar-besar {yang berat-berat}.
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(46) Ini adalah bagian dari hadits panjang, yang akan disebutkan secara maushul dan lengkap pada kitab ke 66 bab 1.
(47) 16-18. Atsar Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) disambungkan oleh Abu al-Qasim Manduh dalam Kitabul Washiyyah dengan sanad shahih dari Abu 'Abdirrahman al-Habli, dari 'Abdullah, seperti itu. kemungkinan bahwa orang tersebut adalah 'Abdullah bin 'Umar, karena al-Habli mendengar darinya. Kemungkinan juga bahwa itu adalah 'Abdullah bin 'Amr, karena al-Habli dikenal sering meriwayatkan darinya. Adapun atsar Yahya bin Sa'id dan Malik, yakni Ibnu Anas, disebutkan secara maushul oleh al-Hakim dalam kitab Ulumul Hadits hal. 259 dengan isnad jayyid dari keduanya.
(48) Disebutkan secara maushul oleh Ibnu Ishaq dari Urwah bin az-Zubair secara mursal, dan oleh ath-Thabari dalam kitab tafsirnya dari hadits Jundub al-Bajli dengan sanad hasan sebagaimana disebutkan dalam Fat-hul Baari, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Dengan jumlah jalur periwayatan itu, maka riwayat ini menjadi shahih."
(49) Aku katakan, bahwa ucapan Ibnu al-Musayyab ini mursal, karena ia tidak menyebutkan siapa yang menyampaikan itu kepadanya dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.
(50) Ini adalah bagian dari hadits Abu Bakrah ra-dhiyallaahu 'anhu, disambungkan oleh pengarang pada kitab ke 64 bab 79.
(51) Ini adalah bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dan lainnya dari Abu ad-Darda' (ra-dhiyallaahu 'anhu) secara marfu'. Ada riwayat-riwayat lain yang menguatkan riwayat ini, karena itu riwayat ini menjadi lebih kuat, demikian sebagaimana dikatakan al-Hafizh. Riwayat ini dikeluarkan dalam at-Ta'liq ar-Raghib 1/53.
(52) Ini juga merupakan bagian dari hadits itu, dan ini adalah kalimat darinya yang dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya dari hadits Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu). Dikeluarkan pula oleh Abu Khaitsamah dalam al-'Ilm 25 dengan tahqiq dariku.
(53) Disebutkan secara maushul oleh pengarang dari hadits Mu'awiyah (ra-dhiyallaahu 'anhu) setelah dua bab.
(54) Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah 114 dengan sanad shahih dari Abu ad-Darda' (ra-dhiyallaahu 'anhu) secara mauquf. Diriwayatkan pula oleh lainnya secara marfu'. Ada riwayat lain yang menguatkannya, yaitu hadits Mu'awiyah (ra-dhiyallaahu 'anhu), dan aku telah mengeluarkannya dalam al-Ahadits ash-Shahihah 342.
(55) Disebutkan secara maushul oleh ad-Darimi dan Abu Nu'aim dalam kitab al-Huliyyah.
(56) Disebutkan secara maushul oleh Ibnu Abi Ashim dengan sanad hasan, dan juga oleh al-Khathib dengan sanad lain yang shahih.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi
3. Kitab Ilmu
8. Bab: Metode Munawalah dan Pengiriman Surat oleh Para Ulama ke Berbagai Daerah
16.(46) Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Utsman menulis beberapa mushhaf dan mengirimkannya ke berbagai daerah."
17-19.(47) 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma), Yahya bin Sa'id, dan Malik membolehkan hal itu.
20.(48) Sebagian 'ulama Hijaz berhujjah dalam masalah munawalah dengan hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika menulis surat kepada pemimpin pasukan seraya berkata {kepada utusan pembawa surat}, "Janganlah kamu membacanya kecuali jika telah sampai pada tempat ini dan ini." Ketika utusan itu telah sampai di tempat tujuan, ia membacakannya kepada orang-orang dan menyampaikan kepada mereka apa yang diperintahkan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.
50. Dari 'Abdullah bin 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menyuruh seorang laki-laki (dalam riwayat lain: 'Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi 5/136) untuk membawa surat dan menyerahkannya kepada pembesar Bahrain {al-Mundzir bin Sawi}. Kemudian oleh pembesar Bahrain surat itu dikirimkan kepada raja Persia {Abruwaiz bin Hurmuz bin Anusyirwan}. Setelah selesai membaca surat itu, raja itu merobek-robeknya. Aku kira Ibnu Musayyab berkata, "Karena perbuatan raja Persia itu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berdo'a, 'Semoga kerajaan mereka dihancur-leburkan oleh Allah.'" (49)
9. Bab: Duduk Paling Belakang dalam Suatu Majelis, dan Bagi yang Melihat Tempat Kosong di Depannya Hendaknya Menempatinya.
51. Dari Abu Waqid al-Laitsi, bahwa ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sedang duduk dalam masjid bersama orang-orang, datanglah tiga orang; dua orang di antaranya menghampiri Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, sementara satu orang lagi terus saja pergi. {Abu Waqid} berkata, "Dua orang datang kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan salah seorang dari keduanya melihat tempat lowong di tengah-tengah jama'ah, lalu ia pun duduk di situ. Sedangkan yang seorang lagi duduk di belakang mereka. Adapun orang yang ketiga terus saja pergi. Begitu selesai memberikan pengajaran, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Baiklah, akan aku jelaskan tentang ketiga orang itu; yang seorang mencari tempat di sisi Allah, maka diberi oleh Allah, yang kedua merasa malu-malu, maka Allah pun malu kepadanya, sedangkan yang ketiga berpaling, maka Allah pun berpaling darinya.'"
10. Bab: 21(50). Sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, "Berapa banyak orang yang diberitahu lebih memahami daripada orang yang {hanya} mendengar?"
(Haditsnya adalah hadits Abu Bakrah (ra-dhiyallaahu 'anhu) yang akan disebutkan pada kitab ke 64 bab 79).
11. Bab: Mengetahui Sebelum Berkata dan Berbuat, Berdasarkan Firman Allah, "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah." {QS. Muhammad (47): 19}
22.(51) Sesungguhnya para 'ulama adalah pewaris para Nabi. Mereka telah mewariskan 'ilmu, dan barangsiapa mengambilnya maka ia telah memperoleh bagian {keuntungan} yang banyak {berharga}.
23.(52) Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut 'ilmu {agama}, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga.
Allah berfirman, "Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah 'ulama." {QS. Faathir (35): 28} "Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." {QS. Al-Ankabuut (29): 43} "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala.'" {QS. Al-Mulk (67): 10} "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" {QS. Az-Zumar (39): 9}
24.(53) Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan, maka niscaya Dia akan menjadikannya faham tentang agama."
25.(54) "Sesungguhnya 'ilmu itu diperoleh dengan belajar."
20.(55) Abu Dzar (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Seandainya kalian meletakkan pedang di sini -ia menunjuk ke arah tengkuknya- kemudian aku berpikir bahwa aku masih sempat menyampaikan kalimat yang telah aku dengar dari Rasulullah (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) sebelum kalian melaksanakannya {memenggal leherku}, niscaya aku akan melakukannya {menyampaikannya}."
21.(56) Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Firman Allah, 'Jadilah kamu sekalian rabbaniyyin,' maksudnya adalah para 'ulama dan fuqaha." Ada pula yang berpendapat bahwa "Rabbani" adalah orang yang mendidik manusia dengan 'ilmu yang kecil-kecil {yang ringan-ringan} sebelum mengajarkan yang besar-besar {yang berat-berat}.
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(46) Ini adalah bagian dari hadits panjang, yang akan disebutkan secara maushul dan lengkap pada kitab ke 66 bab 1.
