Showing posts with label adabul mufrad. Show all posts
Showing posts with label adabul mufrad. Show all posts

Saturday, 29 April 2017

Adabul Mufrad 118-120

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Tetangga.

65. Bab Tetangga yang jelek.

118. Abu Musa (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Tidak akan terjadi Kiamat kecuali seorang pria itu membunuh ayahnya, saudaranya dan tetangganya.'"

66. Bab Tidak mengganggu tetangganya.

119. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Ada seseorang bertanya pada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, 'Wahai Rasulullah, wanita itu bangun malam dan berpuasa di siang hari, dia juga berbuat baik dan bersedekah dan mengganggu tetangganya dengan lidahnya.' Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Tidak ada kebaikan baginya, dia adalah penduduk Neraka.'

Mereka lalu berkata, 'Dan ada wanita yang lain yang melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum dan tidak mengganggu tetangganya.' Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) bersabda:

'Dia adalah dari penduduk Surga,'"

120. 'Umarah bin Ghurab berkata bahwa bibinya pernah bertanya pada 'Aisyah (Ummul Mu-'minin) ra-dhiyallaahu 'anha, "Sesungguhnya suami salah seorang di antara kami punya hajat padanya, tetapi dia tidak mau, mungkin dalam keadaan marah atau mungkin dalam keadaan tidak bergairah, apakah itu dosa bagi kami?" 'Aisyah menjawab, "Ya, sesungguhnya salah satu dari haknya adalah jika dia menginginkanmu sedang kau berada di atas Qatab (tempat duduk di atas unta) maka jangan kalian mencegahnya." Kukatakan, "Kalau dia dalam keadaan haidh dan tidak ada baginya dan suaminya kecuali satu tempat tidur atau satu lihaf (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), apa yang dilakukannya?" 'Aisyah menjawab, "Hendaknya dia mengencangkan sarungnya lalu dia tidur bersamanya, maka bagi dia (suaminya) apa yang di atasnya. Kuberitahu engkau apa yang dilakukan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah bermalam bersamaku, lalu kugiling gandum dan kubuatkan roti. Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) masuk lalu menutup pintu kemudian beliau memasuki masjid. Jika akan tidur beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) tutup pintu, qirbah dan cawan, serta mematikan lampu. Maka beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) kutunggu sampai kembali agar aku dapat memberinya makan roti pipih, tetapi tidak juga kembali. Sampai aku tertidur. Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) lalu tersiksa oleh dingin. Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) kemudian menemuiku dan bersabda, 'Hangatkanlah aku, hangatkanlah aku.' Kukatakan, 'Aku dalam keadaan haidh.' Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) bersabda, 'Ya, meskipun engkau haidh! Lebarkanlah kedua pahamu.' Maka kulebarkan kedua pahaku. Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) lalu meletakkan pipi dan kepalanya di atas pahaku sampai beliau merasa hangat. Tiba-tiba ada kambingnya tetangga yang menghampiri hewan piaraan. Dia masuk dan menuju roti lalu mengambilnya dan kemudian membelakangi diri sambil membawa rotinya. Maka aku gerakkan tubuhku dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Beliau lalu bangun. Maka aku kejar kambing itu ke pintu. Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda:

'Ambillah apa yang kau dapatkan dari rotimu dan jangan kau ganggu tetanggamu dengan kambingnya.'"

* Isnadnya dha'if.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 113-117

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Tetangga.

62. Bab Memperbanyak air kuah untuk dibagi di antara para tetangga.

113. Abu Dzar (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tiga perkara, yaitu:

Dengarkanlah dan taatilah meskipun terhadap budak (jika dia menjadi pemimpin misalnya). Jika engkau memasak perbanyaklah airnya lalu lihatlah pada tetanggamu lalu berikanlah itu pada mereka dengan cara yang baik. Shalatlah pada waktunya jika engkau mendapati imam sudah shalat maka engkau telah menjaga shalatmu jika belum maka shalat yang engkau kerjakan bersama imam itu adalah tambahan."

114. Abu Dzar (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak kuah perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetanggamu atau bagikanlah pada tetanggamu.'"

63. Bab Sebaik-baik tetangga.

115. 'Abdullah bin 'Amru (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Sebaik-baik teman di hadapan Allah adalah mereka yang paling baik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah mereka yang paling baik terhadap tetangganya.'"

64. Bab Tetangga yang shalih.

116. Nafi' bin 'Abdil Harits (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Kesenangan bagi seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih, dan kendaraan yang tenang.'"

65. Bab Tetangga yang jelek.

117. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Salah satu dari do'a Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جاَرِ السُّوْءِ فِيْ دَارِ الْمُقَامِ فَإِنَّ جَارِ الدُّنْيَا يَتَحَوَّلُ

Allaahumma innii a'uudzu buka min jaaris suu-i fii daaril muqaami fa-inna jaarid dun-yaa yatahawwal.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jelek di akhirat karena tetangga di dunia akan berpindah."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Saturday, 22 April 2017

Adabul Mufrad 106-112

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Tetangga.

57. Bab Memberi dimulai dari tetangga.

106. 'Aisyah ra-dhiyallaahu 'anhuma berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Jibril selalu berwasiat kepadaku terhadap tetangga sampai aku mengira bahwa dia akan menetapkan warisan baginya.'"

58. Bab Memberi hadiah pada tetangga yang paling dekat.

107. 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Aku pernah berkata pada Rasulullah (shallallaahu 'alaihi wa sallam), '(Ya Rasulullah), aku mempunyai dua tetangga, kepada yang mana aku akan memberi hadiah?' Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) bersabda:

'Kepada yang paling dekat denganmu.'"

108. Sama (dengan hadits nomor 107).

59. Bab Yang paling dekat di antara para tetangga.

109. Al-Hasan ditanya mengenai tetangga. Dia menjawab, "40 rumah di depannya, 40 rumah di belakangnya, 40 rumah di samping kanannya dan 40 rumah di samping kirinya."

110. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Janganlah memulai dengan tetangga yang paling jauh sebelum tetangga yang terdekat. Mulailah dengan tetangga yang terdekat sebelum yang terjauh."

Isnadnya dha'if

60. Bab Orang yang menutup pintu dari tetangganya.

111. Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Telah datang kepada kami (para Shahabat ra-dhiyallaahu 'anhum) zaman dimana seseorang itu tidak lebih berhak terhadap dinar dan dirhamnya daripada saudaranya sesama muslim lalu sekarang dinar dan dirham lebih dicintai oleh salah seorang di antara kita daripada saudaranya sesama muslim, aku telah mendengar Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Berapa banyak tetangga yang memegangi tetangganya di hari Kiamat sambil berkata, 'Wahai Tuhanku, orang ini menutup pintunya dariku lalu dia tidak memberi.''"

