Showing posts with label mishbahul munir fi tahdzib tafsir ibnu katsir. Show all posts
Showing posts with label mishbahul munir fi tahdzib tafsir ibnu katsir. Show all posts

Monday, 1 May 2017

Al-Baqarah, Ayat 55-56 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 55-56.

Dan (ingatlah) ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang," karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. (QS. 2: 55) Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. (QS. 2:56)

Orang-orang Pilihan dari Mereka Meminta agar Dapat Melihat Allah dan Peristiwa-peristiwa Matinya Mereka kemudian Dihidupkan-Nya kembali

Allah Ta'ala berfirman: "Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepada kalian, yaitu ketika Aku membangkitkan kalian setelah datangnya petir. Dimana kalian meminta untuk dapat melihat-Ku secara nyata dan kasat mata, suatu permintaan yang tidak akan sanggup kalian tanggung, dan tidak pula oleh makhluk sejenis kalian."

Tentang firman-Nya: "Dan ingatlah ketika kamu berkata, 'Hai Musa, kamu tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang," Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), "Artinya, melihat-Nya secara jelas (kasat mata)."(206) Yaitu hingga kami dapat melihat Allah. (207)

Dan tentang firman Allah: "Sedang kamu menyaksikan," 'Urwah bin Ruwaim mengatakan: "Sebagian dari mereka ada yang disambar petir, dan sebagian lainnya menyaksikan peristiwa tersebut." (208) Kemudian sebagian dari mereka dibangkitkan dan sebagian lainnya disambar petir (bergantian).

Tentang firman Allah: "Karena itu kamu disambar petir," as-Suddi mengatakan: "Maka mereka pun mati, lalu Musa 'alaihis salaam bangkit dan menangis seraya memanjatkan do'a, 'Wahai Rabbku, apa yang harus aku katakan kepada Bani Israil jika aku kembali kepada mereka, sedang Engkau telah membinasakan orang-orang terbaik di antara mereka?

'Jika Engkau menghendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?' (QS. Al-A'raaf: 155)

Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa ('alaihis salaam) bahwa 70 orang yang ada bersamanya itu telah menyembah anak lembu. Lalu Allah menghidupkan mereka sehingga mereka bangun dan hidup seorang demi seorang dan satu sama lain saling menyaksikan bagaimana mereka hidup kembali. Selanjutnya as-Suddi mengatakan, "Itulah makna firman Allah Ta'ala: 'Setelah itu Kami bangkitkan kamu setelah kamu mati, agar kamu bersyukur.'" (209)

Ar-Rabi' bin Anas mengatakan: "Kematian mereka itu merupakan hukuman bagi mereka, lalu mereka dibangkitkan kembali hingga datang ajal mereka." (210) Hal semakna juga disampaikan oleh Qatadah. (211)

'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan dalam tafsirnya tentang ayat ini: "Musa ('alaihis salaam) berkata kepada mereka ketika beliau kembali dari sisi Rabbnya dengan membawa al-alwaah (batu bertulis). Beliau telah menulis Taurat padanya. Ternyata Nabi Musa ('alaihis salaam) mendapati mereka telah menyembah anak sapi. Maka beliau pun memerintahkan mereka untuk membunuh diri mereka sendiri. Mereka pun melaksanakan perintahnya, maka Allah menerima taubat mereka.

Nabi Musa ('alaihis salaam) berkata: "Pada al-alwaah ini tertulis Kitabullah, di dalamnya terdapat perintah yang kalian telah diperintahkan kepadanya, dan larangan yang kalian telah dilarang darinya." Mereka berkata: "Siapa yang mau mengikuti ucapanmu! Demi Allah, sekali-kali tidak ada yang mau hingga kami melihat Allah secara langsung, hingga Allah menampakkan diri-Nya kepada kami. Dan Allah berfirman langsung kepadamu: 'Inilah Kitab-Ku, ambillah ia.' Mengapa Dia tidak mau berbicara dengan kami sebagaimana Dia berbicara denganmu hai Musa?!"

Ia membacakan firman Allah: "Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang," ia berkata: "Telah datang kemarahan dari Allah. Maka datanglah halilintar kepada mereka setelah mereka bertaubat. Halilintar itu menyambar mereka sehingga mereka semua mati. Kemudian Allah Sub-haanahu wa Ta'aala menghidupkan mereka sesudah kematian tersebut. Lalu ia membacakan firman Allah: "Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati supaya kamu bersyukur."

Musa ('alaihis salaam) berkata kepada mereka: "Ambillah Kitabullah." Mereka menjawab: "Tidak!" Musa berkata: "Apa yang menimpa kalian?" Mereka menjawab: "Kami dimatikan kemudian dihidupkan kembali." Nabi Musa kembali berkata: "Ambillah Kitabullah!" Mereka menjawab: "Tidak!" Maka Allah mengutus Malaikat lalu mengangkat gunung ke atas mereka. (212)

Hal ini menunjukkan bahwa mereka diberi beban kewajiban (beban syari'at) setelah mereka dihidupkan. Al-Mawardi mengutarakan dua pendapat dalam masalah ini:

Pertama: Telah gugur atas mereka taklif (kewajiban) setelah mereka menyaksikan kebenaran secara nyata sehingga mereka tidak perlu lagi membenarkannya.

Kedua: Mereka tetap diberi beban kewajiban agar tidak ada seorang berakal pun yang lepas dari kewajiban.

Al-Qurthubi berkata: "Inilah yang benar. Karena menyaksikan perkara yang luar biasa tidaklah menghalangi dibebankannya kewajiban atas mereka. Sebab, Bani Israil telah menyaksikan berbagai peristiwa menakjubkan di luar kebiasaan sementara mereka tetap dibebani kewajiban." Pendapat inilah yang lebih jelas, wallaahu a'lam.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(206) Tafsiir ath-Thabari (2/81).

(207) Ibnu Abi Hatim (1/170).

(208) Ibnu Abi Hatim (1/172).

(209) Ibnu Abi Hatim (1/173).

(210) Ibnu Abi Hatim (1/173).

(211) Ibnu Abi Hatim (1/173).

(212) Tafsiir ath-Thabari (2/88).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Al-Baqarah, Ayat 51-54 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 51-53.

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sebagai sesembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zhalim. (QS. 2: 51) Kemudian setelah itu Kami maafkan kesalahanmu agar kamu bersyukur. (QS. 2: 52) Dan (ingatlah) ketika Kami berikan kepada Musa al-Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. 2: 53)

Bani Israil Mengambil Anak Sapi Sebagai Sesembahan

Allah Ta'ala berfirman: "Ingatlah akan berbagai nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, yaitu berupa ampunan yang Aku berikan kepada kalian atas tindakan kalian menyembah anak sapi setelah kepergian Musa ('alaihis salaam) untuk waktu yang ditentukan Rabb-nya, yakni setelah berakhir masa perjanjian selama 40 hari."

Itulah perjanjian yang disebutkan dalam surat al-A'raaf dalam firman-Nya: "Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa tiga puluh hari dan Kami menambahnya dengan sepuluh hari." (QS. Al-A'raaf: 142)

Ada yang mengatakan, yaitu bulan Dzulqa'dah penuh ditambah dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Hal itu terjadi setelah mereka bebas dari kejaran fir'aun dan selamat dari tenggelam ke dasar laut.

Firman Allah: "Dan ingatlah ketika Kami memberikan al-Kitab kepada Musa," yakni kitab Taurat. Dan, "وَالْفُرْقَانَ" (wal furqaan), yaitu Kitab yang membedakan antara yang haq dengan yang bathil, dan (membedakan pula antara) petunjuk dan kesesatan. "لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ" (la'allakum tahtaduun) "Agar kamu mendapat petunjuk." Peristiwa tersebut juga terjadi setelah mereka berhasil keluar dari laut, sebagaimana yang ditunjukkan oleh nash ayat yang tercantum dalam surat al-A'raaf, juga firman-Nya: "Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa sesudah Kami binasakan generasi-generasi terdahulu untuk menjadi pelita bagi manusia, petunjuk dan rahmat agar mereka ingat." (QS. Al-Qashash: 43)

Al-Baqarah, Ayat 54

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sebagai sesembahanmu), maka bertaubatlah kepada Rabb yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu lebih baik bagimu di sisi Rabb yang telah menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dia-lah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2: 54)

Taubat Bani Israil dengan Membunuh Diri Mereka Sendiri

Ini adalah sifat taubat yang Allah terima atas Bani Israil karena mereka telah menyembah anak sapi. Al-Hasan al-Bashri rahimahullaah berkata tentang firman Allah Ta'ala: "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sebagai sesembahanmu)," ia mengatakan: "Yaitu ketika merasuk ke dalam hati mereka keinginan menyembah anak sapi, hingga Allah berfirman: 'Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka sesat, mereka pun berkata: 'Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami.'' (QS. Al-A'raaf: 149)"

Ia melanjutkan: "Yaitu ketika Musa ('alaihis salaam) berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sebagai sesembahanmu).'" (202)

Abul 'Aliyah, Sa'id bin Jubair dan ar-Rabi' bin Anas mengatakan tentang firman Allah: (fatuubuu ilaa baari-ikum), "Kata (baari-ikum) artinya Rabb yang telah menciptakan kamu." (203)

Aku (Ibnu Katsir) katakan: "Firman Allah (ilaa baari-ikum) 'Yang telah menjadikan kamu' merupakan peringatan atas besarnya dosa mereka. Yakni bertaubatlah kepada Rabb yang telah menciptakan kalian karena kalian telah menyembah sesuatu selain-Nya."

An-Nasa-i, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: "Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: 'Sesungguhnya taubat mereka adalah tiap-tiap orang membunuh anak atau orang tua mereka yang mereka temui. Dia harus membunuhnya dengan pedang tanpa harus peduli siapakah yang terbunuh di tempat itu.' Maka bertaubatlah orang-orang yang tersamar atas Musa dan Harun yang mana Allah telah memperlihatkan dosa mereka. Mereka pun mengakuinya dan melakukan apa yang telah diperintahkan tersebut. Maka Allah memberikan ampunan bagi siapa yang membunuh dan terbunuh." (204)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: "Musa 'alaihis salaam berkata kepada kaumnya: 'Maka bertaubatlah kepada Rabb yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu lebih baik bagimu di sisi Rabb yang telah menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dia-lah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.'"

Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata: "Musa 'alaihis salaam memerintahkan kaumnya dengan perintah Rabb-nya 'Azza wa Jalla agar mereka membunuh diri mereka sendiri. Ia menyampaikannya kepada orang-orang yang telah menyembah anak sapi. Mereka pun duduk. Kemudian orang-orang yang tidak menyembah anak sapi pun menyingkir. Lalu orang-orang yang menyembah anak sapi mengambil pisau dengan tangan-tangan mereka kemudian suasan gelap menyelimuti mereka. Lalu mereka saling membunuh satu sama lainnya. Kemudian tersingkaplah kegelapan dari mereka dan mereka mendapati tujuh puluh orang yang wafat. Siapa saja dari mereka yang terbunuh maka taubatnya diterima, dan siapa saja yang mereka yang tidak terbunuh maka taubatnya juga diterima." (205)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(202) Ibnu Abi Hatim (1/167).

(203) Ibnu Abi Hatim (1/167).

(204) An-Nasa-i dalam al-Kubra (6/404 dan 405), Tafsiir ath-Thabari (18/306) dan Ibnu Abi Hatim (1/168).

(205) Tafsiir ath-Thabari (2/73).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Monday, 24 April 2017

Al-Baqarah, Ayat 49-50 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 49-50.

Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabbmu. (QS. 2: 49) Dan (ingatlah) ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. (QS. 2: 50)

Selamatnya Bani Israil dari fir'aun dan Tenggelamnya fir'aun Beserta Pasukannya

Allah Ta'ala berfirman: "Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat yang telah Aku berikan kepada kalian, (yaitu) 'Ketika Kami selamatkan kalian dari fir'aun dan para pengikutnya; mereka menimpakan kepada kalian siksaan yang seberat-beratnya.' Aku menyelamatkan kalian dari mereka dan membebaskan kalian dari tangan mereka, dengan ditemani Musa 'alaihis salaam, padahal dahulu fir'aun dan para pengikutnya menimpakan adzab yang sangat berat kepada kalian."

Hal itu mereka lakukan karena fir'aun yang dilaknat oleh Allah itu pernah bermimpi yang mimpi itu membuatnya sangat risau. Ia melihat api yang keluar dari Baitul Maqdis. Lalu api itu memasuki rumah-rumah orang Qibti di Mesir, kecuali rumah Bani Israil. Makna mimpi tersebut bahwa kerajaannya akan lenyap binasa melalui tangan seseorang yang berasal dari kalangan Bani Israil. Kemudian disusul laporan dari orang-orang dekatnya pada saat membicarakan hal itu, bahwa Bani Israil sedang menunggu lahirnya seorang bayi di tengah mereka yang melalui dirinyalah mereka akan meraih kekuasaan dan kedudukan tinggi. Sejak saat itulah fir'aun memerintahkan untuk membunuh seluruh bayi laki-laki Bani Israil yang dilahirkan setelah mimpi itu dan membiarkan hidup bayi-bayi perempuan. Selain itu fir'aun pun memerintahkan agar mempekerjakan Bani Israil dengan pekerjaan yang berat dan hina.

Dalam ayat ini, kata "al-adzaabu" ditafsirkan dengan penyembelihan anak laki-laki. Sedangkan dalam surat Ibrahim disebutkan dengan kata sambung "wa (dan)" sebagaimana Dia berfirman: "Mereka menimpakan kepadamu adzab yang seberat-beratnya dan mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu." (QS. Ibrahim: 6). Penafsiran tentang hal ini akan dikemukakan pada awal surat al-Qashash insya Allah, dengan memohon bantuan dan pertolongan-Nya.

Kalimat "yasuumuunakum" maknanya adalah menimpakan kepadamu, sebagaimana dikatakan oleh Abu 'Ubaidah. Dikatakan "Saamahu khuththatu khasfin," maknanya, perkara (urusan) yang hina telah menimpanya.

Ada pula yang mengartikan dengan menimpakan siksaan secara terus menerus. Sebagaimana kambing yang terus digembalakan disebut "saa-imatul ghanam." Demikian yang dinukil dari al-Qurthubi.

Di sini Allah Ta'ala berfirman: "Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu." Hal ini tidak lain sebagai penafsiran atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka yang terdapat dalam firman-Nya: "Mereka menimpakan kepadamu adzab yang seberat-beratnya." Ditafsirkan demikian karena di sini Allah berfirman: "Dan ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 122)

Sedangkan dalam surat Ibrahim, ketika Allah berfirman: "Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah." (QS. Ibrahim: 5) Maksudnya, ingatkanlah mereka akan berbagai nikmat-Nya yang telah Dia berikan kepada mereka.

Maka tepat jika disebutkan di sana: "Mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, dan mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan." Disambungkannya kalimat itu dengan penyembelihan untuk menunjukkan betapa banyak nikmat yang telah diberikan kepada Bani Israil.

Siapakah fir'aun? -pent.

Fir'aun adalah gelar bagi setiap raja Mesir yang kafir, baik yang berasal dari bangsa Amalik maupun selainnya. Sebagaimana Kaisar merupakan gelar bagi setiap raja yang menguasai Romawi dan Syam dalam keadaan kafir. Demikian pula halnya dengan Kisra yang merupakan gelar bagi raja Persia, Tubba' bagi penguasa Yaman yang kafir, dan Najasyi bagi raja Habasyah.

Firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabbmu." Ibnu Jarir mengatakan: "Artinya, di balik tindakan Kami menyelamatkan nenek moyang kalian dari siksaan fir'aun dan para pengikutnya terkandung ujian yang besar bagi kalian dari Rabb kalian. Yaitu nikmat yang sangat besar bagi kalian." (199)

Dan pada asalnya, ujian dapat berupa kebaikan dan bisa juga berupa keburukan, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)." (QS. Al-Anbiyaa`: 35)

Dan Allah berfirman: "Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (QS. Al-A'raaf: 168) Ibnu Jarir berkata: "Kata yang sering digunakan untuk menyatakan ujian dalam bentuk keburukan adalah "(بَلاَء, أَبْلُوْهُ, بَلَوْتُهُ) balaa`, abluuhu, balawtuhu". Sedangkan yang digunakan untuk menyatakan ujian dalam bentuk kebaikan adalah "(بَلاَءً, إِبْلاَء, أَبْلِيْهِ) balaa-an, iblaa`, abliihi".

Firman Allah Ta'ala: "Dan (ingatlah) ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan." Maknanya, setelah Kami menyelamatkan kalian dari fir'aun dan para pengikutnya, lalu kalian berhasil keluar dari Mesir bersama Musa 'alaihis salaam, maka fir'aun pun pergi mencari kalian. Kemudian Kami belah lautan untuk kalian.

Sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Allah secara rinci dan akan dipaparkan pada pembahasan berikutnya insya Allah, antara lain dalam surat asy-Syu'araa`.

"Lalu Kami selamatkan." Artinya, Kami bebaskan kalian dari kejaran mereka dan Kami pisahkan kalian dengan mereka hingga akhirnya Kami tenggelamkan mereka, sedang kalian menyaksikan sendiri peristiwa tersebut, agar hal itu menjadi pengobat duka hati kalian dan menjadi hinaan yang sangat bagi musuh-musuh kalian.

Puasa Hari 'Asyura'

Disebutkan bahwa hari tersebut adalah hari 'Asyura'. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: "Setelah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sampai di Madinah, beliau kemudian menyaksikan orang-orang yahudi berpuasa pada hari 'Asyura', maka beliau bertanya: 'Hari apa ini yang kalian berpuasa padanya?' Mereka menjawab: 'Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah Sub-haanahu wa Ta'aala menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa padanya.' Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.'

Kemudian beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk berpuasa pada hari itu." (200) Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, an-Nasa-i dan Ibnu Majah. (201)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(199) Tafsiir ath-Thabari (2/48).

(200) Ahmad (1/291). [Ahmad (no. 2644)].

(201) Fat-hul Baari (4/287), Muslim (2/796), an-Nasa-i dalam al-Kubra (2/157), dan Ibnu Majah (1/553). [Al-Bukhari (no. 2004), Muslim (no. 1130), Ibnu Majah (no. 1734)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Al-Baqarah, Ayat 48 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 48.

Dan jagalah dirimu dari (adzab) hari (Kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikit saja; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan darinya, dan tidaklah mereka akan ditolong. (QS. 2: 48)

Setelah Allah Ta'ala mengingatkan Bani Israil akan berbagai nikmat-Nya. Dia menyambung peringatan tersebut dengan ancaman berupa beratnya siksaan yang akan diberikan kepada mereka pada hari Kiamat, Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Dan jagalah dirimu dari (adzab) hari (Kiamat)," yang pada hari itu: "Seseorang tidak dapat membela orang lain." Artinya, tidak ada seorangpun yang dapat mencukupi orang lain, sebagaimana Dia berfirman: "Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." (QS. Al-An'aam: 164)

Dia berfirman:

"Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (QS. 'Abasa: 37)

Dan Dia berfirman:

"Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu dan takutlah akan suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun." (QS. Luqman: 33)

Inilah maqam yang sempurna dimana anak dan orang tua (masing-masing dari keduanya) tidak bisa memberikan kecukupan sedikit pun kepada yang lainnya.

