Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
Ketiga: Mengimani adanya Surga dan Neraka, dan bahwa keduanya merupakan tempat kembali yang abadi bagi makhluk. Surga adalah kampung kenikmatan yang dipersiapkan oleh Allah 'Azza wa Jalla bagi orang-orang mukmin yang bertakwa; yang mengimani apa yang telah diwajibkan oleh Allah atas mereka untuk mengimaninya, dan menunaikan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Allah dan dengan cara mengikuti Rasul-Nya. Di dalam Surga terdapat berbagai macam kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam benak manusia. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah Surga 'And yang sekelilingnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal selama-lamanya di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya." (Al-Bayyinah [98]: 7-8)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Tidak seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (berbagai macam kenikmatan) yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah [32]: 17)
Sedangkan Neraka adalah hunian yang penuh dengan adzab yang dipersiapkan oleh Allah 'Azza wa Jalla untuk orang-orang kafir zalim, yaitu orang-orang yang mengkufuri Allah dan mendurhakai para Rasul-Nya. Di dalamnya terdapat berbagai macam bentuk adzab dan siksaan yang tak bisa dibayangkan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Jagalah diri dari Neraka yang dipersiapkan untuk orang-orang kafir." (Ali 'Imran [3]: 131)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"... Sesungguhnya Kami telah mempersiapkan bagi orang-orang zalim itu Neraka yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, maka mereka akan diberi minuman dengan air seperti besi yang mendidih dan dapat menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al-Kahf [18]: 29)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (Neraka). Mereka kekal selama-lamanya di dalamnya. Mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, sementara mereka berkata, 'Alangkah baiknya andaikata kami menaati Allah dan menaati Rasul!'" (Al-Ahzab [33]: 64-66)
Termasuk iman kepada hari Akhir adalah mengimani segala peristiwa yang akan terjadi setelah mati, seperti:
a. Fitnah (ujian) kubur; yaitu pertanyaan yang dilontarkan kepada mayit setelah ia dikuburkan, tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Allah 'Azza wa Jalla lalu meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang mantap, sehingga dengan kemantapannya ia menjawab, "Rabbku adalah Allah, agamaku Islam, dan Nabiku adalah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam!" Sebaliknya, Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Orang yang kafir hanya bisa menjawab, "Hah...hah...! Aku tidak tahu." Sementara itu, orang munafik atau orang yang ragu menjawab, "Aku tidak tahu. Aku dengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku ikut pula mengatakannya."
b. Adzab dan nikmat kubur. Adzab kubur adalah bagi orang-orang zalim, yaitu orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim berada dalam gharamatul maut, sedangkan para Malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata, 'Keluarkanlah nyawamu!' Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar, dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya." (Al-An'am [6]: 93)
Tentang 'keluarga' (para pengikut) fir'aun, Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Kepada mereka ditampakkan Neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada Malaikat), 'Masukkanlah 'keluarga' fir'aun ke dalam adzab yang sangat keras.'" (Al-Mu'min [40]: 46)
Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit (radhiyallahu 'anhu) bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Kalau saja tidak karena kalian saling menguburkan (mayit), pasti aku memohon kepada Allah agar memperdengarkan siksa kubur kepada kalian seperti yang aku dengar." Selanjutnya beliau menghadapkan wajahnya dan berkata, "Berlindunglah kepada Allah dari adzab Neraka!" Para sahabat berkata, "Kami berlindung kepada Allah dari adzab Neraka!" Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) bersabda lagi, "Berlindunglah kepada Allah dari adzab kubur!" Mereka berkata, "Kami berlindung kepada Allah dari adzab kubur." Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) bersabda lagi, "Berlindunglah kepada Allah dari fitnah-fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi!" Mereka berkata, "Kami berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah yang tampak maupun tersembunyi." Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) bersabda, "Berlindunglah kepada Allah dari fitnah dajjal!" Mereka berkata, "Kami berlindung kepada Allah dari fitnah dajjal." (47)
Sedangkan nikmat kubur itu diperuntukkan bagi orang-orang mukmin yang 'benar'. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan 'Rabb kami adalah Allah', kemudian mereka istiqamah, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, 'Tak usahlah kau merasa takut, dan tak usah bersedih hati. Gembiralah dengan memperoleh Surga yang telah dijanjikan kepada kamu." (Fushshilat [41]: 30)
"Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, akan tetapi kamu tidak melihat. Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah), kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?! Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan kepada Allah, maka dia memperoleh ketenteraman, rezeki serta Surga kenikmatan." (Al-Waqi'ah [56]: 83-89)
Diriwayatkan dari Al-Bara' bin Azib radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda tentang orang mukmin tatkala menjawab pertanyaan dua Malaikat di dalam kuburnya, "Ada suara yang berseru dari langit, 'Hamba-Ku benar. Karena itu, maka berilah ia tilam dari Surga, berilah ia pakaian dari Surga, dan bukalah untuknya pintu menuju Surga!' Lalu datanglah menghampirinya kenikmatan dan keharuman Surga, sementara itu kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang." (48) (HR. Ahmad dan Abu Dawud dalam sebuah hadits yang panjang)
Buah dari iman kepada hari Akhir di antaranya adalah:
* Senang dan antusias untuk melakukan ketaatan, dengan mengharap pahalanya kelak di hari akhir.
* Takut melakukan kemaksiatan dan khawatir bila sampai rela dengan kemaksiatan itu; karena takut kepada sanksi (siksa) di Hari Akhir itu.
* Hiburan bagi orang Mukmin atas apa yang tidak ia dapatkan dari kesenangan duniawi ini dengan masih dapat mengharap kenikmatan dan pahala Akhirat.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
47. HR. Muslim, Kitabul Jannah wa Shifatu Na'imiha wa Ahliha, bab "Ardhu Maq'adil Mayyit minal Jannah awin Nari 'alaihi".
48. HR. Imam Ahmad, IV/ 287; Abu Dawud, Kitabus Sunnah, bab "Al-Mas'alah fi 'Adzabil Qabr"; Al-Haitsami dalam Majmu'uz Zawaid, III/ 49-50; Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah, VIII/ 10; Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, III/ 374, dan Al-Ajiri dalam Asy-Syari'ah, hal. 327. Al-Haitsami mengatakan, "Diriwayatkan oleh Ahmad dengan rijal yang sahih."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Jadilah orang berilmu! Jika tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu! Jika tidak mampu, maka cintailah mereka! Jika tidak mampu, maka janganlah membenci mereka!
Showing posts with label syarah tsalatsatul ushul. Show all posts
Showing posts with label syarah tsalatsatul ushul. Show all posts
Friday, 26 May 2017
Mengimani Adanya Hisab dan Pembalasan | Rukun Kelima: Iman Kepada Hari Akhir | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
Kedua: Mengimani adanya hisab (perhitungan) dan jaza' (balasan). Seluruh amal perbuatan setiap hamba akan dihisab dan diberi balasan. Hal ini telah ditunjukkan oleh Kitab, Sunah serta ijmak kaum Muslimin. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sungguh kewajiban Kamilah menghisab mereka." (Al-Ghasyiyah [88]: 25-26)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Barangsiapa datang dengan membawa amal baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat dari amalnya; dan barangsiapa yang datang dengan membawa amalan buruk, maka dia hanya akan diberi pembalasan seimbang dengan keburukannya, sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun." (Al-An'am [6]: 160)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Kami akan memasang timbangan yang adil pada hari Kiamat, maka tidaklah seseorang itu dirugikan barang sedikit pun. Dan jika amalan itu hanya seberat biji sawi sekali pun, maka Kami pasti akan mendatangkannya. Cukuplah Kami sebagai penghisab." (Al-Anbiya' [21]: 47)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah nanti akan mendekati orang mukmin, lalu meletakkan 'naungan'-Nya pada orang itu untuk menutupinya seraya menanyakan, 'Tahukah kamu akan dosa yang ini? Tahukah kamu akan dosa yang itu?' Ia menjawab, 'Ya, saya tahu, wahai Rabbku!' Sehingga ketika ia telah mengakui akan dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa, maka Allah berkata, 'Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya.' Selanjutnya, diberikanlah kepadanya kitab (catatan) kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka Allah 'Azza wa Jalla memanggil mereka di hadapan orang banyak. Mereka itulah orang-orang mendustakan Rabbnya. Ketahuilah, laknat Allah itu untuk orang-orang yang zalim!" (45) (Mutafaq 'alaih)
Dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang shahih disebutkan:
"Orang yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu mengerjakannya, maka Allah 'Azza wa Jalla menulisnya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai lipat yang lebih banyak lagi di sisi-Nya. Sedangkan orang yang berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, maka Allah hanya menulisnya satu keburukan saja." (46)
Kaum Muslimin juga telah berijmak mengenai kepastian adanya hisab dan jaza' terhadap amal perbuatan, dan ini merupakan tuntutan hikmah.
Seperti yang kita ketahui, Allah 'Azza wa Jalla telah menurunkan kitab-kitab suci, mengutus para Rasul serta mewajibkan para hamba untuk menerima ajaran yang mereka bawa dan mengamalkan apa yang wajib diamalkan. Allah juga mewajibkan kita untuk memerangi orang-orang yang menentang ajaran-Nya serta menghalalkan darah, keturunan, istri dan harta benda mereka.
Kalau saja tidak ada hisab maupun jaza' tentulah ini semua akan percuma dan sia-sia saja; padahal Rabb Yang Maha Bijaksana tersucikan dari hal yang demikian. Allah 'Azza wa Jalla telah mengisyaratkan hal itu dengan firman-Nya, "Maka sesungguhnya Kami akan mempunyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka, dan sesungguhnya Kami akan menanyai pula para Rasul itu. Lalu sungguh akan Kami kabarkan kepada mereka (apa saja yang telah mereka perbuat), sedang Kami mengetahui keadaan mereka, dan sekali-kali Kami tidak jauh dari mereka." (Al-A'raf [7]: 6-7)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
45. HR. Bukhari, Kitabul Mazhaim, bab "Qauluhu 'Azza wa Jalla, 'ala La'natullah 'alazh Zhalimin", dan Muslim, Kitabut Taubah, bab "Qabulu Taubatil Qatil wa in Katsura Qatluhu".
46. HR. Bukhari, Kitabur Raqa'iq, bab "Man Hamma bi Sayyi'atin au Hasanatin"; dan Muslim, Kitabul Iman, bab "Al-Isra' bin Nabi 'alaihimush shalatu was salam ilas Samawat".
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
Kedua: Mengimani adanya hisab (perhitungan) dan jaza' (balasan). Seluruh amal perbuatan setiap hamba akan dihisab dan diberi balasan. Hal ini telah ditunjukkan oleh Kitab, Sunah serta ijmak kaum Muslimin. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sungguh kewajiban Kamilah menghisab mereka." (Al-Ghasyiyah [88]: 25-26)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Barangsiapa datang dengan membawa amal baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat dari amalnya; dan barangsiapa yang datang dengan membawa amalan buruk, maka dia hanya akan diberi pembalasan seimbang dengan keburukannya, sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun." (Al-An'am [6]: 160)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Kami akan memasang timbangan yang adil pada hari Kiamat, maka tidaklah seseorang itu dirugikan barang sedikit pun. Dan jika amalan itu hanya seberat biji sawi sekali pun, maka Kami pasti akan mendatangkannya. Cukuplah Kami sebagai penghisab." (Al-Anbiya' [21]: 47)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah nanti akan mendekati orang mukmin, lalu meletakkan 'naungan'-Nya pada orang itu untuk menutupinya seraya menanyakan, 'Tahukah kamu akan dosa yang ini? Tahukah kamu akan dosa yang itu?' Ia menjawab, 'Ya, saya tahu, wahai Rabbku!' Sehingga ketika ia telah mengakui akan dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa, maka Allah berkata, 'Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya.' Selanjutnya, diberikanlah kepadanya kitab (catatan) kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka Allah 'Azza wa Jalla memanggil mereka di hadapan orang banyak. Mereka itulah orang-orang mendustakan Rabbnya. Ketahuilah, laknat Allah itu untuk orang-orang yang zalim!" (45) (Mutafaq 'alaih)
Dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang shahih disebutkan:
"Orang yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu mengerjakannya, maka Allah 'Azza wa Jalla menulisnya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai lipat yang lebih banyak lagi di sisi-Nya. Sedangkan orang yang berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, maka Allah hanya menulisnya satu keburukan saja." (46)
Kaum Muslimin juga telah berijmak mengenai kepastian adanya hisab dan jaza' terhadap amal perbuatan, dan ini merupakan tuntutan hikmah.
Seperti yang kita ketahui, Allah 'Azza wa Jalla telah menurunkan kitab-kitab suci, mengutus para Rasul serta mewajibkan para hamba untuk menerima ajaran yang mereka bawa dan mengamalkan apa yang wajib diamalkan. Allah juga mewajibkan kita untuk memerangi orang-orang yang menentang ajaran-Nya serta menghalalkan darah, keturunan, istri dan harta benda mereka.
Kalau saja tidak ada hisab maupun jaza' tentulah ini semua akan percuma dan sia-sia saja; padahal Rabb Yang Maha Bijaksana tersucikan dari hal yang demikian. Allah 'Azza wa Jalla telah mengisyaratkan hal itu dengan firman-Nya, "Maka sesungguhnya Kami akan mempunyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka, dan sesungguhnya Kami akan menanyai pula para Rasul itu. Lalu sungguh akan Kami kabarkan kepada mereka (apa saja yang telah mereka perbuat), sedang Kami mengetahui keadaan mereka, dan sekali-kali Kami tidak jauh dari mereka." (Al-A'raf [7]: 6-7)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
45. HR. Bukhari, Kitabul Mazhaim, bab "Qauluhu 'Azza wa Jalla, 'ala La'natullah 'alazh Zhalimin", dan Muslim, Kitabut Taubah, bab "Qabulu Taubatil Qatil wa in Katsura Qatluhu".
46. HR. Bukhari, Kitabur Raqa'iq, bab "Man Hamma bi Sayyi'atin au Hasanatin"; dan Muslim, Kitabul Iman, bab "Al-Isra' bin Nabi 'alaihimush shalatu was salam ilas Samawat".
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Mengimani Adanya Kebangkitan | Rukun Kelima: Iman Kepada Hari Akhir | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
5) Yang dimaksud dengan Hari Akhir adalah hari Kiamat, di mana ketika itu seluruh manusia dibangkitkan untuk dihisab dan diberi balasan. Dinamakan hari Akhir karena tidak ada hari lagi sesudahnya. Ketika itu para penghuni Surga maupun penghuni Neraka menetap pada tempatnya masing-masing.
Iman kepada hari Akhir meliputi tiga hal:
Pertama: Mengimani adanya 'kebangkitan' (ba'ts), yaitu dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati tatkala ditiupkannya sangkakala untuk kedua kalinya. Pada hari itu seluruh manusia bangkit untuk menghadap kepada Rabb semesta alam dalam keadaan telanjang kaki tanpa alas kaki, telanjang badan tanpa mengenakan penutup, serta masih berkulup tanda disunat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"...sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya." (Al-Anbiya' [21]: 104)
Kebangkitan merupakan kebenaran yang sudah pasti, dan ini telah ditunjukkan oleh Kitab, Sunah serta ijmak kaum Muslimin.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Kemudian sesungguhnya sesudah itu kamu sekalian benar-benar akan mati. Setelah itu kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat." (Al-Mukminun [23]: 15-16)
Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda:
"Pada hari Kiamat, seluruh manusia akan dihimpun dalam keadaan tanpa alas kaki dan masih berkulup (belum sunat)." (Mutafaq 'alaih) (44)
Kaum Muslimin juga telah berijmak mengenai kepastian adanya kebangkitan itu. Ini sesuai dengan hikmah Allah 'Azza wa Jalla yang menjadikan 'tempat kembali' (akhirat) bagi makhluknya ini, untuk kemudian Dia memberikan balasan kepada mereka atas apa yang telah dibebankan-Nya kepada mereka melalui lisan para Rasul-Nya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu dengan sia-sia saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?!" (Al-Mukminun [23]: 115)
Kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Sesungguhnya yang telah mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Quran benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali..." (Al-Qashash [28]: 85)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
44. HR. Bukhari, Kitabur Riqaq, bab "Kaifal Hasyr", dan Muslim dalam Kitabul Jannah, bab "Ad-Dunya wa Bayanul Mahsyar Yaumal Qiyamah".
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
5) Yang dimaksud dengan Hari Akhir adalah hari Kiamat, di mana ketika itu seluruh manusia dibangkitkan untuk dihisab dan diberi balasan. Dinamakan hari Akhir karena tidak ada hari lagi sesudahnya. Ketika itu para penghuni Surga maupun penghuni Neraka menetap pada tempatnya masing-masing.