61. Bab Tidak kenyang tetangganya.

112. 'Abdullah bin Zubair (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Bukan orang beriman siapa yang kenyang sedang tetangganya dalam keadaan lapar.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 101-105

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Tetangga.

55. Bab Wasiat Jibril terhadap tetangga.

101. 'Aisyah ra-dhiyallaahu 'anhuma (*) berkata bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jibril selalu berwasiat kepadaku terhadap tetangga sampai aku mengira bahwa dia akan memberinya (tetangga) warisan."

102. Syuraih al-Khuza'i (ra-dhiyallaahu 'anhu) (*) berkata bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik pada tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia menghormati tamunya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam."

56. Bab Hak tetangga.

103. Miqdad al-Aswad (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata (*), "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bertanya pada para Shahabatnya (ra-dhiyallaahu 'anhum) mengenai zina. Mereka semua menjawab, 'Haram. Itu diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.' Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Berzinanya seseorang itu dengan sepuluh wanita lebih ringan dosanya baginya daripada dia berzina dengan seorang wanita tetangganya.'

Lalu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bertanya mengenai mencuri. Mereka menjawab, 'Itu haram, diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.' Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Mencurinya seseorang itu sepuluh rumah lebih ringan baginya dosanya daripada dia mencuri dari satu rumah tetangganya.'"

57. Bab Memberi dimulai dari tetangga.

104. 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jibril selalu berwasiat kepadaku terhadap tetangga sampai aku mengira bahwa dia (Jibril) akan menetapkan warisan baginya (bagi tetangga)."

105. 'Abdullah bin 'Amru (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata bahwa suatu kali dia pernah memotong kambing lalu berkata pada pembantunya, "Apakah sudah engkau berikan pada tetangga kita orang yahudi itu? Aku pernah mendengar bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Jibril selalu berwasiat kepadaku terhadap tetangga sampai aku mengira bahwa dia akan menetapkan warisan baginya.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Tuesday, 18 April 2017

Adabul Mufrad 96-100

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Kasih Sayang.

53. Bab Siapa yang tidak menyayangi tidak disayangi.

96. Jarir bin 'Abdillah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Allah tidak merahmati siapa yang tidak menyayangi manusia.'"

97. Jarir bin 'Abdillah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Siapa yang tidak merahmati manusia dia tidak akan dirahmati oleh Allah.'"

98. 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Datang seorang badui menemui Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dan berkata, 'Apakah kalian mencium anak-anak kalian? Demi Allah kami tidak pernah menciumnya.' Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda:

'Apakah aku bisa menahan jika Allah Ta'ala mencabut rahmat dari hatimu?'"

99. Dari Abu 'Utsman bahwa 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhu pernah memperkerjakan seseorang lalu orang itu berkata, "Aku punya sekian anak tidak pernah satupun kucium mereka." 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya Allah Sub-haanahu wa Ta'aala tidak menyayangi hamba-Nya kecuali yang terbaik (18) di antara mereka."

54. Bab Rahmat itu ada seratus bagian.

100. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Allah Ta'ala menciptakan rahmat dalam seratus bagian lalu dipegangnya yang 99, sedang yang satu diturunkan ke bumi. Maka dari satu bagian itulah makhluk saling mencintai sampai seekor kuda mengangkat kakinya dari anaknya karena takut menginjaknya."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(18) Tentunya orang yang terbaik adalah orang yang terbaik perilakunya dan salah satu sifat orang yang terbaik adalah yang memiliki rasa kasih sayang, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam menyayangi anak-anak.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 91-95

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Kasih Sayang.

50. Bab mencium anak-anak kecil

91. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Pernah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mencium Hasan putera 'Ali dimana saat itu ada Aqra bin Habis at-Tamimy duduk. Dia lalu berkata, 'Aku punya sepuluh orang anak tidak pernah satupun dari mereka aku cium.' Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam melihat kepadanya dan bersabda:

'Siapa yang tidak merahmati tidak dirahmati (oleh Allah Ta'ala).'"

51. Bab Adab seorang ayah dalam berbuat baik pada anaknya.

92. Dari (al-Walid) bin Numair bin Aus berkata, "Mereka berkata: Shalah (perbaikan) itu dari Allah dan adab dari para ayah."

Isnadnya dha'if

93. An-Nu'man bin Basyir (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata bahwa Ayahnya pernah menemui Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Lalu ayahnya bertanya, "Wahai Rasulullah, aku memintamu menjadi saksi bahwa aku telah memberi Nu'man ini dan itu." Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) lalu bertanya:

"Apakah semua anakmu engkau beri seperti itu?"

Ayahnya menjawab, "Tidak." Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) bersabda:

"Kalau begitu carilah orang lain sebagai saksi."

Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) lalu melanjutkan sabdanya:

"Bukankah engkau senang jika mereka itu sama dalam berbakti?"

Ayahku menjawab, "Ya." Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) lalu bersabda:

"Kalau begitu jangan."

Imam al-Bukhari berkata, "Bukannya persaksian dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam itu adalah perkecualian bagi ayah Nu'man untuk berbuat tidak adil."

52. Bab Kebaikan ayah pada anaknya.

94. 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Mereka itu disebut oleh Allah Ta'ala dengan Abrar karena mereka baik kepada ayah dan anak, seperti bagi ayahmu kebaikan darinya untukmu adalah hak bagimu dan, begitu juga bagi anakmu maka kebaikan/ bakti darinya untukmu adalah hak bagimu."

Isnadnya dha'if

53. Bab Siapa yang tidak menyayangi tidak disayangi.

95. Abu Sa'id (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Siapa yang tidak menyayangi tidak disayangi."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Monday, 10 April 2017

Adabul Mufrad 87-90

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Kasih Sayang.