Syafa'at ataupun Tebusan Tidak Akan Diterima dari Orang-orang Kafir dan Mereka Tidak Akan Mendapat Pertolongan

Firman Allah Ta'ala: "Dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at," yakni dari orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya: "Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberi syafa'at." (QS. Al-Muddatstsir: 48)

Dan juga firman-Nya tentang penduduk Neraka: "Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab." (QS. Asy-Syu'araa': 101)

Adapun firman-Nya: "Dan tebusan darinya," artinya Allah tidak akan mengambil tebusan yang mereka serahkan, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mereka mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak itu)." (QS. Ali 'Imran: 91)

Dan Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengannya dari adzab hari Kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka mendapat adzab yang pedih." (QS. Al-Maa-idah: 36)

Allah juga berfirman: "Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima hal itu darinya." (QS. Al-An'aam: 70)

Dan Allah berfirman: "Maka pada hari ini tidak diterima tebusan darimu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempatmu adalah Neraka, itulah tempat berlindung," dan ayat seterusnya. (QS. Al-Hadiid: 15)

Allah Ta'ala memberitahukan bahwa jika mereka tidak beriman kepada Rasul-Nya dan tidak mengikuti ajaran yang dibawanya serta tidak memenuhi kewajiban yang dibebankan kepada mereka, maka pada hari Kiamat kelak kedekatan kaum kerabat dan syafa'at seorang yang memiliki kedudukan (terhormat) tidak akan bermanfaat bagi mereka. Dan tidak akan diterima tebusan dari mereka meski berupa emas sepenuh bumi. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at." (QS. Al-Baqarah: 254)

Dan Dia berfirman: "Tidak ada jual beli dan persahabatan." (QS. Ibrahim: 31)

Firman Allah Ta'ala: "Dan mereka tidak akan mendapat pertolongan." Artinya, tidak ada seorang pun yang marah demi membela mereka, lalu menolong dan menyelamatkan mereka dari adzab Allah. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa kaum kerabat dan orang yang terhormat tidak akan merasa iba kepada mereka, serta tidak akan diterima tebusan darinya. Tidak ada seorang penolong pun, baik dari kalangan mereka ataupun kalangan lainnya. Sebagaimana Allah berfirman: "Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (QS. Ath-Thaariq: 10) Artinya, bahwa Allah Ta'ala tidak akan menerima syafa'at ataupun tebusan dari orang-orang yang kafir kepada-Nya, serta tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dan menghindarkan mereka dari adzab-Nya. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya." (QS. Al-Mu'-minuun: 88)

Allah juga berfirman: "Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya, dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya." (QS. Al-Fajr: 25)

Dia juga berfirman: "Mengapa kamu tidak tolong-menolong? Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri." (QS. Ash-Shaaffaat: 26)

Dia juga berfirman: "Maka mengapa yang mereka sembah itu adalah selain Allah sebagai ilah untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan ilah-ilah itu telah lenyap dari mereka," dan ayat seterusnya. (QS. Al-Ahqaaf: 28)

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) tentang firman Allah: "Kenapa kamu tidak tolong-menolong?" Ia mengatakan: "Mengapa kalian tidak saling membantu untuk menolak adzab Kami pada hari ini? Mustahil hal itu bisa kalian lakukan pada hari ini!" (197)

Ibnu Jarir mengatakan: "Makna firman Allah: 'Dan mereka tidak akan mendapat pertolongan," bahwa pada hari itu tidak ada seorang penolong pun yang menolong mereka sebagaimana tidak ada yang memberi syafa'at bagi mereka. Tidak diterima dari mereka tebusan dan juga ganti rugi. Habislah semua kehormatan, tertutuplah segala praktek suap-menyuap dan bantu-membantu. Berakhirlah kesempatan untuk saling tolong dan saling bantu di antara mereka. Keputusan hari itu di tangan al-Jabbaar Sub-haanahu wa Ta'aala Yang Mahaadil, yang tidak bermanfaat di hadapan-Nya para pemberi syafa'at dan para penolong. Setiap kejahatan diganjar dengan balasan yang setimpal dengan kejahatannya. Dan setiap kebaikan akan dilipatgandakan balasannya. Seperti yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: "Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian), karena sesungguhnya mereka akan ditanya: 'Kenapa kamu tidak tolong-menolong?' Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri." (QS. Ash-Shaaffaat: 24-26) (198)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(197) Tafsiir ath-Thabari (2/36).

(198) Tafsiir ath-Thabari (2/35).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Thursday, 20 April 2017

Al-Baqarah, Ayat 47 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 47.

Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkanmu atas seluruh ummat. (QS. 2: 47)

Peringatan Bagi Bani Israil Atas Keutamaan yang Diberikan Kepada Mereka Atas Ummat yang Lain

Allah Ta'ala mengingatkan Bani Israil berbagai nikmat yang telah dianugerhakan kepada nenek moyang serta para pendahulu mereka. Juga keutamaan yang telah diberikan kepada mereka dengan diutusnya para Rasul dari kalangan mereka sendiri serta diturunkannya Kitab-kitab kepada mereka, dan diutamakannya mereka dari ummat-ummat yang lain pada zamannya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa." (QS. Ad-Dukhaan: 32)

Dan Allah berfirman:

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara ummat-ummat yang lain." (QS. Al-Maa-idah: 20)

Tentang firman Allah Ta'ala: "Dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas seluruh ummat," Abu Ja'far ar-Razi meriwayatkan dari ar-Rabi' bin Anas, dari Abul 'Aliyah, ia mengatakan: "Kelebihan mereka itu diwujudkan dengan kekuasaan, diutusnya para Rasul, dan diturunkannya Kitab-kitab Allah kepada ummat pada zaman tersebut, karena setiap zaman memiliki ummat." (194)

Hal senada diriwayatkan dari Mujahid, ar-Rabi' bin Anas, Qatadah, dan Isma'il bin Abi Khalid. (195)

Ummat Muhammad (shallallaahu 'alaihi wa sallam) Lebih Utama Dari Bani Israil

Ayat di atas harus dipahami sebagaimana memahami ayat ini, karena ummat ini (ummat Islam) lebih utama dari Bani Israil, sebagaimana firman Allah Ta'ala yang ditujukan kepada ummat ini:

"Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..." (QS. Ali 'Imran: 110)

Dalam kitab-kitab Musnad dan Sunan diriwayatkan sebuah hadits dari Mu'awiyah bin Haidah al-Qusyairi (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Kalian sebanding dengan 70 ummat, kalian adalah ummat terbaik dan paling mulia di sisi Allah Tabaaraka wa Ta'aala." (196)

Hadits-hadits dalam masalah ini sangatlah banyak dan akan disebutkan ketika membahas firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala:

"Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia." (QS. Ali 'Imran: 110)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(194) Tafsiir ath-Thabari (2/24).

(195) Ibnu Abi Hatim (1/158).

(196) Ahmad (4/447) dan (5/3), Tuhfatul Ahwadzi (8/352) dan Ibnu Majah (2/1433). [Hasan: Lafazh ini miliknya, at-Tirmidzi (no. 3001), Ibnu Majah (no. 4288). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani (rahimahullaah) dalam Shahiihul Jaami' (no. 2301)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Al-Baqarah, Ayat 45-46 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 45-46.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (QS. 2: 45) (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. 2: 46)

Memohon Pertolongan Kepada Allah dengan Sabar dan Shalat

Dengan firman-Nya ini, Allah Sub-haanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk meraih kebaikan di dunia dan akhirat yang mereka dambakan, dengan cara menjadikan kesabaran dan shalat sebagai penolong.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Muqatil bin Hayyan dalam tafsirnya tentang ayat ini: "Hendaklah kalian mengejar kehidupan akhirat dengan cara menjadikan kesabaran dalam mengerjakan berbagai kewajiban dan menjadikan shalat sebagai penolong."

Menurut Mujahid, yang dimaksud dengan kesabaran adalah shiyam (puasa). (189)

Al-Qurthubi dan selainnya mengatakan: "Oleh karena itulah bulan Ramadhan disebut bulan kesabaran." (190) Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits.

Dikatakan pula bahwa yang dimaksud dengan sabar dalam ayat tersebut adalah menahan diri dari perbuatan maksiat, karena disebutkan bersama dengan pelaksanaan berbagai macam ibadah, dan yang paling utama adalah ibadah shalat.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari 'Umar bin al-Khaththab ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Sabar itu ada dua, sabar ketika mendapatkan musibah, itu adalah baik, dan lebih baik lagi adalah sabar dalam menahan diri dari perkara yang diharamkan oleh Allah."

Ibnu Abi Hatim berkata: "Hal yang senada dengan ucapan 'Umar ini diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri." (191)

Adapun firman Allah: "Wash shalaati (dan shalat)," sesungguhnya shalat termasuk perkara besar yang menolong seseorang untuk mendapatkan ketetapan dalam suatu perkara, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur-an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) itu adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lainnya)," dan seterusnya. (QS. Al-'Ankabuut: 45)

Dhamir (kata ganti) dalam firman-Nya, "Wa innahaa lakabiiratun (dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat)" kembali kepada kata shalat. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid dan dipilih Ibnu Jarir. Bisa juga dhamir itu kembali kepada kandungan ayat itu sendiri, yaitu wasiat (pesan) untuk melakukan hal tersebut, sebagaimana firman Allah Ta'ala tentang kisah Qarun:

"Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: 'Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan pahala itu tidak akan didapat, kecuali oleh orang-orang yang sabar." (QS. Al-Qashash: 80)

Dan juga firman-Nya:

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara dirimu dan dirinya ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. Fushshilat: 34-35) Artinya, tidak akan ada orang yang mampu melaksanakan wasiat itu kecuali orang-orang yang sabar. Dan tidak akan ada yang mampu melaksanakannya kecuali orang-orang yang mendapat keuntungan besar.

Maka bagaimana pun, firman Allah 'Azza wa Jalla ini "Wa innaaha lakabiiratun (dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat)" berarti beban yang sangat berat, "Kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia mengatakan: "Yaitu orang-orang yang membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah." (192)

Firman Allah Ta'ala: "(Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." Ayat ini menyempurnakan kandungan ayat sebelumnya, bahwasanya shalat atau wasiat itu merupakan beban yang berat: "Kecuali bagi orang-orang yang khusyu', yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb mereka," yakni mengetahui bahwa mereka akan dikumpulkan kepada-Nya pada hari Kiamat dan dikembalikan kepada-Nya.

"Dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya," yakni semua urusan mereka kembali kepada masyi-ah (kehendak) Allah, Dia memutuskan segala persoalan sesuai dengan kehendak dan keadilan-Nya. Karena mereka meyakini adanya hari pengembalian dan pemberian pahala, maka terasa ringan bagi mereka dalam melaksanakan berbagai ketaatan dan meninggalkan berbagai kemunkaran.