(47) 16-18. Atsar Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) disambungkan oleh Abu al-Qasim Manduh dalam Kitabul Washiyyah dengan sanad shahih dari Abu 'Abdirrahman al-Habli, dari 'Abdullah, seperti itu. kemungkinan bahwa orang tersebut adalah 'Abdullah bin 'Umar, karena al-Habli mendengar darinya. Kemungkinan juga bahwa itu adalah 'Abdullah bin 'Amr, karena al-Habli dikenal sering meriwayatkan darinya. Adapun atsar Yahya bin Sa'id dan Malik, yakni Ibnu Anas, disebutkan secara maushul oleh al-Hakim dalam kitab Ulumul Hadits hal. 259 dengan isnad jayyid dari keduanya.
(48) Disebutkan secara maushul oleh Ibnu Ishaq dari Urwah bin az-Zubair secara mursal, dan oleh ath-Thabari dalam kitab tafsirnya dari hadits Jundub al-Bajli dengan sanad hasan sebagaimana disebutkan dalam Fat-hul Baari, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Dengan jumlah jalur periwayatan itu, maka riwayat ini menjadi shahih."
(49) Aku katakan, bahwa ucapan Ibnu al-Musayyab ini mursal, karena ia tidak menyebutkan siapa yang menyampaikan itu kepadanya dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.
(50) Ini adalah bagian dari hadits Abu Bakrah ra-dhiyallaahu 'anhu, disambungkan oleh pengarang pada kitab ke 64 bab 79.
(51) Ini adalah bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dan lainnya dari Abu ad-Darda' (ra-dhiyallaahu 'anhu) secara marfu'. Ada riwayat-riwayat lain yang menguatkan riwayat ini, karena itu riwayat ini menjadi lebih kuat, demikian sebagaimana dikatakan al-Hafizh. Riwayat ini dikeluarkan dalam at-Ta'liq ar-Raghib 1/53.
(52) Ini juga merupakan bagian dari hadits itu, dan ini adalah kalimat darinya yang dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya dari hadits Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu). Dikeluarkan pula oleh Abu Khaitsamah dalam al-'Ilm 25 dengan tahqiq dariku.
(53) Disebutkan secara maushul oleh pengarang dari hadits Mu'awiyah (ra-dhiyallaahu 'anhu) setelah dua bab.
(54) Ini adalah bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah 114 dengan sanad shahih dari Abu ad-Darda' (ra-dhiyallaahu 'anhu) secara mauquf. Diriwayatkan pula oleh lainnya secara marfu'. Ada riwayat lain yang menguatkannya, yaitu hadits Mu'awiyah (ra-dhiyallaahu 'anhu), dan aku telah mengeluarkannya dalam al-Ahadits ash-Shahihah 342.
(55) Disebutkan secara maushul oleh ad-Darimi dan Abu Nu'aim dalam kitab al-Huliyyah.
(56) Disebutkan secara maushul oleh Ibnu Abi Ashim dengan sanad hasan, dan juga oleh al-Khathib dengan sanad lain yang shahih.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 44-49
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi
3. Kitab Ilmu
7. Bab: Qiro'ah (membaca) dan Ardh (menalarkan) kepada Ahli Hadits
12-14.(42) al-Hasan, Sufyan, dan Malik berpendapat bahwa qiro'ah (membaca) itu dibolehkan.
44. Dari Sufyan ats-Tsauri dan Malik, keduanya berpendapat bahwa membaca dan memperdengarkan adalah boleh.
45. Dari Sufyan, ia berkata, "Apabila dibacakan kepada seorang muhaddits, maka tidak apa-apa berkata, 'Telah menceritakan kepadaku.' Atau 'Aku telah mendengar.' Sebagian mereka (43) beralasan dalam hal membacakan di hadapan seorang 'alim: 19.(44) dengan hadits Dhimam bin Tsa'labah, bahwa ia bertanya kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam 'ALLOH-kah yang memerintahkanmu untuk mengerjakan sholat-sholat itu?' Beliau bersabda, 'Ya, benar.' Ini adalah bentuk qiro'ah (membaca) di hadapan Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam, yang kemudian Dhimam mengabarkan kepada kaumnya tentang hal itu, maka cara ini mereka perbolehkan. (45)
Malik beralasan dengan ash-shikk {kitab} yang dibacakan kepada orang-orang, lalu mereka berkata, 'Fulan telah mengijazahkan kepada kami.' Lalu dibacakannya kitab itu sebagai qiro'ah bagi mereka {yang mendengarkan}. Jika seorang membacakan bacaannya kepada seorang muqri', maka ia boleh berkata, 'Fulan telah membacakan kepadaku'."
46. Dari al-Hasan, ia berkata, "Tidak apa-apa membacakan kepada orang yang ber'ilmu."
47. Dari Sufyan, ia berkata, "Apabila dibacakan kepada seorang muhaddits, tidak apa-apa ia berkata, 'Ia telah menceritakan kepadaku'."
48. Dari Malik dan Sufyan, "Membacakan kepada seorang 'alim sama dengan bacaannya."
49. Dari Anas bin Malik (rodhiyaLLOOHU 'anhu), ia berkata, "Ketika kami sedang duduk bersama Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam di dalam Masjid, masuklah seorang laki-laki dengan mengendarai unta lalu menghentikan untanya di Masjid dan mengikatnya. Kemudian ia berkata kepada mereka yang ada, 'Siapakah di antara kalian yang bernama Muhammad?' Saat itu Nabi ShollaLLOOHU 'alayhi wa sallam sedang bersandar di antara mereka, maka kami berkata, 'Laki-laki putih yang sedang bersandar.' Lalu orang itu berkata kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam, 'Anak 'Abdul Mutholib?' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda kepadanya, 'Aku telah mendengarmu.' Laki-laki itu berkata kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam, 'Aku akan bertanya kepadamu, yang mungkin pertanyaanku ini agak sukar bagimu, maka janganlah engkau gusar!' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, 'Tanyakan apa yang ada pada dirimu.' Orang itu berkata, 'Aku bertanya dengan nama ROBB-mu dan ROBB orang-orang sebelummu, apakah ALLOH yang mengutusmu kepada semua manusia?' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, 'Ya, benar.' Orang itu berkata lagi, 'Aku ungkapkan kepadamu karena ALLOH. Apakah ALLOH memerintahkanmu untuk menegakkan sholat lima waktu sehari semalam?' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, 'Ya, benar.' Orang itu berkata lagi, 'Aku ungkapkan kepadamu karena ALLOH, apakah ALLOH memerintahkanmu untuk berpuasa pada bulan ini {Romadhon} setiap tahun?' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, 'Ya, benar.' Orang itu berkata lagi, 'Aku ungkapkan kepadamu karena ALLOH, apakah ALLOH memerintahkanmu untuk mengambil shodaqoh dari orang-orang kaya dan membagikannya kepada orang-orang miskin?' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, 'Ya, benar.' Orang itu berkata, 'Aku beriman kepada apa yang engkau bawa, dan aku adalah seorang utusan dari kaumku. Aku adalah Dhimam bin Tsa'labah, saudara bani Sa'ad bin Bakr."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(42) 12-14 disambungkan oleh pengarang dari mereka dalam bab ini.
(43) Yaitu Abu Sa'id al-Haddad (lihat kitab al-Fath)
(44) Disebutkan dengan bersambung oleh pengarang dalam bab ini dari hadits Anas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu), tapi dalam riwayat tersebut tidak disebutkan bahwa Dhomam mengabarkan hal itu kepada kaumnya, yang menyebutkan itu adalah dari riwayat Ibnu 'Abbas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma). Ad-Darimi mengeluarkannya dengan panjang dalam kitab Sunan-nya 1/165-167 dan Ahmad 1/264, dengan sanad hasan.
(45) Al-Hafizh berkata, "Maksudnya adalah bahwa mereka menerima itu darinya. Jadi maksudnya bukanlah ijazah yang biasa digunakan sebagai istilah para ahli hadits."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi
3. Kitab Ilmu
7. Bab: Qiro'ah (membaca) dan Ardh (menalarkan) kepada Ahli Hadits
12-14.(42) al-Hasan, Sufyan, dan Malik berpendapat bahwa qiro'ah (membaca) itu dibolehkan.