47. Anak adalah penyejuk mata.

87. 'Abdurrahman bin Jubair bin Nufair berkata: Aku pernah duduk bersama Miqdad bin Aswad. Lalu ada seorang yang lewat padanya sambil berkata: Alangkah senangnya kedua bola mata ini yang telah melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, demi Allah, kami ingin melihat apa yang engkau lihat dan mengikuti apa yang pernah engkau ikuti. Rupanya orang tersebut menjadikannya marah dan aku mulai kagum melihatnya karena dia tidak berkata kecuali yang baik. Miqdad menghadap kepadanya dan berkata, "Apa yang membuat seseorang itu berangan-angan hadir pada apa yang Allah menjadikannya tidak hadir (padaanya). Dia tidak taahu kalau sekiranya dia hadir bagaimana sikapnya dalam menghadapinya. Demi Allah, telah terjadi pada zaman Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kaum-kaum yang telah dijungkir-balikkan oleh Allah Ta'ala ke dalam Neraka karena mereka tidak menyambut (seruannya) dan membenarkannya. Apakah kalian tidak memuji Allah Ta'ala ketika Dia mengeluarkan kalian dimana kalian tidak mengetahui apa-apa kecuali Rabb kalian, lalu setelah itu kalian membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi kalian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, (Allah) telah mencukupkan bala (cobaan) pada selain kalian. Demi Allah, sungguh telah diutus Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam keadaan yang paling sulit yang tidak pernah seorang Nabi pun dikirim dalaam keadaan seperti itu, dalam keadaan kekosongan dan kebodohan. Mereka tidak tahu bahwa agama lebih utama daripada penyembahan berhala. Kemudian datang (Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) dengan membawa al-Furqan (al-Qur-an) yang akan membedakan antara yang benar dan yang salah, dan dibedakan pula dengannya antara ayah dan anak, sampai seseorang yang melihat ayahnya atau anaknya atau saudaranya yang kafir sedangkan dia telah dibukaa kunci hatinya oleh Allah Sub-haanahu wa Ta'aala dengan iman dan mengetahui bahwa jika dia (ayahnya dan lainnya) mati pasti akan masuk Neraka maka tidak akan dapat senang matanya (dirinya), sedang dia mengetahui bahwa yang dicintainya berada di Neraka dan itu adalah yang difirmankan oleh Allah Ta'ala:

'Dan mereka yang mengucapkan: Wahai Rabbku, berilah kami isteri-isteri dan anak-anak yang menjadi penyejuk mata.' (QS. Al-Furqan: 73)"

48, Seseorang yang mendo'akan temannya agar diperbanyak harta dan anaknya.

88. Anas (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Aku pernah menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada suatu hari. Pada saat itu tidak ada seorangpun kecuali aku, ayahku, ibuku dan Ummu Haram, saudara ibuku. Ketika beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) menemui kami, beliau bersabda:

'Apakah sebaiknya aku shalat bagi kalian?'

Padahal saat itu bukan waktu shalat. Lalu ada salah seorang dari kami bertanya, 'Lalu dimana Anas diletakkan?' Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda:

'Letakkan dia di sebelah kanan.'

Lalu beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) shalat bersama kami. Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) kemudian mendo'akan kami -ahlul bait- agar mendapatkan segala kebaikan di dunia dan akhirat. Ibuku berkata, 'Wahai Rasulullah, do'akanlah bagi pembantumu ini.' Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) kemudian mendo'akanku agar mendapatkan segala kebaikan. Pada akhir do'anya beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda:

اَللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ

Allaahumma ak-tsir maalahu wa waladahu wa baarik lahu.
'Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya dan berilah ia barakah.'"

49. Ibu adalah orang yang mempunyai rasa kasih sayang.

89. Anas bin Malik (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata: "Datang seorang wanita menemui 'Aisyah ra-dhiyallaahu 'anhuma. 'Aisyah lalu memberinya tiga buah kurma. Wanita itu kemudian memberikan setiap kurma itu pada kedua anaknya, dimana dia memegang yang satu kurmanya sendiri. Sesudah kedua anaknya makan itu, mereka melihat pada ibunya. Maka ibunya membagi kurm tersebut menjadi dua bagian dan memberikannya kepada kedua anaknya. Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam datang, 'Aisyah menceritakan hal tersebut kepada beliau. Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda:

'Mengapa engkau heran? Allah Ta'ala telah merahmatinya, karena rahmatnya kepada kedua anaknya.'"

50. Bab mencium anak-anak kecil

90. 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Datang seorang badui menemui Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lalu berkata, 'Apakah kalian mencium anak-anak kalian? Demi Allah kami tidak pernah menciumnya.' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Apakah kamu bisa menahan jika Allah Ta'ala mencabut rahmat dari hatimu?'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 81-86

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Kasih Sayang.

43. Bab: Fadhilah yang akan Kembali pada Orang yang Memberi Nafkah pada Anaknya.

81. Sama dengan hadits nomor 80.

Dha'if.

82. Miqdad bin Ma'di Karib mengatakan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesuatu yang engkau berikan pada dirimu sendiri adalah sedekah bagimu, apa yang engkau berikan pada anakmu adalah sedekah bagimu dan apa yang engkau berikan pada isterimu adalah sedekah (bagimu) serta apa yang engkau berikan pada pelayanmu adalah sedekah bagimu."

44. Orang yang tidak menyukai untuk mengharapkan kematian anak-anak perempuan.

83. 'Utsman bin Harits meriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) bahwa ketika ada seorang bersamanya, orang itu mempunyai anak-anak perempuan lalu dia mengharapkan kematian mereka. Maka marahlah 'Abdullah bin 'Umar dan berkata, "Engkaulah yang menafkahi mereka!"

Isnadnya dha'if.

45. Anak adalah penyebab seseorang itu menjadi bakhil dana penakut.

84. 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Abu Bakar suatu hari pernah berkata, 'Demi Allah, tidak ada di dunia ini seorang pun yang paling kucintai seperti 'Umar.' Beliau keluar kemudian kembali dan berkata, 'Bagaimana sumpahku tadi, wahai anakku?' Lalu kuberitahukanlah padanya apa yang telah diucapkannya. Beliau berkata, 'Apakah dia ('Umar) paling besar dalam pandanganku bagiku padahal anakku paling melekat dalam hatiku (paling kucintai).'"

85. Abu Nu'aim berkata, "Pernah aku melihat 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhu) ketika ditanya mengenai darah kutu. Dia lalu bertanya (pada orang yang bertanya), 'Dari mana kamu?' Orang itu menjawab, 'Dari Iraq.' 'Abdullah bin 'Umar lalu berkata, 'Lihatlah orang ini bertanya kepadaku mengenai darah kutu padahal mereka telah membunuh putera Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (Husain bin 'Ali). Aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Keduanya (Hasan dan Husain) adalah harum-harumanku di dunia.''"