Adapun firman-Nya: "Mereka meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb-nya," Ibnu Jarir rahimahullaah mengatakan: "Masyarakat Arab terkadang menyebut yakin itu dengan sebutan zhann (persangkaan). Keraguan (syakk) adalah zhann. Seperti halnya perkataan mereka, "zhulmah (kegelapan)" dan "dhiyaa' (cahaya)", diganti dengan kata yang sama, yaitu "shudfah". Juga kata "al-mughiits" dan al-mustaghiits" dengan sebutan "shaarikh". Dan kata-kata lainnya yang penyebutannya sama dengan lawan katanya. Hal seperti ini juga bisa kita lihat dalam firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang berdosa melihat mereka, maka mereka meyakini bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya." (QS. Al-Kahfi: 53)

Aku (Ibnu Katsir) katakan, disebutkan dalam kitab Shahih:

"Bahwa Allah Ta'ala berfirman kepada seorang hamba pada hari Kiamat: 'Bukankah Aku telah menganugerahkan kepadamu seorang isteri? Bukankah Aku telah memuliakanmu? Bukankah Aku telah menundukkan bagimu kuda dan unta, serta membiarkanmu memimpin dan memiliki harta lalu ditaati?' Maka hamba itu menjawab: 'Benar.' Allah Ta'ala bertanya: 'Apakah kamu menyangka bahwa kamu akan bertemu dengan-Ku?' Dia menjawab: 'Tidak.' Maka Allah berfirman: 'Pada hari ini Aku lupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan Aku.'" (193)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(189) Ibnu Abi Hatim (1/154).

(190) Al-Qurthubi (1/372).

(191) Ibnu Abi Hatim (1/155).

(192) Tafsiir ath-Thabari (2/16).

(193) Muslim (4/2279). [Muslim (no. 2968), dengan lafazh yang sedikit berbeda].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Thursday, 13 April 2017

Al-Baqarah, Ayat 44 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 44.

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. 2: 44)

Celaan Atas Amar Ma'ruf yang Tidak Diiringi dengan Pengamalan

Allah Sub-haanahu wa Ta'aala bertanya: "Wahai sekalian ahli Kitab, apakah pantas kalian menyuruh manusia untuk berbuat kebajikan, sedang kalian melupakan diri kalian sendiri? Kalian tidak melaksanakan apa yang kalian perintahkan kepada mereka padahal kalian membaca al-Kitab dan mengetahui kandungannya berupa ancaman bagi orang yang mengabaikan perintah-perintah Allah? Apakah kalian tidak memikirkan apa yang kalian lakukan untuk diri kalian itu, hingga kalian terjaga dari tidur dan mata kalian terbuka dari kebutaan?"

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh 'Abdurrazzaq, dari Ma'mar, dari Qatadah, tentang firman Allah: "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri," ia mengatakan: "Dahulu bani Israil menyuruh manusia berbuat ketaatan, takwa dan kebajikan, namun mereka menyelisihinya. Maka Allah 'Azza wa Jalla mencela mereka." (184)

Demikianlah perkataan as-Suddi. Ibnu Juraij menjelaskan tentang ayat: "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan," mereka mengatakan: "Ahli Kitab dan orang-orang munafik menyuruh manusia berpuasa dan melaksanakan shalat, namun mereka tidak mengamalkan apa yang mereka serukan kepada ummat manusia. Oleh sebab itulah Allah mencela mereka karenanya. Maka hendaklah orang yang menyeru kepada kebaikan adalah orang yang paling bersegera dan bersungguh-sungguh melaksanakan kebaikan tersebut." (185)

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma): "Sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri," yakni meninggalkan diri kalian. "Padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat). Maka tidakkah kamu berpikir?" Yakni, melarang manusia mengkufuri apa yang ada pada kalian berupa nubuwwah dan perjanjian di dalam Taurat, sedangkan kalian meninggalkan diri kalian sendiri dengan menyelisihi janji yang telah Kami ambil dari kalian untuk membenarkan Rasul Kami, sementara kalian membatalkan perjanjian kalian dengan-Ku dan kalian mengingkari apa yang kalian ketahui dari Kitab suci-Ku. (186)

Tujuannya, Allah Ta'ala mencela mereka atas perbuatan tersebut. Dan memperingatkan kesalahan mereka berkenaan dengan hak diri mereka, yakni menyeru kepada kebaikan namun mereka sendiri tidak melaksanakan kebaikan itu. Jadi, yang dicela bukanlah usaha mereka menyeru kepada kebaikan, karena hal itu termasuk perbuatan baik dan wajib atas seorang yang berilmu. Akan tetapi yang lebih wajib dan lebih layak bagi seorang alim adalah mengerjakan kebajikan bersama orang-orang yang ia seru dan tidak menyelisihi mereka. Sebagaimana perkataan Nabi Syu'aib 'alaihis salaam:

"Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku melarangmu darinya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (perrtolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali." (QS. Huud: 88)

Dengan demikian, amar ma'ruf dan pengamalannya merupakan suatu kewajiban yang salah satu dari keduanya tidak gugur dengan meninggalkan yang lainnya. Demikian menurut pendapat yang paling shahih dari para ulama Salaf maupun Khalaf.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Wa-il, ia menceritakan, dikatakan kepada Usamah, dan ketika itu aku diboncengnya: "Tidakkah engkau menasihati 'Utsman?" Maka Usamah berkata: "Apakah kalian kira jika aku menasihati 'Utsman aku akan menyampaikannya kepada kalian? Sesungguhnya aku telah berbicara empat dengan 'Utsman tanpa menimbulkan masalah yang aku sangat berharap tidak menjadi orang pertama yang membukanya. Demi Allah, aku tidak akan mengatakan kepada seseorang: 'Sesungguhnya engkau ini adalah sebaik-baik manusia,' meskipun yang ada di hadapanku adalah seorang penguasa, karena aku telah mendengar sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam." Maka orang-orang pun bertanya: "Apa yang engkau dengar dari beliau?" Usamah menjawab:

"Kelak pada hari Kiamat akan didatangkan seorang laki-laki, lalu ia dicampakkan ke dalam Neraka. Kemudian ususnya terburai dan ia berputar-putar di dalam Neraka seperti keledai mengitari penggilingannya. Maka para penghuni Neraka mengelilinginya seraya berkata: 'Wahai fulan, apa yang menimpa dirimu, bukankah engkau dahulu selalu menyeru kami berbuat kebaikan dan mencegah kami dari kemunkaran?' Orang itu menjawab: 'Dahulu aku menyuruh kalian berbuat kebaikan namun aku tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kalian berbuat kemunkaran namun aku sendiri mengerjakannya.'" (187)

Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim. (188)

Ibrahim an-Nakha'i berkata: "Aku tidak menyukai kisah yang terdapat pada tiga ayat, yaitu firman Allah:

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri?"

Kemudian firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff: 2-3)

Dan firman-Nya tentang Nabi Syu'aib 'alaihis salaam:

"Dan aku tidka berkehendak mengerjakan apa yang aku melarangmu darinya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali." (QS. Huud: 88)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(184) 'Abdurrazzaq (1/44).

(185) Tafsiir ath-Thabari (2/7).

(186) Tafsiir ath-Thabari (2/7).

(187) Ahmad (5/205).

(188) Fat-hul Baari (6/381), dan Muslim (4/2291). [Al-Bukhari (no. 3267), Muslim (no. 2989)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Al-Baqarah, Ayat 42-43 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 42-43.

Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui (QS. 2: 42) Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'. (QS. 2: 43)

Larangan Mencampur-adukkan Kebenaran dan Menyembunyikannya

Allah Sub-haanahu wa Ta'aala dengan firman-Nya ini melarang orang-orang yahudi untuk sengaja mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan, serta tindakan mereka menyembunyikan kebenaran dan menampakkan kebathilan. Dia berfirman: "Dan janganlah kamu campuradukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui."

Dia melarang merreka dari dua hal secara bersamaan serta memerintahkan mereka untuk menampakkan dan menjelaskan kebenaran. Oleh karena itu adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), dia mengatakan: "'Dan janganlah kamu campuradukkan yang haq dengan yang bathil,' artinya janganlah kalian mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil serta kebohongan dengan kebenaran." (179)

Dan Qatadah mengatakan: "'Dan janganlah kamu campuradukkan yang haq dengan yang bathil,' artinya janganlah kalian mencampuradukkan antara ajaran yahudi dan nashrani dengan ajaran Islam. 'Sedang kamu mengetahui,' yakni mengetahui bahwa agama Allah adalah Islam, sedang ajaran yahudi dan nashrani adalah bid'ah, bukan ajaran dari Allah." (180)

Hal yang sama diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri. (181)

Firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui," Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma): "Artinya, janganlah kalian menyembunyikan pengetahuan yang kalian miliki tentang kebenaran Rasul-Ku dan apa yang dibawanya, sedangkan kalian mendapatinya tertulis dalam Kitab-kitab yang berada di tangan kalian." (182)

(Aku (Ibnu Katsir) katakan:) Bisa juga ayat tersebut bermakna: Dan kalian mengetahui bahwa tindakan kalian menyembunyikan pengetahuan tersebut sangat membahayakan manusia, yaitu tersesatnya mereka dari petunjuk hingga menjerumuskan mereka ke dalam Neraka, jika mereka benar-benar mengikuti kebathilan yang kalian perlihatkan kepada mereka. Kebathilan yang kalian campuradukkan dengan kebenaran bertujuan agar kalian dapat dengan mudah menyebarluaskannya di tengah-tengah mereka. Lawan dari penjelasan dan keterangan adalah al-kitmaan (penyembunyian) dan pencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil.

Firman-Nya: "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'."

Tentang firman Allah kepada ahli Kitab: "Dan dirikanlah shalat," Muqatil mengatakan: "Artinya, Allah 'Azza wa Jalla memerintahkan kepada mereka untuk mengerjakan shalat bersama Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dan firman-Nya: "Dan tunaikanlah zakat," artinya Allah 'Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk membayar zakat dan menyerahkannya kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dan firman-Nya: "Dan ruku'lah bersama orang-orang ruku'," artinya, Allah memerintahkan mereka untuk ruku' bersama orang-orang yang ruku' dari ummat Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Maksudnya, Dia berfirman: "Ikutlah bersama mereka dan menjadi bagian dari mereka." (183)

Firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'." Artinya, bergabunglah bersama kaum mukminin dalam amal kebaikan mereka, dan di antara amal kebaikan yang paling khusus dan sempurna adalah shalat. Banyak di antara ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil wajibnya shalat berjama'ah.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(179) Tafsiir ath-Thabari (1/569).