44. Dari Sufyan ats-Tsauri dan Malik, keduanya berpendapat bahwa membaca dan memperdengarkan adalah boleh.
45. Dari Sufyan, ia berkata, "Apabila dibacakan kepada seorang muhaddits, maka tidak apa-apa berkata, 'Telah menceritakan kepadaku.' Atau 'Aku telah mendengar.' Sebagian mereka (43) beralasan dalam hal membacakan di hadapan seorang 'alim: 19.(44) dengan hadits Dhimam bin Tsa'labah, bahwa ia bertanya kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam 'ALLOH-kah yang memerintahkanmu untuk mengerjakan sholat-sholat itu?' Beliau bersabda, 'Ya, benar.' Ini adalah bentuk qiro'ah (membaca) di hadapan Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam, yang kemudian Dhimam mengabarkan kepada kaumnya tentang hal itu, maka cara ini mereka perbolehkan. (45)
Malik beralasan dengan ash-shikk {kitab} yang dibacakan kepada orang-orang, lalu mereka berkata, 'Fulan telah mengijazahkan kepada kami.' Lalu dibacakannya kitab itu sebagai qiro'ah bagi mereka {yang mendengarkan}. Jika seorang membacakan bacaannya kepada seorang muqri', maka ia boleh berkata, 'Fulan telah membacakan kepadaku'."
46. Dari al-Hasan, ia berkata, "Tidak apa-apa membacakan kepada orang yang ber'ilmu."
47. Dari Sufyan, ia berkata, "Apabila dibacakan kepada seorang muhaddits, tidak apa-apa ia berkata, 'Ia telah menceritakan kepadaku'."
48. Dari Malik dan Sufyan, "Membacakan kepada seorang 'alim sama dengan bacaannya."
49. Dari Anas bin Malik (rodhiyaLLOOHU 'anhu), ia berkata, "Ketika kami sedang duduk bersama Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam di dalam Masjid, masuklah seorang laki-laki dengan mengendarai unta lalu menghentikan untanya di Masjid dan mengikatnya. Kemudian ia berkata kepada mereka yang ada, 'Siapakah di antara kalian yang bernama Muhammad?' Saat itu Nabi ShollaLLOOHU 'alayhi wa sallam sedang bersandar di antara mereka, maka kami berkata, 'Laki-laki putih yang sedang bersandar.' Lalu orang itu berkata kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam, 'Anak 'Abdul Mutholib?' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda kepadanya, 'Aku telah mendengarmu.' Laki-laki itu berkata kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam, 'Aku akan bertanya kepadamu, yang mungkin pertanyaanku ini agak sukar bagimu, maka janganlah engkau gusar!' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, 'Tanyakan apa yang ada pada dirimu.' Orang itu berkata, 'Aku bertanya dengan nama ROBB-mu dan ROBB orang-orang sebelummu, apakah ALLOH yang mengutusmu kepada semua manusia?' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, 'Ya, benar.' Orang itu berkata lagi, 'Aku ungkapkan kepadamu karena ALLOH. Apakah ALLOH memerintahkanmu untuk menegakkan sholat lima waktu sehari semalam?' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, 'Ya, benar.' Orang itu berkata lagi, 'Aku ungkapkan kepadamu karena ALLOH, apakah ALLOH memerintahkanmu untuk berpuasa pada bulan ini {Romadhon} setiap tahun?' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, 'Ya, benar.' Orang itu berkata lagi, 'Aku ungkapkan kepadamu karena ALLOH, apakah ALLOH memerintahkanmu untuk mengambil shodaqoh dari orang-orang kaya dan membagikannya kepada orang-orang miskin?' Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, 'Ya, benar.' Orang itu berkata, 'Aku beriman kepada apa yang engkau bawa, dan aku adalah seorang utusan dari kaumku. Aku adalah Dhimam bin Tsa'labah, saudara bani Sa'ad bin Bakr."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(42) 12-14 disambungkan oleh pengarang dari mereka dalam bab ini.
(43) Yaitu Abu Sa'id al-Haddad (lihat kitab al-Fath)
(44) Disebutkan dengan bersambung oleh pengarang dalam bab ini dari hadits Anas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu), tapi dalam riwayat tersebut tidak disebutkan bahwa Dhomam mengabarkan hal itu kepada kaumnya, yang menyebutkan itu adalah dari riwayat Ibnu 'Abbas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma). Ad-Darimi mengeluarkannya dengan panjang dalam kitab Sunan-nya 1/165-167 dan Ahmad 1/264, dengan sanad hasan.
(45) Al-Hafizh berkata, "Maksudnya adalah bahwa mereka menerima itu darinya. Jadi maksudnya bukanlah ijazah yang biasa digunakan sebagai istilah para ahli hadits."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 42-43
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi
3. Kitab Ilmu
3. Bab: Meninggikan Suara untuk Memberitahu
42. Dari 'Abdulloh bin 'Amr (rodhiyaLLOOHU 'anhu), ia berkata, "Pada suatu perjalanan yang sedang kami tempuh, Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam tertinggal [oleh kami 4/91]. Ketika Beliau dapat menyusul kami, waktu sholat (dalam riwayat lain: sholat 'Ashor) telah tiba dan kami sedang berwudhu'. Ketika kami mengusap kaki, Beliau berteriak dengan suara yang keras, 'Celakalah tumit-tumit yang akan dibakar api Neraka'." (Beliau mengatakan itu dua atau tiga kali).
4. Bab: Perkataan Ahli Hadits (hadda-tsana, anba-ana, akhbarana)
43. Al-Humaidi (35) berkata, "Ibnu Uyainah menyamakan arti hadda-tsanaa, akhbaronaa, dan anba-anaa."
13.(36) Ibnu Mas'ud (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu) berkata, "Rosululloh (shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam) menceritakan kepada kami, Beliau adalah orang yang jujur lagi dipercaya."
14.(37) Syaqiq berkata, "Dari 'Abdulloh (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu), aku mendengar Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam satu kalimat."
15.(38) Hudzaifah (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu) berkata, "Rosululloh (shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam) menceritakan kepada kami dua ucapan."
16.(39) Abu al-'Aliyah berkata, "Dari Ibnu 'Abbas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma), dari Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, tentang apa yang diriwayatkan dari ROBBnya (ALLOH) 'Azza wa Jalla."
17.(40) Anas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu) berkata, "Dari Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam yang diriwayatkannya dari ROBBnya (ALLOH) 'Azza wa Jalla."
18.(41) Abu Huroiroh (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu) berkata, "Dari Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam yang diriwayatkan dari ROBB kalian 'Azza wa Jalla."
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Umar (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma), yang akan disebutkan pada kitab ke 65 bab 2).
5. Bab: Mengajukan Pertanyaan untuk Menguji Ilmu yang Telah Dimiliki
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Umar (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma) tadi).
6. Bab: Hal-hal yang Berhubungan dengan Ilmu, dan Firman ALLOH: "Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'" {Qur-an Suroh Thoohaa (20): 114}
(Tidak ada hadits yang disebutkan di dalam bab ini).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(35) Dalam riwayat Karimah dan al-Ashili disebutkan, "al-Humaidi berkata kepada kami." Demikian pula yang disebutkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab al-Mustakhroj sebagai riwayat yang bersambung (muttashil).
(36) Ini adalah bagian dari hadits yang masyhur tentang penciptaan janin. Akan disebutkan secara maushul pada kitab ke 60 bab 2.
(37) Disebutkan secara maushul oleh pengarang dalam kitab al-Jana'iz 2/69 dan at-Tafsir 5/153, tapi tidak ada pernyataan mendengarnya 'Abdulloh -yakni Ibnu Mas'ud- ini berbeda dengan yang diisyaratkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam hal ini. Imam Muslim menyambungkan riwayat ini dengan menyertakan kalimat "mendengar" dalam kitab al-Iman pada riwayat tersebut. Hadits ini akan disebutkan pada kitab ke 22 bab 1.