46. Menggendong bayi pada pundak.

86. Al-Barra' (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Aku melihat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan Hasan berada pada pundak beliau sambil bersabda:

'Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya maka cintailah dia.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 76-80

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Kasih Sayang

41. Bab: Seorang yang Mengasuh Satu atau Dua Anak Perempuan.

76. 'Uqbah bin 'Amir (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Siapa yang mempunyai tiga anak perempuan dan dia sabar terhadap mereka serta memberi mereka pakaian dari hartanya, Allah akan menjadikan baginya pelindung dari api Neraka."

77. Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Tidak ada satupun seorang Muslim yang memiliki dua anak perempuan lalu dia memperlakukan keduanya dengan baik kecuali keduanya akan memasukkannya ke dalam Surga."

78. Jabir bin 'Abdillah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Siapa yang mempunyai tiga anak perempuan dimana dia melindungi, mencukupi dan menyayangi mereka pasti dia akan mendapat Surga.'

Lalu ada seorang pria bertanya, 'Bagaimana kalau dua orang wahai Rasulullah?' Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda:

'Dan juga dua orang.'"

42. Bab: Seorang yang Menafkahi Tiga Saudara Perempuan.

79. Abu Sa'id al-Khudri (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Tidak ada seorangpun yang memiliki tiga orang anak perempuan atau tiga orang saudara perempuan dan dia memperlakukan mereka dengan baik kecuali pasti dia akan masuk Surga."

43. Bab: Fadhilah yang akan Kembali pada Orang yang Memberi Nafkah pada Anaknya.

80. Musa bin 'Ali meriwayatkan dari ayahnya bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada Suraqah bin Ju'syum:

"Maukah kalian kuberitahu sedekah yang paling besar atau sebagian dari sedekah yang terbesar?"

"Baik, wahai Rasulullah," jawabnya. Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) lalu bersabda:

"Putrimu yang dikembalikan kepadamu, tidak ada yang memberinya makan selain engkau."

Dha'if.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 72-75

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Hubungan Keluarga.

38. Bab: Ajarkanlah Nasab Kalian yang dapat Menyambung Hubungan Keluarga.

72. Jubair bin Muth'im berkata bahwa dia mendengar 'Umar bin al-Khaththab (ra-dhiyallaahu 'anhu) berbicara di atas mimbar:

'Pelajarilah nasab kalian lalu sambunglah hubungan keluarga kalian. Demi Allah bisa saja terjadi sesuatu di antara seseorang dengan saudaranya, kalau sekiranya orang yang terjadi sesuatu dengan saudaranya itu tahu (keutamaan pahala) orang yang berada dalam hubungan keluarga dia akan mencegah dari merusaknya.

73. Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Hafalkan nasab kalian agar kalian dapat menyambung hubungan keluarga. Karena sesungguhnya kekeluargaan itu tidaklah jauh jika dekat (hubungannya) meskipun secara hubungan darah jauh dan tidaklah dekat hubungan keluarga itu jika jauh (hubungannya) meskipun secara hubungan darah dekat. Dan setiap rahim datang di hari Kiamat nanti bersama pasangannya. Dia bersaksi bahwa pasangannya telah menyambungnya atau memutusnya."

39. Bab: Bolehkah Budak Berkata: Aku dari Fulan.

74. 'Abdurrahman bin Habib berkata, "Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata padaku, 'Dari siapa engkau?' Aku jawab, 'Dari Taimnya bani Tamim.' 'Abdullah bin 'Umar lalu bertanya, 'Dari golongan mereka atau dari golongan budaknya?' Kujawab, 'Dari golongan budaknya.' 'Abdullah bin 'Umar lalu berkata, 'Lalu mengapa tidak kau katakan dari golongan budak mereka?'"

Isnadnya Dha'if.

40. Bab: Budak dari Suatu Kaum adalah Termasuk dalam Keluarga Mereka.

75. Rifa'ah bin Rafi' (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah berkata pada 'Umar bin al-Khaththab (ra-dhiyallaahu 'anhu):

"Kumpulkan kaummu."

'Umar ra-dhiyallaahu 'anhu lalu mengumpulkan mereka. Ketika mereka telah berkumpul di pintu rumah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhu masuk dan berkata, "Sudah kukumpulkan kaumku." Ketika orang-orang Anshar mendengar hal itu mereka berkata, "Telah turun wahyu pada orang Quraisy. Maka berdatanganlah mereka yang ingin mendengar dan melihat apa yang akan diucapkan pada orang Quraisy tersebut. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kemudian berdiri di antara mereka dan bersabda:

"Apakah ada orang lain yang bergabung dengan kalian?"

Mereka menjawab, "Benar, halif kami, keponakan kami dan budak kami." Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lalu bersabda:

"Pendukung kita, keponakan kita dan budak kita adalah termasuk dalam kelompok kita dan kalian mendengar bahwa wali-waliku adalah mereka yang bertakwa jika kalian adalah mereka maka kalian adalah wali-waliku. Jika tidak maka ketahuilah! Jangan sampai pada hari Kiamat nanti orang lain datang dengan perbuatan-perbuatan (baik) mereka, sedangkan kalian datang dengan dosa-dosa kalian. Lalu semua itu ditolak dari kalian."

Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) kemudian mengangkat suaranya sambil bersabda:

"Wahai manusia -sambil mengangkat tangannya pada kepala orang-orang Quraisy- wahai manusia, sesungguhnya orang Quraisy adalah orang-orang yang memegang amanat. Siapa yang berbuat zhalim terhadap mereka -atau berbuat jelek- Allah akan menelungkupkan wajahnya."

Beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) mengucapkannya tiga kali.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Monday, 3 April 2017

Adabul Mufrad 69-71

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Hubungan Keluarga.

35. Bab Keutamaan Orang yang Menyambung Hubungan Keluarga pada Orang yang Zhalim.

69. Al-Barra' (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Datang seorang badui menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku mengenai perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam Surga?' Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Meskipun engkau berbicara singkat tetapi engkau telah memperluas pertanyaan. Bebaskanlah budak (itqun nasamah) dan bebaskanlah budak (fakkur raqabah).'

Orang badui itu berkata, 'Wahai Rasulullah, bukankah keduanya sama?' Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Tidak. Membebaskan budak (itqun nasamah) engkau sendiri yang membebaskan budak sedangkan membebaskan budak (fakkur raqabah) engkau saling membantu di dalam membebaskannya, dan pemberian berupa unta yang sangat banyak manfaatnya serta mengembalikan (memulihkan kembali) hubungan keluarga. Jika engkau tidak mampu melaksanakan itu maka perintahkanlah orang untuk berbuat baik dan cegahlah mereka dari kejelekan. Jika engkau tidak mampu melaksanakan hal itu maka jagalah lidahmu jangan berbicara kecuali untuk kebaikan.'"