(180) Ibnu Abi Hatim (1/147).

(181) Ibnu Abi Hatim (1/147).

(182) Ibnu Abi Hatim (1/147).

(183) Al-Kasyaf (1/133).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Al-Baqarah, Ayat 40-41 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 40-41.

Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS. 2: 40) Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (al-Qur-an), yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus bertakwa. (QS. 2: 41)

Ajakan Kepada Bani Israil untuk Masuk Agama Islam.

Melalui firman-Nya ini, Allah Sub-haanahu wa Ta'aala memerintahkan Bani Israil untuk masuk Islam dan mengikuti Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam, serta menggugah mereka dengan menyebut bapak mereka, Israil, yaitu Nabi Ya'qub 'alaihis salaam. Pengertiannya: "Wahai anak-anak hamba yang shalih, yang taat kepada Allah, jadilah kalian seperti ayah kalian (Ya'qub) dalam mengikuti kebenaran." Sebagaimana engkau mengatakan: "Wahai putera orang yang mulia, berbuatlah seperti ini." "Wahai putera si pemberani, tandingilah para pahlawan." Atau, "Wahai putera orang 'alim, tuntutlah 'ilmu," dan lain sebagainya. Dan di antaranya adalah firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur." (QS. Al-Israa': 3)

Israil Adalah Laqab (Sebutan) Ya'qub 'alaihis salaam.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan Israil adalah Ya'qub 'alaihis salaam. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ath-Thayalisi, dari 'Abdullah bin 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: "Sekelompok orang yahudi datang ke hadapan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Beliau bertanya kepada mereka: "Apakah kalian mengetahui bahwa Israil itu adalah Ya'qub?" Mereka menjawab: "Demi Allah, ya." Maka Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ya Allah, saksikanlah." (166)

Dan ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), bahwa penyebutan Israil (di waktu itu) seperti penyebutan 'Abdullah' (kepada orang lain di zaman sekarang). (167)

Berbagai Nikmat Allah Atas Kaum yahudi.

Firman Allah Ta'ala: "Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu," Mujahid mengatakan, "Yaitu nikmat yang dikaruniakan Allah Sub-haanahu wa Ta'aala kepada mereka, baik yang disebutkan maupun yang tidak. Di antaranya berupa memancarnya mata air dari batu, turunnya manna (makanan yang rasanya manis seperti madu), dan salwa (sejenis burung puyuh) dan selamatnya mereka dari perbudakan kerajaan fir'aun." (168)

Abul 'Aliyah berkata: "Nikmat Allah itu berupa ketetapan-Nya untuk menjadikan di antara mereka para Nabi dan Rasul serta menurunkan kepada mereka Kitab-kitab." (169)

Aku (Ibnu Katsir) katakan bahwa hal ini seperti ucapan Musa 'alaihis salaam kepada mereka (Bani Israil):

"Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-nabi di antara kamu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara ummat-ummat yang lain," (QS. Al-Maa-idah: 20) pada zaman mereka.

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), tentang firman Allah: "Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu." Ia mengatakan, yaitu ujian-Ku atas kalian dan bapak-bapak kalian saat Kami selamatkan mereka dari fir'aun beserta kaumnya."

Peringatan Kepada Kaum yahudi Atas Janji Mereka Kepada Allah.

"Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu," yaitu janji yang telah Aku ambil darimu untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika ia datang kepadamu, niscaya Aku akan penuhi apa yang telah Aku janjikan kepadamu. Yakni jika engkau membenarkan dan mengikutinya, maka Aku akan melepaskan beban dan belenggu yang menjeratmu disebabkan dosa-dosamu.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, "Itulah makna firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: 'Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas pemimpin, dan Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sungguh Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Aku masukkan ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai,''" dan ayat selanjutnya. (QS. Al-Maa-idah: 12)

Ulama lainnya berpendapat, yaitu janji yang diambil oleh Allah dari mereka dalam Taurat, bahwa Allah akan mengutus seorang Nabi yang agung dari keturunan Isma'il yang akan ditaati oleh seluruh golongan. Yang dimaksud adalah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Barangsiapa yang menaatinya niscaya Allah akan mengampuni dosanya, memasukkannya ke dalam Surga dan memberikan kepadanya dua pahala.

Ar-Razi telah menyebutkan berita-berita gembira yang sangat banyak dari para Nabi 'alaihish shalaatu was salaam atas kedatangan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Abul 'Aliyah berkata: "Firman Allah: 'Dan penuhilah janjimu kepada-Ku.' Perjanjian Allah dengan hamba-hamba-Nya adalah Islam dan mengikutinya." (170)

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: "Niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, yaitu Aku akan meridhai kalian dan memasukkan kalian ke dalam Surga." (171)

Demikian yang dikatakan oleh as-Suddi, adh-Dhahhak, Abul 'Aliyah dan ar-Rabi' bin Anas.

Firman Allah Ta'ala: "Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)." Artinya, hendaklah kalian takut kepada-Ku. (172)

Demikian yang dikatakan oleh Abul 'Aliyah, as-Suddi, ar-Rabi' bin Anas dan Qatadah.

Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata: "Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)," maksudnya hendaklah kalian takut jika Aku akan menurunkan kepada kalian apa yang Aku turunkan kepada nenek moyang kalian, yakni berbagai musibah yang kalian sendiri mengetahuinya, seperti perubahan rupa dan lain sebagianya." (173)

Ini merupakan perpindahan dari targhin (motivasi/ dorongan) ke tarhib (ancaman). Dengan targhin dan tarhib ini Allah menyeru mereka untuk kembali kepada kebenaran, mengikuti Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, berpegang kepada al-Qur-an, mentaati perintah-Nya, membenarkan berita-berita yang Dia sampaikan, dan Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.

Oleh karena itu Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (al-Qur-an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat)," yakni beriman kepada al-Qur-an yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam, Nabi yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) dari kalangan bangsa Arab, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, cahaya yang terang, meliputi kebenaran yang datang dari Allah Ta'ala dan membenarkan apa yang ada di tangan mereka, yaitu Taurat dan Injil.

Mengenai firman Allah: "Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (al-Qur-an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat)," Abul 'Aliyah mengatakan: "Artinya, wahai sekalian ahli Kitab, berimanlah kepada Kitab yang Aku turunkan, yang membenarkan apa yang ada pada kalian. Hal itu dikarenakan mereka mendapati bahwa Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam tertulis di dalam Kitab Taurat dan Injil yang ada pada mereka." Hal serupa diriwayatkan dari Mujahid, ar-Rabi' bin Anas dan Qatadah. (174)

Dan firman-Nya: "Dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya," Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) mengatakan: "Maksudnya, janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali kafir kepadanya, sedangkan kalian memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang lain tentang hal itu." (175)

Abul 'Aliyah berkata: "Maksudnya, janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali kafir kepada Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam, yakni dari golongan kalian, ahli Kitab, setelah kalian mendengar berita pengutusannya." (176)

Hal yang sama dikatakan al-Hasan, as-Suddi dan ar-Rabi' bin Anas. (177)

Dan yang menjadi pilihan Ibnu Jarir bahwa dhamir (kata ganti) pada kata "bihi" kembali kepada al-Qur-an yang telah disebutkan dalam firman-Nya: "Yang telah Aku turunkan."

Kedua pendapat di atas seluruhnya benar, karena keduanya saling berkaitan. Sebab, orang yang kafir terhadap al-Qur-an berarti telah kafir kepada Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dan orang yang kafir kepada Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam berarti dia telah kafir kepada al-Qur-an.

Firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Orang yang pertama kafir kepadanya," yakni orang yang pertama kali kafir kepadanya dari kalangan Bani Israil. Karena banyak orang yang telah kafir sebelum mereka, yakni orang-orang kafir Quraisy dan suku-suku Arab. Dan yang dimaksud dengan orang yang pertama kali kafir kepadanya adalah orang-orang dari kalangan Bani Israil. Karena orang-orang yahudi Madinah adalah Bani Israil pertama yang dimaksud oleh Allah di dalam al-Qur-an. Maka kekafiran mereka terhadapnya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang pertama kali kafir kepadanya dari bangsa mereka.

Firman Allah Ta'ala: "Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah." Artinya, janganlah kalian menukar iman kalian terhadap ayat-ayat-Ku dan pembenaran terhadap Rasul-Ku dengan dunia dan segala isinya yang menggiurkan, karena ia merupakan sesuatu yang sedikit lagi fana (tidak kekal).

Dan firman-Nya: "Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus bertakwa," Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Thalq bin Habib, ia berkata: "Takwa berarti berbuat taat kepada Allah dengan mengharap rahmat-Nya di atas nuur (petunjuk) dari-Nya, dan meninggalkan maksiat kepada Allah di atas nuur (petunjuk) dari Allah, karena takut akan siksa-Nya." (178)

Dan makna firman Allah: "Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus bertakwa," bahwa Allah Ta'ala mengancam atas kesengajaan menyembunyikan kebenaran dan menampakkan sebaliknya serta pembangkangan mereka terhadap Rasul, shalawat dan salam senantiasa tercurah atasnya.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(166) Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 356). [Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam hadits yang panjang (1/278). Dihasankan oleh Syaikh al-Arna'uth hafizhahullaah dalam al-Musnad (no. 2514) cet. Ar-Risalah].

(167) Tafsiir ath-Thabari (1/553).

(168) Tafsiir ath-Thabari (1/556).

(169) Tafsiir ath-Thabari (1/556).

(170) Tafsiir ath-Thabari (1/558).

(171) Ibnu Abi Hatim (1/143).

(172) Tafsiir ath-Thabari (1/560).

(173) Ibnu Abi Hatim (1/144).

(174) Ibnu Abi Hatim (1/145).

(175) Ibnu Abi Hatim (1/145).

(176) Ibnu Abi Hatim (1/145).