Iman kepada hari Akhir meliputi tiga hal:
Pertama: Mengimani adanya 'kebangkitan' (ba'ts), yaitu dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati tatkala ditiupkannya sangkakala untuk kedua kalinya. Pada hari itu seluruh manusia bangkit untuk menghadap kepada Rabb semesta alam dalam keadaan telanjang kaki tanpa alas kaki, telanjang badan tanpa mengenakan penutup, serta masih berkulup tanda disunat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"...sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya." (Al-Anbiya' [21]: 104)
Kebangkitan merupakan kebenaran yang sudah pasti, dan ini telah ditunjukkan oleh Kitab, Sunah serta ijmak kaum Muslimin.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Kemudian sesungguhnya sesudah itu kamu sekalian benar-benar akan mati. Setelah itu kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat." (Al-Mukminun [23]: 15-16)
Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda:
"Pada hari Kiamat, seluruh manusia akan dihimpun dalam keadaan tanpa alas kaki dan masih berkulup (belum sunat)." (Mutafaq 'alaih) (44)
Kaum Muslimin juga telah berijmak mengenai kepastian adanya kebangkitan itu. Ini sesuai dengan hikmah Allah 'Azza wa Jalla yang menjadikan 'tempat kembali' (akhirat) bagi makhluknya ini, untuk kemudian Dia memberikan balasan kepada mereka atas apa yang telah dibebankan-Nya kepada mereka melalui lisan para Rasul-Nya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu dengan sia-sia saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?!" (Al-Mukminun [23]: 115)
Kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Sesungguhnya yang telah mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Quran benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali..." (Al-Qashash [28]: 85)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
44. HR. Bukhari, Kitabur Riqaq, bab "Kaifal Hasyr", dan Muslim dalam Kitabul Jannah, bab "Ad-Dunya wa Bayanul Mahsyar Yaumal Qiyamah".
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Rukun Keempat: Iman Kepada Rasul | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
4) Kata rusul merupakan bentuk jamak dari kata rasul artinya mursal, yakni mab'uts (yang diutus) untuk menyampaikan sesuatu. Namun yang dimaksudkan di sini (menurut pengertian syara') adalah manusia yang diberi wahyu (oleh Allah) berupa syara', dan diberi tugas untuk menyampaikannya.
Rasul pertama adalah Nuh ('alaihis salam), dan yang terakhir adalah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu itu kepada Nuh dan Nabi-nabi sesudahnya." (An-Nisa` [4]: 163)
Dalam Shahihul Bukhari mengenai hadits syafaat disebutkan riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah menuturkan, "Kelak manusia akan datang kepada Nabi Adam agar ia berkenan memberikan syafaat kepada mereka, namun ternyata Nabi Adam meminta maaf kepada mereka (tidak bisa memberi syafaat) seraya berkata kepada mereka, 'Datanglah kepada Nuh sebagai Rasul pertama yang diutus oleh Allah...'" (42)
Tentang Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak laki-laki di antara kami, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi." (Al-Ahzab [33]: 40)
Setiap umat tidak pernah kosong dari seorang Rasul yang diutus oleh Allah 'Azza wa Jalla dengan membawa syariat tertentu untuk kaum (umat)nya, atau tidak pernah pula kosong dari seorang Nabi yang diberi wahyu (oleh Allah) dengan syariat Nabi sebelumnya untuk melakukan pembaharuan syariat tersebut. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat agar menyerukan, 'Ibadahilah Allah saja, dan jauhilah Thaghut!'" (An-Nahl [16]: 36)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." (Fathir [35]: 24)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Dengan kitab itu pula, diputuskan perkara orang-orang yahudi." (Al-Ma`idah [5]: 44)
Para Rasul adalah manusia biasa yang juga merupakan makhluk Allah. Mereka sama sekali tidak memiliki karakteristik rububiyah maupun uluhiyah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman tentang Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang merupakan 'penghulu'nya para utusan yang paling tinggi martabatnya di sisi Allah 'Azza wa Jalla, "Katakanlah (hai Muhammad), 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula kuasa untuk menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki oleh Allah. Sekiranya aku dapat mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya, dan aku tidak akan pernah ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raf [7]: 188)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tidak seorang pun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung daripada-Nya." (Al-Jinn [72]: 21-22)
Para Rasul justru mempunyai karakter-karakter kemanusiaan, seperti sakit, mati, butuh makan atau minum dan sebagainya. Dalam mensifati Rabbnya, Ibrahim 'alaihis salam berkata -sebagaimana dituturkan oleh Al-Quran-, "Dialah (Rabbku) yang telah memberikan makan dan minum. Apabila aku sakit, Dialah pula yang menyembuhkan aku. Dia juga yang mematikanku, dan kemudian menghidupkannya (kembali)." (Asy-Syu'ara [42]: 79-91)
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Aku tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kalian; aku bisa lupa serti kalian juga. Maka jika aku lupa, ingatkanlah aku!" (43)
Allah 'Azza wa Jalla mensifati para Rasul itu sebagai manusia yang menempati peringkat paling tinggi dalam menghamba (ubudiyah) kepada-Nya. Allah 'Azza wa Jalla juga memberikan pujian kepada mereka. Tentang Nabi Nuh 'alaihis salam, Allah berfirman, "Sesungguhnya Nuh adalah seorang hamba yang banyak bersyukur." (Al-Isra' [17]: 3)
Tentang Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Allah berfirman, "Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar ia menjadi juru ingat bagi seluruh alam." (Al-Furqan [25]: 1)
Tentang (Nabi) Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub 'alaihimus salaam, Allah berfirman, "Ingatlah akan hamba-hamba Kami; Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan dan wawasan yang luas. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." (Shad [38]: 45-47)
Tentang Nabi Isa putra Maryam ('alaihis salam), Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan ia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil." (Az-Zukhruf [43]: 59)
Iman kepada para Rasul terdiri atas empat perkara:
Pertama: Iman bahwa risalah mereka adalah benar-benar dari Allah 'Azza wa Jalla. Barangsiapa mengkufuri risalah mereka, sekalipun hanya salah seorang dari mereka saja, maka ia berarti telah mengkufuri seluruh Rasul yang ada. Ini berdasarkan firman Allah 'Azza wa Jalla, "Kaum Nuh telah mendustakan seluruh utusan." (Asy-Syu'ara [42]: 105)
Allah 'Azza wa Jalla telah menganggap mereka sebagai orang-orang yang mendustakan seluruh Rasul yang diutus oleh Allah, padahal ketika mereka mendustakan Rasul itu, yang ada hanyalah Nuh ('alaihis salam). Berdasarkan ini, maka kaum nasrani yang mendustakan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan tidak mau mengikuti beliau, mereka berarti mendustakan Al-Masih bin Maryam juga, dan tidak mengikuti Al-Masih. Lebih-lebih Al-Masih sendiri telah menyampaikan kabar gembira tentang Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Adalah tidak ada artinya pemberian kabar gembira kepada mereka itu dengan kedatangan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, kecuali ia memang seorang Rasul untuk mereka juga. Dengan Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) itulah, Allah akan menyelamatkan mereka dari kesesatan serta memberi mereka petunjuk ke jalan yang lurus.
Kedua: Iman kepada siapa saja di antara mereka yang kita ketahui namanya, seperti Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa dan Nuh -alaihimush shalatu was salam-. Kelima nama tersebut adalah para Rasul Ulul 'Azmi di antara Rasul-rasul yang ada. Allah 'Azza wa Jalla telah menyebut mereka pada dua tempat (surat) di dalam Al-Quran; surat Al-Ahzab dan Asy-Syu'ara. Firman Allah, "Ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari Nabi-nabi dan dari kamu sendiri (Muhammad), Nuh, Ibrahim, Musa serta Isa putra Maryam." (Al-Ahzab [33]: 7)
"Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, juga yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan 'Isa, yaitu 'Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya..." (Asy-Syu'ara [42]: 13)
Adapun terhadap para Rasul yang tidak kita ketahui nama-namanya, kita imani mereka secara global. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Sungguh telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu." (Al-Mu'min [40]: 78)
Ketiga: Membenarkan berita-berita mereka yang sah (sahih).
Keempat: Mengamalkan syariat salah seorang di antara para Rasul itu yang diutus kepada kita. Dia adalah penutup para Rasul, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang diutus kepada seluruh umat manusia. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Maka demi Rabbmu, mereka pada hakikatnya tidaklah beriman sehingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan suatu keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisa' [4]: 65)
Iman kepada para Rasul mempunyai buah yang sangat agung, di antaranya:
1. Mengetahui akan rahmat Allah 'Azza wa Jalla dan perhatian-Nya terhadap para hamba-Nya dengan mengutus para Rasul kepada mereka, agar para Rasul itu memberi petunjuk mereka ke jalan Allah 'Azza wa Jalla serta menjelaskan bagaimana seharusnya mereka beribadah kepada Allah. Sebab akal manusia tidak memadai untuk mengetahui hal itu.
2. Mensyukuri nikmat Allah yang amat besar ini.
3. Mencintai para Rasul, mengagungkan mereka, serta memberikan pujian yang layak buat mereka. Sebab, mereka adalah para utusan Allah 'Azza wa Jalla dan juga karena mereka menunaikan penghambaan kepada-Nya, menyampaikan risalah-Nya serta memberikan nasihat kepada para hamba-Nya.
Namun orang-orang yang membangkang telah mendustakan para Rasul itu dengan beranggapan bahwa para utusan Allah 'Azza wa Jalla itu bukan dari golongan manusia. Allah 'Azza wa Jalla sendiri yang mengungkap adanya anggapan (keyakinan) ini dan sekaligus juga yang membatalkannya melalui firman-Nya:
"Tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka, 'Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi Rasul?' Katakanlah, 'Sekiranya ada Malaikat-malaikat yang berjalan-jalan dengan tenang sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit seorang Malaikat sebagai Rasul'." (Al-Isra' [17]: 94-95)
Allah 'Azza wa Jalla menggugurkan anggapan yang keliru ini. Allah menegaskan bahwa Rasul itu harus berupa manusia, karena ia diutus untuk penduduk bumi yang juga adalah manusia. Seandainya penduduk bumi adalah para Malaikat, pasti Allah akan menurunkan kepada mereka seorang Malaikat dari langit sebagai Rasul, agar bangsanya sama dengan bangsa mereka. Demikianlah, Allah 'Azza wa Jalla juga telah menuturkan tentang orang-orang yang mendustakan para Rasul bahwa mereka itu mengatakan, "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi kami dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami. Karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata!" Rasul-rasul mereka itu lantas berkata kepada mereka, "Memang kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Tidaklah patut bagi kami untuk mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah." (Ibrahim [14]: 10-11)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
42. HR. Al-Bukhari, Kitabut Tauhid, bab "Kalamullah ma'al Anbiya` yaumal Qiyamah"; dan juga Muslim, Kitabul Iman, bab "Adna Ahlil Jannah Manzilan".
43. HR. Bukhari dalam Kitabul Qiblah, bab "At-Tawajjuh Nahwal Qiblah Haitsu Kana"; dan juga Muslim dalam Kitabul Masajid, bab "As-Sahwu fish Shalati was Sujudu lahu".
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
4) Kata rusul merupakan bentuk jamak dari kata rasul artinya mursal, yakni mab'uts (yang diutus) untuk menyampaikan sesuatu. Namun yang dimaksudkan di sini (menurut pengertian syara') adalah manusia yang diberi wahyu (oleh Allah) berupa syara', dan diberi tugas untuk menyampaikannya.
Rasul pertama adalah Nuh ('alaihis salam), dan yang terakhir adalah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu itu kepada Nuh dan Nabi-nabi sesudahnya." (An-Nisa` [4]: 163)
Dalam Shahihul Bukhari mengenai hadits syafaat disebutkan riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah menuturkan, "Kelak manusia akan datang kepada Nabi Adam agar ia berkenan memberikan syafaat kepada mereka, namun ternyata Nabi Adam meminta maaf kepada mereka (tidak bisa memberi syafaat) seraya berkata kepada mereka, 'Datanglah kepada Nuh sebagai Rasul pertama yang diutus oleh Allah...'" (42)
Tentang Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak laki-laki di antara kami, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi." (Al-Ahzab [33]: 40)
Setiap umat tidak pernah kosong dari seorang Rasul yang diutus oleh Allah 'Azza wa Jalla dengan membawa syariat tertentu untuk kaum (umat)nya, atau tidak pernah pula kosong dari seorang Nabi yang diberi wahyu (oleh Allah) dengan syariat Nabi sebelumnya untuk melakukan pembaharuan syariat tersebut. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat agar menyerukan, 'Ibadahilah Allah saja, dan jauhilah Thaghut!'" (An-Nahl [16]: 36)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." (Fathir [35]: 24)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Dengan kitab itu pula, diputuskan perkara orang-orang yahudi." (Al-Ma`idah [5]: 44)
Para Rasul adalah manusia biasa yang juga merupakan makhluk Allah. Mereka sama sekali tidak memiliki karakteristik rububiyah maupun uluhiyah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman tentang Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang merupakan 'penghulu'nya para utusan yang paling tinggi martabatnya di sisi Allah 'Azza wa Jalla, "Katakanlah (hai Muhammad), 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula kuasa untuk menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki oleh Allah. Sekiranya aku dapat mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya, dan aku tidak akan pernah ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raf [7]: 188)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tidak seorang pun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung daripada-Nya." (Al-Jinn [72]: 21-22)
Para Rasul justru mempunyai karakter-karakter kemanusiaan, seperti sakit, mati, butuh makan atau minum dan sebagainya. Dalam mensifati Rabbnya, Ibrahim 'alaihis salam berkata -sebagaimana dituturkan oleh Al-Quran-, "Dialah (Rabbku) yang telah memberikan makan dan minum. Apabila aku sakit, Dialah pula yang menyembuhkan aku. Dia juga yang mematikanku, dan kemudian menghidupkannya (kembali)." (Asy-Syu'ara [42]: 79-91)
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Aku tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kalian; aku bisa lupa serti kalian juga. Maka jika aku lupa, ingatkanlah aku!" (43)
Allah 'Azza wa Jalla mensifati para Rasul itu sebagai manusia yang menempati peringkat paling tinggi dalam menghamba (ubudiyah) kepada-Nya. Allah 'Azza wa Jalla juga memberikan pujian kepada mereka. Tentang Nabi Nuh 'alaihis salam, Allah berfirman, "Sesungguhnya Nuh adalah seorang hamba yang banyak bersyukur." (Al-Isra' [17]: 3)
Tentang Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Allah berfirman, "Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar ia menjadi juru ingat bagi seluruh alam." (Al-Furqan [25]: 1)
Tentang (Nabi) Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub 'alaihimus salaam, Allah berfirman, "Ingatlah akan hamba-hamba Kami; Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan dan wawasan yang luas. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." (Shad [38]: 45-47)
Tentang Nabi Isa putra Maryam ('alaihis salam), Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan ia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil." (Az-Zukhruf [43]: 59)
Iman kepada para Rasul terdiri atas empat perkara:
Pertama: Iman bahwa risalah mereka adalah benar-benar dari Allah 'Azza wa Jalla. Barangsiapa mengkufuri risalah mereka, sekalipun hanya salah seorang dari mereka saja, maka ia berarti telah mengkufuri seluruh Rasul yang ada. Ini berdasarkan firman Allah 'Azza wa Jalla, "Kaum Nuh telah mendustakan seluruh utusan." (Asy-Syu'ara [42]: 105)
Allah 'Azza wa Jalla telah menganggap mereka sebagai orang-orang yang mendustakan seluruh Rasul yang diutus oleh Allah, padahal ketika mereka mendustakan Rasul itu, yang ada hanyalah Nuh ('alaihis salam). Berdasarkan ini, maka kaum nasrani yang mendustakan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan tidak mau mengikuti beliau, mereka berarti mendustakan Al-Masih bin Maryam juga, dan tidak mengikuti Al-Masih. Lebih-lebih Al-Masih sendiri telah menyampaikan kabar gembira tentang Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Adalah tidak ada artinya pemberian kabar gembira kepada mereka itu dengan kedatangan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, kecuali ia memang seorang Rasul untuk mereka juga. Dengan Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) itulah, Allah akan menyelamatkan mereka dari kesesatan serta memberi mereka petunjuk ke jalan yang lurus.
Kedua: Iman kepada siapa saja di antara mereka yang kita ketahui namanya, seperti Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa dan Nuh -alaihimush shalatu was salam-. Kelima nama tersebut adalah para Rasul Ulul 'Azmi di antara Rasul-rasul yang ada. Allah 'Azza wa Jalla telah menyebut mereka pada dua tempat (surat) di dalam Al-Quran; surat Al-Ahzab dan Asy-Syu'ara. Firman Allah, "Ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari Nabi-nabi dan dari kamu sendiri (Muhammad), Nuh, Ibrahim, Musa serta Isa putra Maryam." (Al-Ahzab [33]: 7)
"Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, juga yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan 'Isa, yaitu 'Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya..." (Asy-Syu'ara [42]: 13)
Adapun terhadap para Rasul yang tidak kita ketahui nama-namanya, kita imani mereka secara global. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Sungguh telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu." (Al-Mu'min [40]: 78)
Ketiga: Membenarkan berita-berita mereka yang sah (sahih).