(38) Ini adalah bagian dari hadits yang disambungkan oleh pengarang pada kitab ke 81 bab 34.
(39) Ini adalah bagian dari hadits yang disebutkan secara bersambung oleh pengarang pada kitab ke 60 bab 25.
(40) Disebutkan bersambung oleh pengarang pada kitab ke 97 bab 50.
(41) Disambingkan oleh pengarang pada kitab ke 30 bab 9.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul ilmi
3. Kitab Ilmu
3. Bab: Meninggikan Suara untuk Memberitahu
42. Dari 'Abdulloh bin 'Amr (rodhiyaLLOOHU 'anhu), ia berkata, "Pada suatu perjalanan yang sedang kami tempuh, Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam tertinggal [oleh kami 4/91]. Ketika Beliau dapat menyusul kami, waktu sholat (dalam riwayat lain: sholat 'Ashor) telah tiba dan kami sedang berwudhu'. Ketika kami mengusap kaki, Beliau berteriak dengan suara yang keras, 'Celakalah tumit-tumit yang akan dibakar api Neraka'." (Beliau mengatakan itu dua atau tiga kali).
4. Bab: Perkataan Ahli Hadits (hadda-tsana, anba-ana, akhbarana)
43. Al-Humaidi (35) berkata, "Ibnu Uyainah menyamakan arti hadda-tsanaa, akhbaronaa, dan anba-anaa."
13.(36) Ibnu Mas'ud (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu) berkata, "Rosululloh (shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam) menceritakan kepada kami, Beliau adalah orang yang jujur lagi dipercaya."
14.(37) Syaqiq berkata, "Dari 'Abdulloh (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu), aku mendengar Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam satu kalimat."
15.(38) Hudzaifah (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu) berkata, "Rosululloh (shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam) menceritakan kepada kami dua ucapan."
16.(39) Abu al-'Aliyah berkata, "Dari Ibnu 'Abbas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma), dari Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, tentang apa yang diriwayatkan dari ROBBnya (ALLOH) 'Azza wa Jalla."
17.(40) Anas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu) berkata, "Dari Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam yang diriwayatkannya dari ROBBnya (ALLOH) 'Azza wa Jalla."
18.(41) Abu Huroiroh (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu) berkata, "Dari Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam yang diriwayatkan dari ROBB kalian 'Azza wa Jalla."
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Umar (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma), yang akan disebutkan pada kitab ke 65 bab 2).
5. Bab: Mengajukan Pertanyaan untuk Menguji Ilmu yang Telah Dimiliki
(Haditsnya adalah hadits Ibnu 'Umar (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma) tadi).
6. Bab: Hal-hal yang Berhubungan dengan Ilmu, dan Firman ALLOH: "Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'" {Qur-an Suroh Thoohaa (20): 114}
(Tidak ada hadits yang disebutkan di dalam bab ini).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(35) Dalam riwayat Karimah dan al-Ashili disebutkan, "al-Humaidi berkata kepada kami." Demikian pula yang disebutkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab al-Mustakhroj sebagai riwayat yang bersambung (muttashil).
(36) Ini adalah bagian dari hadits yang masyhur tentang penciptaan janin. Akan disebutkan secara maushul pada kitab ke 60 bab 2.
(37) Disebutkan secara maushul oleh pengarang dalam kitab al-Jana'iz 2/69 dan at-Tafsir 5/153, tapi tidak ada pernyataan mendengarnya 'Abdulloh -yakni Ibnu Mas'ud- ini berbeda dengan yang diisyaratkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam hal ini. Imam Muslim menyambungkan riwayat ini dengan menyertakan kalimat "mendengar" dalam kitab al-Iman pada riwayat tersebut. Hadits ini akan disebutkan pada kitab ke 22 bab 1.
(38) Ini adalah bagian dari hadits yang disambungkan oleh pengarang pada kitab ke 81 bab 34.
(39) Ini adalah bagian dari hadits yang disebutkan secara bersambung oleh pengarang pada kitab ke 60 bab 25.
(40) Disebutkan bersambung oleh pengarang pada kitab ke 97 bab 50.
(41) Disambingkan oleh pengarang pada kitab ke 30 bab 9.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 40-41
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul iimaani.
2. Kitab Iman.
42. Bab: 12.(34) Sabda Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, "Agama adalah keikhlasan bagi ALLOH, Rosul-NYA, para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awamnya." Firman ALLOH, "Apabila mereka berlaku ikhlas kepada ALLOH dan Rosul-NYA."
40. Dari Jarir bin 'Abdillah (rodhiyaLLOOHU 'anhu), ia berkata, "Aku berbaiat kepada Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam [dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah (dengan benar) selain ALLOH dan bahwa Muhammad adalah utusan ALLOH, dan 3/27] untuk menegakkan sholat, membayar zakat [patuh dan taat, maka tirulah aku semampumu 8/122] serta berlaku jujur terhadap setiap muslim."
(Dari jalur lain disebutkan, dari Ziyad bin Ilaqoh, ia berkata, "Aku mendengar Jarir bin 'Abdillah berbicara pada hari meninggalnya al-Mughiroh bin Syu'bah. Ia berdiri lalu memuji ALLOH, selanjutnya ia berkata, 'Hendaklah kalian semua bertaqwa kepada ALLOH, yang tidak ada sekutu bagi-NYA, bersabar dan tenang hingga datang gubernur yang baru. Sesungguhnya ia akan datang kepada kalian sekarang juga.' Setelah itu ia melanjutkan. 'Berilah maaf kepada pemimpin kalian ini (al-Mughiroh), karena sesungguhnya ia seorang yang pemaaf.' Kemudian ia melanjutkan, 'Sesungguhnya aku pernah datang kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam dan berkata, "Aku berbaiat kepadamu akan melaksanakan segala perintah Islam".' Lalu Beliau memberikan syarat kepadaku, yaitu memberi nasihat kepada setiap muslim. Lalu aku berjanji kepada Beliau untuk memenuhi itu. Demi ROBB masjid ini, sesungguhnya aku adalah pemberi nasihat kepada kalian semua." Kemudian ia memohon ampun kepada ALLOH lalu turun dari mimbar.)
Kitaabul ilmi
3. Kitab Ilmu
1. Bab: Keutamaan Ilmu, dan Firman ALLOH, "ALLOH akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." {Qur-an Suroh al-Mujaadilah (58): 11} dan Firman ALLOH, "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." {Qur-an Suroh Thaaha (20): 114}
2. Bab: Seseorang yang Ditanya Tentang Suatu Ilmu Ketika Ia Sedang Berbicara, Lalu Ia Menyempurnakan Pembicaraannya Kemudian Menjawab Pertanyaan
41. Dari Abu Huroiroh (rodhiyaLLOOHU 'anhu), ia berkata, "Pada satu ketika Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam sedang berbicara dengan orang banyak (memberi pengajian), dan tiba-tiba datang seorang badui menanyakan kepada Beliau, 'Kapan datangnya hari Kiamat?' Akan tetapi Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam terus berbicara. Ada yang berkata, 'Beliau mendengar pertanyaan itu tapi tidak menyukainya.' Orang yang lainnya berkata, 'Beliau tidak mendengarnya.' Setelah Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam selesai berbicara, Beliau bertanya, 'Mana -perlihatkan kepadaku- orang yang bertanya tentang Kiamat tadi?' 'Aku wahai Rosululloh', jawab orang tersebut. Beliau pun bersabda, 'Apabila amanah telah sia-sia, maka tunggulah datangnya Kiamat.' Orang tersebut kembali bertanya, 'Bagaimanakah cara disia-siakannya amanah?' Beliau menjawab, 'Apabila suatu urusan diserahkan [dalam riwayat lain: disandarkan 7/188] kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya Kiamat'."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(34) Diriwayatkan Muslim dan lainnya dari hadits Tamim ad-Dari (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu). Diriwayatkan pula dalam kitab Takhrij al-Halal 328 dan Irwa'ul Gholil 25.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul iimaani.