(177) Ibnu Abi Hatim (1/145).

(178) Ibnu Abi Hatim (1/147).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Al-Baqarah, Ayat 38-39 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 38-39.

Kami berfirman: "Turunlah kamu dari Surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. 2: 38) "Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni Neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS. 2: 39)

Allah Sub-haanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang peringatan yang pernah diberikan kepada Adam ('alayhis salaam) dan isterinya serta iblis ketika Dia menurunkan mereka dari Surga. Yang dimaksudkan yakni kepada anak keturunannya, bahwa Dia akan menurunkan Kitab-kitab dan mengutus pada Nabi dan Rasul. Sebagaimana dikatakan oleh Abul 'Aliyah, bahwa yang dimaksud dengan al-huda adalah para Nabi, para Rasul, mukjizat serta penjelasan. (164)

"Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku." Artinya, orang yang menerima Kitab-kitab yang diturunkan dan menyambut para Rasul yang diutus. "Niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka," berkaitan dengan perkara akhirat yang akan mereka hadapi. "Dan tidak (pula) merreka bersedih hati," atas berbagai urusan dunia yang tidak mereka peroleh.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Thaahaa: "Allah berfirman: 'Turunlah kamu berdua dari Surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku itu, niscaya ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka." (QS. Thaahaa: 123)

Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata: "Tidak tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat." (165)

"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaahaa: 124)

Sebagaimana Allah berfirman di sini: "Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni Neraka; mereka kekal di dalamnya." Maksudnya, mereka kekal abadi di dalam Neraka, tidak akan dapat menghindar dan tidak pula dapat menyelamatkan diri.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(164) Ibnu Abi Hatim (1/139).

(165) Tafsiir ath-Thabari (18/389).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Friday, 7 April 2017

Al-Baqarah, Ayat 37 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 37.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2: 37)

Taubat dan Do'a Nabi Adam 'alayhis salaam

Ada yang berpendapat bahwa kalimat dalam ayat ini ditafsirkan dengan firman Allah: "Keduanya berkata: 'Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.'" (QS. Al-A'raaf: 23)

Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid, Sa'id bin Jubair, Abul 'Aliyah, ar-Rabi' bin Anas, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi, Khalid bin Ma'dan, 'Atha' al-Khurasani dan 'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. (160)

As-Suddi meriwayatkan dari seseorang, dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), tentang firman Allah: "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya," ia mengatakan, "Adam 'alayhis salaam berkata: 'Wahai Rabb-ku, bukankah Engkau telah menciptakan diriku?' Maka dikatakan kepadanya: 'Benar.' 'Bukankah Engkau telah meniupkan ruh milik-Mu ke dalam diriku?' Dikatakan: 'Benar.' 'Dan aku bersin, lalu Engkau mengucapkan: 'Yarhamukallaah (Semoga Allah merahmatimu), sedang rahmat-Mu mendahului murka-Mu?' Dikatakan: 'Benar.' 'Dan Engkau telah menetapkan bahwa aku melakukan perbuatan ini?' Dikatakan: 'Benar.' 'Apabila aku bertaubat, apakah Engkau akan mengembalikan aku ke Surga?' Dikatakan: 'Ya.'" (161)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-'Iraqi, Sa'id bin Jubair, dan Sa'id bin Ma'bad dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma). (162)

Diriwayatkan juga oleh al-Hakim dalam Mustadraknya dari hadits Ibnu Jubair dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma). Al-Hakim berkata: "Sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim." (163)

Firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." Artinya, Allah menerima taubat orang yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya: "Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya." (QS. At-Taubah: 104)

Dan juga firman Allah: "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisaa': 110)

Demikian juga firman-Nya: "Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih." (QS. Al-Furqaan: 71)

Dan masih banyak lagi ayat yang menunjukkan bahwa Allah Sub-haanahu wa Ta'aala mengampuni dosa-dosa dan menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya. Ini termasuk bentuk kelembutan Allah terhadap hamba-hamba-Nya dan rahmat yang Dia curahkan kepada mereka. Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia semata, Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(160) Ibnu Abi Hatim (1/136) dan Tafsiir ath-Thabari (1/543, 546).

(161) Tafsiir ath-Thabari (1/543).

(162) Tafsiir ath-Thabari (1/532).

(163) Al-Hakim (2/545).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Al-Baqarah, Ayat 35-36 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 35-36.

Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu Surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zhalim. (QS. 2: 35) Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian lainnya, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (QS. 2: 36)

Pemuliaan yang Lain bagi Adam

Allah Sub-haanahu wa Ta'aala mengabarkan tentang kemuliaan yang Dia karuniakan kepada Adam 'alayhis salaam, yakni setelah Dia memerintahkan para Malaikat untuk sujud kepada Adam, lalu mereka pun sujud kecuali iblis, bahwasanya Dia memperkenankan Adam untuk tinggal di Surga di mana saja yang ia sukai, memakan makanan yang ada di dalamnya sepuas-puasnya, makanan yang lezat, banyak lagi baik.

Al-Hafizh Abu Bakar bin Mardawaih meriwayatkan dari Abu Dzarr (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, menurutmu apakah Adam itu seorang Nabi?' Maka beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) bersabda, 'Ya, ia seorang Nabi dan Rasul. Allah berbicara langsung kepadanya.'" Allah berfirman (kepadanya): "Diamilah oleh kamu dan isterimu Surga ini." (150)

Hawwa Diciptakan Sebelum Adam Memasuki Surga

Konteks ayat di atas menunjukkan bahwa Hawwa diciptakan sebelum Adam memasuki Surga. Hal itu secara gamblang dikemukakan oleh Muhammad bin Ishaq, ia berkata, "Setelah mencela iblis, Allah 'Azza wa Jalla memberikan pengarahan kepada Adam sedang Dia telah mengajarkan kepadanya seluruh nama benda. Allah berfirman: 'Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini,' hingga firman-Nya: 'Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.'"

Lebih lanjut, Ibnu Ishaq mengatakan: "Kemudian Adam mengantuk dan tertidur, menurut keterangan yang kami terima dari ahli kitab, yaitu ahli Taurat dan yang lainnya dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) dan 'ulama lainnya.

Kemudian diambillah sepotong tulang rusuk dari sisi tubuhnya sebelah kiri, dan membalutnya dengan sepotong daging, sementara Adam masih tertidur. Lalu Allah menciptakan isterinya, Hawwa, dari tulang rusuk itu. Selanjutnya Dia menyempurnakannya menjadi seorang wanita agar Adam merasa tenang bersamanya.

Ketika rasa kantuknya telah hilang dan Adam terbangun dari tidurnya, ia menoleh ke samping seraya berkata menurut persangkaan mereka, wallaahu a'lam-: 'Dagingku, darahku dan isteriku.' Maka ia pun merasa tenang bersamanya.

Setelah Allah menjadikan baginya seorang isteri dan menjadikannya tenang bersamanya, maka Allah berbicara langsung kepadanya:

'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu Surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zhalim.'" (151)

Ujian bagi Adam

Adapun firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Dan janganlah kamu dekati pohon ini!" merupakan cobaan dan ujian dari Allah Sub-haanahu wa Ta'aala bagi Adam ('alayhis salaam).

Terjadi perbedaan pendapat tentang pohon apakah ini? Ada yang berpendapat bahwa itu adalah pohon anggur. Ada yang mengatakan, pohon gandum. Dan ada juga yang mengatakan, pohon kurman. Ada yang mengatakan buah tin. Ada yang mengatakan pohon yang apabila buahnya dimakan pasti berhadats. Dan ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah pohon yang dimakan oleh Malaikat agar menjadikan mereka kekal.

Imam Abu Ja'far bin Jarir rahimahullaah mengatakan: "Yang benar bahwa Allah Sub-haanahu wa Ta'aala telah melarang Adam dan isterinya memakan buah pohon tertentu saja dari pohon-pohon yang ada di Surga, tidak semua pohon, tetapi keduanya memakan buah dari pohon tersebut. Dan kita tidka tahu pohon apa yang ditentukan oleh Allah itu, karena Dia tidak menjelaskan hal itu kepada hamba-hamba-Nya, baik di dalam al-Qur-an maupun di dalam hadits yang shahih. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah pohon pir, ada yang mengatakan pohon anggur, ada yang mengatakan pohon buah tin. Dan bisa jadi pohon itu adalah salah satu darinya. Dan ini adalah pengetahuan yang tidak mendatangkan manfaat bagi orang yang mengetahuinya, serta tidak memudharatkan orang yang tidak mengetahuinya. Wallaahu a'lam." (152)

Imam ar-Razi dalam tafsirnya dan juga yang lainnya menguatkan pendapat ini, dan inilah yang benar.

Dan firman-Nya: "Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Surga." Dhamir (kata ganti) pada kata "'anha" kembali kepada Jannah (Surga), sehingga maknanya -sebagaimana bacaan 'Ashim bin Bahdalah (Ibnu Abin Nujud)- adalah "fa-azaa lahuma" yaitu menyingkirkan keduanya." (153)

Dan bisa juga dikembalikan kepada kata yang disebutkan paling dekat, yaitu asy-syajarah (pohon), sehingga maknanya sebagaimana dikatakan oleh al-Hasan dan Qatadah: "fa-azallahuma" yaitu dari posisi sebelum keduanya tergelincir." (154)

Berdasarkan pendapat ini berarti perkiraan kalimat: "fa-azallahumasy syaithaanu 'anha" yakni kata "'anha" bermakna disebabkan olehnya. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "yu'-faku 'anhu man ufika (Dipalingkan darinya (Rasul dan al-Qur-an) orang yang dipalingkan)." (QS. Adz-Dzaariyaat: 9) Yaitu dipalingkannya orang-orang yang dipalingkan disebabkan olehnya.

Oleh karena itu Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Dan keduanya dikeluarkan dari keadaan semula," yaitu dari pakaian, tempat tinggal yang lapang, rizki yang menyenangkan dan ketenangan.

"Dan Kami berfirman: 'Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian lainnya, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Yakni tempat tinggal, rizki, dan ajal sampai waktu yang ditentukan serta batas waktu yang ditetapkan, dan kemudian datanglah hari Kiamat.