Keempat: Mengamalkan syariat salah seorang di antara para Rasul itu yang diutus kepada kita. Dia adalah penutup para Rasul, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang diutus kepada seluruh umat manusia. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Maka demi Rabbmu, mereka pada hakikatnya tidaklah beriman sehingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan suatu keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisa' [4]: 65)
Iman kepada para Rasul mempunyai buah yang sangat agung, di antaranya:
1. Mengetahui akan rahmat Allah 'Azza wa Jalla dan perhatian-Nya terhadap para hamba-Nya dengan mengutus para Rasul kepada mereka, agar para Rasul itu memberi petunjuk mereka ke jalan Allah 'Azza wa Jalla serta menjelaskan bagaimana seharusnya mereka beribadah kepada Allah. Sebab akal manusia tidak memadai untuk mengetahui hal itu.
2. Mensyukuri nikmat Allah yang amat besar ini.
3. Mencintai para Rasul, mengagungkan mereka, serta memberikan pujian yang layak buat mereka. Sebab, mereka adalah para utusan Allah 'Azza wa Jalla dan juga karena mereka menunaikan penghambaan kepada-Nya, menyampaikan risalah-Nya serta memberikan nasihat kepada para hamba-Nya.
Namun orang-orang yang membangkang telah mendustakan para Rasul itu dengan beranggapan bahwa para utusan Allah 'Azza wa Jalla itu bukan dari golongan manusia. Allah 'Azza wa Jalla sendiri yang mengungkap adanya anggapan (keyakinan) ini dan sekaligus juga yang membatalkannya melalui firman-Nya:
"Tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka, 'Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi Rasul?' Katakanlah, 'Sekiranya ada Malaikat-malaikat yang berjalan-jalan dengan tenang sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit seorang Malaikat sebagai Rasul'." (Al-Isra' [17]: 94-95)
Allah 'Azza wa Jalla menggugurkan anggapan yang keliru ini. Allah menegaskan bahwa Rasul itu harus berupa manusia, karena ia diutus untuk penduduk bumi yang juga adalah manusia. Seandainya penduduk bumi adalah para Malaikat, pasti Allah akan menurunkan kepada mereka seorang Malaikat dari langit sebagai Rasul, agar bangsanya sama dengan bangsa mereka. Demikianlah, Allah 'Azza wa Jalla juga telah menuturkan tentang orang-orang yang mendustakan para Rasul bahwa mereka itu mengatakan, "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi kami dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami. Karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata!" Rasul-rasul mereka itu lantas berkata kepada mereka, "Memang kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Tidaklah patut bagi kami untuk mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah." (Ibrahim [14]: 10-11)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
42. HR. Al-Bukhari, Kitabut Tauhid, bab "Kalamullah ma'al Anbiya` yaumal Qiyamah"; dan juga Muslim, Kitabul Iman, bab "Adna Ahlil Jannah Manzilan".
43. HR. Bukhari dalam Kitabul Qiblah, bab "At-Tawajjuh Nahwal Qiblah Haitsu Kana"; dan juga Muslim dalam Kitabul Masajid, bab "As-Sahwu fish Shalati was Sujudu lahu".
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Rukun Ketiga: Iman Kepada Kitab-kitab | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
3) Kata kitab -yang dalam bahasa Arab memiliki bentuk jamak kutub- bermakna maktub (sesuatu yang ditulis).
Yang dimaksudkan di sini adalah kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah 'Azza wa Jalla kepada para Rasul-Nya sebagai rahmat dan hidayah (petunjuk) bagi makhluk, agar dengan kitab-kitab itu mereka dapat meraih kebahagiaannya di dunia maupun akhirat.
Iman kepada kitab-kitab Allah meliputi empat hal:
Pertama: Iman bahwa turunnya kitab-kitab itu benar-benar dari sisi Allah 'Azza wa Jalla.
Kedua: Iman dengan nama kitab yang kita ketahui, seperti Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa 'alaihis salam, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa 'alaihis salam, dan Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud 'alaihis salam. Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, kita imani secara global.
Ketiga: Membenarkan berita-beritanya yang benar, seperti berita-berita mengenai Al-Quran dan juga berita-berita lainnya yang tidak diganti atau dirubah, dari kitab-kitab terdahulu (sebelum Al-Quran).
Keempat: Mengamalkan hukum-hukumnya yang tidak dinasakh, serta dengan rela (ridha) dan pasrah menerimanya, entah kita ketahui hikmahnya ataupun tidak kita ketahui.
Seluruh kitab-kitab terdahulu telah termansukhkan oleh Al-Quran yang agung.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Kami telah menurunkan kepadamu kitab Al-Quran dengan kebenaran; membenarkan kitab-kitab yang ada di depannya (yang turun sebelumnya) dan sebagai muhaimin atas kitab-kitab tersebut..." (Al-Ma`idah [5]: 48)
Artinya, sebagai 'hakim' atas kitab-kitab itu. Berdasarkan ini, maka tidak dibolehkan mengamalkan hukum apa pun dari hukum-hukum kitab terdahulu, kecuali yang sah (shahih) dan diakui oleh Al-Quran.
Iman kepada kitab-kitab Allah akan menghasilkan berbagai buah yang agung, di antaranya:
* Mengetahui perhatian Allah 'Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya dengan menurunkan kitab kepada setiap kaum sebagai petunjuk bagi mereka.
* Mengetahui hikmah Allah 'Azza wa Jalla mengenai syariat-Nya, di mana Dia telah membuatkan syariat untuk setiap kaum yang sesuai dengan kondisi mereka. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Masing-masing umat di antara kamu, Kami buatkan syariat dan minhaj." (Al-Ma`idah [5]: 48)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
3) Kata kitab -yang dalam bahasa Arab memiliki bentuk jamak kutub- bermakna maktub (sesuatu yang ditulis).
Yang dimaksudkan di sini adalah kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah 'Azza wa Jalla kepada para Rasul-Nya sebagai rahmat dan hidayah (petunjuk) bagi makhluk, agar dengan kitab-kitab itu mereka dapat meraih kebahagiaannya di dunia maupun akhirat.
Iman kepada kitab-kitab Allah meliputi empat hal:
Pertama: Iman bahwa turunnya kitab-kitab itu benar-benar dari sisi Allah 'Azza wa Jalla.
Kedua: Iman dengan nama kitab yang kita ketahui, seperti Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa 'alaihis salam, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa 'alaihis salam, dan Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud 'alaihis salam. Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, kita imani secara global.
Ketiga: Membenarkan berita-beritanya yang benar, seperti berita-berita mengenai Al-Quran dan juga berita-berita lainnya yang tidak diganti atau dirubah, dari kitab-kitab terdahulu (sebelum Al-Quran).
Keempat: Mengamalkan hukum-hukumnya yang tidak dinasakh, serta dengan rela (ridha) dan pasrah menerimanya, entah kita ketahui hikmahnya ataupun tidak kita ketahui.
Seluruh kitab-kitab terdahulu telah termansukhkan oleh Al-Quran yang agung.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Kami telah menurunkan kepadamu kitab Al-Quran dengan kebenaran; membenarkan kitab-kitab yang ada di depannya (yang turun sebelumnya) dan sebagai muhaimin atas kitab-kitab tersebut..." (Al-Ma`idah [5]: 48)
Artinya, sebagai 'hakim' atas kitab-kitab itu. Berdasarkan ini, maka tidak dibolehkan mengamalkan hukum apa pun dari hukum-hukum kitab terdahulu, kecuali yang sah (shahih) dan diakui oleh Al-Quran.
Iman kepada kitab-kitab Allah akan menghasilkan berbagai buah yang agung, di antaranya:
* Mengetahui perhatian Allah 'Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya dengan menurunkan kitab kepada setiap kaum sebagai petunjuk bagi mereka.
* Mengetahui hikmah Allah 'Azza wa Jalla mengenai syariat-Nya, di mana Dia telah membuatkan syariat untuk setiap kaum yang sesuai dengan kondisi mereka. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Masing-masing umat di antara kamu, Kami buatkan syariat dan minhaj." (Al-Ma`idah [5]: 48)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Buah Iman kepada para Malaikat | Rukun Kedua: Iman Kepada para Malaikat | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Iman kepada Malaikat akan menghasilkan buah yang agung, di antaranya:
1. Mengetahui akan keagungan Allah 'Azza wa Jalla, kekuatan-Nya serta kekuasaan-Nya. Keagungan makhluk merupakan bagian dan keagungan Khaliq.
2. Terima kasih (syukur) kepada Allah 'Azza wa Jalla atas perhatian-Nya terhadap Bani Adam, di mana Dia telah memasrahkan kepada sebagian dari para Malaikat itu untuk menjaga (mengawasi) mereka, mencatat amal perbuatan mereka, serta kemaslahatan-kemaslahatan mereka yang lainnya.
3. Mencintai para Malaikat atas apa yang telah mereka tunaikan berupa penyembahan (ibadah) kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Ada kaum dari kalangan orang-orang yang menyimpang yang mengingkari keberadaan Malaikat itu berjisim (mempunyai struktur tubuh atau bentuk). Mereka mengatakan bahwa Malaikat itu merupakan sebuah ungkapan mengenai berbagai kekuatan kebaikan yang tersembunyi pada diri para makhluk. Ini berarti mendustakan Kitab Allah, Sunah Rasul-Nya serta ijmak kaum Muslimin. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi yang telah menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan yang memiliki sayap; masing-masing ada yang dua, tiga atau empat..." (Fathir [35]: 1)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Sekiranya kamu melihat ketika para Malaikat mencabut jiwa orang-orang kafir dengan memukul bagian muka dan belakang mereka..." (Al-Anfal [8]: 50)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"... Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim berada dalam keadaan gharamatul maut, sedangkan para Malaikat membentangkan tangannya seraya berkata, 'Keluarkan nyawamu...!'" (Al-An'am [6]: 93)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"...sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Perkataan yang benar. Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.'" (Saba' [34]: 23)
"...sedangkan para Malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari segala pintu, sambil mengatakan, 'Kesejahteraan buat kalian atas kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.'" (Ar-Ra'd [13]: 23-24)
Dalam Shahihul Bukhari disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda,
"Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril (seraya mengatakan), 'Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia!' Jibril pun akhirnya mencintai si Fulan itu. Setelah itu, Jibril berseru di hadapan para penghuni langit (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia!' Akhirnya para penghuni langit itu pun ikut pula mencintai si Fulan tersebut. Kemudian dikabulkanlah permohonannya di dunia." (40)
Di dalam Shahihul Bukhari juga disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda,
"Jika hari Jum'at tiba, maka pada setiap pintu masjid yang ada, terdapat para Malaikat yang mencatat orang yang datang lebih awal dan seterusnya. Dan ketika imam telah duduk, maka para Malaikat itu pun melipat lembaran-lembaran catatan itu dan segera mulai mendengarkan peringatan (khutbah)." (41)
Nash-nash ini dengan gamblang menunjukkan bahwa para Malaikat itu berjisim, bukan sekedar kekuatan maknawi, seperti yang dikatakan oleh mereka yang menyimpang itu. Berdasarkan konsekuensi dari nash-nash inilah kaum Muslimin berijmak.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
40. HR. Bukhari, kitab Bad'ul Khalq, bab "Dzikrul Malaikah"; dan Muslim dalam kitab Al-Birr wash Shilah, bab "Idza Ahabballahu 'Abdan Habbabahu ila 'Ibadihi".
41. HR. Al-Bukhari, Kitabul Jumu'ah, bab "Al-Istima' ilal Khutbah"; dan juga Muslim, Kitabul Jumu'ah, bab "Fadhluth Tahjir Yaumal Jumu'ah".
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Iman kepada Malaikat akan menghasilkan buah yang agung, di antaranya:
1. Mengetahui akan keagungan Allah 'Azza wa Jalla, kekuatan-Nya serta kekuasaan-Nya. Keagungan makhluk merupakan bagian dan keagungan Khaliq.
2. Terima kasih (syukur) kepada Allah 'Azza wa Jalla atas perhatian-Nya terhadap Bani Adam, di mana Dia telah memasrahkan kepada sebagian dari para Malaikat itu untuk menjaga (mengawasi) mereka, mencatat amal perbuatan mereka, serta kemaslahatan-kemaslahatan mereka yang lainnya.
3. Mencintai para Malaikat atas apa yang telah mereka tunaikan berupa penyembahan (ibadah) kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Ada kaum dari kalangan orang-orang yang menyimpang yang mengingkari keberadaan Malaikat itu berjisim (mempunyai struktur tubuh atau bentuk). Mereka mengatakan bahwa Malaikat itu merupakan sebuah ungkapan mengenai berbagai kekuatan kebaikan yang tersembunyi pada diri para makhluk. Ini berarti mendustakan Kitab Allah, Sunah Rasul-Nya serta ijmak kaum Muslimin. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi yang telah menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan yang memiliki sayap; masing-masing ada yang dua, tiga atau empat..." (Fathir [35]: 1)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Sekiranya kamu melihat ketika para Malaikat mencabut jiwa orang-orang kafir dengan memukul bagian muka dan belakang mereka..." (Al-Anfal [8]: 50)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"... Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim berada dalam keadaan gharamatul maut, sedangkan para Malaikat membentangkan tangannya seraya berkata, 'Keluarkan nyawamu...!'" (Al-An'am [6]: 93)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"...sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Rabbmu?' Mereka menjawab, 'Perkataan yang benar. Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.'" (Saba' [34]: 23)
"...sedangkan para Malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari segala pintu, sambil mengatakan, 'Kesejahteraan buat kalian atas kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.'" (Ar-Ra'd [13]: 23-24)
Dalam Shahihul Bukhari disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda,
"Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril (seraya mengatakan), 'Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia!' Jibril pun akhirnya mencintai si Fulan itu. Setelah itu, Jibril berseru di hadapan para penghuni langit (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia!' Akhirnya para penghuni langit itu pun ikut pula mencintai si Fulan tersebut. Kemudian dikabulkanlah permohonannya di dunia." (40)
Di dalam Shahihul Bukhari juga disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda,
"Jika hari Jum'at tiba, maka pada setiap pintu masjid yang ada, terdapat para Malaikat yang mencatat orang yang datang lebih awal dan seterusnya. Dan ketika imam telah duduk, maka para Malaikat itu pun melipat lembaran-lembaran catatan itu dan segera mulai mendengarkan peringatan (khutbah)." (41)
Nash-nash ini dengan gamblang menunjukkan bahwa para Malaikat itu berjisim, bukan sekedar kekuatan maknawi, seperti yang dikatakan oleh mereka yang menyimpang itu. Berdasarkan konsekuensi dari nash-nash inilah kaum Muslimin berijmak.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
40. HR. Bukhari, kitab Bad'ul Khalq, bab "Dzikrul Malaikah"; dan Muslim dalam kitab Al-Birr wash Shilah, bab "Idza Ahabballahu 'Abdan Habbabahu ila 'Ibadihi".
41. HR. Al-Bukhari, Kitabul Jumu'ah, bab "Al-Istima' ilal Khutbah"; dan juga Muslim, Kitabul Jumu'ah, bab "Fadhluth Tahjir Yaumal Jumu'ah".
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Mengimani Wujud, Nama-nama, Sifat-sifat, Pekerjaan Malaikat | Rukun Kedua: Iman Kepada para Malaikat | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
2) Malaikat adalah makhluk gaib yang selalu beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla. Mereka sama sekali tidak mempunyai karakteristik rububiyah maupun uluhiyah sedikit pun. Allah 'Azza wa Jalla menciptakan mereka dari cahaya (nur) dan telah memberikan sifat ketundukan yang sempurna kepada mereka, serta memberikan kekuatan untuk menunaikannya.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Dan Malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk mengibadahi-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tanpa ada hentinya." (Al-Anbiya` [21]: 19-20)
Jumlah mereka banyak sekali sehingga tiada yang dapat menghitungnya kecuali Allah 'Azza wa Jalla. Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadits yang berasal dari Anas bin Malik (radhiyallahu 'anhu) tentang kisah Mi'raj, bahwa Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) diperlihatkan Al-Baitul Ma'mur di langit. Padanya setiap hari terdapat tujuh puluh ribu Malaikat yang menunaikan shalat. Jika mereka itu telah keluar (selesai shalat), mereka itu takkan pernah kembali ke situ. (38)
Iman kepada Malaikat mencakup empat perkara:
Pertama: Iman dengan adanya mereka.
Kedua: Iman dengan siapa saja dari mereka yang kita ketahui namanya, seperti Jibril ('alaihis salam). Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, kita imani secara ijmal (global).