36. Bab Orang yang Menyambung Hubungan Kekeluargaan pada Zaman Jahiliyah lalu Masuk Islam

70. Hakim bin Hizam (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata pada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai perbuatan baik yang aku lakukan pada zaman jahiliyah seperti hubungan kekeluargaan, membebaskan budak dan memberi sedekah, apakah aku juga mendapat pahala dari perbuatan itu?" Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Engkau masuk Islam dengan mendapat segala kebaikan yang engkau lakukan pada masa lalu." (17)

37. Bab: Hubungan Kekeluargaan dengan Orang Musyrik dan Pemberian Hadiah padanya.

71. 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Umar bin al-Khaththab (ayahnya) pernah melihat kain yang bercampur dengan sutera. Dia lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, belilah ini dan pakailah pada hari Jum'at dan ketika datangnya utusan-utusan.' Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Sesungguhnya yang memakai ini adalah orang yang tidak mendapat bagian (dari Surga di akhirat nanti).'

Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mendapat sejumlah kain. Satu di antaranya dikirim kepada 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhu, 'Umar berkata, 'Bagaimana aku akan memakainya padahal aku telah mendengar engkau telah berkata mengenai haramnya kain ini?' Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lalu bersabda:

'Aku tidak memberikannya kepada engkau untuk engkau pakai, tapi aku memberikannya kepada engkau agar engkau menjualnya atau memakaikannya pada orang lain.'

'Umar ra-dhiyallaahu 'anhu kemudian mengirimnya kepada saudaranya seibu yang masih musyrik.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(17) Karena dia masuk Islam. Tetapi kalau yang mati dalam keadaan kafir maka pahala kebaikannya akan musnah.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 63-68

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Hubungan Keluarga.

31. Bab Rahmat Tidak Turun pada Kaum yang Padanya Ada yang Memutuskan Hubungan Keluarga.

63. 'Abdullah bin Abi Aufa (ra-dhiyallaahu 'anhu) dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda:

"Sesungguhnya rahmat tidak akan turun pada kaum yang padanya ada orang yang memutus hubungan keluarga."

Dha'if.

32. Bab Dosa Orang yang Memutus Hubungan Keluarga.

64. Jubair bin Muthim (ra-dhiyallaahu 'anhu) mendengar bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidak masuk Surga orang yang memutus hubungan keluarga."

65. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Rahim adalah cabang dari Rahman dan dia berkata, 'Ya Rabbku, aku dizhalimi, ya Rabbku, aku diputus, ya Rabbku, aku... aku...' Allah Ta'ala lalu berfirman, 'Apakah engkau mau kalau Aku putus siapa yang memutusmu dan aku sambung siapa yang menyambungmu?'"

66. Sa'id bin Sam'an berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah berlindung dari berkuasanya anak-anak kecil dan orang-orang bodoh." Sa'id bin Sam'an berkata, "Abdullah bin Hasanah al-Juhani lalu memberitahuku, bahwa dia berkata pada Abu Hurairah, 'Apa tandanya itu?' Dia menjawab, 'Hubungan keluarga diputuskan dan orang yang mengajak pada kesesatan dituruti serta yang mengajak pada kebenaran dilawan.'"

Dha'if.

33. Bab Akibat Bagi Orang yang Memutuskan Hubungan Keluarga di Dunia.

67. Abu Bakrah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk dibalas oleh Allah pada pelakunya dengan segera di dunia ini -berikut adzab baginya yang disimpan untuknya di akhirat nanti- dari perbuatan memutus hubungan keluarga dan melampaui batas."

34. Bab Bukanlah yang Dimaksud Menyambung Adalah dengan Membalasnya dengan yang Semisal

68. 'Abdullah bin Amru (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Bukannya yang dimaksud dengan orang yang menyambung (hubungan keluarga) itu membalas (kepada orang lain) sama dengan yang mereka perbuat padanya tetapi orang yang menyambung adalah orang yang jika orang lain memutuskan hubungan keluarga dengannya dia berusaha untuk tetap menyambungnya."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 57-62

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Hubungan Keluarga.

28. Bab Hubungan Keluarga Menambah Panjang Umur.

57. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung hubungan keluarga.'"

29. Bab Siapa yang Menyambung Hubungan Kekeluargaan akan Dicintai Allah.

58. 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Siapa yang bertakwa pada Rabbnya dan menyambung hubungan keluarga akan dipanjangkan umurnya dan akan diperbanyak hartanya serta dijadikan keluarganya mencintainya."

59. 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Siapa yang bertakwa pada Rabbnya dan menyambung hubungan keluarga akan dipanjangkan umurnya dan akan diperbanyak hartanya serta dijadikan keluarganya mencintainya."

30. Bab Berbakti kepada yang Paling Dekat lalu yang Selanjutnya.

60. Al-Miqdam bin Ma'dy Karib berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah Ta'ala berwasiat pada kalian untuk berbuat baik terhadap ibu-ibu kalian lalu berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik terhadap ibu-ibu kalian, lalu berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik terhadap ayah-ayah kalian lalu berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik pula terhadap yang selanjutnya dan yang selanjutnya."

61. Abu Ayyub Sulaiman, budak 'Utsman bin 'Affan (ra-dhiyallaahu 'anhu), berkata bahwa pernah Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) datang menemuinya pada kamis malam, malam jum'at, lalu berkata, "Aku akan menghukum siapa yang memutus hubungan keluarga ketika dia menemui kami." Maka tidak ada seorangpun berdiri. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) mengucapkan hal itu tiga kali. Lalu ada seorang pemuda menemui neneknya. Neneknya bertanya, "Wahai anak saudaraku, apa yang kau bawa?" Pemuda itu berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah berkata begini, begini." Neneknya berkata, "Kamu kembali padanya dan tanyakan mengapa dia berkata begitu." Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) lalu berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Sesungguhnya perbuatan manusia ditunjukkan pada Allah Ta'ala pada setiap malam hari kamis, malam jum'at. Maka Allah Ta'ala tidak menerima 'amalan orang yang memutuskan hubungan keluarga.'"

Isnadnya dha'if.