Adam ('alayhis salaam) Adalah Lelaki yang Berbadan Tinggi

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ubay bin Ka'ab ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Allah menciptakan Adam sebagai seorang lelaki yang berbadan tinggi, rambutnya lebat, seolah-olah beliau adalah pohon kurma yang tinggi. Ketika Adam mencicipi pohon itu, jatuhlah pakaiannya. Yang pertama kali terlihat darinya adalah auratnya. Ketika ia melihat auratnya, ia berusaha lari menyembunyikan diri di dalam Surga, namun rambutnya tersangkut di pohon tersebut. Adam berusaha melepasnya, maka ar-Rahmaan berseru: 'Hai Adam, apakah engkau berusaha lari dari-Ku?' Tatkala Adam mendengar perkataan ar-Rahmaan, ia berkata: 'Wahai Rabbku, tidak! Akan tetapi aku malu.'" (155)

Adam Tinggal di Surga Hanya Sebentar di Siang Hari

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: "Tidaklah Adam tinggal di Surga melainkan di waktu antara shalat 'Ashar hingga tenggelamnya matahari." Kemudian ia mengatakan: "Hadits ini shahih menurut syarat periwayatan al-Bukhari dan Muslim, dan keduanya tidak meriwayatkannya." (156)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: "Adam 'alayhis salaam diturunkan di daerah yang disebut Dahna, terletak antara Makkah dan Tha-if." (157)

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, ia berkata: "Adam diturunkan di negeri India dan Hawwa' di Jeddah. Sedang iblis diturunkan di Distimisan, beberapa mil di luar kota Bashrah. Dan ular diturunkan di Ashfahan." Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. (158)

Imam Muslim dan an-Nasa-i meriwayatkan dari Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata: "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Sebaik-baik hari yang matahari terbit di dalamnya adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam Surga dan pada hari itu juga ia dikeluarkan darinya.'" (159)

Syubhat (Argumen Palsu) dan Jawabannya

Jika dikatakan, "Apabila Surga yang darinya Adam dikeluarkan itu berada di langit, sebagaimana dikemukakan oleh jumhur ulama, lalu bagaimana iblis masuk ke Surga tersebut padahal ia telah diusir darinya sesuai ketetapan takdir, bukankah ketetapan takdir itu tidak dapat ditentang?"

Maka jawabnya: Inilah yang dijadikan dalil oleh mereka yang mengatakan bahwa Surga yang Adam berada di dalamnya itu berada di bumi, bukan di langit. Sebagaimana telah kami jelaskan panjang lebar di awal kitab kami, al-Bidaayah wan Nihaayah.

Adapun jumhur ulama menjawab: Bahwa iblis terlarang masuk ke dalam Surga dalam keadaan terhormat. Adapun dengan cara mencuri-curi, itu mungkin saja. Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan -sebagaimana disebutkan dalam Taurat- bahwa iblis masuk ke mulut ular kemudian masuk ke Surga. Dan sebagian yang lain mengatakan bahwa kemungkinan iblis menggoda keduanya dari luar pintu Surga. Yang lain lagi mengatakan: "Kemungkinan ketika menggoda keduanya, iblis berada di bumi sedang keduanya berada di langit," sebagaimana disebutkan oleh az-Zamakhsyari dan yang lainnya.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(150) Al-'Azhamah (5/1554), [karya Abus Syaikh al-Ashbahani, cet. Darul 'Ashimah, Riyadh, th. 1408 H].

(151) Tafsiir ath-Thabari (1/514).

(152) Tafsiir ath-Thabari (1/520).

(153) Ibnu Abi Hatim (1/127).

(154) Ibnu Abi Hatim (1/128-129).

(155) Ibnu Abi Hatim (1/129).

(156) Al-Hakim (2/542).

(157) Ibnu Abi Hatim (1/131).

(158) Ibnu Abi Hatim (1/132).

(159) Muslim (2/585) dan an-Nasa-i (3/90). [Muslim (no.854), an-Nasa-i (no. 1373)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Al-Baqarah, Ayat 34 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 34.

Pemuliaan Adam ('alayhis salaam) dengan Sujudnya Para Malaikat Kepadanya

Ini merupakan pemuliaan Allah Sub-haanahu wa Ta'aala yang sangat agung bagi Adam ('alayhis salaam) yang juga dianugerahkan kepada anak keturunannya, dimana Allah mengabarkan bahwa Dia memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepada Adam. Banyak hadits-hadits yang menunjukkan hal itu, di antaranya hadits tentang syafa'at yang telah disebutkan. Dan juga hadits Musa 'alayhis salaam, ia berkata: "Wahai Rabbku, tunjukkanlah kepadaku Adam yang telah mengeluarkan kami dan juga dirinya dari Surga." Maka ketika mereka telah berjumpa, Musa berkata: "Engkau Adam yang Allah telah menciptakannya dengan tangan-Nya, lalu meniupkan ruh kepadanya dan memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepadanya." (144)

Iblis Termasuk Makhluk yang Diperintahkan untuk Bersujud, dan Mereka Bukan dari Jenis Malaikat

Ketika Allah Ta'ala memerintahkan para Malaikat untuk sujud kepada Adam, maka iblis pun termasuk dalam perintah itu. Karena meskipun iblis bukan dari golongan Malaikat, namun iblis menyerupai mereka dan meniru tingkah laku mereka. Oleh karena itu, iblis termasuk dalam perintah yang ditujukan kepada para Malaikat, dan dia tercela atas pelanggaran yang dia lakukan terhadap perintah-Nya.

Tentang masalah ini, insya Allah akan kami uraikan dalam tafsir firman Allah Ta'ala: "Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia berasal dari golongan jin, maka dia mendurhakai perintah Rabbnya." (QS. Al-Kahfi: 50)

Oleh karena itu Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: "Sebelum iblis melakuakn perbuatan maksiat, dia termasuk dalam golongan Malaikat, namanya adalah 'Azaaziil, dia termasuk penduduk bumi. Dan dia termasuk jenis Malaikat yang paling bersungguh-sungguh dalam beribadah dan paling banyak memiliki ilmu. Hal itulah yang mendorongnya untuk menyombongkan diri, dan ia berasal dari negeri yang disebut Jinn." (145)

Kesombongan iblis

Mengenai firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabbur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir," Qatadah berkata: "Musuh Allah, iblis, merasa iri kepada Adam 'alayhis salaam karena kemuliaan yang diberikan kepadanya. Dia mengatakan: 'Aku diciptakan dari api dan ia diciptakan dari tanah.' Dan dosa yang pertama kali terjadi adalah kesombongan musuh Allah, iblis, yang menolak untuk sujud kepada Adam 'alayhis salaam." (148)

Aku (Ibnu Katsir) katakan: "Dalam sebuah hadits shahih ditegaskan:

'Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, meskipun hanya sebesar biji sawi.' (149)

Di dalam hati iblis terdapat kesombongan, kekufuran dan keingkaran yang menyebabkannya terusir dan terjauh dari rahmat Allah dan hadirat Ilahi."

Ketaatan Ditujukan Kepada Allah dengan Cara Bersujud Kepada Adam

Tentang firman Allah: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: 'Sujudlah kamu kepada Adam,'" Qatadah mengatakan: "Ketaatan itu untuk Allah, sedangkan sujud ditujukan kepada Adam. Allah memuliakan Adam dengan memerintahkan para Malaikat untuk sujud kepadanya." (146)

Sebagian orang mengatakan bahwa sujud tersebut adalah penghormatan, penghargaan dan pemuliaan. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

"Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata: 'Wahai ayahku, inilah tabir mimpiku yang dahulu; sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan.'" (QS. Yusuf: 100)

Hal ini disyari'atkan bagi ummat-ummat terdahulu (sebelum ummat Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam). Namun, cara penghormatan seperti ini telah dihapuskan dalam agama kita.

Mu'adz mengatakan: "Aku pernah datang ke negeri Syam. Setibanya di sana aku saksikan mereka sujud kepada para pendeta dan pemuka agama mereka. Lalu aku katakan: "Wahai Rasulullah, engkau lebih berhak dijadikan tempat bersujud." Maka beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) bersabda:

"Tidak, seandainya aku dibolehkan untuk memerintahkan manusia untuk sujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan seorang isteri untuk sujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami atas isterinya." (147)

Makna inilah yang dikuatkan oleh ar-Razi.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

(144) Abu Dawud (5/28). [Hasan: Abu Dawud (no. 4702). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Silsilah ash-Shahiihah (no. 1702)].

(145) Tafsiir ath-Thabari (1/502).

(146) Tafsiir ath-Thabari (1/502).

(147) At-Tirmidzi (no. 1159) dan al-Majma' (Majma'uz Zawaa-id) (4/310). [Shahih: Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no. 4171), cet. Muassasah ar-Risalah, Beirut, th. 1414 H. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami' (no. 5294)].

(148) Ibnu Abi Hatim (1/123).

(149) Muslim (1/93). [Muslim (no. 91)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Al-Baqarah, Ayat 31-33 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari.

Surat al-Baqarah.

Al-Baqarah, Ayat 31-33.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar!" (QS. 2: 31) Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (QS. 2: 32) Allah berfirman, "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini!" Maka setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman, "Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS. 2: 33)

Keutamaan Adam Atas Para Malaikat

Inilah maqam (kedudukan) dimana Allah menyebutkan kemuliaan Nabi Adam ('alayhis salaam) atas para Malaikat karena Allah telah mengkhususkannya dan mengajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu yang tidak Dia ajarkan kepada para Malaikat. Hal itu terjadi setelah para Malaikat bersujud kepadanya (yang akan disebutkan di ayat 34).

Adapun Allah Sub-haanahu wa Ta'aala mendahulukan penyebutan maqam ini sebelum penyebutan sujudnya Malaikat kepada Adam, hal ini karena adanya kesesuaian antara maqam ini dengan ketidaktahuan para Malaikat tentang hikmah penciptaan khalifah, yang karenanya mereka menanyakan hal tersebut. Maka Allah memberitahukan bahwa Dia mengetahui apa yang tidak mereka ketahui.