Ketiga: Iman dengan sifat-sifat mereka yang kita ketahui, seperti sifat Jibril ('alaihis salam), di mana Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) telah mengabarkan bahwa beliau pernah melihat Jibril dalam sifatnya yang asli, yang ternyata mempunyai enam ratus sayap yang dapat menutupi cakrawala. (39) Kadangkala, dengan perintah Allah 'Azza wa Jalla Malaikat dapat berubah (menjelma) dalam bentuk seorang lelaki, seperti yang pernah terjadi pada diri Jibril ketika diutus oleh Allah 'Azza wa Jalla kepada Maryam, lalu Jibril menjelma menjadi manusia yang utuh (sempurna). Juga seperti yang pernah terjadi ketika Jibril mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau sedang duduk di tengah-tengah para sahabat.
Jibril mendatangi beliau dengan karakter seorang lelaki yang mengenakan pakaian sangat putih, rambutnya hitam pekat, tiada terlihat bekas bepergian padanya, dan tak seorang pun di antara sahabat yang mengenalnya. Ia kemudian duduk di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua paha Nabi. Selanjutnya ia menanyakan kepada Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) tentang Islam, Iman, Ihsan serta tentang Kiamat dan tanda-tandanya. Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) kemudian menjawabnya, lalu ia pun pergi. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkata, "Ini tadi adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian!" (HR. Muslim)
Demikian juga para Malaikat yang diutus oleh Allah 'Azza wa Jalla kepada Ibrahim dan Luth ('alaihimas salam). Mereka datang dalam bentuk seorang laki-laki.
Keempat: Iman dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka yang mereka tunaikan berdasarkan perintah Allah 'Azza wa Jalla, seperti mensucikan-Nya (bertasbih) dan beribadah kepada-Nya siang dan malam tanpa kenal lelah dan tanpa pernah berhenti.
Ada sebagian dari mereka yang mempunyai pekerjaan-pekerjaan khusus. Misalnya:
* Jibril dipercaya untuk menyampaikan wahyu Allah 'Azza wa Jalla. Allah mengutusnya kepada para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan wahyu.
* Mikail diserahi untuk mengatur hujan dan tumbuh-tumbuhan.
* Israfil diberi tugas untuk meniup sangkakala pada saat Kiamat tiba dan dibangkitkannya makhluk.
* Malakul maut diserahi untuk menggenggam (mencabut) nyawa ketika terjadi kematian.
* Malik diserahi untuk menjaga Neraka. Dia adalah Malaikat penjaga Neraka.
* Para Malaikat yang diserahi untuk mengatur janin di dalam rahim. Jika seorang manusia telah sempurna empat bulan di dalam perut (kandungan) ibunya, maka Allah 'Azza wa Jalla mengutus seorang Malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya dan sengsara atau bahagianya.
* Para Malaikat yang dipasrahi untuk mengawasi amal perbuatan Bani Adam (manusia) serta mencatatnya. Untuk setiap orang terdapat dua Malaikat, yang satu di sebelah kanan dan satunya lagi di sebelah kiri.
* Para Malaikat yang diserahi untuk menanyai mayit ketika telah diletakkan di dalam kuburnya. Ketika itu, dua Malaikat mendatanginya untuk menanyakan kepadanya tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
38. HR. Bukhari, kitab Bad'ul Khulq, bab "Dzikrul Malaikah", dan Muslim, kitab Al-Iman, bab "Al-Isra` bi Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa Sallam wa Fardhish Shalawat".
39. HR. Bukhari, kitab Bad'ul Khulq, 3232-3233.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Kedua.
Ma'rifatud Din.
Mengenal Dinul Islam.
2) Malaikat adalah makhluk gaib yang selalu beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla. Mereka sama sekali tidak mempunyai karakteristik rububiyah maupun uluhiyah sedikit pun. Allah 'Azza wa Jalla menciptakan mereka dari cahaya (nur) dan telah memberikan sifat ketundukan yang sempurna kepada mereka, serta memberikan kekuatan untuk menunaikannya.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Dan Malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk mengibadahi-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tanpa ada hentinya." (Al-Anbiya` [21]: 19-20)
Jumlah mereka banyak sekali sehingga tiada yang dapat menghitungnya kecuali Allah 'Azza wa Jalla. Dalam Ash-Shahihain disebutkan hadits yang berasal dari Anas bin Malik (radhiyallahu 'anhu) tentang kisah Mi'raj, bahwa Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) diperlihatkan Al-Baitul Ma'mur di langit. Padanya setiap hari terdapat tujuh puluh ribu Malaikat yang menunaikan shalat. Jika mereka itu telah keluar (selesai shalat), mereka itu takkan pernah kembali ke situ. (38)
Iman kepada Malaikat mencakup empat perkara:
Pertama: Iman dengan adanya mereka.
Kedua: Iman dengan siapa saja dari mereka yang kita ketahui namanya, seperti Jibril ('alaihis salam). Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, kita imani secara ijmal (global).
Ketiga: Iman dengan sifat-sifat mereka yang kita ketahui, seperti sifat Jibril ('alaihis salam), di mana Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) telah mengabarkan bahwa beliau pernah melihat Jibril dalam sifatnya yang asli, yang ternyata mempunyai enam ratus sayap yang dapat menutupi cakrawala. (39) Kadangkala, dengan perintah Allah 'Azza wa Jalla Malaikat dapat berubah (menjelma) dalam bentuk seorang lelaki, seperti yang pernah terjadi pada diri Jibril ketika diutus oleh Allah 'Azza wa Jalla kepada Maryam, lalu Jibril menjelma menjadi manusia yang utuh (sempurna). Juga seperti yang pernah terjadi ketika Jibril mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau sedang duduk di tengah-tengah para sahabat.
Jibril mendatangi beliau dengan karakter seorang lelaki yang mengenakan pakaian sangat putih, rambutnya hitam pekat, tiada terlihat bekas bepergian padanya, dan tak seorang pun di antara sahabat yang mengenalnya. Ia kemudian duduk di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua paha Nabi. Selanjutnya ia menanyakan kepada Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) tentang Islam, Iman, Ihsan serta tentang Kiamat dan tanda-tandanya. Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) kemudian menjawabnya, lalu ia pun pergi. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkata, "Ini tadi adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian!" (HR. Muslim)
Demikian juga para Malaikat yang diutus oleh Allah 'Azza wa Jalla kepada Ibrahim dan Luth ('alaihimas salam). Mereka datang dalam bentuk seorang laki-laki.
Keempat: Iman dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka yang mereka tunaikan berdasarkan perintah Allah 'Azza wa Jalla, seperti mensucikan-Nya (bertasbih) dan beribadah kepada-Nya siang dan malam tanpa kenal lelah dan tanpa pernah berhenti.
Ada sebagian dari mereka yang mempunyai pekerjaan-pekerjaan khusus. Misalnya:
* Jibril dipercaya untuk menyampaikan wahyu Allah 'Azza wa Jalla. Allah mengutusnya kepada para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan wahyu.
* Mikail diserahi untuk mengatur hujan dan tumbuh-tumbuhan.
* Israfil diberi tugas untuk meniup sangkakala pada saat Kiamat tiba dan dibangkitkannya makhluk.
* Malakul maut diserahi untuk menggenggam (mencabut) nyawa ketika terjadi kematian.
* Malik diserahi untuk menjaga Neraka. Dia adalah Malaikat penjaga Neraka.
* Para Malaikat yang diserahi untuk mengatur janin di dalam rahim. Jika seorang manusia telah sempurna empat bulan di dalam perut (kandungan) ibunya, maka Allah 'Azza wa Jalla mengutus seorang Malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya dan sengsara atau bahagianya.
* Para Malaikat yang dipasrahi untuk mengawasi amal perbuatan Bani Adam (manusia) serta mencatatnya. Untuk setiap orang terdapat dua Malaikat, yang satu di sebelah kanan dan satunya lagi di sebelah kiri.
* Para Malaikat yang diserahi untuk menanyai mayit ketika telah diletakkan di dalam kuburnya. Ketika itu, dua Malaikat mendatanginya untuk menanyakan kepadanya tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
38. HR. Bukhari, kitab Bad'ul Khulq, bab "Dzikrul Malaikah", dan Muslim, kitab Al-Iman, bab "Al-Isra` bi Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa Sallam wa Fardhish Shalawat".
39. HR. Bukhari, kitab Bad'ul Khulq, 3232-3233.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Mengimani Asma` dan Sifat-Nya, Buah Iman kepada Allah | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Keempat: Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat--Nya.
Artinya, menetapkan apa saja yang telah ditetapkan oleh Allah 'Azza wa Jalla bagi diri-Nya yang tersebut dalam Kitab-Nya atau Sunah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam tentang nama-nama (asma`) dan sifat-sifat yang sesuai dengan kelayakan bagi-Nya, tanpa (melakukan) tahrif, ta`thil, takyif, dan tamtsil. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Hanya milik Allah nama-nama yang baik, maka serulah Dia dengan (menggunakan) nama-nama baik itu. Tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran berkenaan dengan nama-nama-Nya itu. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf [7]: 180)
Hanya milik-Nya sifat Yang Maha Tinggi di langit maupun di bumi. Firman Allah 'Azza wa Jalla, "Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat." (Asy-Syu'ara [26]: 11)
Dalam masalah ini ada dua golongan yang tersesat:
Pertama: Golongan mu`athilah.
Mereka adalah golongan yang mengingkari seluruh asma` dan sifat Allah, atau mengingkari sebagiannya, dengan anggapan (alasan) bahwa penetapan asma` dan sifat-sifat itu berarti menuntut adanya penyerupaan (tasybih); yaitu penyerupaan Allah 'Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya. Anggapan semacam ini adalah batil ditinjau dari berbagai sudut; di antaranya:
* Hal itu akan melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang batil, seperti kontradiksi mengenai firman-firman Allah. Sebab, Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi diri-Nya serta telah menyatakan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Jika penetapan asma` dan sifat itu menuntut adanya penyerupaan (tasybih), tentu hal ini menuntut adanya kontradiksi dalam firman Allah serta adanya satu firman yang mendustakan firman lainnya.
* Adanya kesesuaian (kesamaan) antara dua hal mengenai nama atau sifat, tidak mengharuskan keduanya sama. Anda dapat melihat adanya dua orang yang sama-sama sebagai manusia yang mendengar, melihat dan dapat berbicara. Namun kesamaan itu tidak mengharuskan adanya kesamaan di antara keduanya mengenai makna-makna kemanusiaan, pendengaran, penglihatan dan pembicaraan. Anda juga melihat berbagai binatang yang sama-sama mempunyai tangan, kaki dan mata. Namun kesamaan seperti itu tidak mengharuskan kesamaan (persis) mengenai tangan, kaki dan mata seluruh macam binatang tersebut.
Jika telah jelas adanya perbedaan antara berbagai makhluk dalam hal yang terdapat kesamaannya mengenai nama atau sifatnya, maka perbedaan antara Khaliq dengan makhluk tentunya jauh lebih jelas dan lebih besar.
Kedua: Golongan Musyabihah.
Mereka adalah orang-orang yang menetapkan asma` dan sifat, namun mereka menyerupakan Allah 'Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya. Mereka beranggapan bahwa ini merupakan konsekuensi dan petunjuk nash-nash yang ada, karena Allah 'Azza wa Jalla mengatakan kepada para hamba-Nya dengan ungkapan yang dapat mereka pahami. Anggapan ini adalah batil ditinjau dari berbagai sudut; di antaranya:
* Keserupaan Allah 'Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya merupakan perkara yang batil, yang dibatilkan oleh akal maupun syara'. Dan tidak mungkin bila konsekuensi dari nash-nash Kitab dan Sunnah itu merupakan hal yang batil.
* Allah 'Azza wa Jalla memang mengatakan kepada para hamba-Nya dengan ungkapan yang dapat mereka pahami dari segi asal maknanya. Adapun hakikat yang dikandung oleh makna tersebut termasuk perkara yang hanya diketahui oleh Allah 'Azza wa Jalla, termasuk mengenai sesuatu yang berkaitan dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.
Jika Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan bagi diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, maka pendengaran itu dapat kita ketahui bersama dari segi asal maknanya, yaitu penangkapan terhadap suara. Akan tetapi hakikat dari hal itu, jika dinisbatkan kepada pendengaran Allah 'Azza wa Jalla, maka hal itu tidak kita ketahui. Karena hakikat pendengaran itu berbeda-beda, sekalipun antara sesama makhluk, apalagi antara Khaliq dengan makhluk; tentunya perbedaannya lebih jelas dan lebih besar.
Iman kepada Allah 'Azza wa Jalla sesuai dengan yang kita kriteriakan di atas akan menghasilkan buah yang agung bagi orang-orang beriman; di antaranya:
1. Terwujudnya ketauhidan kepada Allah 'Azza wa Jalla, di mana selain Allah tidak ada yang digantungi dalam rangka mengharap atau cemas dan juga tidak ada yang diibadahi selain-Nya.
2. Sempurnanya kecintaan (mahabbah) kepada Allah 'Azza wa Jalla dan pengagungan terhadap-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.
3. Terwujudnya peribadahan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Keempat: Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat--Nya.
Artinya, menetapkan apa saja yang telah ditetapkan oleh Allah 'Azza wa Jalla bagi diri-Nya yang tersebut dalam Kitab-Nya atau Sunah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam tentang nama-nama (asma`) dan sifat-sifat yang sesuai dengan kelayakan bagi-Nya, tanpa (melakukan) tahrif, ta`thil, takyif, dan tamtsil. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Hanya milik Allah nama-nama yang baik, maka serulah Dia dengan (menggunakan) nama-nama baik itu. Tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran berkenaan dengan nama-nama-Nya itu. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf [7]: 180)
Hanya milik-Nya sifat Yang Maha Tinggi di langit maupun di bumi. Firman Allah 'Azza wa Jalla, "Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat." (Asy-Syu'ara [26]: 11)
Dalam masalah ini ada dua golongan yang tersesat:
Pertama: Golongan mu`athilah.
Mereka adalah golongan yang mengingkari seluruh asma` dan sifat Allah, atau mengingkari sebagiannya, dengan anggapan (alasan) bahwa penetapan asma` dan sifat-sifat itu berarti menuntut adanya penyerupaan (tasybih); yaitu penyerupaan Allah 'Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya. Anggapan semacam ini adalah batil ditinjau dari berbagai sudut; di antaranya:
* Hal itu akan melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang batil, seperti kontradiksi mengenai firman-firman Allah. Sebab, Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi diri-Nya serta telah menyatakan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Jika penetapan asma` dan sifat itu menuntut adanya penyerupaan (tasybih), tentu hal ini menuntut adanya kontradiksi dalam firman Allah serta adanya satu firman yang mendustakan firman lainnya.
* Adanya kesesuaian (kesamaan) antara dua hal mengenai nama atau sifat, tidak mengharuskan keduanya sama. Anda dapat melihat adanya dua orang yang sama-sama sebagai manusia yang mendengar, melihat dan dapat berbicara. Namun kesamaan itu tidak mengharuskan adanya kesamaan di antara keduanya mengenai makna-makna kemanusiaan, pendengaran, penglihatan dan pembicaraan. Anda juga melihat berbagai binatang yang sama-sama mempunyai tangan, kaki dan mata. Namun kesamaan seperti itu tidak mengharuskan kesamaan (persis) mengenai tangan, kaki dan mata seluruh macam binatang tersebut.
Jika telah jelas adanya perbedaan antara berbagai makhluk dalam hal yang terdapat kesamaannya mengenai nama atau sifatnya, maka perbedaan antara Khaliq dengan makhluk tentunya jauh lebih jelas dan lebih besar.
Kedua: Golongan Musyabihah.
Mereka adalah orang-orang yang menetapkan asma` dan sifat, namun mereka menyerupakan Allah 'Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya. Mereka beranggapan bahwa ini merupakan konsekuensi dan petunjuk nash-nash yang ada, karena Allah 'Azza wa Jalla mengatakan kepada para hamba-Nya dengan ungkapan yang dapat mereka pahami. Anggapan ini adalah batil ditinjau dari berbagai sudut; di antaranya:
* Keserupaan Allah 'Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya merupakan perkara yang batil, yang dibatilkan oleh akal maupun syara'. Dan tidak mungkin bila konsekuensi dari nash-nash Kitab dan Sunnah itu merupakan hal yang batil.
* Allah 'Azza wa Jalla memang mengatakan kepada para hamba-Nya dengan ungkapan yang dapat mereka pahami dari segi asal maknanya. Adapun hakikat yang dikandung oleh makna tersebut termasuk perkara yang hanya diketahui oleh Allah 'Azza wa Jalla, termasuk mengenai sesuatu yang berkaitan dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.
Jika Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan bagi diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, maka pendengaran itu dapat kita ketahui bersama dari segi asal maknanya, yaitu penangkapan terhadap suara. Akan tetapi hakikat dari hal itu, jika dinisbatkan kepada pendengaran Allah 'Azza wa Jalla, maka hal itu tidak kita ketahui. Karena hakikat pendengaran itu berbeda-beda, sekalipun antara sesama makhluk, apalagi antara Khaliq dengan makhluk; tentunya perbedaannya lebih jelas dan lebih besar.