62. 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata, "Tidak ada seorangpun yang berinfaq untuk dirinya dan keluarganya, dimana dia mengharapkan pahala kecuali Allah Ta'ala membalasnya dan mulailah pada siapa yang kalian pelihara, selebihnya maka untuk yang lebih jauh lalu yang lebih jauh."

Isnadnya dha'if.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 52-56

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Hubungan Keluarga.

27. Bab Fadhilah Hubungan Keluarga.

52. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Datang seorang pria menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, aku punya keluarga yang jika aku berusaha menyambung hubungan keluarga dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika aku berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal aku bermurah hati pada mereka.' Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Kalau memang sedemikian halnya seperti yang engkau katakan (maka) seolah-olah engkau memberi mereka makan bara api dan pertolongan Allah senantiasa padamu selama engkau seperti itu.'"

53. 'Abdurrahman bin 'Auf (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Allah Ta'ala berfirman, 'Aku adalah ar-Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku ambil untuknya dari Nama-Ku, siapa yang menyambungnya akan Aku sambung dia (15) dan siapa yang memutuskannya akan Aku putus dia (16)."

54. Abul 'Abbas berkata, "Aku pernah menemui 'Abdullah bin Amru (ra-dhiyallaahu 'anhu) di Wahth, tanah miliknya di Thaif. Dia berkata, 'Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyambung jari-jarinya sambil bersabda:

Rahim adalah berasal dari Rahman, siapa yang menyambungnya dia akan disambung oleh-Nya dan siapa yang memutusnya dia akan diputus oleh-Nya. Dia (rahim) mempunyai lidah yang fasih di hari Kiamat.'"

55. 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Rahim adalah cabang dari Allah Ta'ala, siapa yang menyambungnya dia akan disambung oleh Allah Ta'ala dan siapa yang memutusnya dia akan diputus oleh Allah Ta'ala."

28. Bab Hubungan Keluarga Menambah Panjang Umur

56. Anas bin Malik (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung hubungan keluarga."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(15) Aku sambung kasih sayang-Ku padanya.

(16) Aku putus kasih sayang-Ku padanya.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Wednesday, 29 March 2017

Adabul Mufrad 48-51

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua.

Bab 25. Wajibnya Menyambung Hubungan Keluarga.

48. Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Ketika turun ayat 217 dari surat asy-Syu'ara:

'Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.'

Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lalu bangkit dan menyeru:

'Wahai bani Ka'ab bin Luay, selamatkan diri kalian dari api Neraka. Wahai bani 'Abdi Manaf, selamatkan diri kalian dari api Neraka. Wahai bani Hasyim, selamatkan diri kalian dari api Neraka. Wahai bani 'Abdil Muthalib, selamatkan diri kalian dari api Neraka. Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkan dirimu dari api Neraka karena sesungguhnya aku tidak dapat melindungimu dari Allah sedikitpun. Hanya saja bagian kalian ada hubungan keluarga yang akan aku sambung.'"

Bab 26. Hubungan Keluarga.

49. Abu Ayyub al-Anshary berkata, "Ada seorang Arab badui yang menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau berada di tengah perjalanan. Orang badui itu berkata, 'Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang akan mendekatkan diriku kepada Allah dan menjauhkan diriku dari api Neraka?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

'Engkau menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dirikanlah shalat serta menunaikan zakat dan menyambung hubungan keluarga.'"

50. Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

'Ketika Allah menciptakan makhluk dan telah selesai muncul Rahim. Allah Ta'ala berfirman, 'Mah.' Rahim lalu berkata, 'Ini adalah tempat siapa yang berlindung kepada-Mu dari terputusnya. Allah Ta'ala lalu berfirman, 'Apakah engkau mau kalau Aku sambung siapa yang menyambungmu dan akan Aku putus siapa yang memutusmu?' Rahim menjawab, 'Benar, ya Allah.' Allah Ta'ala lalu berfirman, 'Maka itu (adalah ditetapkan) bagimu.'"

Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Bacalah firman Allah:

'Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubunga keluarga?' (QS. Muhammad: 22)."

51. Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) mengucapkan ayat [yang artinya]:

Dan berikanlah pada sanak famili haknya, juga orang miskin dan ibnus sabil (orang dalam perjalanan).

Dia lalu berkata, "Allah memulai dengan memerintahkannya dengan mewajibkan pemenuhan hak-hak dan menunjukkan padanya bahwa perbuatan yang terbaik adalah apabila dia mempunyai sesuatu dengan firman-Nya [yang artinya]:

Dan berikanlah pada sanak famili haknya, juga orang miskin dan ibnus sabil (orang dalam perjalanan).

Dan memberitahu kepadanya jika dia tidak punya sesuatu bagaimana mengucapkannya. Dia berfirman [yang artinya]:

Dan jika kamu berpaling dari mereka karena rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan maka ucapkanlah ucapan yang lembut.

Seolah-olah sudah terjadi dan mungkin akan terjadi, insya Allah. Firman-Nya [yang artinya]:

Dan jangan engkau jadikan tanganmu terikat pada lehermu.

Jangan engkau memberikan sesuatu:

Dan jangan engkau terlalu melebarkan tanganmu.

dalam memberikan apa yang kau miliki:

Maka engkau akan tercela.

Orang-orang yang datang kepadamu akan menghinamu setelah mereka tidak menemukan apapun padamu:

Merugi.

Orang yang datang kepadamu menjadikanmu merugi.

* Isnadnya dha'if.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 42-47

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua.

Bab 21: Jangan memutus siapa yang pernah berhubungan dengan ayahmu, kalau tidak cahaya (iman)mu akan menjadi gelap.

42. Sa'ad bin Ubadah az-Zuraqy dari ayahnya mengatakan, "Aku pernah duduk di masjid Madinah bersama Amru bin 'Utsman. Lalu datanglah 'Abdullah bin Salam dan duduk bersandar pada keponakannya. Dia kemudian meninggalkan majelis dan kemudian kembali. Dia berkata, 'Apa yang kau inginkan wahai Amru bin 'Utsman (dua atau tiga kali)? Demi yang mengutus Muhammad dengan dasar kebenaran, sesungguhnya itu ada di Kitabullah (dua kali). Janganlah engkau memutus siapa yang pernah menyambung hubungan keluarga dengan ayahmu, kalau tidak cahayamu akan dimatikan.'"

* Isnadnya Dha'if.

Bab 22: Hubungan baik itu diwariskan.

43. Dari salah seorang Shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dia berkata, "Kucukupkan engkau, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Sesungguhnya hubungan baik itu diwariskan.'"

* Dha'if.