Oleh karena itu, Allah menyebutkan maqam ini setelah menerangkan ketidaktahuan Malaikat tentang hikmah diciptakannya khalifah, untuk menerangkan kepada mereka tentang keutamaan Adam atas mereka dalam masalah ilmu. Allah Ta'ala berfirman: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya."

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbass (ra-dhiyallaahu 'anhuma) tentang ayat: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya," ia berkata: "Yaitu nama-nama yang dikenal oleh manusia, seperti insan, binatang, langit, bumi, gunung, laut, kuda, keledai, dan lain-lain, yang berupa makhluk hidup maupun yang lainnya." (135)

Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari hadits 'Ashim bin Kulaib dari Sa'I'd bin Ma'bad dari Ibnu 'Abbas ra-dhiyallaahu 'anhuma tentang firman Allah: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya," ia berkata: "Mengajarkan kepadanyaa nama piring dan periuk." Ia berkata: "Ya, hingga nama jamur dan cendawan."

Yang benar, Allah mengajarkan kepada Adam nama segala macam benda, baik dzat, sifat maupun perbuatannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu 'Abbas: "Hingga nama jamur dan cendawan." Yaitu nama seluruh benda dan perbuatannya, baik dalam bentuk yang besar maupun yang kecil.

Tentang tafsir ayat ini, Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahiihnya di kitab tafsir, dari Anas bin Malik (ra-dhiyallaahu 'anhu), dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Telah berkata kepadaku Khalifah, telah berkata kepada kami Yazid bin Zurai', telah berkata kepada kami Sa'I'd, dari Qatadah, dari Anas, dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

"Orang-orang yang beriman dikumpulkan pada hari Kiamat. Mereka mengatakan: 'Alangkah baiknya jika kita meminta syafa'at kepada Rabb kita.' Maka mereka pun mendatangi Adam dan berkata: 'Engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepadamu dan Dia telah mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu, mohonkanlah syafa'at bagi kami di sisi Rabbmu hingga Dia menyelamatkan kami dari tempat ini.' Maka Adam berkata: 'Aku bukanlah orang yang kalian maksud (yang mampu melakukan hal itu),' lalu Adam menyebutkan dosa-dosanya dan ia pun merasa malu. 'Datangilah Nuh, sesungguhnya dia adalah Rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada penduduk bumi.' Kemudian mereka mendatangi Nuh, maka Nuh berkata: 'Aku bukanlah orang yang kalian maksud.' Lalu Nuh menyebutkan pertanyaan yang dia ajukan kepada Allah yang ia tidak memiliki pengetahuan tentangnya, maka ia pun merasa malu. Lalu ia berkata: 'Datanglah kepada Khalilurrahmaan (Ibrahim)!' Maka mereka mendatanginya, dan Ibrahim berkata: 'Aku bukanlah orang yang kalian maksud. Datanglah kepada Musa, hamba yang Allah berbicara langsung dengannya dan memberinya Taurat!' Maka Musa berkata: 'Aku bukanlah orang yang kalian maksud.' Lalu ia menyebutkan bahwa ia pernah membunuh jiwa bukan karena ia membunuh orang lain (bukan dalam rangka melaksanakan qishash), maka ia pun merasa malu kepada Rabbnya. Musa pun berkata: 'Datanglaah kepada 'Isa, hamba Allah dan utusan-Nya, kalimat Allah dan ruh-Nya!' Maka mereka mendatangi 'Isa, dan ia berkata: 'Aku bukanlah orang yang kalian maksud, datanglah kepada Muhammad, hamba yang telah diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang!' Maka mereka mendatangiku (Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam), lalu aku pun beranjak meminta izin kepada Rabbku, maka Allah memberikan izin kepadaku. Ketika aku melihat Rabbku, aku pun bersujud, maka Dia menyeruku menurut apa yang Dia kehendaki, lalu dikatakan: 'Angkatlah kepalamu, mintalah niscaya akan diberikan kepadamu, bicaralah niscaya akan didengar dan mintalah syafa'at niscaya akan diperkenankan.' Maka aku mengangkat kepalaku dan memuji-Nya dengan puji-pujian yang telah diajarkan-Nya kepadaku. Lalu aku meminta syafa'at dan Dia memberikan batasan kepadaku. Lalu aku memasukkan mereka ke dalam Surga. Kemudian aku kembali dan ketika aku melihat Rabbku aku pun bersujud -seperti yang pertama- lalu aku memintaa syafa'at dan Dia memberikan batasan kepadaku. Maka aku masukkan mereka ke dalam Surga. Lalu aku kembali untuk ketiga dan keempat kalinya, maka aku katakan: 'Tidaklah tersisa di dalam Neraka kecuali orang yang ditahan oleh al-Qur-an dan ditetapkan baginya kekal di dalam Neraka.'" (136)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim, an-Nasa-i (137) dan Ibnu Majah.

Inti disampaikannya hadits ini adalah sabda Rasulullah 'alay-hish shalaatu was salaam: "Maka mereka mendatangi Adam dan berkata: 'Engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepadamu dan Dia telah mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu.'"

Ini menunjukkan bahwa Allah telah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruh makhluk. (138)

Oleh karena itu Allah berfirman: "Kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat," yakni memperlihatkan nama-nama itu sebagaimana yang dikatakan oleh 'Abdurrazzaq, dari Ma'mar, dari Qatadah, ia berkata: "Kemudian memperlihatkan nama-nama itu kepada para Malaikat. 'Lalu Dia berfirman: 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar!''" (139) Maknanya, Allah berfirman: "Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama benda yang telah Aku perlihatkan kepada kalian, wahai para Malaikat yang mengatakan: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? Yaitu dari golongan (makhluk) selain kami, atau dari kami, padahal kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan Nama-Mu?' Jika ucapan kalian itu benar, bahwa apabila Aku menjadikan khalifah di muka bumi selain dari golongan kalian, niscaya ia dan semua keturunannya akan durhaka kepada-Ku, berbuat kerusakan, dan menumpahkan darah. Dan jika Aku menjadikan kalian sebagai khalifah di muka bumi, maka kalian akan senantiasa menaati-Ku, melaksanakan semua perintah-Ku serta menyucikan diri-Ku. Maka jika kalian tidak mengetahui nama-nama benda yang Aku perlihatkan kepada kalian, padahal kalian telah menyaksikannya, berarti kalian lebih tidak mengetahui tentang sesuatu yang belum ada yang nantinya akan terjadi. "Mereka menjawab: 'Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Inilah penyucian dan pembersihan bagi Allah yang dilakukan oleh para Malaikat, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya kecuali atas kehendak-Nya, dan mereka tidak akan pernah mengetahui sesuatu kecuali apa yang telah Dia ajarkan.

Oleh karena itu mereka mengatakan: "Mereka menjawab: 'Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Artinya, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu dan Mahabijaksana dalam penciptaan, perintah, pengajaran dan pencegahan terhadap apa-apa yang Engkau kehendaki. Bagi-Mu hikmah dan keadilan yang sempurna.

Bukti Keutamaan Adam ('alayhis salaam) dengan Ilmu-Nya

Firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala:

"Allah berfirman: 'Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini.' Maka setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman: 'Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?'" Zaid bin Aslam mengatakan, "Adam berkata: 'Engkau Jibril, engkau Mikail, engkau Israfil' dan seluruh nama-nama hingga burung gagak." (140)

Mengenai firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Allah berfirman: 'Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini,'" Mujahid mengatakan: "Yaitu nama-nama burung merpati, burung gagak, dan nama-nama segala sesuatu." (141)

Hal serupa juga diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, al-Hasan, dan Qatadah. (142)

Setelah keutamaan Adam 'alayhis salaam atas para Malaikat terbukti dengan kemampuannya menyebutkan seluruh nama yang diajarkan oleh Allah kepadanya, maka Allah berfirman kepada para Malaikat:

"Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Yakni, bukankah telah Aku katakan kepada kalian bahwa Aku Maha Mengetahui segala yang ghaib baik yang nampak maupun yang tersembunyi, sebagaimana Dia berfirman: "Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi." (QS. Thaahaa: 7)

Dan juga firman-Nya tentang ucapan burung Hudhud kepada Nabi Sulaiman ('alayhis salaam):

"Agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, Rabb yang mempunyai 'Arsy yang besar." (QS. An-Naml: 25-26)

Dan juga pendapat lain tentang firman Allah: "Dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan," selain apa yang telah kami sebutkan.

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) tentang firman Allah: "Dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan," ia mengatakan, "Allah berfirman: 'Aku mengetahui perkara yang tersembunyi sebagaimana Aku mengetahui perkara yang nyata,' yakni apa yang disembunyikan oleh iblis dalam hatinya berupa kesombongan dan pembangkangan." (143)

Abu Ja'far ar-Razi meriwayatkan dari ar-Rabi' bin Anas, ia berkata tentang ayat: "Dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan," "Adapun yang mereka lahirkan adalah ucapan mereka: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi ini orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?' Sedangkan yang mereka sembunyikan adalah ucapan mereka: 'Tidaklah Rabb kami menciptakan suatu makhluk melainkan kami lebih mengetahui dan lebih mulia darinya.' Maka akhirnya mereka mengetahui bahwa Allah mengutamakan Adam ('alayhis salaam) atas mereka dalam hal ilmu dan kemuliaan."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

135) Tafsiir ath-Thabari 1/458.

(136) Fat-hul Baari 8/10. Al-Bukhari no. 4476.

(137) Muslim 1/181, dan an-Nasa-i dalam al-Kubra 6/284. Muslim no. 193, an-Nasa-i dalam Sunan al-Kubra, cet. Darul Kutub al-'Ilmiyyah th. 1411 H no. 11433.

(138) Muslim 1/181 dan an-Nasa-i dalam al-Kubra 6/364, dan Ibnu Majah 2/1442. An-Nasa-i dalam Sunan al-Kubra, cet. Darul Kutub al-'Ilmiyyah th. 1411 H no. 10984, Ibnu Majah no. 4312.

(139) 'Abdurrazzaq 1/42.

(140) Ibnu Abi Hatim 1/118.

(141) Ibnu Abi Hatim 1/119.

(142) Ibnu Abi Hatim 1/119.

(143) Tafsiir ath-Thabari 1/498.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.