Iman kepada Allah 'Azza wa Jalla sesuai dengan yang kita kriteriakan di atas akan menghasilkan buah yang agung bagi orang-orang beriman; di antaranya:
1. Terwujudnya ketauhidan kepada Allah 'Azza wa Jalla, di mana selain Allah tidak ada yang digantungi dalam rangka mengharap atau cemas dan juga tidak ada yang diibadahi selain-Nya.
2. Sempurnanya kecintaan (mahabbah) kepada Allah 'Azza wa Jalla dan pengagungan terhadap-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.
3. Terwujudnya peribadahan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Mengimani Uluhiyah Allah | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Ketiga: Iman kepada Uluhiyah-Nya.
Artinya, bahwa Dia adalah satu-satunya ilah yang haq; tiada sekutu bagi-Nya. Kata ilah di sini bermakna ma'luh, yang berarti ma'bud (yang disembah atau diibadahi) atas landasan kecintaan dan pengagungan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Ilah kamu adalah ilah yang satu; tiada ilah selain Dia. Dia Maha Pemurah lagi Penyayang." (Al-Baqarah [2]: 163)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman, "Allah menyatakan bahwa tiada ilah selain-Nya, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan demikian. Tiada ilah selain Dia, Yang Maha Perkasa dan Bijaksana." (Ali 'Imran [3]: 18)
Segala yang dijadikan sebagai ilah di samping Allah, yang disembah selain Allah, maka uluhiyah sembahan itu adalah batil.
Allah berfirman,
"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah itu adalah Yang Haq; dan bahwasanya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Sesungguhnya Allah itu Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Al-Hajj [22]: 62)
Ilah-ilah selain Allah itu tidak mempunyai hak uluhiyah. Mengenai lata, uza dan manat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Ilah-ilah itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya. Allah tidak menurunkan keterangan apa pun tentang ilah-ilah itu (sebagai alasan untuk menyembahnya)." (An-Najm [53]: 23)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman tentang Nabi Hud ('alaihis salam) bahwa ia pernah berkata kepada kaumnya,
"Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama ilah yang kamu dan bapak-bapak kamu menamakannya?! Allah sama sekali tidak menurunkan keterangan apa pun tentang nama-nama (ilah) itu..." (Al-A'raf [7]: 71)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman bahwa Nabi Yusuf ('alaihis salam) pernah berkata kepada penghuni penjara,
"... Manakah yang lebih baik, apakah tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?! Kamu tidaklah menyembah yang selain Allah kecuali sebenarnya hanya menyembah nama-nama saja, di mana kamu dan bapak-bapak kamu sendiri yang menamakannya. Allah sama sekali tidak menurunkan keterangan apa pun mengenai sembahan-sembahan itu..." (Yusuf [12]: 39-40)
Oleh karena itu, seluruh Rasul 'alaihimus salaam selalu berkata kepada kaum mereka, "Ibadahilah Allah; tiada ilah selain-Nya bagi kalian." Namun ternyata orang-orang musyrik itu enggan, dan mereka tetap saja mengambil ilah-ilah lain selain Allah yang mereka sembah di samping Allah serta dimintai pertolongan dan perlindungan.
Allah 'Azza wa Jalla telah membatilkan (menggugurkan) tindakan kaum musyrikin mengambil ilah-ilah ini dengan dua keterangan (hujah) 'aqli:
Pertama, ilah-ilah yang disembah oleh kaum musyrikin ini sama sekali tidak memiliki karakteristik uluhiyah sedikit pun. Ilah-ilah itu sekedar makhluk yang tidak akan dapat mencipta, tidak dapat mendatangkan kemanfaatan bagi penyembahnya, tidak dapat menolak kemudaratan, dan mereka tidak kuasa untuk menghidupkan atau mematikan mereka, serta tidak memiliki apa pun tenang apa yang ada di langit dan juga tidak mempunyai saham sedikit pun.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Mereka telah menjadikan ilah-ilah selain Allah (sebagai sembahan), padahal ilah-ilah itu tidak dapat menciptakan, bahkan ilah-ilah itu sendiri justru diciptakan. Ilah-ilah itu tidak kuasa atas kemudaratan maupun kemanfaatan atas dirinya, dan juga tidak kuasa untuk mematikan, menghidupkan maupun membangkitkan." (Al-Furqan [25]: 3)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Katakanlah, 'Serulah mereka yang kamu anggap sebagai sembahan selain Allah; mereka tidak mempunyai kekuasaan seberat dzarrah pun, baik di langit maupun di bumi, dan mereka tidak mempunyai andil soal (penciptaan) langit dan bumi. Allah tidak memiliki seorang pembantu pun dari mereka itu. Tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang diizinkan-Nya..." (Saba' [34]: 22-23)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Apakah mereka menyekutukan (Allah dengan) sembahan-sembahan (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun, bahkan sembahan-sembahan itu sendiri yang diciptakan?! Dan juga, sembahan-sembahan itu tidak mampu memberikan pertolongan kepada mereka, dan bahkan kepada diri sendiri pun tidak mampu menolong." (Al-A'raf [7]: 191-192)
Jika seperti ini keadaan ilah-ilah itu, maka menjadikannya sebagai ilah (sembahan) merupakan tindakan yang paling tolol dan paling batil.
Kedua, sebenarnya kaum musyrikin itu mengakui bahwa Allah 'Azza wa Jalla saja satu-satunya Rabb Pencipta (Khaliq) yang memegang kekuasaan atas segala sesuatu, serta yang memberikan perlindungan; dan tidak ada yang dapat dilindungi atau diselamatkan dari adzab-Nya. Hal ini sebenarnya mengandung konsekuensi bahwa mereka harus mengesakan-Nya dalam hal uluhiyah. Sebagaimana mereka telah mengesakan-Nya dalam hal rububiyah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Hai manusia, ibadahilah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan telah menciptakan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap. Dia juga yang telah menurunkan air hujan dan langit. Dengan air hujan itu, Dia mengeluarkan segala macam buah-buahan sebagai rezeki bagi kamu. Karena itu, janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan (sekutu) bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (Al-Baqarah [2]: 21-22)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, siapa yang menciptakan mereka, tentu mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?" (Az-Zukhruf [43]: 87)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta siapakah yang mengatur segala urusan?' Mereka tentu akan menjawab, 'Allah.' Maka, katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?!' Itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya. Dan apalagi yang ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka, bagaimanakah kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?!" (Yunus [10]: 31-32)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Ketiga: Iman kepada Uluhiyah-Nya.
Artinya, bahwa Dia adalah satu-satunya ilah yang haq; tiada sekutu bagi-Nya. Kata ilah di sini bermakna ma'luh, yang berarti ma'bud (yang disembah atau diibadahi) atas landasan kecintaan dan pengagungan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Ilah kamu adalah ilah yang satu; tiada ilah selain Dia. Dia Maha Pemurah lagi Penyayang." (Al-Baqarah [2]: 163)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman, "Allah menyatakan bahwa tiada ilah selain-Nya, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan demikian. Tiada ilah selain Dia, Yang Maha Perkasa dan Bijaksana." (Ali 'Imran [3]: 18)
Segala yang dijadikan sebagai ilah di samping Allah, yang disembah selain Allah, maka uluhiyah sembahan itu adalah batil.
Allah berfirman,
"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah itu adalah Yang Haq; dan bahwasanya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Sesungguhnya Allah itu Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Al-Hajj [22]: 62)
Ilah-ilah selain Allah itu tidak mempunyai hak uluhiyah. Mengenai lata, uza dan manat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Ilah-ilah itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya. Allah tidak menurunkan keterangan apa pun tentang ilah-ilah itu (sebagai alasan untuk menyembahnya)." (An-Najm [53]: 23)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman tentang Nabi Hud ('alaihis salam) bahwa ia pernah berkata kepada kaumnya,
"Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama ilah yang kamu dan bapak-bapak kamu menamakannya?! Allah sama sekali tidak menurunkan keterangan apa pun tentang nama-nama (ilah) itu..." (Al-A'raf [7]: 71)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman bahwa Nabi Yusuf ('alaihis salam) pernah berkata kepada penghuni penjara,
"... Manakah yang lebih baik, apakah tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?! Kamu tidaklah menyembah yang selain Allah kecuali sebenarnya hanya menyembah nama-nama saja, di mana kamu dan bapak-bapak kamu sendiri yang menamakannya. Allah sama sekali tidak menurunkan keterangan apa pun mengenai sembahan-sembahan itu..." (Yusuf [12]: 39-40)
Oleh karena itu, seluruh Rasul 'alaihimus salaam selalu berkata kepada kaum mereka, "Ibadahilah Allah; tiada ilah selain-Nya bagi kalian." Namun ternyata orang-orang musyrik itu enggan, dan mereka tetap saja mengambil ilah-ilah lain selain Allah yang mereka sembah di samping Allah serta dimintai pertolongan dan perlindungan.
Allah 'Azza wa Jalla telah membatilkan (menggugurkan) tindakan kaum musyrikin mengambil ilah-ilah ini dengan dua keterangan (hujah) 'aqli:
Pertama, ilah-ilah yang disembah oleh kaum musyrikin ini sama sekali tidak memiliki karakteristik uluhiyah sedikit pun. Ilah-ilah itu sekedar makhluk yang tidak akan dapat mencipta, tidak dapat mendatangkan kemanfaatan bagi penyembahnya, tidak dapat menolak kemudaratan, dan mereka tidak kuasa untuk menghidupkan atau mematikan mereka, serta tidak memiliki apa pun tenang apa yang ada di langit dan juga tidak mempunyai saham sedikit pun.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Mereka telah menjadikan ilah-ilah selain Allah (sebagai sembahan), padahal ilah-ilah itu tidak dapat menciptakan, bahkan ilah-ilah itu sendiri justru diciptakan. Ilah-ilah itu tidak kuasa atas kemudaratan maupun kemanfaatan atas dirinya, dan juga tidak kuasa untuk mematikan, menghidupkan maupun membangkitkan." (Al-Furqan [25]: 3)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Katakanlah, 'Serulah mereka yang kamu anggap sebagai sembahan selain Allah; mereka tidak mempunyai kekuasaan seberat dzarrah pun, baik di langit maupun di bumi, dan mereka tidak mempunyai andil soal (penciptaan) langit dan bumi. Allah tidak memiliki seorang pembantu pun dari mereka itu. Tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang diizinkan-Nya..." (Saba' [34]: 22-23)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Apakah mereka menyekutukan (Allah dengan) sembahan-sembahan (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun, bahkan sembahan-sembahan itu sendiri yang diciptakan?! Dan juga, sembahan-sembahan itu tidak mampu memberikan pertolongan kepada mereka, dan bahkan kepada diri sendiri pun tidak mampu menolong." (Al-A'raf [7]: 191-192)
Jika seperti ini keadaan ilah-ilah itu, maka menjadikannya sebagai ilah (sembahan) merupakan tindakan yang paling tolol dan paling batil.
Kedua, sebenarnya kaum musyrikin itu mengakui bahwa Allah 'Azza wa Jalla saja satu-satunya Rabb Pencipta (Khaliq) yang memegang kekuasaan atas segala sesuatu, serta yang memberikan perlindungan; dan tidak ada yang dapat dilindungi atau diselamatkan dari adzab-Nya. Hal ini sebenarnya mengandung konsekuensi bahwa mereka harus mengesakan-Nya dalam hal uluhiyah. Sebagaimana mereka telah mengesakan-Nya dalam hal rububiyah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Hai manusia, ibadahilah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan telah menciptakan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap. Dia juga yang telah menurunkan air hujan dan langit. Dengan air hujan itu, Dia mengeluarkan segala macam buah-buahan sebagai rezeki bagi kamu. Karena itu, janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan (sekutu) bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (Al-Baqarah [2]: 21-22)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, siapa yang menciptakan mereka, tentu mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?" (Az-Zukhruf [43]: 87)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta siapakah yang mengatur segala urusan?' Mereka tentu akan menjawab, 'Allah.' Maka, katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?!' Itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya. Dan apalagi yang ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka, bagaimanakah kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?!" (Yunus [10]: 31-32)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Mengimani Rububiyah Allah | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Kedua: Iman kepada Rububiyah-Nya.
Artinya, bahwa Dia adalah satu-satunya Rabb yang tak mempunyai sekutu maupun penolong.
Rabb adalah Dzat yang berwenang mencipta, memiliki dan memerintah. Tiada pencipta selain Allah, tiada yang memiliki kecuali Allah serta tiada yang berhak memerintah kecuali Allah.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"...ingatlah mencipta dan memerintah hanyalah wewenang Allah..." (Al-A'raf [7]: 54)
"...yang demikian itulah Rabb kalian. Hanya milik-Nyalah segala kerajaan. Sedangkan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah itu tiada memiliki apa-apa walau hanya setipis kulit ari pun." (Fathir [35]: 13)
Tidak ada ceritanya bahwa ada di antara makhluk ini yang mengingkari rububiyah Allah 'Azza wa Jalla, kecuali karena ia sombong, namun sebenarnya ia tidak yakin dengan apa yang diucapkannya ini seperti pernah terjadi pada diri fir'aun ketika berkata kepada kaumnya sebagaimana disebutkan oleh Al-Quran:
"...akulah tuhan kalian yang maha tinggi!" (An-Nazi'at [79]: 24)
"Hai para pembesar kaumku, aku tidak tahu akan adanya tuhan lain bagimu selain aku..." (Al-Qashash [28]: 38)
Namun sebenarnya yang dia katakan itu bukan berasal dari keyakinan.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Mereka mengingkarinya lantaran kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal sebenarnya di hati mereka meyakini (kebenaran)nya..." (An-Naml [27]: 14)
Musa ('alaihis salam) pernah berkata kepada fir'aun, sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah di dalam Al-Quran,
"... Sebenarnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Dan sesungguhnya aku ini yakin bahwa kamu, hai fir'aun, seorang yang bakal dibinasakan." (Al-Isra` [17]: 102)
Karena itu, kaum musyrikin itu mengakui rububiyah Allah 'Azza wa Jalla, namun mereka menyekutukan-Nya dalam hal uluhiyah-Nya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Rabb (yang memiliki) langit yang tujuh serta singgasana yang besar?' Mereka akan menjawab, 'Allah yang memilikinya.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang memegang kekuasaan atas segala sesuatu; Dia melindungi, namun tidak ada yang dapat dilindungi (diselamatkan) dari (adzab)-Nya; jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Allah yang memilikinya.' Katakanlah, 'Jika demikian, maka dari jalan manakah kamu tertipu?'" (Al-Mukminun [23]: 84-89)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi?' Niscaya mereka menjawab, 'Semuanya itu diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.'" (Az-Zukhruf [43]: 9)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang telah menciptakan mereka?' Niscaya mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?!" (Az-Zukhruf [43]: 87)
"Perintah" Rabb di sini meliputi segala perintah yang bersifat kauni (alam) dan syar'i. Dia adalah pengatur alam semesta ini, yang mengatur segala apa yang ada di dalamnya dengan kehendak-Nya sendiri sejalan dengan hikmah-Nya; maka demikian juga, Dia adalah hakim yang mensyariatkan peribadahan-peribadahan dan hukum-hukum muamalat sejalan dengan hikmah-Nya pula. Siapa saja yang menjadikan pensyariat lain dalam masalah ibadah atau menjadikan hakim lain dalam hal muamalah di samping Allah, maka ia telah menyekutukan-Nya, dan dengan demikian ia berarti belum merealisasikan keimanan.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Kedua: Iman kepada Rububiyah-Nya.
Artinya, bahwa Dia adalah satu-satunya Rabb yang tak mempunyai sekutu maupun penolong.