Bab 23: Janganlah seseorang memanggil/ menyebut ayahnya dengan namanya dan janganlah duduk, sebelum dia serta janganlah berjalan di depannya

44. Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu pernah melihat dua orang. Lalu dia berkata pada salah satu di antaranya, "Apa hubungannya dia denganmu?" Orang itu menjawab, "Ayahku." Abu Hurairah lalu berkata, "Jangan engkau panggil dia dengan namanya dan jangan berjalan di depannya serta jangan duduk sebelumnya."

Bab 24. Bolehkah menyebut ayah dengan gelarnya?

45. Syahr bin Husyab berkata, "Kami keluar bersama 'Abdullah bin 'Umar, lalu Salim berkata padanya, 'Shalat! Wahai Abu 'Abdurrahman.'"

* Isnadnya Dha'if.

46. 'Abdullah bin 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma pernah berkata, "Tetapi Abu Hafsh 'Umar (bin al-Khaththab, ayah 'Abdullah bin 'Umar) memutuskan."

Bab 25. Wajibnya Menyambung Hubungan Keluarga.

47. Kulaib bin Manfa'ah berkata, "Kakekku berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapa aku paling berbakti?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

'Ibumu, ayahmu, saudara perempuanmu dan saudara laki-lakimu, budakmu, itu adalah hak yang wajib dipenuhi dan hubungan keluarga yang tersambung.'"

* Dha'if.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 35-41

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua.

Bab 19: Bakti kepada kedua orang tua sesudah kematiannya.

35. Usaid bin 'Ali bin Ubaid berkata bahwa ayahnya pernah mendengar Abu Usaid berkata kepada orang-orang, "Pernah kami bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, lalu ada seseorang yang bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah aku dapat berbakti kepada kedua orang tuaku sepeninggal keduanya?' Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Benar, ada empat: Do'a bagi keduanya, permintaan ampun bagi keduanya, memenuhi janji keduanya dan menghormati teman keduanya, serta menyambung hubungan keluarga yang tidak kalian dapatkan kecuali dari keduanya.'"

* Dha'if.

36. Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Ada seorang yang meninggal yang terangkat derajatnya. Orang itu bertanya: 'Wahai Rabb, apa ini?' Maka dijawab: 'Anakmu mendo'akanmu.'"

37. Muhammad 'Abdullah bin Sirrin berkata, "Ketika kami berada di rumah Abu Hurairah pada suatu malam, dia berkata, 'Ya Allah ampunilah Abu Hurairah dan ibuku dan bagi siapa yang memohon ampun bagi keduanya.'" 'Abdullah bin Sirrin berkata, "Maka kami memohon ampun bagi keduanya sampai kami masuk ke dalam do'a Abu Hurairah."

38. Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Jika mati seorang hamba akan terputuslah darinya 'amalannya kecuali dari tiga hal: Sedekah jariyah, 'ilmu yang bermanfaat atau anak yang yang shalih yang mendo'akannya.'"

39. Ibnu 'Abbas ra-dhiyallaahu 'anhuma berkata, "Ada seorang yang bertanya (pada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam), 'Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dan belum memberi wasiat, apakah ada manfaat baginya jika aku bersedekah dari hartanya?' Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ya.'"

Bab 20: Bakti kepada orang yang pernah berhubungan dengan ayahnya.

40. 'Abdullah bin 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma berkata, "Ada seorang badui yang berada di tengah perjalanan, dimana ayah badui itu adalah teman 'Umar bin al-Khaththab. Orang badui itu berkata, 'Bukankah engkau putera fulan?' 'Abdullah bin 'Umar menjawab, 'Benar.' 'Abdullah bin 'Umar lalu memberikan padanya unta yang dinaikinya dan melepas sorban yang dipakainya dari kepalanya dan diberikan kepada orang tersebut. Orang-orang di situ berkata, 'Bukankah sudah cukup kalau engkau berikaan dua dirham saja?' 'Abdullah bin 'Umar menjawab, 'Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Jagalah orang yang pernah berhubungan hubungan keluarga dengan ayahmu dan jangan engkau memotongnya itu menyebabkan Allah akan mematikan cahayamu.'"

* Dha'if.

41. 'Abdullah bin 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Sesungguhnya sebaik-baik bakti adalah seorang pria yang menyambung hubungan dengan shahabat ayahnya.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 31-34

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua.

Bab 16: Menangisnya kedua orang tua

31. Thaisalah mendengar 'Abdullah bin 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma berkata, "Menangisnya kedua orang tua adalah termasuk kedurhakaan dan dosa besar."

Bab 17: Do'a kedua orang tua

32. Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Tiga macam do'a yang terkabul, tidak diragukan lagi, yaitu: Do'a orang yang dizhalimi, do'a orang yang bepergian dan do'a kedua orang tua pada anaknya.'"

33. Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Tidak ada bayi yang berbicara dalam buaian kecuali 'Isa putera Maryam dan Juraij.' Lalu ada yang bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapa Juraij?' Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda:

'Juraij adalah seorang rahib yang bertempat tinggal pada rumah peribadatannya. Lalu ada seorang penggembala yang menggiring sapinya di bagian bawah tempat peribadatannya. Dan ada seorang wanita dari suatu desa menemui penggembala itu. Lalu datanglah ibu Juraij pada suatu hari dan memanggilnya, 'Wahai Juraij.' Juraij ketika itu sedang shalat. Dia lalu bertanya dalam hatinya, 'Ibuku atau shalatku?' Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil yang kedua kalinya. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, 'Ibuku atau shalatku?' Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggil yang ketiga kalinya, Juraij bertanya lagi dalam hatinya, 'Ibuku atau shalatku?' Rupanya dia masih tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan itu ibunya berkata, 'Allah tidak akan mematikanmu wahai Juraij, sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur!' Lalu pergilah ibunya. Wanita tadi (yang menemui penggembala) kemudian dibawa menghadap raja dalam keadaan sudah melahirkan. Bertanya raja itu kepada wanita tersebut, 'Dari hubungan dengan siapa anak ini?' 'Dari Juraij,' jawab wanita itu. Raja bertanya lagi, 'Apakah dia yang tinggal di tempat peribadatan itu?' 'Benar,' jawab wanita itu. Raja berkata, 'Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari.' Maka orang-orang menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak sampai rata dan mengikatkan tangannya pada lehernya dengan tali dan membawanya menghadap raja. Di tengah perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur. Ketika melihatnya Juraij tersenyum dimana mereka melihat Juraij berada di antara manusia. Raja lalu bertanya padanya, 'Siapa ini menurutmu?' Juraij balik bertanya, 'Siapa yang engkau maksud?' Raja berkata, 'Dia (wanita tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.' Juraij bertanya, 'Apakah engkau telah berkata begitu?' 'Benar,' jawab wanita itu. Juraij lalu bertanya, 'Dimana bayi itu?' Orang-orang menjawab, '(Itu) di pangkuan (ibu)nya.' Juraij menemuinya dan bertanya pada bayi itu, 'Siapa ayahmu?' Bayi itu menjawab, 'Penggembala sapi.' Orang-orang lalu berkata, 'Apakah akan kami bangunkan rumah ibadahmu dari emas?' Juraij menjawab, 'Jangan.' 'Atau dari perak?', kata orang-orang lagi. 'Jangan,' jawab Juraij. 'Lalu dari apa kami akan bangun rumah ibadahmu?', tanya orang-orang. Juraij menjawab, 'Bangunlah seperti semula.' Raja lalu bertanya, 'Lalu untuk apa engkau tersenyum?'. 'Untuk sesuatu yang sudah aku ketahui,' jawab Juraij. 'Telah sampai kepadaku do'a ibuku,' lanjutnya. Juraij kemudian menceritakan peristiwa yang dialaminya.