2. Kitab Iman.
42. Bab: 12.(34) Sabda Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, "Agama adalah keikhlasan bagi ALLOH, Rosul-NYA, para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awamnya." Firman ALLOH, "Apabila mereka berlaku ikhlas kepada ALLOH dan Rosul-NYA."
40. Dari Jarir bin 'Abdillah (rodhiyaLLOOHU 'anhu), ia berkata, "Aku berbaiat kepada Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam [dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah (dengan benar) selain ALLOH dan bahwa Muhammad adalah utusan ALLOH, dan 3/27] untuk menegakkan sholat, membayar zakat [patuh dan taat, maka tirulah aku semampumu 8/122] serta berlaku jujur terhadap setiap muslim."
(Dari jalur lain disebutkan, dari Ziyad bin Ilaqoh, ia berkata, "Aku mendengar Jarir bin 'Abdillah berbicara pada hari meninggalnya al-Mughiroh bin Syu'bah. Ia berdiri lalu memuji ALLOH, selanjutnya ia berkata, 'Hendaklah kalian semua bertaqwa kepada ALLOH, yang tidak ada sekutu bagi-NYA, bersabar dan tenang hingga datang gubernur yang baru. Sesungguhnya ia akan datang kepada kalian sekarang juga.' Setelah itu ia melanjutkan. 'Berilah maaf kepada pemimpin kalian ini (al-Mughiroh), karena sesungguhnya ia seorang yang pemaaf.' Kemudian ia melanjutkan, 'Sesungguhnya aku pernah datang kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam dan berkata, "Aku berbaiat kepadamu akan melaksanakan segala perintah Islam".' Lalu Beliau memberikan syarat kepadaku, yaitu memberi nasihat kepada setiap muslim. Lalu aku berjanji kepada Beliau untuk memenuhi itu. Demi ROBB masjid ini, sesungguhnya aku adalah pemberi nasihat kepada kalian semua." Kemudian ia memohon ampun kepada ALLOH lalu turun dari mimbar.)
Kitaabul ilmi
3. Kitab Ilmu
1. Bab: Keutamaan Ilmu, dan Firman ALLOH, "ALLOH akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." {Qur-an Suroh al-Mujaadilah (58): 11} dan Firman ALLOH, "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." {Qur-an Suroh Thaaha (20): 114}
2. Bab: Seseorang yang Ditanya Tentang Suatu Ilmu Ketika Ia Sedang Berbicara, Lalu Ia Menyempurnakan Pembicaraannya Kemudian Menjawab Pertanyaan
41. Dari Abu Huroiroh (rodhiyaLLOOHU 'anhu), ia berkata, "Pada satu ketika Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam sedang berbicara dengan orang banyak (memberi pengajian), dan tiba-tiba datang seorang badui menanyakan kepada Beliau, 'Kapan datangnya hari Kiamat?' Akan tetapi Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam terus berbicara. Ada yang berkata, 'Beliau mendengar pertanyaan itu tapi tidak menyukainya.' Orang yang lainnya berkata, 'Beliau tidak mendengarnya.' Setelah Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam selesai berbicara, Beliau bertanya, 'Mana -perlihatkan kepadaku- orang yang bertanya tentang Kiamat tadi?' 'Aku wahai Rosululloh', jawab orang tersebut. Beliau pun bersabda, 'Apabila amanah telah sia-sia, maka tunggulah datangnya Kiamat.' Orang tersebut kembali bertanya, 'Bagaimanakah cara disia-siakannya amanah?' Beliau menjawab, 'Apabila suatu urusan diserahkan [dalam riwayat lain: disandarkan 7/188] kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya Kiamat'."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(34) Diriwayatkan Muslim dan lainnya dari hadits Tamim ad-Dari (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu). Diriwayatkan pula dalam kitab Takhrij al-Halal 328 dan Irwa'ul Gholil 25.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Wednesday, 29 March 2017
Ringkasan Shahih Bukhari 38-39
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul iimaani.
2. Kitab Iman.
39. Bab: Keutamaan Orang yang Memelihara Agamanya
38. Dari Nu'man bin Basyir (rodhiyaLLOOHU 'anhu), ia berkata, Aku mendengar Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, "Perkara yang halal telah jelas dan perkara yang harom pun telah jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang diragukan (dalam riwayat lain: hal-hal syubhat 3/4), yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang diragukan itu berarti ia telah memelihara agama dan kehormatannya, dan barang siapa yang mengerjakan perkara-perkara yang diragukan, maka ia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang, dan dikhawatirkan ia akan terjatuh ke dalamnya. (dalam riwayat lain: "Barang siapa meninggalkan apa yang diragukannya akan menyebabkan dosa, maka terhadap sesuatu yang jelas (hukumnya) ia akan lebih menghindari dan meninggalkannya, dan barang siapa berani melakukan apa yang diragukan akan menyebabkan dosa, maka dikhawatirkan ia akan mencampakkan dirinya ke dalam perbuatan dosa yang nyata. Ketahuilah, semua raja mempunyai larangan, dan larangan ALLOH adalah segala yang diharomkan-NYA. (dalam riwayat lain: bahwa kemaksiatan adalah larangan ALLOH) Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila daging itu baik maka baik pula seluruh tubuhnya, dan apabila daging itu rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, daging tersebut adalah hati."
40. Bab: Menyerahkan Seperlima Harta Rampasan Perang adalah Sebagian dari Iman
39. Dari Abu Jamroh, ia berkata, "Aku duduk bersama Ibnu 'Abbas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma) di atas dipannya, lalu ia berkata kepadaku, 'Tinggallah di rumahku, akan kuberikan kepadamu sebagian hartaku.' Lalu aku pun tinggal di rumahnya selama dua bulan. (Dalam riwayat lain: Aku menjadi penerjemah antara Ibnu 'Abbas dengan orang-orang 1/30). Kemudian ia berkata kepadaku, (dalam riwayat lain: Aku berkata kepada Ibnu 'Abbas, 'Aku punya sebuah guci. Aku membuat arak di dalamnya lalu aku meminumnya dalam keadaan manis. Jika aku banyak melakukan itu, sementara aku sering duduk-duduk bersama orang-orang dalam waktu yang lama, maka dikhawatirkan akan mempermalukanku'."(30) Ibnu 'Abbas berkata, 5/116) "Ketika utusan Abul Qois datang kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam, Beliau bertanya kepada mereka, 'Utusan dari suku manakah kalian semua?' Mereka menjawab, ['Kami dari dusun 7/114] suku Robi'ah'." (Dalam riwayat lain, "Kami tidak datang kepadamu kecuali pada setiap bulan harom" 4/157) Rosul shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam pun bersabda, "Selamat datang wahai para utusan (yang telah datang)." Diucapkan oleh Beliau tanpa maksud untuk menghina atau merasa menyesal. Mereka berkata, "Wahai Rosululloh, kami tidak dapat menemui engkau kecuali pada bulan harom, karena di antara negeri kami dan engkau masih terdapat kampung Mudhor yang kafir. [Kami datang kepadamu dari tempat yang jauh.] Oleh karena itu, berilah kami pengajaran yang jelas (dalam riwayat lain: jelaskanlah perkaranya kepada kami) [yang bisa kami ambil dari engkau 1/133] untuk kami sampaikan kepada orang-orang di kampung kami, agar kami semuanya masuk Surga [jika kami melaksanakannya. 7/217]" Kemudian mereka menanyakan kepada Beliau tentang meminum minuman keras, maka Beliau menyuruh mereka melaksanakan empat perkara dan melarang (dalam riwayat lain: "Aku perintahkan kalian dengan empat perkara dan aku larang kalian") empat perkara. Beliau memerintahkan mereka untuk beriman kepada ALLOH [Azza wa Jalla] semata. Beliau bersabda, "Tahukah kalian apa artinya iman kepada ALLOH semata?" "ALLOH dan Rosul-NYA lebih mengetahui," jawab mereka. Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, "Mengakui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah (dengan benar) selain ALLOH dan bahwa Muhammad adalah utusan ALLOH." [Seraya Beliau mengisyaratkan dengan tangannya 4/44] dan menegakkan sholat, membayar zakat, melaksanakan puasa di bulan Romadhon, dan menyerahkan seperlima harta rampasan perang {kepada Baitul Maal}. Kemudian Beliau melarang mereka untuk melakukan empat perkara, yaitu (dalam riwayat lain: "Janganlah kalian minum dalam") wadah (guci) hijau, labu kering, pohon kurma {yang diukir}, dan sesuatu yang dilumuri tir,(31) atau mungkin Beliau menyebutkan muqoyyar (dan bukan naqiir). Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam melanjutkan, "Ingatlah semua itu dan sampaikan kepada orang-orang di kampung kalian."