Rabb adalah Dzat yang berwenang mencipta, memiliki dan memerintah. Tiada pencipta selain Allah, tiada yang memiliki kecuali Allah serta tiada yang berhak memerintah kecuali Allah.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"...ingatlah mencipta dan memerintah hanyalah wewenang Allah..." (Al-A'raf [7]: 54)
"...yang demikian itulah Rabb kalian. Hanya milik-Nyalah segala kerajaan. Sedangkan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah itu tiada memiliki apa-apa walau hanya setipis kulit ari pun." (Fathir [35]: 13)
Tidak ada ceritanya bahwa ada di antara makhluk ini yang mengingkari rububiyah Allah 'Azza wa Jalla, kecuali karena ia sombong, namun sebenarnya ia tidak yakin dengan apa yang diucapkannya ini seperti pernah terjadi pada diri fir'aun ketika berkata kepada kaumnya sebagaimana disebutkan oleh Al-Quran:
"...akulah tuhan kalian yang maha tinggi!" (An-Nazi'at [79]: 24)
"Hai para pembesar kaumku, aku tidak tahu akan adanya tuhan lain bagimu selain aku..." (Al-Qashash [28]: 38)
Namun sebenarnya yang dia katakan itu bukan berasal dari keyakinan.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Mereka mengingkarinya lantaran kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal sebenarnya di hati mereka meyakini (kebenaran)nya..." (An-Naml [27]: 14)
Musa ('alaihis salam) pernah berkata kepada fir'aun, sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah di dalam Al-Quran,
"... Sebenarnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Dan sesungguhnya aku ini yakin bahwa kamu, hai fir'aun, seorang yang bakal dibinasakan." (Al-Isra` [17]: 102)
Karena itu, kaum musyrikin itu mengakui rububiyah Allah 'Azza wa Jalla, namun mereka menyekutukan-Nya dalam hal uluhiyah-Nya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
"Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Rabb (yang memiliki) langit yang tujuh serta singgasana yang besar?' Mereka akan menjawab, 'Allah yang memilikinya.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang memegang kekuasaan atas segala sesuatu; Dia melindungi, namun tidak ada yang dapat dilindungi (diselamatkan) dari (adzab)-Nya; jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Allah yang memilikinya.' Katakanlah, 'Jika demikian, maka dari jalan manakah kamu tertipu?'" (Al-Mukminun [23]: 84-89)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi?' Niscaya mereka menjawab, 'Semuanya itu diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.'" (Az-Zukhruf [43]: 9)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang telah menciptakan mereka?' Niscaya mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?!" (Az-Zukhruf [43]: 87)
"Perintah" Rabb di sini meliputi segala perintah yang bersifat kauni (alam) dan syar'i. Dia adalah pengatur alam semesta ini, yang mengatur segala apa yang ada di dalamnya dengan kehendak-Nya sendiri sejalan dengan hikmah-Nya; maka demikian juga, Dia adalah hakim yang mensyariatkan peribadahan-peribadahan dan hukum-hukum muamalat sejalan dengan hikmah-Nya pula. Siapa saja yang menjadikan pensyariat lain dalam masalah ibadah atau menjadikan hakim lain dalam hal muamalah di samping Allah, maka ia telah menyekutukan-Nya, dan dengan demikian ia berarti belum merealisasikan keimanan.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Thursday, 25 May 2017
Mengimani Wujud Allah | Rukun Pertama: Iman Kepada Allah | Rukun Iman yang Enam | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Rukun iman itu ada enam, yaitu iman kepada Allah 1). Iman kepada para Malaikat-Nya 2), iman kepada Kitab-kitab-Nya 3), iman kepada para Rasul-Nya 4), iman kepada Hari Akhir 5), iman kepada qadar (takdir) yang baik maupun yang buruk 6).
Dalil keenam rukun iman ini adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Kebaktian (iman) itu bukanlah sekedar menghadapkan wajahnya ke arah timur atau barat, akan tetapi yang sebenarnya adalah iman seseorang kepada Allah, Hari Akhir, para Malaikat, Kitab-kitab dan Nabi-nabi..." (Al-Baqarah [2]: 177)
Sedangkan dalil qadar (takdir) adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar." (Al-Qamar [54]: 49)
Syarah:
1) Iman kepada Allah itu mencakup empat hal:
Pertama: Iman kepada kewujudan (adanya) Allah 'Azza wa Jalla.
Kewujudan Allah 'Azza wa Jalla ini telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara' dan indra.
Petunjuk fitrah menyatakan kewujudan Allah. Karena segala makhluk telah diciptakan untuk beriman kepada Penciptanya tanpa harus diajari sebelumnya. Tidak ada makhluk yang berpaling dari fitrah ini, kecuali hatinya termasuki oleh sesuatu yang dapat memalingkannya dari fitrah itu. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam:
"Tiada yang terlahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanya yang akan menjadikannya sebagai orang yahudi, nasrani atau majusi." (34)
Petunjuk akal menyatakan kewujudan Allah, karena seluruh makhluk yang ada ini, termasuk yang sudah berlalu maupun yang akan datang kemudian, sudah tentu ada Pencipta yang menciptakannya. Tidak mungkin makhluk itu mengadakan dirinya sendiri atau ada begitu saja dengan sendirinya (tanpa ada yang menciptakannya).
Tidak mungkin makhluk itu tercipta oleh dirinya sendiri, karena sesuatu itu tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Sebab, sebelum ia ada, ia tiada. Maka bagaimana mungkin ia bisa menjadi pencipta?
Ia juga tidak mungkin ada secara kebetulan, karena segala sesuatu yang terjadi itu sudah pasti ada yang menjadikannya. Dan lagi, wujudnya yang mengikuti keteraturan yang indah ini, mengikuti keserasian yang padu serta adanya hubungan erat yang tak bisa dipisahkan antara sebab dan musababnya, dan juga antara makhluk satu dengan lainnya; semuanya menolak penuh jika kewujudan sesuatu itu secara kebetulan. Sebab, sesuatu yang asal ada secara kebetulan berarti tidak mengikuti keteraturan pada asal kewujudannya; lalu bagaimana mungkin ia kemudian bisa menjadi teratur dalam perkembangan berikutnya?
Jika seluruh makhluk yang ada ini tidak mungkin ada dengan sendirinya (menciptakan dirinya sendiri) dan juga tidak mungkin ada secara kebetulan begitu saja, maka dapatlah dipastikan bahwa ada yang menciptakan atau mengadakannya; yaitu Allah Rabb semesta alam!
Allah 'Azza wa Jalla sendiri telah menyebutkan dalil 'aqli dan alasan yang qath'i dalam surat Ath-Thur. Di situ Allah berfirman:
"Apakah mereka tercipta tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (Ath-Thur [52]: 35)
Maksudnya, mereka itu tidaklah tercipta tanpa pencipta, dan mereka pun tidak menciptakan diri mereka sendiri. Dengan demikian, dapatlah dipastikan bahwa pencipta mereka adalah Allah 'Azza wa Jalla. Lantaran itu, tatkala Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam sedang membaca surat Ath-Thur hingga sampai pada ayat (yang artinya), "Apakah mereka itu tercipta tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka itu yang telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka itu tidak meyakini (apa yang mereka katakan itu). Apakah di sisi mereka terdapat perbendaharaan Rabbmu, ataukah mereka itu yang berkuasa?" (Ath-Thur [52]: 35-37). (Di mana ketika itu Jubair masih musyrik), maka ia berkata, "Hampir-hampir saja hatiku hendak terbang. Ketika itulah pertama kali iman bersemayam di dalam hatiku." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara terpisah-pisah. (35)
Ada baiknya jika kita mengambil satu contoh untuk lebih memperjelas hal itu. Jika seseorang menceritakan kepadamu tentang sebuah istana yang megah, dikelilingi oleh berbagai taman, ada sungai-sungai yang mengalir di antara bangunan-bangunan istana itu, dipenuhi berbagai permadani, dipercantik dengan berbagai jenis perhiasan pada bangunan-bangunan inti maupun penyempurnaannya, lalu ia berkata kepada anda, "Sesungguhnya istana ini dengan berbagai kesempurnaan yang ada; tercipta oleh dirinya sendiri, atau tercipta seperti ini secara kebetulan tanpa ada yang mencipta"; maka anda tentu langsung membantah hal itu serta mendustakannya, dan anda pasti akan mengkategorikan perkataannya itu sebagai perkataan tolol. Dengan demikian, apa mungkin jika alam yang luas dengan bumi dan langitnya, dengan orbitnya, dan dengan tatanannya yang indah dan luar biasa ini, semua mencipta dirinya sendiri, atau tercipta secara kebetulan tanpa ada yang mencipta?!
Petunjuk syar'i juga menyatakan kewujudan Allah, sebab kitab-kitab samawi seluruhnya menyatakan demikian. Apa saja yang dibawa oleh kitab-kitab samawi itu, berupa hukum-hukum yang menjamin kemaslahatan makhluk merupakan bukti bahwa hal itu datang dari Rabb yang Bijaksana dan Maha Tahu akan kemaslahatan makhluk-Nya. Berita-berita yang berkenaan dengan alam yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut, serta telah disaksikan oleh kenyataan tentang kebenarannya, merupakan bukti bahwa kitab-kitab itu berasal dari Rabb yang Maha Kuasa untuk mewujudkan (mencipta) apa yang diberitakan itu.
Dan petunjuk indra mengenai kewujudan Allah dapat dilihat dari dua hal:
Pertama: Kita semua mendengar dan menyaksikan dikabulkannya permohonan orang-orang yang berdoa dan ditolongnya orang-orang yang kesusahan, yang semuanya ini menunjukkan secara qath'i akan adanya Allah 'Azza wa Jalla.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Ingatlah akan kisah Nuh sebelum itu ketika ia berdoa, lalu Kami kabulkan doanya..." (An-Anbiya' [21]: 76)
"Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu Dia pun mengabulkan permohonanmu..." (Al-Anfal [8]: 9)
Dalam Shahihul Bukhari disebutkan hadits dari Anas bin Malik:
Bahwa seorang Arab pedalaman masuk (ke dalam masjid) pada hari Jumat, sementara Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) sedang berkhutbah. Orang itu lantas berkata, "Ya Rasulullah, harta kami musnah dan keluarga kami kelaparan. Maka berdoalah kepada Allah buat kami!" Akhirnya beliau mengangkat kedua tangan dan berdoa. Tak lama kemudian, awan sebesar gunung pun tiba; sementara beliau masih berada di atas mimbar, sehingga aku lihat air hujan bercucuran pada jenggot beliau. Pada Jumat kedua (berikutnya), si Arab pedalaman itu, atau lainnya, berdiri lantas berkata, "Ya Rasulullah, bangunan rumah kami roboh dan harta kami tenggelam. Maka berdoalah kepada Allah untuk kami!" Akhirnya beliau pun mengangkat kedua tangan seraya berdoa:
اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا
Allaahumma hawaalainaa wa laa 'alainaa.
"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami." (36)
Akhirnya, tidaklah beliau menunjuk suatu arah (tempat) melainkan menjadi terang (tanpa hujan).
Terkabulnya permohonan orang-orang yang berdoa hingga hari ini masih dapat disaksikan dengan nyata, tentunya bagi orang yang benar-benar bersandar kepada Allah 'Azza wa Jalla serta memenuhi syarat-syarat dikabulkannya sebuah doa.
Kedua: Ayat-ayat (tanda-tanda) para Nabi yang dinamakan mukjizat yang disaksikan oleh manusia lain, atau yang mereka dengar merupakan bukti yang qath'i akan adanya Dzat yang mengutus mereka, yaitu Allah 'Azza wa Jalla. Sebab, kemukjizatan itu di luar jangkauan manusia pada umumnya, yang memang sengaja diberlakukan oleh Allah 'Azza wa Jalla untuk mengokohkan dan memenangkan para Rasul-Nya.
Contoh pertama, mukjizat Musa ('alaihis salam) ketika Allah memerintahkannya untuk memukul laut dengan tongkatnya. Musa pun memukulnya dan akhirnya laut itu terbelah menjadi dua belas jalan yang kering, sementara air laut berada di antara jalan-jalan itu laksana gunung.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Maka Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu! Akhirnya terbelahlah laut itu, masing-masing belahan laksana gunung yang besar." (Asy-Syu'ara [26]: 63)
Contoh kedua, mukjizat Isa ('alaihis salam) berupa dapat menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dan mengeluarkan mereka dari kubur dengan izin Allah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"...dan aku (Isa) dapat menghidupkan orang mati dengan izin Allah..." (Ali 'Imran [3]: 49)
"...dan ingatlah di waktu kamu mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup kembali) dengan izin-Ku..." (Al-Ma`idah [5]: 110)
Contoh ketiga, ketika kaum Quraisy meminta mukjizat dari Nabi Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam), maka beliau menunjuk bulan, lalu bulan itu terbelah menjadi dua, dan orang-orang pun menyaksikannya. Mengenai hal ini, Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Telah dekat (datangnya) 'saat' (37) itu, dan bulan pun telah terbelah. Dan jika (kaum musyrikin) melihat suatu ayat (mukjizat), mereka berpaling seraya mengatakan, 'Ini adalah sihir yang terus-menerus!'" (Al-Qamar [54]: 1-2)
Berbagai mukjizat yang dapat diindra yang sengaja dibuat oleh Allah 'Azza wa Jalla untuk mengokohkan dan menolong para Rasul-Nya ini menunjukkan secara qath'i akan adanya Allah 'Azza wa Jalla.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
34. HR. Bukhari dalam Kitabul Jana`iz, bab "Idza Aslama Ash-Shabiy fa Mata, Hal Yushalla 'alaih"; dan juga oleh Muslim dalam Kitabul Qadr, bab "Ma min Maulud Yuladu illa 'alal Fithrah".
35. HR. Bukhari dalam Kitabut Tafsir, surat Ath-Thur, Jilid IV, hal. 1839.
36. HR. Al-Bukhari, Kitabul Jumu'ah, bab "Mengangat Dua Tangan dalam Berdoa"; dan oleh Muslim, Kitabul Istisqa', bab "Doa dalam (shalat) istisqa'".
37. Saat kehancuran kaum musyrikin; atau ada juga yang mengatakan saat terjadinya Kiamat. -penerj.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Rukun iman itu ada enam, yaitu iman kepada Allah 1). Iman kepada para Malaikat-Nya 2), iman kepada Kitab-kitab-Nya 3), iman kepada para Rasul-Nya 4), iman kepada Hari Akhir 5), iman kepada qadar (takdir) yang baik maupun yang buruk 6).
Dalil keenam rukun iman ini adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Kebaktian (iman) itu bukanlah sekedar menghadapkan wajahnya ke arah timur atau barat, akan tetapi yang sebenarnya adalah iman seseorang kepada Allah, Hari Akhir, para Malaikat, Kitab-kitab dan Nabi-nabi..." (Al-Baqarah [2]: 177)
Sedangkan dalil qadar (takdir) adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar." (Al-Qamar [54]: 49)
Syarah:
1) Iman kepada Allah itu mencakup empat hal:
Pertama: Iman kepada kewujudan (adanya) Allah 'Azza wa Jalla.
Kewujudan Allah 'Azza wa Jalla ini telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara' dan indra.
Petunjuk fitrah menyatakan kewujudan Allah. Karena segala makhluk telah diciptakan untuk beriman kepada Penciptanya tanpa harus diajari sebelumnya. Tidak ada makhluk yang berpaling dari fitrah ini, kecuali hatinya termasuki oleh sesuatu yang dapat memalingkannya dari fitrah itu. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam:
"Tiada yang terlahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanya yang akan menjadikannya sebagai orang yahudi, nasrani atau majusi." (34)
Petunjuk akal menyatakan kewujudan Allah, karena seluruh makhluk yang ada ini, termasuk yang sudah berlalu maupun yang akan datang kemudian, sudah tentu ada Pencipta yang menciptakannya. Tidak mungkin makhluk itu mengadakan dirinya sendiri atau ada begitu saja dengan sendirinya (tanpa ada yang menciptakannya).
Tidak mungkin makhluk itu tercipta oleh dirinya sendiri, karena sesuatu itu tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Sebab, sebelum ia ada, ia tiada. Maka bagaimana mungkin ia bisa menjadi pencipta?
Ia juga tidak mungkin ada secara kebetulan, karena segala sesuatu yang terjadi itu sudah pasti ada yang menjadikannya. Dan lagi, wujudnya yang mengikuti keteraturan yang indah ini, mengikuti keserasian yang padu serta adanya hubungan erat yang tak bisa dipisahkan antara sebab dan musababnya, dan juga antara makhluk satu dengan lainnya; semuanya menolak penuh jika kewujudan sesuatu itu secara kebetulan. Sebab, sesuatu yang asal ada secara kebetulan berarti tidak mengikuti keteraturan pada asal kewujudannya; lalu bagaimana mungkin ia kemudian bisa menjadi teratur dalam perkembangan berikutnya?
Jika seluruh makhluk yang ada ini tidak mungkin ada dengan sendirinya (menciptakan dirinya sendiri) dan juga tidak mungkin ada secara kebetulan begitu saja, maka dapatlah dipastikan bahwa ada yang menciptakan atau mengadakannya; yaitu Allah Rabb semesta alam!
Allah 'Azza wa Jalla sendiri telah menyebutkan dalil 'aqli dan alasan yang qath'i dalam surat Ath-Thur. Di situ Allah berfirman:
"Apakah mereka tercipta tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" (Ath-Thur [52]: 35)
Maksudnya, mereka itu tidaklah tercipta tanpa pencipta, dan mereka pun tidak menciptakan diri mereka sendiri. Dengan demikian, dapatlah dipastikan bahwa pencipta mereka adalah Allah 'Azza wa Jalla. Lantaran itu, tatkala Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam sedang membaca surat Ath-Thur hingga sampai pada ayat (yang artinya), "Apakah mereka itu tercipta tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka itu yang telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka itu tidak meyakini (apa yang mereka katakan itu). Apakah di sisi mereka terdapat perbendaharaan Rabbmu, ataukah mereka itu yang berkuasa?" (Ath-Thur [52]: 35-37). (Di mana ketika itu Jubair masih musyrik), maka ia berkata, "Hampir-hampir saja hatiku hendak terbang. Ketika itulah pertama kali iman bersemayam di dalam hatiku." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara terpisah-pisah. (35)
Ada baiknya jika kita mengambil satu contoh untuk lebih memperjelas hal itu. Jika seseorang menceritakan kepadamu tentang sebuah istana yang megah, dikelilingi oleh berbagai taman, ada sungai-sungai yang mengalir di antara bangunan-bangunan istana itu, dipenuhi berbagai permadani, dipercantik dengan berbagai jenis perhiasan pada bangunan-bangunan inti maupun penyempurnaannya, lalu ia berkata kepada anda, "Sesungguhnya istana ini dengan berbagai kesempurnaan yang ada; tercipta oleh dirinya sendiri, atau tercipta seperti ini secara kebetulan tanpa ada yang mencipta"; maka anda tentu langsung membantah hal itu serta mendustakannya, dan anda pasti akan mengkategorikan perkataannya itu sebagai perkataan tolol. Dengan demikian, apa mungkin jika alam yang luas dengan bumi dan langitnya, dengan orbitnya, dan dengan tatanannya yang indah dan luar biasa ini, semua mencipta dirinya sendiri, atau tercipta secara kebetulan tanpa ada yang mencipta?!