Bab 18: Menawarkan Islam pada ibu yang beragama nashrani.

34. Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Tidak ada seorang pun dari golongan yahudi dan nashara kecuali pasti dia mencintaiku. (Akan halnya) ibuku kuharapkan dia masuk Islam tetapi dia menolak. Lalu aku katakan padanya (sekali lagi) dia tetap menolak. Maka kutemui Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan kukatakan pada beliau, 'Do'akanlah ibuku.' Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam lalu mendo'akannya. Sesudah itu kutemui ibuku dan kudapati pintunya sedang tertutup. Ibuku berkata, 'Wahai Abu Hurairah, aku telah masuk Islam.' Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kuberitahu dan kukatakan, 'Do'akanlah aku dan ibuku.' Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam kemudian berdo'a:

اَللَّهُمَّ عَبْدُكَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ وَأُمُّهُ أَحِبَّهُمَا إِلَى النَّاسِ

Allaahumma 'abduka abuu hurairata wa ummuhu ahibbahumaa ilan naas
"Ya Allah hambamu Abu Hurairah dan ibunya jadikanlah manusia mencintai keduanya."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Thursday, 23 March 2017

Adabul Mufrad 27-30

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua.

Bab 14: Tidak boleh menghina kedua orang tua.

27. 'Abdullah bin 'Amru radhiyallaahu 'anhu berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Salah satu dosa-dosa besar adalah seorang yang menghina kedua orang tuanya."

Para shahabat radhiyallaahu 'anhum lalu bertanya, "Bagaimana dia sampai menghinanya?" Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Dia menghina seorang pria lalu pria itu menghina kedua orang tuanya."

28. 'Abdullah bin 'Amru radhiyallaahu 'anhu sendiri berkata, "Salah satu dari dosa-dosa besar adalah seorang pria yang menyebabkan orang lain menghina orang tuanya (karena dia menghina orang tua dari orang itu."

Bab 15: Akibat durhaka kepada kedua orang tua.

29. Abu Bakrah ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya pada siapa yang melakukannya di dunia ini -ditambah dengan dosa yang disimpan untuknya di akhirat- dari perbuatan yang melampaui batas dan memutus hubungan keluarga."

30. Imran bin Hushain ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Apa pendapat kalian mengenai perbuatan zina, minum khamr dan mencuri?'

Para Shahabat ra-dhiyallaahu 'anhum menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.' Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Itu adalah kekejian dan bagi pelakunya ada balasan. Maukah kalian kuberitahukan mengenai dosa-dosa yang paling besar? Mempersekutukan Allah 'Azza wa Jalla dan durhaka kepada orang tua.'

Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam saat itu duduk bertelekan lalu bersabda:

'Dan ucapan palsu.'"

* Isnadnya Dha'if.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

Adabul Mufrad 24-26

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua.

Bab 13: Bakti kepada kedua orang tua yang musyrik.

24. Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu 'anhu berkata, "Ada empat ayat dari al-Qur-an yang turun padaku. Pertama, ibuku bersumpah untuk tidak makan dan minum sampai aku memisahkan diri dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Allah Ta'ala lalu menurunkan ayat 15 surat Luqman:

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik."

Kedua, aku pernah mengambil pedang yang aku sukai, lalu aku berkata kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, 'Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku pedang ini'. Maka turunlah ayat 1 surat al-Anfal:

"Mereka menanyakan kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang."

Ketiga, aku pernah sakit, lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengunjungiku. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, aku ingin membagi hartaku, apakah aku boleh berwasiat untuk memberikan separuhnya?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Tidak'. Aku bertanya lagi, 'Sepertiganya?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam diam lalu sepertiga dibolehkan setelah itu.

Keempat, aku pernah minum minuman keras bersama salah satu kaum dari Anshar. Tiba-tiba salah seorang dari mereka memukulkan janggut unta pada hidungku. Aku segera menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Setelah itu Allah Ta'ala menurunkan ayat mengenai haramnya minuman keras (khamr)."

25. Asma binti Abi Bakr radhiyallaahu 'anhuma berkata, "Datang ibuku dalam keadaan rindu kepadaku di zaman Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (di Madinah). Lalu aku bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, "Apakah boleh aku menjumpainya?" Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Boleh."

'Abdullah bin Uyainah berkata, "Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat 8 surat Mumtahanah:

"Allah tiada melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama."

26. 'Abdullah bin 'Umar radhiyallaahu 'anhuma berkata, "Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu (ayahnya) pernah melihat kain yang bercampur dengan sutera. Dia lalu berkata, "Wahai Rasulullah, belilah ini dan pakailah pada hari Jum'at dan ketika datang utusan-utusan." Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya yang memakai ini adalah orang yang tidak mendapat bagian dari Surga di akhirat nanti."

Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mendapat sejumlah kain. Satu di antaranya dikirim kepada 'Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu, lalu dia berkata, "Bagaimana aku akan memakainya padahal engkau telah berkata mengenai haramnya kain ini?" Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Aku tidak memberikannya kepadamu untuk engkau pakai, tapi engkau (dapat) menjualnya atau memakaikannya (pada orang lain)."

Umar radhiyallaahu 'anhu kemudian mengirimkannya kepada saudaranya di Makkah yang masih kafir."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.