41. Bab: Hal yang Terkandung dalam Pengertian bahwa Amal Perbuatan harus Disertai Niat dan Mengharapkan Pahala, karena Setiap Orang akan Mendapatkan Balasan Sesuai dengan Niatnya.
Dalam hal ini mencakup: iman, wudhu, sholat, zakat, hajji, puasa dan berbagai hukum. Allah berfirman, "Katakanlah, 'Setiap orang berbuat menurut kebiasaannya masing-masing." {Qur-an Suroh al-Isroo' (17): Ayat 84} Maksudnya, tergantung kepada niatnya.
10.(32) Nafkah seorang laki-laki untuk keluarganya dengan mengharapkan pahalanya termasuk shodaqoh.
11.(33) Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda, "Tetapi jihad dan niat."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(30) Maksudnya adalah karena dalam keadaan seperti itu aku menyerupai orang yang sedang mabuk. (Fat-hul Baari)
(31) Keempat hal ini adalah alat untuk membuat minuman keras.
(32) Ini adalah bagian dari hadits Abu Mas'ud al-Badri (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu), yang disebutkan pengarang dalam bab ini dari kitab ke 69 bab 1.
(33) Ini adalah bagian dari hadits Ibnu 'Abbas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma), yang akan disebutkan secara maushul pada kitab ke 56 bab 27.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul iimaani.
2. Kitab Iman.
39. Bab: Keutamaan Orang yang Memelihara Agamanya
38. Dari Nu'man bin Basyir (rodhiyaLLOOHU 'anhu), ia berkata, Aku mendengar Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, "Perkara yang halal telah jelas dan perkara yang harom pun telah jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang diragukan (dalam riwayat lain: hal-hal syubhat 3/4), yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan orang. Barang siapa menjauhi perkara-perkara yang diragukan itu berarti ia telah memelihara agama dan kehormatannya, dan barang siapa yang mengerjakan perkara-perkara yang diragukan, maka ia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang, dan dikhawatirkan ia akan terjatuh ke dalamnya. (dalam riwayat lain: "Barang siapa meninggalkan apa yang diragukannya akan menyebabkan dosa, maka terhadap sesuatu yang jelas (hukumnya) ia akan lebih menghindari dan meninggalkannya, dan barang siapa berani melakukan apa yang diragukan akan menyebabkan dosa, maka dikhawatirkan ia akan mencampakkan dirinya ke dalam perbuatan dosa yang nyata. Ketahuilah, semua raja mempunyai larangan, dan larangan ALLOH adalah segala yang diharomkan-NYA. (dalam riwayat lain: bahwa kemaksiatan adalah larangan ALLOH) Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila daging itu baik maka baik pula seluruh tubuhnya, dan apabila daging itu rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, daging tersebut adalah hati."
40. Bab: Menyerahkan Seperlima Harta Rampasan Perang adalah Sebagian dari Iman
39. Dari Abu Jamroh, ia berkata, "Aku duduk bersama Ibnu 'Abbas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma) di atas dipannya, lalu ia berkata kepadaku, 'Tinggallah di rumahku, akan kuberikan kepadamu sebagian hartaku.' Lalu aku pun tinggal di rumahnya selama dua bulan. (Dalam riwayat lain: Aku menjadi penerjemah antara Ibnu 'Abbas dengan orang-orang 1/30). Kemudian ia berkata kepadaku, (dalam riwayat lain: Aku berkata kepada Ibnu 'Abbas, 'Aku punya sebuah guci. Aku membuat arak di dalamnya lalu aku meminumnya dalam keadaan manis. Jika aku banyak melakukan itu, sementara aku sering duduk-duduk bersama orang-orang dalam waktu yang lama, maka dikhawatirkan akan mempermalukanku'."(30) Ibnu 'Abbas berkata, 5/116) "Ketika utusan Abul Qois datang kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam, Beliau bertanya kepada mereka, 'Utusan dari suku manakah kalian semua?' Mereka menjawab, ['Kami dari dusun 7/114] suku Robi'ah'." (Dalam riwayat lain, "Kami tidak datang kepadamu kecuali pada setiap bulan harom" 4/157) Rosul shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam pun bersabda, "Selamat datang wahai para utusan (yang telah datang)." Diucapkan oleh Beliau tanpa maksud untuk menghina atau merasa menyesal. Mereka berkata, "Wahai Rosululloh, kami tidak dapat menemui engkau kecuali pada bulan harom, karena di antara negeri kami dan engkau masih terdapat kampung Mudhor yang kafir. [Kami datang kepadamu dari tempat yang jauh.] Oleh karena itu, berilah kami pengajaran yang jelas (dalam riwayat lain: jelaskanlah perkaranya kepada kami) [yang bisa kami ambil dari engkau 1/133] untuk kami sampaikan kepada orang-orang di kampung kami, agar kami semuanya masuk Surga [jika kami melaksanakannya. 7/217]" Kemudian mereka menanyakan kepada Beliau tentang meminum minuman keras, maka Beliau menyuruh mereka melaksanakan empat perkara dan melarang (dalam riwayat lain: "Aku perintahkan kalian dengan empat perkara dan aku larang kalian") empat perkara. Beliau memerintahkan mereka untuk beriman kepada ALLOH [Azza wa Jalla] semata. Beliau bersabda, "Tahukah kalian apa artinya iman kepada ALLOH semata?" "ALLOH dan Rosul-NYA lebih mengetahui," jawab mereka. Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam bersabda, "Mengakui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah (dengan benar) selain ALLOH dan bahwa Muhammad adalah utusan ALLOH." [Seraya Beliau mengisyaratkan dengan tangannya 4/44] dan menegakkan sholat, membayar zakat, melaksanakan puasa di bulan Romadhon, dan menyerahkan seperlima harta rampasan perang {kepada Baitul Maal}. Kemudian Beliau melarang mereka untuk melakukan empat perkara, yaitu (dalam riwayat lain: "Janganlah kalian minum dalam") wadah (guci) hijau, labu kering, pohon kurma {yang diukir}, dan sesuatu yang dilumuri tir,(31) atau mungkin Beliau menyebutkan muqoyyar (dan bukan naqiir). Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam melanjutkan, "Ingatlah semua itu dan sampaikan kepada orang-orang di kampung kalian."
41. Bab: Hal yang Terkandung dalam Pengertian bahwa Amal Perbuatan harus Disertai Niat dan Mengharapkan Pahala, karena Setiap Orang akan Mendapatkan Balasan Sesuai dengan Niatnya.
Dalam hal ini mencakup: iman, wudhu, sholat, zakat, hajji, puasa dan berbagai hukum. Allah berfirman, "Katakanlah, 'Setiap orang berbuat menurut kebiasaannya masing-masing." {Qur-an Suroh al-Isroo' (17): Ayat 84} Maksudnya, tergantung kepada niatnya.
10.(32) Nafkah seorang laki-laki untuk keluarganya dengan mengharapkan pahalanya termasuk shodaqoh.