Petunjuk syar'i juga menyatakan kewujudan Allah, sebab kitab-kitab samawi seluruhnya menyatakan demikian. Apa saja yang dibawa oleh kitab-kitab samawi itu, berupa hukum-hukum yang menjamin kemaslahatan makhluk merupakan bukti bahwa hal itu datang dari Rabb yang Bijaksana dan Maha Tahu akan kemaslahatan makhluk-Nya. Berita-berita yang berkenaan dengan alam yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut, serta telah disaksikan oleh kenyataan tentang kebenarannya, merupakan bukti bahwa kitab-kitab itu berasal dari Rabb yang Maha Kuasa untuk mewujudkan (mencipta) apa yang diberitakan itu.
Dan petunjuk indra mengenai kewujudan Allah dapat dilihat dari dua hal:
Pertama: Kita semua mendengar dan menyaksikan dikabulkannya permohonan orang-orang yang berdoa dan ditolongnya orang-orang yang kesusahan, yang semuanya ini menunjukkan secara qath'i akan adanya Allah 'Azza wa Jalla.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Ingatlah akan kisah Nuh sebelum itu ketika ia berdoa, lalu Kami kabulkan doanya..." (An-Anbiya' [21]: 76)
"Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu Dia pun mengabulkan permohonanmu..." (Al-Anfal [8]: 9)
Dalam Shahihul Bukhari disebutkan hadits dari Anas bin Malik:
Bahwa seorang Arab pedalaman masuk (ke dalam masjid) pada hari Jumat, sementara Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) sedang berkhutbah. Orang itu lantas berkata, "Ya Rasulullah, harta kami musnah dan keluarga kami kelaparan. Maka berdoalah kepada Allah buat kami!" Akhirnya beliau mengangkat kedua tangan dan berdoa. Tak lama kemudian, awan sebesar gunung pun tiba; sementara beliau masih berada di atas mimbar, sehingga aku lihat air hujan bercucuran pada jenggot beliau. Pada Jumat kedua (berikutnya), si Arab pedalaman itu, atau lainnya, berdiri lantas berkata, "Ya Rasulullah, bangunan rumah kami roboh dan harta kami tenggelam. Maka berdoalah kepada Allah untuk kami!" Akhirnya beliau pun mengangkat kedua tangan seraya berdoa:
اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا
Allaahumma hawaalainaa wa laa 'alainaa.
"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami." (36)
Akhirnya, tidaklah beliau menunjuk suatu arah (tempat) melainkan menjadi terang (tanpa hujan).
Terkabulnya permohonan orang-orang yang berdoa hingga hari ini masih dapat disaksikan dengan nyata, tentunya bagi orang yang benar-benar bersandar kepada Allah 'Azza wa Jalla serta memenuhi syarat-syarat dikabulkannya sebuah doa.
Kedua: Ayat-ayat (tanda-tanda) para Nabi yang dinamakan mukjizat yang disaksikan oleh manusia lain, atau yang mereka dengar merupakan bukti yang qath'i akan adanya Dzat yang mengutus mereka, yaitu Allah 'Azza wa Jalla. Sebab, kemukjizatan itu di luar jangkauan manusia pada umumnya, yang memang sengaja diberlakukan oleh Allah 'Azza wa Jalla untuk mengokohkan dan memenangkan para Rasul-Nya.
Contoh pertama, mukjizat Musa ('alaihis salam) ketika Allah memerintahkannya untuk memukul laut dengan tongkatnya. Musa pun memukulnya dan akhirnya laut itu terbelah menjadi dua belas jalan yang kering, sementara air laut berada di antara jalan-jalan itu laksana gunung.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Maka Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu! Akhirnya terbelahlah laut itu, masing-masing belahan laksana gunung yang besar." (Asy-Syu'ara [26]: 63)
Contoh kedua, mukjizat Isa ('alaihis salam) berupa dapat menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dan mengeluarkan mereka dari kubur dengan izin Allah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"...dan aku (Isa) dapat menghidupkan orang mati dengan izin Allah..." (Ali 'Imran [3]: 49)
"...dan ingatlah di waktu kamu mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup kembali) dengan izin-Ku..." (Al-Ma`idah [5]: 110)
Contoh ketiga, ketika kaum Quraisy meminta mukjizat dari Nabi Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam), maka beliau menunjuk bulan, lalu bulan itu terbelah menjadi dua, dan orang-orang pun menyaksikannya. Mengenai hal ini, Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Telah dekat (datangnya) 'saat' (37) itu, dan bulan pun telah terbelah. Dan jika (kaum musyrikin) melihat suatu ayat (mukjizat), mereka berpaling seraya mengatakan, 'Ini adalah sihir yang terus-menerus!'" (Al-Qamar [54]: 1-2)
Berbagai mukjizat yang dapat diindra yang sengaja dibuat oleh Allah 'Azza wa Jalla untuk mengokohkan dan menolong para Rasul-Nya ini menunjukkan secara qath'i akan adanya Allah 'Azza wa Jalla.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
34. HR. Bukhari dalam Kitabul Jana`iz, bab "Idza Aslama Ash-Shabiy fa Mata, Hal Yushalla 'alaih"; dan juga oleh Muslim dalam Kitabul Qadr, bab "Ma min Maulud Yuladu illa 'alal Fithrah".
35. HR. Bukhari dalam Kitabut Tafsir, surat Ath-Thur, Jilid IV, hal. 1839.
36. HR. Al-Bukhari, Kitabul Jumu'ah, bab "Mengangat Dua Tangan dalam Berdoa"; dan oleh Muslim, Kitabul Istisqa', bab "Doa dalam (shalat) istisqa'".
37. Saat kehancuran kaum musyrikin; atau ada juga yang mengatakan saat terjadinya Kiamat. -penerj.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Iman Terdiri dari Tujuh Puluh Cabang Lebih | Tingkatan Kedua: Iman | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Tingkatan kedua iman 1). Iman itu berjumlah antara 73 sampai 79 cabang. Cabang yang tertinggi adalah ucapan (syahadat) "La ilaha illallah", sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan 2) dari jalan. Rasa malu 3) juga merupakan salah satu cabang iman.
Syarah:
1) Menurut bahasa kata "iman" mempunyai arti pembenaran (at-tashdiq). Sedangkan dalam pengertian syar'i, iman adalah keyakinan (i'tiqad) dengan hati, pengucapan dengan lisan serta mengamalkan(nya) dengan anggota badan. Sedangkan cabangnya berjumlah antara 73 hingga 79 cabang.
2) Yakni melenyapkan "gangguan", yaitu segala sesuatu yang dapat mengganggu orang lewat, apakah berupa bebatuan, duri-durian, sampah, kotoran, sesuatu yang berbau tak enak, dan semisalnya.
3) Malu adalah suatu sifat atau perasaan spontanitas yang akan muncul pada diri orang yang mempunyai sifat malu itu, dan ia akan menghalangi seseorang dari melakukan perbuatan yang bertentangan dengan muru'ah (kesopanan, kehormatan).
Untuk menyatukan antara pernyataan penulis rahimahullah bahwa iman itu berjumlah antara 73 hingga 79 cabang dengan pernyataan beliau bahwa iman itu memiliki enam rukun, maka dapat kami jelaskan sebagai berikut. Iman yang merupakan akidah memiliki enam asas, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jibril 'alaihis salam tatkala menanyakan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tentang iman, dan Nabi pun menjawab, "Iman yaitu kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir serta beriman kepada takdir baik dan buruk."
Sedangkan iman yang meliputi amal perbuatan dengan segala macam jenisnya itu mempunyai cabang antara 73 hingga 79 cabang. Oleh karena itu, Allah 'Azza wa Jalla menamakan shalat sebagai (bagian dari) iman. Yaitu dalam firman-Nya:
"... Allah tidak akan menyia-nyiakan begitu saja akan 'iman' kalian..." (Al-Baqarah [2]: 143)
Para mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan 'iman' di sini adalah shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Sebab, para sahabat sebelum mendapat perintah untuk menghadap ke Ka'bah, mereka melaksanakan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Tingkatan kedua iman 1). Iman itu berjumlah antara 73 sampai 79 cabang. Cabang yang tertinggi adalah ucapan (syahadat) "La ilaha illallah", sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan 2) dari jalan. Rasa malu 3) juga merupakan salah satu cabang iman.
Syarah:
1) Menurut bahasa kata "iman" mempunyai arti pembenaran (at-tashdiq). Sedangkan dalam pengertian syar'i, iman adalah keyakinan (i'tiqad) dengan hati, pengucapan dengan lisan serta mengamalkan(nya) dengan anggota badan. Sedangkan cabangnya berjumlah antara 73 hingga 79 cabang.
2) Yakni melenyapkan "gangguan", yaitu segala sesuatu yang dapat mengganggu orang lewat, apakah berupa bebatuan, duri-durian, sampah, kotoran, sesuatu yang berbau tak enak, dan semisalnya.
3) Malu adalah suatu sifat atau perasaan spontanitas yang akan muncul pada diri orang yang mempunyai sifat malu itu, dan ia akan menghalangi seseorang dari melakukan perbuatan yang bertentangan dengan muru'ah (kesopanan, kehormatan).
Untuk menyatukan antara pernyataan penulis rahimahullah bahwa iman itu berjumlah antara 73 hingga 79 cabang dengan pernyataan beliau bahwa iman itu memiliki enam rukun, maka dapat kami jelaskan sebagai berikut. Iman yang merupakan akidah memiliki enam asas, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jibril 'alaihis salam tatkala menanyakan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tentang iman, dan Nabi pun menjawab, "Iman yaitu kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir serta beriman kepada takdir baik dan buruk."
Sedangkan iman yang meliputi amal perbuatan dengan segala macam jenisnya itu mempunyai cabang antara 73 hingga 79 cabang. Oleh karena itu, Allah 'Azza wa Jalla menamakan shalat sebagai (bagian dari) iman. Yaitu dalam firman-Nya:
"... Allah tidak akan menyia-nyiakan begitu saja akan 'iman' kalian..." (Al-Baqarah [2]: 143)
Para mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan 'iman' di sini adalah shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Sebab, para sahabat sebelum mendapat perintah untuk menghadap ke Ka'bah, mereka melaksanakan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Dalil Haji | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Dalil haji adalah, "Dan hanya untuk Allah, manusia wajib melakukan haji, yaitu bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan siapa kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) semesta alam." 1) (Ali 'Imran [3]: 9)
Syarah:
1) Ayat ini turun pada tahun kesembilan setelah hijrah. Pada tahun itulah haji diwajibkan. Tetapi Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah". Maka barangsiapa yang tidak mampu, ia tidak wajib berhaji.
Firman Allah "Dan barangsiapa kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) semesta alam", merupakan dalil bahwa meninggalkan haji bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah merupakan kekafiran, tetapi kekafiran ini tidak mengeluarkan seseorang dari millah, menurut jumhur ulama. Pendapat ini berdasarkan perkataan Abdullah bin Syaqiq, "Para sahabat Rasulullah tidak memandang ada suatu amalan yang jika ditinggalkan merupakan kekafiran, kecuali shalat." (33)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
33. HR. Tirmidzi dalam Kitabul Iman, bab "Ma Ja-a fi Man Tarakash Shalah".
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Dalil haji adalah, "Dan hanya untuk Allah, manusia wajib melakukan haji, yaitu bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan siapa kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) semesta alam." 1) (Ali 'Imran [3]: 9)
Syarah:
1) Ayat ini turun pada tahun kesembilan setelah hijrah. Pada tahun itulah haji diwajibkan. Tetapi Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah". Maka barangsiapa yang tidak mampu, ia tidak wajib berhaji.
Firman Allah "Dan barangsiapa kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) semesta alam", merupakan dalil bahwa meninggalkan haji bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah merupakan kekafiran, tetapi kekafiran ini tidak mengeluarkan seseorang dari millah, menurut jumhur ulama. Pendapat ini berdasarkan perkataan Abdullah bin Syaqiq, "Para sahabat Rasulullah tidak memandang ada suatu amalan yang jika ditinggalkan merupakan kekafiran, kecuali shalat." (33)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
33. HR. Tirmidzi dalam Kitabul Iman, bab "Ma Ja-a fi Man Tarakash Shalah".
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Dalil Puasa | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Dalil puasa 1) adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa." 2) (Al-Baqarah [2]: 183)
Syarah:
1) Maksudnya, dalil mengenai kewajiban berpuasa adalah firman Allah di atas. Ada beberapa faedah dari firman Allah yang menyebutkan, "Sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian", yaitu:
Pertama: Puasa merupakan ibadah yang penting, di mana Allah 'Azza wa Jalla juga mewajibkannya kepada umat-umat sebelum kita. Ini menunjukkan kecintaan Allah 'Azza wa Jalla kepada ibadah puasa tersebut dan bahwa ia merupakan ibadah yang harus dilaksanakan oleh setiap umat.
Kedua: Keringanan yang diberikan bagi umat ini, di mana ia bukan merupakan satu-satunya umat yang mendapatkan kewajiban puasa, yang barangkali memberatkan jiwa maupun badan.
Ketiga: Isyarat bahwa Allah 'Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama umat ini, di mana Dia telah menyempurnakannya dengan amalan-amalan utama yang terdapat pada umat-umat sebelumnya.
2) Dalam ayat ini Allah 'Azza wa Jalla menjelaskan hikmah puasa, yaitu dengan firman-Nya, "Agar kalian bertakwa". Artinya agar kalian bertakwa kepada Allah berkat puasa dan berbagai amalan yang terkandung di dalamnya yang merupakan sifat-sifat ketakwaan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah mengisyaratkan faedah ini dalam sabdanya:
"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perilaku jahat, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makan dan minumnya (Allah tidak membutuhkan puasanya, -penerj.)." (32)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
32. HR. Bukhari dalam Kitabush Shaum, bab: "Man lam yada' Qaulas Zuri wal 'Amala bihi fish Shaum."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Dalil puasa 1) adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa." 2) (Al-Baqarah [2]: 183)
Syarah:
1) Maksudnya, dalil mengenai kewajiban berpuasa adalah firman Allah di atas. Ada beberapa faedah dari firman Allah yang menyebutkan, "Sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian", yaitu:
Pertama: Puasa merupakan ibadah yang penting, di mana Allah 'Azza wa Jalla juga mewajibkannya kepada umat-umat sebelum kita. Ini menunjukkan kecintaan Allah 'Azza wa Jalla kepada ibadah puasa tersebut dan bahwa ia merupakan ibadah yang harus dilaksanakan oleh setiap umat.
Kedua: Keringanan yang diberikan bagi umat ini, di mana ia bukan merupakan satu-satunya umat yang mendapatkan kewajiban puasa, yang barangkali memberatkan jiwa maupun badan.
Ketiga: Isyarat bahwa Allah 'Azza wa Jalla telah menyempurnakan agama umat ini, di mana Dia telah menyempurnakannya dengan amalan-amalan utama yang terdapat pada umat-umat sebelumnya.
2) Dalam ayat ini Allah 'Azza wa Jalla menjelaskan hikmah puasa, yaitu dengan firman-Nya, "Agar kalian bertakwa". Artinya agar kalian bertakwa kepada Allah berkat puasa dan berbagai amalan yang terkandung di dalamnya yang merupakan sifat-sifat ketakwaan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah mengisyaratkan faedah ini dalam sabdanya:
"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perilaku jahat, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makan dan minumnya (Allah tidak membutuhkan puasanya, -penerj.)." (32)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Catatan Kaki:
32. HR. Bukhari dalam Kitabush Shaum, bab: "Man lam yada' Qaulas Zuri wal 'Amala bihi fish Shaum."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Dalil Shalat dan Zakat | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Dalil shalat, zakat 1), dan penafsiran tauhid adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta mengeluarkan zakat 2). Demikian itulah 3) tuntunan agama yang lurus 4)." (Al-Bayyinah [98]: 5)
Syarah:
1) Maksudnya, dalil yang menunjukkan bahwa shalat dan zakat merupakan bagian dari agama adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta mengeluarkan zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus." (Al-Bayyinah [98]: 5)
Ayat ini bersifat umum dan meliputi seluruh jenis ibadah. Dalam pelaksanaan semua ibadah itu, manusia wajib memurnikan ketaatan kepada Allah, meluruskan niat, serta mengikuti syariat-Nya.