11.(33) Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda, "Tetapi jihad dan niat."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(30) Maksudnya adalah karena dalam keadaan seperti itu aku menyerupai orang yang sedang mabuk. (Fat-hul Baari)
(31) Keempat hal ini adalah alat untuk membuat minuman keras.
(32) Ini adalah bagian dari hadits Abu Mas'ud al-Badri (ro-dhiyaLLOOHU 'anhu), yang disebutkan pengarang dalam bab ini dari kitab ke 69 bab 1.
(33) Ini adalah bagian dari hadits Ibnu 'Abbas (ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma), yang akan disebutkan secara maushul pada kitab ke 56 bab 27.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari 35-37
Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul iimaani.
2. Kitab Iman.
34. Bab: Zakat adalah Sebagian dari Islam
Firman-NYA, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah ALLOH dengan memurnikan ketaatan kepada-NYA dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikaan sholat dan menunaikan zakat." {Qur-an Suroh al-Bayyinah (98): Ayat 5}
35. Dari Tholhah bin 'Ubaydillah (RodhiyaLLOOHU 'Anhu), ia berkata, "Seorang laki-laki dari Najd (dalam riwayat lain: seorang badui) datang kepada Rosululloh ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam dengan kepala penuh debu, kami mendengar suaranya tapi tidak mengerti apa yang diucapkannya sehingga ia mendekat. Ternyata ia menanyakan tentang Islam." (dalam riwayat lain: Ia berkata, "Wahai Rosululloh, beritahukan tentang sholat yang ALLOH wajibkan kepadaku?") Maka Rosululloh ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam bersabda, "Sholat lima waktu dalam sehari semalam." Ia bertanya lagi, "Apakah ada lagi selain itu?" Beliau pun menjawab, "Tidak, kecuali jika engkau mau mengerjakan sholat sunah." Kemudian Rosululloh ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam meneruskan ucapannya, "Dan puasa" (dalam riwayat lain disebutkan: "Beritahukan puasa yang diwajibkan ALLOH kepadaku?" Beliau menjawab, "Puasa pada bulan) Romadhon." Orang itu bertanya lagi, "Adakah selain itu?" Beliau menjawab, "Tidak ada, kecuali jika engkau mau melakukan yang sunah." [Ia bertanya lagi, "Beritahukan tentang zakat yang diwajibkan ALLOH kepadaku?" 3/225] Kemudian Rosululloh ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam menyebutkan perihal zakat. (dalam riwayat lain: "Maka Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam memberitahukan kepadanya tentang syari'at-syari'at Islam) Orang itu bertanya lagi, "Adakah yang diwajibkan atasku selain itu?" Beliau pun menjawab, "Tidak ada, kecuali jika engkau mau melakukan yang sunah." Kemudian orang itu pergi dan berkata, "Demi ALLOH! aku tidak akan menambah atau mengurangi [sedikitpun dari apa yang telah ALLOH wajibkan kepadaku] lalu Rasulullah ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam bersabda, "Dia pasti beruntung jika dia benar-benar menepati perkataannya."
35. Bab: Mengiringi Jenazah Merupakan Bagian dari Iman
36. Dari Abu Huroiroh (RodhiyaLLOOHU 'Anhu), bahwa Rosululloh ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam bersabda, "Barang siapa mengiringi jenazah seorang muslim karena iman dan mengharapkan pahala, yang mana ia menyertainya sampai menyolatinya dan menyelenggarakan penguburannya hingga selesai, maka ia akan kembali dengan membawa pahala dua qiroth. Setiap qiroth kira-kira sebesar bukit Uhud. Dan barang siapa mensholatinya saja kemudian ia pulang sebelum menguburkannya, maka ia membawa pulang pahala satu qiroth."
36. Bab: Takutnya Seorang Mukmin akan Kehilangan Amalnya Tanpa Disadari
10.(23) Ibrohim at-Taimi berkata, "Perkataanku tidak pernah bertentangan dengan perbuatanku, karena aku takut menjadi seorang pembohong."
11.(24) Ibnu Abi Mulaikah berkata, "Aku pernah bertemu dengan tiga puluh orang shahabat Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam yang takut akan kemunafikan padaa dirinyaa. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa iman mereka setara dengan iman Jibril dan Mikail."
12.(25) Disebutkan dari al-Hasan, "Tidak ada seorang pun yang takut terhadapnya (kemunafikan) kecuali ia seorang yang beriman, dan tidak ada seorang pun yang merasa aman terhadapnya (kemunafikan) kecuali ia pasti seorang munafik." (26) Diperingatkan akan perbuatan saling memusuhi berdasarkan firman ALLOH, "Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui." {Qur-an Suroh Aali 'Imroon (3): Ayat 135}
37. Dari Zubaid, berkata, "Aku bertanya kepada Abu Wa'il tentang Murji'ah."(27) Ia menjawab, "Abdulloh menceritakan kepadaku, bahwa Nabi ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam bersabda, 'Memaki orang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran'."
37. Bab: 8.(28) Pertanyaan Jibril kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam tentang Iman, Islam, Ihsan, Hari Akhir, dan Penjelasan Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam kepadanya, Kemudian Rosululloh (shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam) Bersabda,
"Jibril 'alayhis salaam datang untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian." Nabi (shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam menganggap itu semua adalah agama.
9.(29) Semua yang beliau jelaskan kepada utusan 'Abdul Qois adalah bagian iman dan firman ALLOH, "Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya." {Qur-an Suroh Aali 'Imroon (3): 85}
(Hadits Jibril dalam bab ini, adalah dari hadits Abu Huroiroh (rodhiyaLLOOHU 'anhu), yang akan disebutkan pada kitab ke 65 bab 2).
Abu 'Abdillah berkata, "Semua itu beliau jadikan sebagai bagian dari iman."
38. Bab
(Hadits dalam bab ini adalah bagian dari hadits Abu Sufyan (rodhiyaLLOOHU 'anhu) yang panjang tentang Hiraklius, yang akan disebutkan pada kitab ke 56 bab 102).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(23) Diriwayatkan secara maushul oleh pengarang dalam kitaab at-Tarikh dan Ahmad dalam az-Zuhd dengan sanad shohih darinya.
(24) Diriwayatkan secara maushul oleh Ibnu Abi Khoitsamah dalam kitab Tarikh milikny tapi tidak menyebutkan jumlahnya. Demikian juga Ibnu Nashr dalam kitabnya al-Iman dan Abu Zar'ah ad-Dimasyqi dalam kitab Tarikh miliknya dari jalur lain darinya sebagaimana dalam riwayt tersebut.
(25) Disebutkan secara maushul oleh Ja'far al-Faryabi dalam kitab Shifatul Munafiq dari beberapa jalur yang berbeda, dan hal ini mendukung keshohihan riwayat ini darinya, lalu kenapa pengarang menuliskan "Disebutkan" yang mengisyaratkan bahwa riwayat ini lemah? Hal ini dijawab oleh al-Hafizh, bahwa ini merupakan penyampaian ringkas, yakni pengarang tidak mengkhususkan ungkapan yang tersirat lemah itu untuk menunjukkan kelemahan, tapi untuk mengungkapkan matannya dengan ungkapan maknanya atau ringkasan yang disimpulkannya. Dengan demikian aku mengerti akan pentingnya hal itu.
(26) Yakni nifaq 'amali (kemunafikan dalam perbuatan).
(27) Yaitu salah satu golongan sesat yang mengatakan bahwa kemaksiatan itu tidak merusak iman.
(28) Ini adalah bagian dari hadits Abu Huroiroh (rodhiyaLLOOHU 'anhu) yang disebutkan pengarang dalam bab ini. Adapun pada kitab 65 (tentang tafsir) lafazhnya lebih lengkap. Lihat pada kitab ke 36 bab 3. Disebutkan secara maushul pula oleh Muslim dan lainnya dari hadits Ibnu 'Umar (rodhiyaLLOOHU 'anhuma).
(29) Mengisyaratkan pada hadits Ibnu 'Umar (rodhiyaLLOOHU 'anhuma) berikut, yang disebutkan secara bersambung setelah dua bab berikut.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Kitaabul iimaani.
2. Kitab Iman.
34. Bab: Zakat adalah Sebagian dari Islam
Firman-NYA, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah ALLOH dengan memurnikan ketaatan kepada-NYA dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikaan sholat dan menunaikan zakat." {Qur-an Suroh al-Bayyinah (98): Ayat 5}
35. Dari Tholhah bin 'Ubaydillah (RodhiyaLLOOHU 'Anhu), ia berkata, "Seorang laki-laki dari Najd (dalam riwayat lain: seorang badui) datang kepada Rosululloh ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam dengan kepala penuh debu, kami mendengar suaranya tapi tidak mengerti apa yang diucapkannya sehingga ia mendekat. Ternyata ia menanyakan tentang Islam." (dalam riwayat lain: Ia berkata, "Wahai Rosululloh, beritahukan tentang sholat yang ALLOH wajibkan kepadaku?") Maka Rosululloh ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam bersabda, "Sholat lima waktu dalam sehari semalam." Ia bertanya lagi, "Apakah ada lagi selain itu?" Beliau pun menjawab, "Tidak, kecuali jika engkau mau mengerjakan sholat sunah." Kemudian Rosululloh ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam meneruskan ucapannya, "Dan puasa" (dalam riwayat lain disebutkan: "Beritahukan puasa yang diwajibkan ALLOH kepadaku?" Beliau menjawab, "Puasa pada bulan) Romadhon." Orang itu bertanya lagi, "Adakah selain itu?" Beliau menjawab, "Tidak ada, kecuali jika engkau mau melakukan yang sunah." [Ia bertanya lagi, "Beritahukan tentang zakat yang diwajibkan ALLOH kepadaku?" 3/225] Kemudian Rosululloh ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam menyebutkan perihal zakat. (dalam riwayat lain: "Maka Rosululloh shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam memberitahukan kepadanya tentang syari'at-syari'at Islam) Orang itu bertanya lagi, "Adakah yang diwajibkan atasku selain itu?" Beliau pun menjawab, "Tidak ada, kecuali jika engkau mau melakukan yang sunah." Kemudian orang itu pergi dan berkata, "Demi ALLOH! aku tidak akan menambah atau mengurangi [sedikitpun dari apa yang telah ALLOH wajibkan kepadaku] lalu Rasulullah ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam bersabda, "Dia pasti beruntung jika dia benar-benar menepati perkataannya."
35. Bab: Mengiringi Jenazah Merupakan Bagian dari Iman
36. Dari Abu Huroiroh (RodhiyaLLOOHU 'Anhu), bahwa Rosululloh ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam bersabda, "Barang siapa mengiringi jenazah seorang muslim karena iman dan mengharapkan pahala, yang mana ia menyertainya sampai menyolatinya dan menyelenggarakan penguburannya hingga selesai, maka ia akan kembali dengan membawa pahala dua qiroth. Setiap qiroth kira-kira sebesar bukit Uhud. Dan barang siapa mensholatinya saja kemudian ia pulang sebelum menguburkannya, maka ia membawa pulang pahala satu qiroth."
36. Bab: Takutnya Seorang Mukmin akan Kehilangan Amalnya Tanpa Disadari
10.(23) Ibrohim at-Taimi berkata, "Perkataanku tidak pernah bertentangan dengan perbuatanku, karena aku takut menjadi seorang pembohong."
11.(24) Ibnu Abi Mulaikah berkata, "Aku pernah bertemu dengan tiga puluh orang shahabat Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam yang takut akan kemunafikan padaa dirinyaa. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa iman mereka setara dengan iman Jibril dan Mikail."
12.(25) Disebutkan dari al-Hasan, "Tidak ada seorang pun yang takut terhadapnya (kemunafikan) kecuali ia seorang yang beriman, dan tidak ada seorang pun yang merasa aman terhadapnya (kemunafikan) kecuali ia pasti seorang munafik." (26) Diperingatkan akan perbuatan saling memusuhi berdasarkan firman ALLOH, "Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui." {Qur-an Suroh Aali 'Imroon (3): Ayat 135}
37. Dari Zubaid, berkata, "Aku bertanya kepada Abu Wa'il tentang Murji'ah."(27) Ia menjawab, "Abdulloh menceritakan kepadaku, bahwa Nabi ShollaLLOOHU 'Alayhi Wa sallam bersabda, 'Memaki orang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran'."
37. Bab: 8.(28) Pertanyaan Jibril kepada Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam tentang Iman, Islam, Ihsan, Hari Akhir, dan Penjelasan Nabi shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam kepadanya, Kemudian Rosululloh (shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam) Bersabda,
"Jibril 'alayhis salaam datang untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian." Nabi (shollaLLOOHU 'alayhi wa sallam menganggap itu semua adalah agama.
9.(29) Semua yang beliau jelaskan kepada utusan 'Abdul Qois adalah bagian iman dan firman ALLOH, "Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya." {Qur-an Suroh Aali 'Imroon (3): 85}
(Hadits Jibril dalam bab ini, adalah dari hadits Abu Huroiroh (rodhiyaLLOOHU 'anhu), yang akan disebutkan pada kitab ke 65 bab 2).
Abu 'Abdillah berkata, "Semua itu beliau jadikan sebagai bagian dari iman."
38. Bab
(Hadits dalam bab ini adalah bagian dari hadits Abu Sufyan (rodhiyaLLOOHU 'anhu) yang panjang tentang Hiraklius, yang akan disebutkan pada kitab ke 56 bab 102).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
(23) Diriwayatkan secara maushul oleh pengarang dalam kitaab at-Tarikh dan Ahmad dalam az-Zuhd dengan sanad shohih darinya.
(24) Diriwayatkan secara maushul oleh Ibnu Abi Khoitsamah dalam kitab Tarikh milikny tapi tidak menyebutkan jumlahnya. Demikian juga Ibnu Nashr dalam kitabnya al-Iman dan Abu Zar'ah ad-Dimasyqi dalam kitab Tarikh miliknya dari jalur lain darinya sebagaimana dalam riwayt tersebut.
(25) Disebutkan secara maushul oleh Ja'far al-Faryabi dalam kitab Shifatul Munafiq dari beberapa jalur yang berbeda, dan hal ini mendukung keshohihan riwayat ini darinya, lalu kenapa pengarang menuliskan "Disebutkan" yang mengisyaratkan bahwa riwayat ini lemah? Hal ini dijawab oleh al-Hafizh, bahwa ini merupakan penyampaian ringkas, yakni pengarang tidak mengkhususkan ungkapan yang tersirat lemah itu untuk menunjukkan kelemahan, tapi untuk mengungkapkan matannya dengan ungkapan maknanya atau ringkasan yang disimpulkannya. Dengan demikian aku mengerti akan pentingnya hal itu.
(26) Yakni nifaq 'amali (kemunafikan dalam perbuatan).
(27) Yaitu salah satu golongan sesat yang mengatakan bahwa kemaksiatan itu tidak merusak iman.
(28) Ini adalah bagian dari hadits Abu Huroiroh (rodhiyaLLOOHU 'anhu) yang disebutkan pengarang dalam bab ini. Adapun pada kitab 65 (tentang tafsir) lafazhnya lebih lengkap. Lihat pada kitab ke 36 bab 3. Disebutkan secara maushul pula oleh Muslim dan lainnya dari hadits Ibnu 'Umar (rodhiyaLLOOHU 'anhuma).
(29) Mengisyaratkan pada hadits Ibnu 'Umar (rodhiyaLLOOHU 'anhuma) berikut, yang disebutkan secara bersambung setelah dua bab berikut.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Subscribe to:
Posts (Atom)