2) Ini termasuk dalam kategori penggabungan kata yang khusus kepada yang umum, karena mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat termasuk ibadah, tetapi Allah 'Azza wa Jalla menyebutkan kedua jenis ibadah ini karena keduanya memiliki nilai yang penting. Shalat adalah ibadah badan, sedangkan zakat adalah ibadah harta. Keduanya biasa disebutkan seiring dalam Al-Quran.
3) Maksudnya adalah ibadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan bersikap lurus serta mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat.
4) Maksudnya adalah agama yang lurus, yang tidak ada kebengkokan padanya, karena ia adalah agama Allah 'Azza wa Jalla, sedangkan agama Allah adalah agama yang lurus. Sebagaimana firman Allah:
"Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka hendaklah kalian mengikuti-Nya; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya..." (Al-An'am [6]: 153)
Ayat dalam surat Al-Bayyinah yang dikemukakan oleh penulis ini, mengandung penyebutan tentang ibadah dan shalat, di samping juga mengandung hakikat tauhid, yaitu keikhlasan kepada Allah 'Azza wa Jalla tanpa menyimpang kepada syirik. Barangsiapa tidak ikhlas kepada Allah, maka ia bukan seorang yang bertauhid. Dan barangsiapa beribadah kepada selain Allah, maka ia juga bukan orang yang bertauhid.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Dalil shalat, zakat 1), dan penafsiran tauhid adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta mengeluarkan zakat 2). Demikian itulah 3) tuntunan agama yang lurus 4)." (Al-Bayyinah [98]: 5)
Syarah:
1) Maksudnya, dalil yang menunjukkan bahwa shalat dan zakat merupakan bagian dari agama adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta mengeluarkan zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus." (Al-Bayyinah [98]: 5)
Ayat ini bersifat umum dan meliputi seluruh jenis ibadah. Dalam pelaksanaan semua ibadah itu, manusia wajib memurnikan ketaatan kepada Allah, meluruskan niat, serta mengikuti syariat-Nya.
2) Ini termasuk dalam kategori penggabungan kata yang khusus kepada yang umum, karena mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat termasuk ibadah, tetapi Allah 'Azza wa Jalla menyebutkan kedua jenis ibadah ini karena keduanya memiliki nilai yang penting. Shalat adalah ibadah badan, sedangkan zakat adalah ibadah harta. Keduanya biasa disebutkan seiring dalam Al-Quran.
3) Maksudnya adalah ibadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan bersikap lurus serta mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat.
4) Maksudnya adalah agama yang lurus, yang tidak ada kebengkokan padanya, karena ia adalah agama Allah 'Azza wa Jalla, sedangkan agama Allah adalah agama yang lurus. Sebagaimana firman Allah:
"Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka hendaklah kalian mengikuti-Nya; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya..." (Al-An'am [6]: 153)
Ayat dalam surat Al-Bayyinah yang dikemukakan oleh penulis ini, mengandung penyebutan tentang ibadah dan shalat, di samping juga mengandung hakikat tauhid, yaitu keikhlasan kepada Allah 'Azza wa Jalla tanpa menyimpang kepada syirik. Barangsiapa tidak ikhlas kepada Allah, maka ia bukan seorang yang bertauhid. Dan barangsiapa beribadah kepada selain Allah, maka ia juga bukan orang yang bertauhid.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Makna Syahadat Muhammadur Rasulullah | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Dalil syahadat bahwa Muhammad Rasulullah, adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri kalian sendiri 1), terasa berat olehnya penderitaan kalian 2), sangat menginginkan (memberi manfaat dan mencegah bahaya) untuk kalian 3), amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang beriman." 4) (At-Taubah [9]: 128). Syahadat bahwa Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah Rasulullah maknanya adalah menaati perintahnya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah kecuali dengan cara yang disyariatkannya. 5)
Syarah:
1) Firman Allah, "Dari diri kalian sendiri" artinya dari kalangan bangsa manusia sendiri, bahkan juga dari tengah masyarakat kalian sendiri. Sebagaimana firman Allah:
"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Al-Jumu'ah [62]: 2)
2) Maksudnya adalah beliau ikut merasakan penderitaan yang menimpa mereka.
3) Maksudnya adalah beliau memiliki sifat kasih dan sayang kepada orang-orang beriman. Kasih dan sayang tersebut beliau khususkan untuk orang-orang yang beriman, karena beliau diperintahkan untuk berjihad dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sifat-sifat ini semua yang dimiliki oleh Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) menunjukkan bahwa beliau benar-benar utusan Allah, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh firman Allah 'Azza wa Jalla, "Muhammad adalah utusan Allah." (Al-Fath [48]: 29)
Juga firman Allah, "Katakanlah, 'Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua." (Al-A'raf [7]: 158). Banyak sekali ayat yang semakna dengan ini, yang menunjukkan bahwa Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah benar-benar utusan Allah.
4) Syahadat bahwa Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah Rasulullah artinya pernyataan dengan lisan dan keyakinan dengan hati bahwa Muhammad bin Abdullah Al-Qurasyi Al-Hasyimi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah utusan Allah 'Azza wa Jalla kepada seluruh makhluk dari kalangan jin dan manusia. Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla, "Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat [51]: 56). Mereka tidak bisa beribadah kepada Allah kecuali dengan tuntunan wahyu yang dibawa oleh Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla, "Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (Al-Furqan [25]: 1)
Syahadat ini menuntut anda untuk membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah kecuali dengan apa yang disyariatkannya. Syahadat juga menuntut agar anda tidak berkeyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam memiliki hak rububiyah dan pengaturan alam semesta, atau hak untuk disembah. Dia adalah hamba yang tidak boleh disembah, Rasul yang tidak boleh didustakan, serta tidak berkuasa sedikit pun untuk memberikan manfaat dan mudarat bagi dirinya maupun orang lain kecuali jika dikehendaki oleh Allah. Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla:
"Katakanlah, 'Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang gaib, dan tidak pula aku mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang Malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku..." (Al-An'am [6]: 50)
Beliau adalah seorang hamba yang mendapatkan dan mengikuti perintah Allah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula kemanfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang melindungiku dari (adzab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya.'" (Al-Jinn [72]: 21-22)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raf [7]: 188)
Dengan demikian, anda mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam maupun makhluk-makhluk yang berkedudukan lebih rendah daripada beliau tidak berhak untuk diibadahi dan disembah serta bahwa ibadah hanyalah untuk Allah 'Azza wa Jalla semata. Allah berfirman,
"Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (Al-An'am [6]: 162-163)
Anda mengetahui bahwa beliau hanya berhak untuk ditempatkan pada kedudukan yang diberikan oleh Allah 'Azza wa Jalla, yaitu bahwa beliau adalah hamba dan Rasul-Nya, semoga shalawat dan salam Allah terlimpah kepada beliau.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Dalil syahadat bahwa Muhammad Rasulullah, adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri kalian sendiri 1), terasa berat olehnya penderitaan kalian 2), sangat menginginkan (memberi manfaat dan mencegah bahaya) untuk kalian 3), amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang beriman." 4) (At-Taubah [9]: 128). Syahadat bahwa Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah Rasulullah maknanya adalah menaati perintahnya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah kecuali dengan cara yang disyariatkannya. 5)
Syarah:
1) Firman Allah, "Dari diri kalian sendiri" artinya dari kalangan bangsa manusia sendiri, bahkan juga dari tengah masyarakat kalian sendiri. Sebagaimana firman Allah:
"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Al-Jumu'ah [62]: 2)
2) Maksudnya adalah beliau ikut merasakan penderitaan yang menimpa mereka.
3) Maksudnya adalah beliau memiliki sifat kasih dan sayang kepada orang-orang beriman. Kasih dan sayang tersebut beliau khususkan untuk orang-orang yang beriman, karena beliau diperintahkan untuk berjihad dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sifat-sifat ini semua yang dimiliki oleh Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) menunjukkan bahwa beliau benar-benar utusan Allah, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh firman Allah 'Azza wa Jalla, "Muhammad adalah utusan Allah." (Al-Fath [48]: 29)
Juga firman Allah, "Katakanlah, 'Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua." (Al-A'raf [7]: 158). Banyak sekali ayat yang semakna dengan ini, yang menunjukkan bahwa Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah benar-benar utusan Allah.
4) Syahadat bahwa Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah Rasulullah artinya pernyataan dengan lisan dan keyakinan dengan hati bahwa Muhammad bin Abdullah Al-Qurasyi Al-Hasyimi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah utusan Allah 'Azza wa Jalla kepada seluruh makhluk dari kalangan jin dan manusia. Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla, "Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat [51]: 56). Mereka tidak bisa beribadah kepada Allah kecuali dengan tuntunan wahyu yang dibawa oleh Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla, "Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (Al-Furqan [25]: 1)
Syahadat ini menuntut anda untuk membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah kecuali dengan apa yang disyariatkannya. Syahadat juga menuntut agar anda tidak berkeyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam memiliki hak rububiyah dan pengaturan alam semesta, atau hak untuk disembah. Dia adalah hamba yang tidak boleh disembah, Rasul yang tidak boleh didustakan, serta tidak berkuasa sedikit pun untuk memberikan manfaat dan mudarat bagi dirinya maupun orang lain kecuali jika dikehendaki oleh Allah. Sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla:
"Katakanlah, 'Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang gaib, dan tidak pula aku mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang Malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku..." (Al-An'am [6]: 50)
Beliau adalah seorang hamba yang mendapatkan dan mengikuti perintah Allah. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula kemanfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang melindungiku dari (adzab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya.'" (Al-Jinn [72]: 21-22)
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman,
"Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raf [7]: 188)
Dengan demikian, anda mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam maupun makhluk-makhluk yang berkedudukan lebih rendah daripada beliau tidak berhak untuk diibadahi dan disembah serta bahwa ibadah hanyalah untuk Allah 'Azza wa Jalla semata. Allah berfirman,
"Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (Al-An'am [6]: 162-163)
Anda mengetahui bahwa beliau hanya berhak untuk ditempatkan pada kedudukan yang diberikan oleh Allah 'Azza wa Jalla, yaitu bahwa beliau adalah hamba dan Rasul-Nya, semoga shalawat dan salam Allah terlimpah kepada beliau.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Wednesday, 24 May 2017
Penafsiran yang Menjelaskan Makna Syahadat La Ilaha Illallah | Tingkatan Pertama: Islam | Tingkatan-tingkatan Din | Syarah Tsalatsatul Ushul
Syarh Tsalaatsatil Ushuul.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Penafsiran yang menjelaskannya adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Ingatlah ketika Ibrahim 1) berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Sungguh aku menyatakan lepas 2) dari segala yang kalian sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakanku di atas fithrah 3), karena sesungguhnya Dia akan menunjukiku. 4)' (Ibrahim) menjadikan kalimat itu 5) kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali kepadanya (dari kesyirikan)." (Az-Zukhruf [43]: 26-28). Dan firman Allah, "Katakanlah 6), 'Hai Ahli Kitab! Marilah kalian kepada suatu kalimat 7) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, yaitu hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tida mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah 8).' Jika mereka berpaling, maka katakan, 'Saksikan bahwa kami orang-orang yang muslim.' 10)" (Ali 'Imran [3]: 64)
Syarah:
1) Ibrahim ('alaihis salam) adalah kesayangan Allah, imam para penganut ajaran tauhid, dan Rasul yang paling utama setelah Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Ayahnya bernama Azar.
2) Kata "براء" adalah shifah musyabbahah dari kata "البراءة", maknanya lebih tegas dibandingkan "بريء". Perkataan Ibrahim ('alaihis salam), "Aku menyatakan lepas dari segala yang kalian sembah", setara dengan ucapan, "Tidak ada ilah".
3) Perkataan Ibrahim ('alaihis salam), "Kecuali Tuhan yang telah menciptakanku di atas fithrah", setara dengan ucapan, "Kecuali Allah". Jadi Allah 'Azza wa Jalla tidak mempunyai sekutu dalam peribadahan, sebagaimana Dia tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan. Dalilnya adalah firman Allah 'Azza wa Jalla:
"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam." (Al-A'raf [7]: 54)
Ayat ini membatasi penciptaan dan hak memerintah pada Allah Rabbul 'Alamin saja. Dialah yang menciptakan dan Dialah yang memerintah, baik perintah dalam pengertian kauni maupun dalam pengertian syar'i.
4) "Akan menunjukiku", artinya akan menunjukkan kebenaran kepadaku dan menolongku dalam melaksanakannya.
5) "Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat itu", yaitu kalimat yang mengandung makna pernyataan berlepas diri dari setiap sesembahan selain Allah.
6) Perintah ini ditujukan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, agar beliau berdialog dengan Ahli Kitab, yaitu yahudi dan nasrani.
7) "Marilah kalian kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian." Kalimat yang dimaksudkan di sini adalah hendaklah kita tidak beribadah, kecuali kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah. Pernyataan, "Kita tidak beribadah kecuali kepada Allah" adalah makna "La ilaha illallah".
8) Janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah 'Azza wa Jalla, di mana ia dipuja sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla dipuja, disembah sebagaimana Allah disembah, dan diberi hak untuk membuat hukum bagi yang lain.
9) "Jika mereka berpaling", artinya jika mereka menolak ajakan kalian.
10) Artinya, maka umumkan dan persaksikanlah bahwa kalian orang-orang yang berserah diri kepada Allah. Kalian berlepas diri dari sikap mereka yang membandel dan berpaling dari kalimat yang agung ini, yaitu "La ilaha illallah".
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.
Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.
Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.
Syarah Tsalatsatul Ushul.
Ma'rifatur Rabb.
Mengenal Rabb (Allah).
Penafsiran yang menjelaskannya adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Ingatlah ketika Ibrahim 1) berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Sungguh aku menyatakan lepas 2) dari segala yang kalian sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakanku di atas fithrah 3), karena sesungguhnya Dia akan menunjukiku. 4)' (Ibrahim) menjadikan kalimat itu 5) kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali kepadanya (dari kesyirikan)." (Az-Zukhruf [43]: 26-28). Dan firman Allah, "Katakanlah 6), 'Hai Ahli Kitab! Marilah kalian kepada suatu kalimat 7) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, yaitu hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tida mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah 8).' Jika mereka berpaling, maka katakan, 'Saksikan bahwa kami orang-orang yang muslim.' 10)" (Ali 'Imran [3]: 64)
Syarah:
1) Ibrahim ('alaihis salam) adalah kesayangan Allah, imam para penganut ajaran tauhid, dan Rasul yang paling utama setelah Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Ayahnya bernama Azar.
2) Kata "براء" adalah shifah musyabbahah dari kata "البراءة", maknanya lebih tegas dibandingkan "بريء". Perkataan Ibrahim ('alaihis salam), "Aku menyatakan lepas dari segala yang kalian sembah", setara dengan ucapan, "Tidak ada ilah".
3) Perkataan Ibrahim ('alaihis salam), "Kecuali Tuhan yang telah menciptakanku di atas fithrah", setara dengan ucapan, "Kecuali Allah". Jadi Allah 'Azza wa Jalla tidak mempunyai sekutu dalam peribadahan, sebagaimana Dia tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan. Dalilnya adalah firman Allah 'Azza wa Jalla:
"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam." (Al-A'raf [7]: 54)
Ayat ini membatasi penciptaan dan hak memerintah pada Allah Rabbul 'Alamin saja. Dialah yang menciptakan dan Dialah yang memerintah, baik perintah dalam pengertian kauni maupun dalam pengertian syar'i.
4) "Akan menunjukiku", artinya akan menunjukkan kebenaran kepadaku dan menolongku dalam melaksanakannya.
5) "Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat itu", yaitu kalimat yang mengandung makna pernyataan berlepas diri dari setiap sesembahan selain Allah.
6) Perintah ini ditujukan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, agar beliau berdialog dengan Ahli Kitab, yaitu yahudi dan nasrani.
7) "Marilah kalian kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian." Kalimat yang dimaksudkan di sini adalah hendaklah kita tidak beribadah, kecuali kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah. Pernyataan, "Kita tidak beribadah kecuali kepada Allah" adalah makna "La ilaha illallah".
8) Janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah 'Azza wa Jalla, di mana ia dipuja sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla dipuja, disembah sebagaimana Allah disembah, dan diberi hak untuk membuat hukum bagi yang lain.
9) "Jika mereka berpaling", artinya jika mereka menolak ajakan kalian.
10) Artinya, maka umumkan dan persaksikanlah bahwa kalian orang-orang yang berserah diri kepada Allah. Kalian berlepas diri dari sikap mereka yang membandel dan berpaling dari kalimat yang agung ini, yaitu "La ilaha illallah".
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)